Membicarakan Azriel dari 'ACOTAR' selalu bikin aku excited karena karakternya begitu kompleks dan penuh misteri. Di sejauh ini, Sarah J. Maas belum secara eksplisit memberi dia pacar tetap dalam alur utama. Tapi, ada beberapa momen yang bikin fans berspekulasi, terutama hubungannya dengan Elain dan Gwyn. Interaksinya dengan Elain di 'A Court of Frost and Starlight' cukup intim, tapi belum jelas apakah itu akan berkembang. Sementara itu, di 'A Court of Silver Flames', ada chemistry menarik antara Azriel dan Gwyn yang bikin banyak pembaca berdebat.
Aku pribadi lebih condong ke arah Gwyn karena dinamika mereka terasa lebih organik—dua karakter yang sama-sama trauma tapi saling memahami. Tapi ya, ini masih teka-teki. Sarah suka sekali mainkan emosi pembaca, jadi mungkin di buku selanjutnya kita baru dapat kepastian. Yang pasti, Azriel deserve happiness setelah semua yang dia alami!
Kalau melihat dinamika hubungan dalam 'A Court of Mist and Fury', Azriel sebenarnya punya chemistry menarik dengan beberapa karakter. Gwyn bisa jadi pilihan yang manis—dia punya ketangguhan dan kelembutan yang balance, cocok dengan sisi protektif Azriel. Tapi jangan lupakan Elain! Meskipun awalnya terlihat dipaksakan, ketegangan antara mereka justru bikin penasaran. Azriel butuh seseorang yang bisa memahami luka masa lalunya tanpa memaksanya terbuka terlalu cepat. Gwyn atau Elain, keduanya punya potensi, tergantung bagaimana Sarah J. Maas mau mengembangkan arc mereka.
Di sisi lain, ada juga kemungkinan pairing non-konvensional seperti Eris. Ya, dengar dulu! Perseteruan mereka bisa berubah jadi ketertarikan kompleks yang sarat tension. Fandom seringkali terpaku pada opsi 'aman', tapi hubungan antagonis-to-lovers selalu menyisakan ruang untuk eksplorasi karakter yang lebih dalam. Azriel bukan tipe yang mudah diprediksi—dia mungkin justru tertarik pada seseorang yang menantang dunianya yang tertutup.
Membaca perkembangan Azriel di 'A Court of Silver Flames' benar-benar membuatku penasaran! Karakter ini selalu menjadi misteri yang menarik, dengan latar belakangnya yang kompleks dan dinamika hubungannya dengan Mor serta Elain. Di buku terakhir, meskipun ada momen-momen intim antara Azriel dan Gwyn, hubungan mereka tidak benar-benar ditegaskan sebagai pacaran. Sarah J. Maas sepertinya sengaja meninggalkan ruang untuk interpretasi—mungkin untuk dijelajahi di seri berikutnya. Aku suka bagaimana dia membangun ketegangan emosional tanpa terburu-buru memberi resolusi. Ada adegan latihan bersama yang penuh chemistry, tapi endingnya justru memicu lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Rasanya seperti menunggu secangkir kopi yang diseduh perlahan... kamu tahu akan enak, tapi harus bersabar dulu.
Kalau boleh jujur, aku lebih tertarik pada potensi hubungannya dengan Eris setelah membaca interaksi mereka yang sarat nuansa politik dan dendam terpendam. Itu bisa jadi twist yang epik! Tapi untuk sekarang, Azriel tetap menjadi 'lone wolf' yang romantis—dan itu justru membuatnya semakin memikat.