Ada satu momen dalam 'Laskar Pelangi' yang selalu membuatku merinding—ketika Lintang menjelaskan konsep ketakterbatasan melalui persamaan matematika, sementara langit malam Belitong dipenuhi bintang. Bagiku, 'kekal abadi' di novel itu bukan sekadar metafora romantis, tapi pernyataan politis: bagaimana mimpi anak-anak marginal bisa melampaui batas usia, kelas sosial, bahkan kematian. Andrea Hirata seolah berkata, 'Lihatlah, keabadian ada dalam setiap coretan kapur di papan tulis reyot itu'.
Dari sudut berbeda, 'Pulang' karya Leila S. Chudori menggunakan keabadian sebagai jejak memori. Tragedi 1965 direkam melalui generasi yang terpisah, menunjukkan bagaimana luka sejarah justru menjadi abadi ketika diingat—atau sengaja dilupakan. Di sini, 'kekal' adalah beban sekaligus penyelamat.
Ada semacam magnet dalam cerita-cerita kultivasi lokal yang bikin aku selalu penasaran. Kalau ngobrol sama teman-teman di komunitas fantasy, sering banget bahas bagaimana konsep 'naik level' ala Nusantara itu beda banget dari versi Tiongkok atau Jepang. Di sini, unsur alam dan kearifan lokal jadi tulang punggungnya—kayak ritual di gunung, bertapa di hutan keramat, atau belajar dari leluhur lewat mimpi. Aku sendiri suka eksplor lewat novel-novel indie kayak 'Bumi Manusia' yang sebenarnya bukan fantasy tapi punya nuansa spiritual kuat. Kuncinya mungkin di kesabaran dan penghormatan pada tradisi, bukan sekadar ngejar kekuatan.
Yang menarik, justru di era digital ini makin banyak konten kreator yang mengangkat tema ini dengan segar. Podcast 'Filosofi Teras' contohnya—meski bukan tentang kultivasi supernatural, tapi banyak nilai kehidupan yang selaras dengan konsep penguasaan diri ala Nusantara. Mungkin kita perlu mulai dari hal kecil dulu: memahami ritme alam sekitar, belajar dari kisah lokal, dan yang paling penting—nggak buru-buru maunya jadi sakti mendadak kayak di film.