Gue sempet baca penelitian tentang 'limerence'—kondisi di mana kita terobsesi sama seseorang yang gak reciprocate perasaan kita. Psikolog nyaranin tiga langkah: accept, distract, rebuild. Accept itu artinya nerima bahwa perasaan ini valid tapi gak akan pernah berbuah. Distract berarti cari kesibukan baru; gue akhirnya gabung komunitas board game dan ketemu orang-orang dengan energi segar. Rebuild itu tentang ngebangun identitas di luar hubungan itu. Pelan-pelan, gue sadar bahwa self-worth gue gak tergantung sama orang yang gak bisa ngeliat nilai gue.
Ada fase di mana gue ngerasa stuck sama perasaan ke seseorang yang gak bisa gue miliki. Dari perspektif psikologi, ternyata otak kita itu suka 'terjebak' dalam ilusi 'what if'. Salah satu cara efektif buat move on adalah dengan memutus siklus pikiran ini. Gue mulai praktikkin mindfulness, fokus sama hal-hal konkret di depan mata: kerjaan, keluarga, atau bahkan series baru yang seru buat ditonton.
Psikolog juga ngasih tips buat ngebangun 'self-compassion'. Daripada nyalahin diri sendiri karena ngerasa cinta terlambat, gue belajar nganggep ini sebagai bagian dari proses dewasa. Gue buat daftar hal-hal yang gue syukurin dalam hidup, dan ternyata masih banyak banget hal lain yang layak dapat perhatian gue selain mantan crush itu.
Pernah ngerasain jatuh cinta sama seseorang yang ternyata udah punya pasangan? Itu sakit banget, tapi gue belajar beberapa hal dari pengalaman pribadi dan riset psikologi. Pertama, penting banget buat ngakuin perasaan kita sendiri—jangan dipendem atau disangkal. Nangis, marah, atau kecewa itu manusiawi. Psikolog sering nyaranin teknik 'journaling' buat mencurahkan emosi lewat tulisan, dan gue setuju banget ini membantu ngurangi beban mental.
Kedua, mulai jarakin diri dari sumber luka: unfollow media sosialnya, hindari kontak yang gak perlu. Psikologi bilang ini namanya 'behavioral activation'—alihin energi ke kegiatan positif kayak olahraga atau hobi baru. Gue dulu iseng nyoba kelas pottery dan ketemu temen-temen baru yang bikin perspektif gue tentang hubungan jadi lebih sehat. Lama-lama, rasa itu bakal memudar sendiri kok.
2026-04-29 08:50:46
11
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta
Lin shi
10
31.8K
Tidak selamanya pernikahan karena cinta selalu bahagia dalam pernikahannya. Begitu juga yang terjadi dengan Dina. Kesederhanaannya ternyata membuat Danang malu untuk mengenalkan Dina dengan rekan kerja suaminya itu. Lantas, haruskah Dina bertahan atau memintai cerai jika sudah tak ada yang dapat pertahankan? Menyesalkah Danang melepas Dina nantinya?
Tak sengaja aku mengenalnya, bersahabat dan akrab, anak anakku juga akrab dengannya. Kuanggap ia adikku dan kuberikan ia apa yang dia butuhkan. Tapi tak kusangka perjalanan takdir menunjukkan siapa dia yang sesungguhnya. Sungguh mengejutkan, aku nyaris terpental dalam syok dan tak menyangka aku memelihara duri dalam dagingku.
Ketika Cinta Dianggap Kebiasaan, Aku Memilih Melepaskan
Pitaloka
7
4.0K
Clara menghabiskan sepuluh tahun penuh, selangkah demi selangkah berjalan hingga bisa berada di sisi Chandra. Dari seorang yang diam-diam mencintai tanpa dikenal siapa pun, hingga menjadi tunangan yang diakui langsung olehnya. Namun tepat setengah bulan sebelum pernikahan, dia memutuskan untuk melepaskan Chandra.
"Kak, aku mengajukan diri untuk pindah ke institut riset cabang barat laut. Tolong tambahkan namaku ke dalam daftar."
Clara meletakkan formulir pengajuan yang sudah ditandatangani di atas meja kerja dengan tenang.
Penanggung jawab di balik komputer mendongak dan menatap Clara dengan terkejut. "Clara, setahuku kamu dan Chandra bakal menikah bulan depan, 'kan?"
Siapa sangka, gadis secantik Theona telah dijual oleh keluarganya pada pria tua berusia 65 tahun dan dinikahkan dengan putra tampannya, Ikosagon.
Setelah menikah, Theona memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya pada Ikosagon. Namun sayangnya, ia selalu diperlakukan kasar dan dingin karena sang suami memiliki wanita lain di hatinya. Bahkan, Theona selalu diberi obat peluruh janin setiap kali mereka berhubungan badan. Ia juga dilarang hamil jika tidak ingin anaknya dibunuh oleh Ikosagon sendiri.
Seperti apa kelanjutan kisah Theona dan Ikosagon?
Apa yang akan Theona lakukan jika ia tahu dirinya tengah hamil?
Cover by bing and design by me
Cerita ini dipublikasikan pada 17 Juli 2024
Deandra selalu punya satu aturan sederhana dalam hidupnya:
jangan pernah jatuh cinta.
Di usia 24 tahun, ia sudah terlalu sering melihat bagaimana cinta menghancurkan orang. Jadi ia memilih aman-bertato, bersikap dingin, menjaga jarak. Semua orang boleh dekat, tapi tak boleh terlalu dalam.
Sayangnya, hati tidak pernah benar-benar patuh pada logika.
Di tengah terapi yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa kecilnya, Deandra justru dipaksa menghadapi satu hal yang paling ia hindari: perasaan yang tumbuh tanpa izin. Tatapan yang terlalu lama. Kepedulian yang terasa berbeda. Seseorang yang tak pergi meski ia berkali-kali menyuruhnya menjauh.
Ia tahu risikonya.
Ia tahu bagaimana akhirnya nanti.
Tapi bagaimana kalau untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak ingin menyelamatkannya, melainkan memilih tinggal dan berjalan bersamanya?
Di antara luka yang belum sembuh dan masa lalu yang terus mengejar, Deandra harus memilih: tetap memeluk ketakutannya... atau mencoba mempercayai cinta, meski itu berarti membuka kemungkinan untuk hancur lagi.
Karena terkadang, yang paling menakutkan bukanlah patah hati-
melainkan bahagia, dan tidak tahu cara mempertahankannya.
Esensi Cinta adalah cerita tentang trauma yang tidak selesai, tentang keluarga yang tidak sempurna, dan tentang keberanian paling sulit: membiarkan diri sendiri bahagia.
Mereka dipaksa bersama dalam ikatan yang tak diinginkan.
Awalnya dingin, penuh penolakan, bahkan terasa seperti hukuman.
Namun, perlahan keterpaksaan itu berubah jadi sesuatu yang sulit dijelaskan—hangat, membingungkan, sekaligus berbahaya.
Saat cinta mulai tumbuh, rahasia masa lalu dan orang-orang yang tak rela melihat mereka bahagia datang mengguncang segalanya.
Apakah cinta yang lahir dari keterpaksaan bisa bertahan?
Atau justru hancur sebelum sempat mekar?
Ada sesuatu yang pahit tapi perlu tentang mengakui bahwa perasaan ini tidak pun tempat untuk tumbuh. Aku pernah terjebak dalam situasi serupa, dan yang membantu adalah menyadari bahwa cuma ada dua pilihan: terus menyiksa diri dengan harapan kosong, atau memilih untuk menghargai diri sendiri cukup untuk berjalan menjauh.
Mulailah dengan membatasi kontak—unfollow media sosialnya, hindari obrolan yang mengingatkanmu padanya. Isi waktu dengan hal-hal baru: eksplorasi hobi, baca buku seperti 'The Midnight Library' yang bicara tentang pilihan hidup, atau tonton anime semacam 'Nana' yang menggambarkan kompleksnya hubungan. Perlahan, kamu akan menemukan ruang untuk bernapas lega tanpa beban itu.
Ada satu momen di mana aku menyadari bahwa mencintai seseorang bukan berarti harus memilikinya. Aku pernah terjebak dalam perasaan yang sama selama berbulan-bulan, sampai akhirnya memutuskan untuk mengalihkan energi ke hal lain. Mulai dari mengejar hobi yang tertunda sampai mencoba kegiatan baru seperti hiking atau ikut kelas memasak. Lama kelamaan, pikiran tentang dia mulai berkurang karena aku terlalu sibuk menikmati hidup.
Yang juga membantu adalah membatasi kontak, termasuk tidak lagi mengintip media sosialnya. Aku memberi diri sendiri 'ruang bernapas' tanpa harus terus-terusan terpapar informasinya. Perlahan tapi pasti, hati ini mulai lega. Bukan berarti lupa, tapi lebih bisa menerima bahwa beberapa cerita memang tidak harus berakhir bahagia.
Pernah ngerasain stuck di masa lalu padahal udah nikah? Aku juga pernah. Yang bikin beda adalah aku mulai ngeliat pernikahan sebagai babak baru, bukan sekadar 'lanjutan' dari hubungan sebelumnya.
Coba deh eksplor hobi bareng pasangan sekarang—aku malah ketagihan main board game sampe koleksi 'Catan' dan 'Ticket to Ride'. Gak cuma ngisi waktu, tapi bikin chemistry baru. Satu lagi: unfollow mantan itu wajib hukumnya. Trust me, liat story mereka lagi cuma bikin kamu compare terus sama hidup sekarang.
Ada satu hal yang sering terlupa saat kita terjebak dalam hubungan toxic: kita sebenarnya lebih kuat dari yang dikira. Aku pernah terpuruk berbulan-bulan karena seseorang yang bolak-balik bikin janji palsu, sampai akhirnya menyadari bahwa memori tentang dia justru lebih indah daripada kenyataannya. Mulailah dengan memutus semua kontak - unfollow, hapus nomor, tutup pintu dialog imajiner di kepala. Ganti ritual merindukannya dengan aktivitas baru yang bikin adrenalin terpacu, seperti olahraga ekstrem atau eksplorasi hobi gila. Aku malah belajar skateboard di usia 25 tahun demi alihkan pikiran!
Lalu buat daftar panjang berisi semua red flag yang dulu diabaikan. Baca ulang setiap kali nostalgia muncul. Perlahan-lahan, kamu akan tersadar bahwa yang dirindukan bukan orangnya, tapi versi ideal yang kamu ciptakan sendiri. Terakhir, izinkan diri marah. Kemarahan sehat justru mempercepat proses healing daripada terus memposisikan diri sebagai korban.
Kehilangan seseorang yang sangat dicintai, apalagi pasangan hidup, itu seperti kehilangan bagian dari diri sendiri. Aku pernah membaca buku 'The Year of Magical Thinking' karya Joan Didion yang menggambarkan proses berduka dengan sangat jujur. Yang paling membantu menurutku adalah memberi diri waktu untuk merasakan semua emosi itu—sedih, marah, bahkan rasa bersalah yang kadang muncul tanpa alasan. Jangan buru-buru memaksa diri 'move on' karena justru bikin prosesnya lebih panjang.
Coba buat ritual kecil untuk menghormati memorinya, seperti menulis surat atau mengunjungi tempat favorit bersama. Aku juga menemukan bahwa bercerita tentang kenangan indah kepada orang lain itu terapeutik—lambat laun, sakitnya berkurang dan yang tersisa adalah rasa terima kasih karena pernah berbagi hidup bersamanya. Yang penting, jangan isolasi diri; teman atau support group yang memahami bisa jadi penyelamat di masa gelap.