Kau pasti sudah berubah banyak sekarang, tapi ingatkah kau bagaimana dulu kau selalu menulis di buku harian setiap malam dengan lampu kecil yang remang-remang? Aku menulis ini di usia 25 tahun, ketika masih sering ragu antara memilih passion atau stabilitas. Aku harap kau sudah menemukan cara untuk menyeimbangkan keduanya.
Jangan lupa untuk tetap menyimpan edisi khusus 'Harry Potter' yang kau beli dengan uang tabungan tiga bulan. Buku itu bukan sekadar koleksi, tapi simbol ketekunanmu. Apakah kau masih suka membaca novel fantasy sebelum tidur? Ataukah waktu sudah menggeser kebiasaan kecil yang menyenangkan itu?
Terakhir, tolong rawat tanaman lidah mertua di balkon. Dulu kau selalu bilang itu temaramu saat bekerja freelance sampai larut malam. Aku ingin percaya bahwa di masa depan, kau masih menyisakan ruang untuk hal-hal sederhana yang membuatmu tersenyum.
Ada sesuatu yang magis tentang menulis surat untuk diri sendiri di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Aku menemukan itu seperti berhenti sejenak di stasiun waktu, di mana aku bisa bercakap-cakap dengan versi diriku yang berbeda—entah itu masa lalu atau masa depan. Surat-surat itu menjadi semacam peta emosional yang mencatat pergolakan batin, impian yang belum tercapai, atau bahkan pencapaian kecil yang sering terlupakan.
Beberapa tahun lalu, aku menulis surat untuk diriku lima tahun ke depan dan menyimpannya di balik sampul buku harian. Ketika akhirnya kubuka lagi, rasanya seperti menemukan harta karun. Ada rasa malu melihat betapa naifnya beberapa harapan, tapi juga kebanggaan karena ternyata ada hal-hal yang berhasil kuwujudkan tanpa sadar. Proses ini memberiku perspektif bahwa pertumbuhan pribadi itu seperti membaca novel berseri—kita sering lupa betapa jauhnya jalan yang sudah ditempuh.