Demi keegoisannya, sang paman tega menjual Abby Hart kepada CEO De Luca Inc. Dari kabar yang terdengar, Giorgio De Luca mengalami luka bakar dua tahun yang lalu. Sejak saat itu, dia tidak pernah menampilkan dirinya ke publik.
Seiring waktu berjalan, Abby bisa melihat tidak hanya luka fisik yang dirasakan Gio tapi juga luka psikis. Meskipun tidak bisa mengobati luka fisiknya, tapi Abby ingin sekali bisa menyembuhkan luka di hati Gio. Sayangnya sikap dingin dan tertutup Gio membuat Abby tidak bisa menjangkau pria itu.
Namun ketulusan hati Abby membuat Gio yang semula tidak ingin jatuh cinta lagi menjadi luluh. Namun sayangnya banyak rintangan yang harus mereka hadapi. Membuat Abby terjerat dalam cinta sang CEO.
Hingga suatu hari Abby mendapati kebenaran masa lalu Gio yang mengharuskannya menekan perasaan cintanya. Saat itulah Gio menyadari Abby terlalu berharga baginya. Sayangnya semua sudah terlambat.
Akankah Gio mampu meyakinkan Abby untuk kembali padanya? Atau dia harus menanggung kebencian Abby padanya?
* * * * *
Adorable poster by : DR Desain Galeri
_Berdasarkan Kisah Nyata_
Enam tahun kamu menikah dan selama itu pula, kamu masih perawan. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, selama suami tidak menyentuhmu. Bukan! Lebih tepatnya, suami tidak mampu menggaulimu.
Suami impoten? Yakin bisa bertahan?
Lyria Valetta harus melepaskan tunangannya untuk saudari sepupunya, tidak hanya sampai di sana, ia juga dipaksa untuk menjadi istri kedua seorang pria tua mesum.
Lyria tidak ingin menerima begitu saja paksaan dari keluarganya yang tidak pernah mencintainya sejak kecil.
Ia memutuskan untuk pergi ke sebuah club malam dan melakukan cinta satu malam dengan seorang pria yang ia kira adalah pria sewaan.
"Penampilanmu terlihat baik, temani aku satu malam, sebutkan berapa hargamu?"
"Mari bicarakan harga setelah Anda menerima pelayanan dari saya."
Namun, kejadian malam itu telah mengubah hidupnya. Dia menjadi terikat dengan Axelsev Leander yang memiliki identitas luar biasa.
[WARNING! FOR 18+ ONLY]
Setelah bertengkar dengan ibu tirinya, Beverley tiba-tiba mendapatkan undangan pernikahan yang isinya membuat wajahnya memucat.
Bukan karena undangan itu datang dari mantan kekasihnya yang menikah dengan wanita lain, melainkan karena nama mempelai wanita yang tertulis adalah namanya sendiri!
Jadi, ibu tirinya tidak berbohong? Wanita itu benar-benar menjualnya untuk melunasi utang jutaan dolar?
Lalu siapa calon suaminya?
***
Saat pertama kali Brent Oliver melihat calon istrinya di altar pernikahan, dia bersumpah untuk tidak pernah tergoda oleh kecantikan dan keseksiannya.
Namun, siapa yang menyangka semakin banyak waktu yang dihabiskan bersama wanita itu, sikapnya yang polos dan sulit untuk ditaklukkan menjadi begitu menggoda hingga membuatnya tergila-gila.
Bisakah Brent terus mempertahankan hubungannya dengan kekasih rahasianya? Atau apakah dia terjebak dengan istrinya yang begitu memikat?
Abimana, anak yang terlahir dari seorang madu, justru memilih untuk memberikan madu pada istri pertamanya, Salsa Bella Wiraguna, yang ia nikahi berdasarkan tanggung jawab dan perjodohan.
Jaka terkejut saat pulang ke rumah mendapati rumah dalam keadaan gelap gulita. padahal tidak mati listrik. Suasananya pun sepi seolah tak berpenghuni. Dia heran kemana pergi istrinya? Namun hal tak terduga terjadi saat ia menemukan sebuah kado cantik berwarna biru dengan pita di atasnya bertuliskan namanya tergeletak di atas nakas di dalam kamar. awalnya dia senang karena dikira kado dari istrinya meskipun bukan hari spesial untuknya. Namun semua berubah saat melihat isinya yang tak lazim dijadikan hadiah. Jaka segera memanggil istrinya tapi sayangnya tak pernah muncul, bahkan ia tak tahu kemana keberadaan istrinya tersebut. Lalu apakah hadiah dari istrinya Jaka? kenapa tiba-tiba Jaka sangat bersedih dan merasakan penyesalan seumur hidupnya?
Nama pengisi suara sering bikin bingung kalau nggak ada kredit resmi, dan aku juga sempat kepo tentang siapa yang menyanyikan 'Ku Tetap Setia' untuk karakter 'Grezia Epiphania'. Setelah ngubek-ngubek sumber-sumber umum—streaming, deskripsi YouTube, dan beberapa forum—yang biasanya jadi rujukan pertama ternyata nggak ketemu nama yang jelas tertulis. Yang penting diketahui: lagu karakter biasanya dinyanyikan oleh pengisi suara (seiyuu) karakter itu sendiri, atau kadang oleh unit vokal yang terbentuk khusus untuk franchise tersebut.
Kalau aku jadi kamu, langkah cepat yang sering ampuh adalah cek credit di single atau album resmi; kalau fisik, lihat liner notes CD, kalau digital lihat metadata di Spotify/Apple Music atau halaman resmi label. Situs seperti VGMdb, Oricon, atau bahkan halaman discography di situs resmi anime/game sering memuat credit lengkap termasuk vokal. Jangan lupa cek deskripsi video musik di kanal YouTube resmi—sering kali label menuliskan nama pengisi suara di situ. Kalau semua itu gagal, thread Twitter atau thread di forum fandom sering kali punya orang yang sudah konfirmasi dari booklet fisik atau event.
Secara pribadi, aku tahu rasanya frustasi nggak nemu nama langsung, apalagi kalau lagu itu catchy. Jadi saran santai: kumpulkan bukti dari beberapa sumber kecil—satu sumber resmi + satu fan report—baru deh percaya. Semoga dengan trik itu kamu bisa nemu nama pengisi suaranya; aku juga senang kalau akhirnya ketemu dan bisa nostalgia denger lagi lagunya.
Cerita Dyah Pitaloka selalu membuatku merenung tentang bagaimana sejarah sering kali ditulis dari sudut pandang pemenang. Gadis bangsawan Sunda itu seakan hanya menjadi catatan kaki dalam narasi heroik Gajah Mada menyatukan Nusantara. Aku pernah membaca naskah-naskah kuno yang menyiratkan bahwa tragedi di Bubat bukan sekadar kesalahpahaman, melainkan skenario politik yang dirancang untuk menghancurkan resistansi Kerajaan Sunda.
Dari sudut pandangku sebagai pencinta sejarah alternatif, Gajah Mada mungkin sengaja memprovokasi perang kecil itu. Dengan memaksa Sunda tunduk melalui tragedi berdarah, ia menciptakan efek gentar bagi kerajaan lain yang masih membangkang. Pitaloka menjadi simbol pengorbanan yang tragis - kehormatannya dikorbankan demi ambisi 'Sumpah Palapa' yang terlalu manusiawi untuk disebut suci.
Membahas doa untuk pasangan baru itu selalu bikin saya teringat momen indah saat merayakan cinta. Biasanya, doa ini diucapkan agar hubungan mereka diberkahi dengan kebahagiaan, ketulusan, dan keabadian. Sebagian besar orang mengharapkan agar Tuhan memberikan kekuatan kepada pasangan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup bersama. Doa ini sering diiringi dengan harapan agar mereka dapat saling mendukung, memahami, dan mencintai satu sama lain dengan sepenuh hati. Saya sangat suka saat mendengar pasangan mengucapkan doa ini, ini membuat momen mereka terasa lebih sakral dan berkesan. Selain itu, ada juga elemen untuk menjaga komunikasi yang baik di antara keduanya, sehingga tidak ada salah paham yang bisa merusak hubungan mereka. Dalam pernikahan saya yang masih tergolong baru, kami juga sering mengucapkan doa ini sebelum tidur. Rasanya menenangkan!
Saya ingat suatu ketika, saat teman saya menikah, dia meminta semua tamu untuk mengangkat tangan dan bersama-sama mengucapkan doa. Suasana jadi sangat hangat dan penuh spirit kebersamaan. Dari situ, saya berpikir, doa bukan hanya tentang permohonan kepada Tuhan, tapi juga jadi sarana untuk mendekatkan diri satu sama lain dalam sebuah komunitas, bukan? Itulah keindahan dari hubungan dan cinta, seperti yang ditangkap dalam setiap lafadz doa sederhana itu.
Ketika berbicara tentang istilah 'emang dasar', saya suka sekali melihat bagaimana hal ini meresap dalam berbagai aspek budaya pop di Indonesia. Istilah ini bukan sekadar kelakar, tapi telah jadi mantra di berbagai komunitas penggemar, dari anime hingga game. Dengan nuansa yang santai dan sedikit sarkasme, 'emang dasar' seolah memberikan pengakuan atas keadaan yang tak bisa dihindari. Misalnya, saat kita melihat karakter anime yang selalu terjebak dalam situasi konyol, spontan muncul ungkapan ini sebagai bentuk pemahaman dan keakraban di antara penggemar. Ini menciptakan rasa soliditas, rasa bahwa kita semua berada dalam satu komunitas dengan pengalaman serupa.
Selanjutnya, saya pikir satu faktor lain yang membuat istilah ini semakin digemari adalah kemampuannya untuk menyatakan kekecewaan atau kegundahan dengan cara yang lucu. Dalam dunia yang kadang-kadang bisa terasa terlalu serius, penggunaan 'emang dasar' menjadi pelipur lara. Misalkan dalam diskusi tentang ending sebuah anime yang mengecewakan; dengan mengucapkan 'emang dasar', kita bisa saling menyemangati sambil tertawa. Memang mengasyikkan, bukan? Bukankah itu salah satu bagian terbaik dari menjadi penggemar? Berbagi tawa atas hal-hal yang membuat kita merasa frustasi dengan cara yang lebih ringan.
Selain itu, interaksi di media sosial juga memainkan peran penting dalam penyebaran istilah ini. Momen-momen meme yang lucu sering kali menggunakan 'emang dasar', membuatnya viral dan mudah diingat. Saat kita scrolling di timeline, dan melihat postingan yang mengandung frasa ini, rasanya langsung terhubung. Rasa humor bersama ini menggugah perasaan nostalgia serta kepuasan tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa penggemar tidak hanya mencinta produk budaya pop tertentu, tapi juga berbagi pandangan dan emosi yang serupa di antara mereka.
Akhirnya, saya sadar bahwa di balik kepopuleran 'emang dasar', terdapat keinginan manusia untuk saling mengerti dan terhubung. Itulah yang selalu membuat komunitas penggemar begitu istimewa. Kita saling memberi dukungan, berbagi tawa, dan bahkan merayakan kekecewaan bersama. Adanya istilah ini membuat saya merasa lebih dekat dengan komunitas ini, menciptakan rasa memiliki yang sangat kuat dan tentu saja, menambah warna dalam pengalaman jadi penggemar.
Ide sederhana bisa mengubah pelajaran puisi jadi petualangan yang seru di kelas.
Aku sering memulai dengan membaca puisi kecil keras-keras, menekankan irama dan jeda. Bukan cuma baca, tapi aku minta anak-anak menebak suasana yang dibangun lewat intonasi—apakah sedih, senang, atau nakal? Dari situ aku ajak mereka bergerak: ada yang memerankan baris tertentu, ada yang membuat gerakan untuk kata kunci, lalu kita gabungkan jadi satu pembacaan dramatis. Metode ini bikin mereka memahami makna selain sekadar menghafal kata.
Selanjutnya aku pakai latihan menulis yang sederhana tapi kaya imajinasi. Contohnya, template dua baris kosong yang harus mereka isi dengan kata indra (lihat, dengar, rasa). Untuk kelas lebih tinggi, aku perkenalkan bentuk-bentuk seperti pantun, puisi bebas, dan acrostic—tapi selalu dengan contoh konkret dan permainan kata. Penilaian biasanya berdasarkan keberanian berekspresi, pemilihan kata, dan kemampuan menangkap tema; bukan hanya kerapian. Aku juga sering mengajak mereka membandingkan lirik lagu populer dengan puisi, supaya mereka sadar bahwa puisi ada di mana-mana. Terakhir, pameran puisi kecil di koridor sekolah selalu jadi momen berkesan: mereka bangga melihat karya sendiri dipajang dan teman-teman saling memberi komentar positif.
Ngomong-ngomong soal bagaimana sutradara menghadapi stereotip hubungan sesama laki-laki, aku sering mikir soal keseimbangan antara kejujuran dan tanggung jawab. Dalam pandanganku, sutradara paling keren itu yang nggak cuma mematahkan stereotip secara retorika, tapi juga memperlihatkan kehidupan yang terasa nyata: rutinitas, canggung, gelak kecil, dan keintiman sehari-hari yang jarang digambarkan. Teknik yang sering mereka pakai antara lain menonjolkan momen-momen kecil—sentuhan ringan di meja makan, panggilan telepon di tengah malam, atau cara dua karakter saling menatap tanpa perlu dialog klise. Itu bikin hubungan terasa manusiawi, bukan sekadar label.
Visual dan bahasa sinematik juga penting. Kadang sutradara memilih framing yang setara—menghindari close-up berlebihan yang mengobjektifikasi satu pihak, atau penggunaan musik yang melodramatik untuk memaksa penonton merasa sedih atau sensasional. Dengan komposisi shot yang tenang dan pacing yang tak memaksa, mereka memberi ruang bagi penonton memahami dinamika emosional tanpa stereotip predator atau korban. Contoh yang sering kubicarakan sama teman: bagaimana 'Moonlight' dan 'Call Me by Your Name' menempatkan momen intim dalam konteks hidup sehari-hari, jadi penonton lebih fokus ke perkembangan karakter daripada orientasi semata.
Selain teknik visual, keterlibatan komunitas juga kunci. Sutradara yang bijak mengajak konsultan LGBTQ+ atau aktor yang punya pengalaman serupa untuk menghindari kesalahan representasi. Tapi penting juga untuk nggak jatuh ke representasi yang terasa tokenistik—kejujuran naratif harus diutamakan. Di akhir, yang bikin perbedaan adalah keberanian untuk menulis tokoh sebagai manusia lengkap: lucu, lelah, egois, baik hati—bukan hanya definisi relasi mereka. Bagi gue, itu lebih mengena daripada sekadar mematahkan stereotip lewat dialog tegas saja.
Satu hal yang sering kuketahui dari komunitas fanbase adalah betapa lagu bisa memicu dunia cerita sendiri.
Banyak penulis fanfiction menjadikan 'Malam Ini Tak Ingin Aku Sendiri' sebagai pemantik: bukan selalu adaptasi langsung, melainkan mood, baris lirik, atau bahkan judul dipakai sebagai jangkar untuk oneshot romantis atau ficlet melankolis. Kalau kamu mau cari, tempat pertama yang kucek biasanya 'Wattpad' dan beberapa grup Facebook/Telegram penggemar musik Indonesia. Di Wattpad, cari tag seperti "songfic", "inspired by", atau cukup masukkan judul lagunya pakai tanda kutip. Aku juga pernah menemukan beberapa versi bahasa Inggris di Tumblr dan AO3 dengan tag 'songfic'—meskipun lebih jarang.
Satu catatan penting: banyak penulis mengutip sedikit lirik sebagai referensi, tapi biasanya mereka menghindari menulis ulang seluruh lagu demi hak cipta. Kalau kamu menemukan cerita yang pakai lirik, periksalah apakah penulis mencantumkan sumber atau izin. Kalau mau membaca nuansa lagu dikembangkan jadi cerita, cari kata kunci yang menggambarkan suasana: sepi, rindu, malam, dan lain-lain. Kalau aku, setelah menemukan fic yang pas, rasanya seperti mendengar lagu itu lagi dari sisi karakter—hangat dan bikin penghayalan jalan terus.
Bayangkan adegan yang terasa hangat sekaligus membuat dagu bergetar — itulah peluang emas untuk fanfic berjudul atau berevolusi dari frase sederhana 'i have crush on you'. Aku biasanya memulai dengan menulis versi confession itu dalam bentuk pesan pendek: siapa yang mengatakannya, kapan, dan dengan nada apa. Dari situ aku kembangkan tiga versi scene: canggung face-to-face, pesan yang salah kirim, dan pengakuan tak sengaja di tengah kebisingan. Ketiganya memberikan dinamika berbeda pada reaksi tokoh dan pembaca.
Untuk menjaga agar cerita tidak terasa klise, aku fokus ke detail kecil: cara tangan gemetar, bau hujan di jaket, sampai kebiasaan konyol yang membuat si 'crush' terasa nyata. Teknik yang sering kupakai adalah POV terbatas—membuat pembaca hanya tahu apa yang tokoh utama rasakan, sehingga pengakuan 'i have crush on you' terasa berat dan bernilai. Sisipkan juga momen mundur (flashback) pendek untuk mempertegas alasan jatuh hati tanpa harus menjelaskan panjang lebar.
Akhirnya, jangan takut membiarkan pembaca menggantung sedikit: bukan semua hal harus langsung selesai. Kadang pengakuan membuka babak baru, bukan akhir mutlak. Aku selalu mengakhiri adegan pengakuan dengan satu kalimat kecil yang menunjukkan konsekuensi emosional, bukan resolusi penuh — itu yang bikin fanfic tetap hidup dalam imajinasi pembaca.
Tanah itu bener-bener fondasi—kalau tanahnya oke, mawar bisa mekar kayak konser kecil di taman rumah.
Aku pernah nyobain beberapa jenis tanah sebelum nemu campuran yang cocok buat mawar-mazar di kebunku. Intinya: mawar paling suka tanah yang gembur (loamy), kaya bahan organik, dan punya drainase yang baik. pH ideal biasanya sedikit asam sampai netral, sekitar 6,0–6,5. Kalau tanahmu pas-pasan (kebanyakan liat atau cuma pasir), kamu bisa memperbaikinya dengan mencampurkan kompos matang, pupuk kandang yang sudah difermentasi, dan sedikit pasir kasar atau perlite untuk melancarkan aliran air.
Praktiknya, aku biasanya gali lubang dua kali lebih besar dari akar ball tanaman, campur tanah asli dengan compost matang sebanding 1:1, tambahkan perlite sekitar 10–20% untuk area yang cenderung tergenang, dan atur permukaan tanam supaya air nggak menggenang di pangkal batang. Jangan lupa mulsa—lapisan organik tipis membantu menjaga kelembapan dan mengurangi gulma. Kalau mau lebih detil, tes pH dulu; kalau terlalu basa, tambahkan sedikit sulfur; kalau terlalu asam, tambahkan kapur dolomit. Percayalah, perbaikan tanah itu kerja sabar, tapi hasilnya bunga mawar yang sehat dan lebih tahan penyakit terasa sangat memuaskan.
Ada satu kejadian yang selalu kubawa saat menulis: kesalahan itu bisa jadi mesin emosi kalau dipakai dengan jujur.
Mulailah dengan memetakan apa sebenarnya kesalahanmu—apakah itu pengkhianatan kecil, kelalaian, atau kebohongan besar? Tuliskan dampak emosionalnya pada dirimu dulu, lalu pikirkan bagaimana dampak itu bisa diterjemahkan ke karakter. Jangan langsung menjadikan versi dirimu mutlak benar; berikan ruang untuk rasa malu, penyesalan, dan pertumbuhan. Dalam 2–3 adegan awal, tunjukkan moment kecil yang menyalakan konflik: misalnya satu pesan yang tidak dikirim atau keputusan yang salah waktu bertemu orang penting.
Selanjutnya, tentukan jenis cerita yang kamu mau: fanfic redemption, angsty, atau slice-of-life? Kalau ingin catharsis, fokus pada konsekuensi nyata dan proses memperbaiki—bukan sekadar pengampunan instan. Pakai POV dekat (aku/first person) untuk menangkap rongsokan perasaan dan detail kecil yang membuat pembaca ikut meraba malu itu. Akhiri dengan refleksi yang realistis: tidak semua kesalahan langsung lenyap, tapi ada ruang untuk belajar. Aku selalu merasa lebih lega setelah menulis bab itu, bahkan kalau masih sakit saat mengetiknya.