Karakter istri pengganti di 'Mariposa' itu bikin gregetan sekaligus iba. Awalnya dia datang sebagai pengganti sementara, tapi perlahan-lahan justru jadi pusat konflik emosional. Yang menarik, penokohannya nggak hitam putih—dia punya motif ambigu antara keserakahan dan keinginan diterima. Scene-scene kecil seperti cara dia menata meja makan atau memilih baju menunjukkan upaya 'menghapus' jejak istri pertama, tapi juga ada vulnerability-nya.
Puncaknya pas adegan dialog dengan suaminya di taman; di situ keliatan banget dia sadar diri cuma 'boneka pengganti', tapi tetap nekat bertahan. Ending-nya yang terbuka bikin penonton debat: apakah dia akhirnya bahagia atau justru terjebak dalam peran yang dipaksakan?
Menggali jejak awal Mariposa dalam dunia akting selalu bikin merinding! Dari riset kecil-kecilan dan obrolan di forum penggemar, sepertinya debut panggungnya dimulai di teater indie bawah tanah di Jakarta sekitar 2015. Aku inget banget temen yang kebetulan nonton produksi 'Lorong Waktu' versi experimental, bilang ada pemain baru yang bawa energi magis—ternyata itu Mariposa! Mereka mainin karakter figuran tapi somehow bikin adegan jadi hidup. Nggak heran sekarang melesat ke layar lebar.
Yang keren, sebelum masuk industri mainstream, dia sempet jadi bagian komunitas teater kampus juga. Kabarnya aktif banget di Universitas Indonesia, sering ikut festival seni lokal. Justru dari panggung-panggung kecil inilah dia ngasah skill natural actingnya. Kalo ditanya 'di mana', mungkin jawaban terbaik adalah: di setiap panggung yang memberinya ruang untuk bereksperimen.