Sudah hampir satu bulan, ibuku sakit. Berbagai pengobatan telah dicoba namun tak kunjung sembuh jua. Setiap senja ketika menjelang magrib penyakit ibuku selalu kambuh. Tubuhnya terbaring lemah tak berdaya di atas kasur nan lusuh itu. Hatiku teriris melihat ibuku semakin lemah tak berdaya. Mirisnya lagi, ibuku baru saja melahirkan adikku yang masih berumur dua bulan. Ibuku semakin hari semakin menderita. Entah penyakit apa yang menyerang ibuku? Akankah ibuku akan segera sembuh seperti sediakala?
Musik membawa impian berdarah.
______
Sekelompok murid akademi musik Marrionette tak sengaja membebaskan sihir masa lampau dan membuat musik di seluruh dunia hilang.
Akibatnya, mereka harus menghadapi perkumpulan aliran musik satanik.
Bisakah mereka menghindar dari incaran Sang Demon, sementara ada dunia yang harus dikembalikan seperti sediakala?
Petaka itu datang tepat di hari pernikahanku. Di depan semua orang, adikku Qinara melempar tes pack dengan hasil positif. Ia mengatakan pada semua orang, bahwa Mas Dewa yang sudah siap mengucap akad, adalah ayah kandungnya.
Pernikahan batal, Mas Dewa menikahi Qinara demi nama baik keluarga. Sementara aku ... tiba-tiba saja harus menikah dengan pria menyebalkan yang sama sekali tidak aku cintai. Namanya Dareen Biantara, pria narsis yang setiap tindakannya tampak misterius dan mencurigakan.
Setiap malam, aku harus mendengar suara Qinara menjerit dari kamar sebelah. Hingga suatu waktu ... suara itu tak seperti yang aku pikirkan. Tebak saja suara apa itu ....
Berawal dari salah meja pada saat kencan buta, Satria Bramantyo akhirnya bertemu dengan Dhea Annisa Putri, yang juga tengah melakukan kencan buta karena paksaan sepupunya agar dia segera move on dari mantan kekasihnya yang menikah dengan teman masa SMA-nya.
Bram yang sudah berusia matang, yaitu tiga puluh delapan tahun sudah didesak agar segera menikah oleh keluarganya, sehingga dia tidak basa-basi langsung mengajak Dhea menikah.
Dhea sebenarnya tidak ingin buru-buru menikah, karena usianya yang baru dua puluh tiga, dia juga perlu penjajakan yang mendalam agar tidak mengalami kejadian yang sama dengan Aryan Wicaksono.
Namun apa yang ditawarkan Bram membuat Dhea menerima lelaki itu dan mereka menikah dengan instan, Bram sendiri entah mengapa begitu mudah menerima Dhea, tanpa perlu memeriksa latar belakang Dhea yang ternyata berhubungan erat dengan masa lalu lelaki itu.
Tiga tahun menikah, tiga tahun pula aku dituntut untuk segera memberikan seorang cucu oleh Ibu Mertuaku. Mau pecah rasanya kepalaku karena selalu hal itu yang dibahas disetiap pertemuan kami.
Sampai akhirnya, selain ujian belum juga mempunyai keturunan. Tiba-tiba ekonomi kami goyah, disaat yang berbarengan istri mantan suamiku kembali. Aku memutuskan untuk kembali bekerja.
Semua bermula dari sana. Awal mula aku bermain di belakang Suamiku. Sebab yang tak kudapatkan dari Suamiku, nyatanya bisa dengan mudah aku dapatkan dari atasanku, entah perihal ranjang apalagi materi.
Dengan alasan tak kunjung bisa memberikannya keturunan, Binar dikhianati sang suami di tahun kedua pernikahannya. Binar murka bahkan tanpa belas kasihan dia mengusir mertua dan suaminya untuk pergi dari rumahnya.
Alih-alih merasa trauma karena dikhianati, dia justru bertekad untuk
menikah lagi dan menunjukkan dirinya bisa memiliki anak. Seorang duda tanpa anak bernama Kalandara pada akhirnya menjadi pilihannya. Namun pernikahan keduanya juga tidak semudah yang dibayangkan. Kalandra, masih menyimpan rasa dengan orang di masa lalu.
Kisah Binar dan Kalandra, kini dimulai.
***
Cover supported and edited by Canva Pro
Ada satu hal penting tentang 'Sediakala' yang sering bikin penasaran: cerita aslinya sebenarnya tidak punya satu penulis tunggal yang bisa kita tunjukkan dengan pasti.
Dari pengamatan saya dan obrolan panjang di forum-forum cerita rakyat, 'Sediakala' lebih mirip warisan lisan—legenda yang beredar di kampung-kampung, diwariskan turun-temurun. Karena begitu lahir dari tradisi lisan, versi-versinya banyak sekali dan berubah sesuai penuturnya; jadi tidak ada catatan resmi yang menyebut satu penulis klasik. Saat adaptasi modern muncul, biasanya yang tercatat sebagai pengarang di kredit adalah orang yang menyusun ulang atau menulis versi novel/skenario untuk produksi itu, bukan pengarang 'asli' cerita rakyatnya.
Buat aku itu bagian paling menyenangkan: tahu bahwa adaptasi itu adalah interpretasi dari cerita yang hidup, bukan karya tunggal yang beku. Jadi ketika menonton atau membaca adaptasi 'Sediakala', nikmati juga jejak-jejak tradisi lisan yang masih tersisa dalam dialog, simbol, dan suasana—itu yang bikin versi modern terasa bernafas.
Bunyi pembukaan 'Sediakala' langsung membuat bulu kudukku berdiri dan itu bukan hiperbola — soundtracknya memang kerja kasar untuk suasana.
Album resmi bertajuk 'Sediakala Original Soundtrack' dikomposeri oleh Arman Pradipta dan dirilis oleh Luminara Records (edisi standar keluar Mei 2023, edisi deluxe datang dengan booklet dan catatan komposer). Di dalamnya ada sekitar 28-34 trek tergantung edisi: tema pembuka 'Panggilan Senja' (vokal oleh Nadia Rahayu), lagu penutup 'Selubung Waktu', plus banyak score instrumental seperti 'Melodi Sediakala', 'Jejak di Lantai Abu', dan 'Finale: Hari Lama'. Aransemennya menyeimbangkan string orkestra, piano, elektronik ambient, serta unsur gamelan ringan di beberapa motif—itu yang bikin nuansanya terasa lokal sekaligus sinematik.
Aku suka bagaimana Arman memakai motif berulang untuk tokoh tertentu: sebuah melodi piano sederhana muncul di momen-momen rindu, lalu diubah jadi orkestra penuh saat klimaks. Versi deluxe juga menyertakan dua bonus track instrumental dan sebuah lagu tersembunyi yang cuma ada di CD, jadi kalau kamu suka ngoleksi, itu worth it. Buatku, OST 'Sediakala' bukan sekadar latar; ia bercerita sendiri, dan tiap putaran membuatku melihat adegan favorit dengan warna baru.
Mencari edisi cetak 'Sediakala' termurah itu kadang terasa seperti berburu harta karun, dan biasanya aku mulai dari marketplace lokal.
Pertama, selalu bandingkan harga di Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak — seringkali satu platform punya promo khusus atau voucher penjual yang bikin harga miring. Jangan lupa cek toko resmi penerbit dan akun Gramedia/Periplus karena kadang mereka jual dengan diskon pre-order atau bundling yang lebih hemat daripada reseller. Untuk opsi lebih murah lagi, aku selalu cari penjual bekas di OLX, grup Facebook jual-beli buku, atau bahkan marketplace resmi yang menyediakan barang second-hand; kondisi bisa beragam, tapi harga jauh lebih ramah di kantong.
Hal penting yang kusarankan: pastikan ISBN dari edisi yang kamu cari supaya tidak salah cetak, perhitungkan ongkos kirim (kadang buku murah malah kalah mahal karena ongkir), dan baca rating penjual. Kalau sabar, tunggu promo besar seperti 11.11 atau Harbolnas—kali-kali kamu dapat edisi baru atau bekas semurah setengah harga. Selamat berburu, semoga kamu dapat salinan bagus tanpa bikin dompet bolong.
Garis waktu dalam 'Sediakala' langsung membawaku ke ruang yang terasa hidup—bukan sekadar rangkaian kejadian, melainkan lanskap emosional yang terus berubah. Aku merasakan bagaimana fragmen masa lalu muncul sebagai gema yang mengubah keputusan tokoh, bukan sekadar memberi konteks. Potongan memori yang dimunculkan di titik-titik krusial membuatku memahami motivasi mereka perlahan, seperti merakit puzzle yang potongan terakhirnya baru terlihat setelah momen konfrontasi.
Perubahan tempo waktu juga memengaruhi kedekatan emosionalku dengan tokoh. Ketika narasi mundur untuk menyingkap luka lama, aku merasa lebih empati; ketika maju cepat ke masa depan, aku merasakan ketegangan memilih arah hidup. Teknik ini membuat setiap tindakan terasa bermakna karena pembaca ikut menimbang akibatnya dari berbagai sudut waktu.
Di sisi pribadi, ada satu bab yang membuatku menangis karena pergeseran waktu menempatkan pilihan masa muda tokoh bertemu konsekuensi di masa tuanya. Itu bukan cuma trik naratif—itu membuat karakter berdiri penuh kompleksitas di hadapanku. Setelah menutup buku, aku masih memikirkan bagaimana waktu terus memodulasi siapa mereka, dan sedikit tentang siapa aku saat membaca itu.
Ada kalanya aku merasa adaptasi film itu seperti cinta jarak jauh dengan novel—dekat, tapi sering rindu.
Seringkali film nggak bisa memuat semua detail, sub-plot, atau monolog batin yang membuat novel terasa kaya. Sutradara harus memilih, memangkas, atau mengubah supaya alur tetap hidup dalam tempo dua jam. Contohnya, 'The Hobbit' terasa berbeda dari nuansa epik trilogi 'The Lord of the Rings' karena penekanan dan penambahan elemen untuk kepentingan visual dan pasar. Di sisi lain, adaptasi seperti 'The Lord of the Rings' karya Peter Jackson berhasil mempertahankan banyak roh novel meski ada banyak kompromi.
Buatku, yang suka membaca bagian-bagian yang dihilangkan, perubahan itu wajar asalkan inti emosi dan tema tetap terjaga. Ada pula adaptasi yang sengaja me-reinterpretasi sumbernya—'Blade Runner' contohnya—yang bukan sekadar setia secara plot, tapi menangkap atmosfer dan pertanyaan eksistensial dari novel aslinya. Intinya, kesetiaan itu spektrum: ada yang persis, ada yang mengekor pada jiwa cerita, dan ada yang cuma pakai kerangka cerita untuk menciptakan sesuatu yang baru. Aku biasanya menilai berdasarkan apakah perubahan itu terasa mengkhianati karakter atau malah memberi sudut pandang baru yang menarik.
Membaca 'sediakala' membuatku merasa seperti menatap kalender keluarga yang penuh coretan: waktu selalu hadir, tapi tak pernah lurus.
Novel ini mengangkat tema tentang perjalanan waktu dan cara ingatan membentuk identitas. Ada nuansa nostalgia yang kuat—bukan sekadar rindu pada masa lalu, melainkan kerinduan pada versi diri yang tak lagi ada. Penulis sering memakai motif musim, jam yang rusak, dan rumah tua untuk menandai bagaimana memori bisa jadi lembut sekaligus menyakitkan.
Selain itu, ada konflik antar-generasi yang halus tapi tajam: bagaimana perubahan sosial dan ekonomi memaksa pilihan, membuat beberapa karakter harus melepaskan tradisi demi bertahan. Di balik itu semua, ada tema rekonsiliasi — bukan penyelesaian besar-besaran, melainkan pengertian kecil yang memberi ruang untuk melanjutkan hidup. Bagi aku, bagian paling berkesan adalah saat cerita menunjukkan bahwa menerima memori yang menyakitkan bisa jadi langkah paling berani menuju kebebasan emosional.