Dalam keluarga kami, hubungan fisik seperti pelukan atau sentuhan ringan antar saudara memang biasa dilakukan sebagai bentuk keakraban. Tapi kalau sudah sampai berciuman atau sentuhan intim, itu jelas melewati batas. Aku pernah melihat sepupuku yang terlalu dekat dengan suami bibinya—akhirnya malah bikin suasana keluarga jadi awkward. Intinya, selama nggak ada niat terselubung dan semua pihak merasa nyaman, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau salah satu pihak mulai merasa tidak enak, lebih baik dihindari.
Yang penting komunikasi dengan pasangan harus jujur. Kalau ada yang merasa risih, ngobrol baik-baik biar nggak jadi masalah besar. Hubungan keluarga itu kompleks, jadi bijaklah dalam menempatkan diri.
Pernah dengar pantun ini? 'Jalan-jalan ke pasar baru, beli duku rasanya asam. Aku tanya kamu suka aku nggak? Kamu bilang iya, tapi cuma di Instagram.' Lucu banget kan? Pantun ini nangkep betul fenomena zaman now di mana banyak orang berani ngomong 'aku suka kamu' cuma lewat medsos, tapi nggak berani ngomong langsung.
Atau ada lagi nih, 'Pergi ke pasar beli ketupat, ketupatnya dimakan kucing. Aku naksir kamu udah lama, tapi kamu cuma bisa bikin aku pusing.' Ini bikin senyum karena relatable banget buat yang pernah naksir seseorang tapi nggak pernah dapat respon yang jelas. Pantun cinta tapi dikemas dengan humor ringan gini selalu bisa bikin suasana jadi lebih cair.
Aku baru-baru ini ngecek detail drama 'Perebuh Suamiku' karena penasaran sama castingnya. Setahu aku, Hadia Jenasa memang terlibat di situ, tapi bukan sebagai pemeran utama. Dia muncul dalam beberapa episode dengan peran pendukung yang cukup memorable. Kalau mau lihat aktingnya yang lebih dominant, mungkin lebih worth it cari series lain kayak 'Dosa di Balik Pintu'.
Btw, alur ceritanya sendiri cukup nendang lho—banyak twist yang bikin emosi naik turun kayak rollercoaster. Cocok banget buat yang suka genre melodrama keluarga dengan sentuhan konflik psikologis.