Kalau ada lagu populer berjudul 'Work in Progress', pasti ada alasan kuat di baliknya. Mungkin ini lagu tentang perjuangan pribadi si artis—seperti comeback setelah hiatus, atau perjalanan mental health. Atau jangan-jangan ini semacam easter egg untuk fans yang tahu proses kreatifnya penuh revisi? Aku malah kepikiran tren di TikTok dimana orang pakai audio 'unfinished' tracks sambil bercerita tentang kegagalan mereka. Judul lagu yang tepat bisa jadi cultural moment, dan 'Work in Progress' terdengar seperti anthem generasi yang menolak toxic productivity.
Ada sesuatu yang menyentuh tentang frasa 'Work in Progress' yang dipakai sebagai judul lagu. Kalau ditafsirkan secara harfiah, ini bisa merujuk pada proses kreatif musik itu sendiri—seperti catatan di balik layar yang bilang, 'Hey, ini belum final, tapi ini bagian dari perjalanan.' Tapi di sisi lain, aku sering merasa ini metafora untuk kehidupan manusia. Kita semua adalah karya yang belum selesai, terus belajar, tumbuh, dan kadang berantakan. Liriknya mungkin eksplorasi dari gagasan itu: tidak harus sempurna untuk punya nilai.
Beberapa artis seperti Demi Lovato atau K-pop grup (G)I-DLE pernah memakai konsep serupa dalam lagu mereka. Aku suka cara musik bisa mengabadikan momen 'dalam proses' itu—baik sebagai pengingat untuk diri sendiri atau sebagai bentuk kejujuran pada pendengar. Rasanya seperti dapat pegangan saat melalui fase transisi dalam hidup.
Pernah dengar lagu 'Work in Progress' dari band-rock atau indie? Judul semacam itu biasanya punya lapisan makna ganda. Di satu sisi, bisa jadi kritik sosial tentang sistem yang selalu menuntut kesempurnaan instan. Di sisi lain, mungkin juga lagu cinta yang mengakui hubungan masih perlu banyak perbaikan. Aku sendiri selalu terpana bagaimana tiga kata sederhana bisa jadi begitu relatable—entah buat mahasiswa yang skripsinya berantakan, karyawan yang merasa stuck, atau seniman yang terus mengutak-atik karyanya sampai deadline. Musik punya cara unik untuk menyatukan semua keresahan itu dalam satu judul yang universal tapi personal.
Judul ini mengingatkanku pada percakapan dengan teman desainer grafis yang selalu bilang 'WIP' di file-projectnya. Dalam konteks lagu, mungkin artisnya ingin bilang: 'Ini ceritaku sekarang, tapi besok bisa berubah.' Aku malah penasaran apakah lagunya sendiri dibangun dengan elemen 'unfinished'—misalnya ada demo vocal yang disengaja dibiarkan kasar, atau aransemen minimalis yang memberi ruang untuk interpretasi. Karya seni paling menarik justru yang memberi ruang untuk ketidaksempurnaan, dan judul seperti ini bisa jadi pintu masuk ke dialog itu.
2026-05-06 15:29:57
6
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali
Cupcake
10
12.6K
Di tahun ketiga pernikahan Marissa Pranaya dan Arka Kivandra, ada sebuah kabar baik.
Akhirnya, Marissa bisa meninggalkan laki-laki itu.
"Satu bulan lagi kakakmu akan pulang. Selama sebulan ini, teruslah berpura-pura menjadi dirinya dengan baik." Di ujung telepon, suara Bu Elvira Pranaya terdengar dingin seperti biasanya. "Setelah semua ini berakhir, aku akan kasih kamu 60 miliar, agar kamu bisa menjalani hidup yang kamu mau."
"Aku mengerti," jawab Marissa pelan, suaranya tenang bagaikan air yang tiada bergelombang.
Setelah menutup telepon, Marissa menengadah, menatap foto pernikahan berukuran raksasa yang terpajang di dinding.
Pernikahan tanpa cinta, dendam tersembunyi, dan luka terdalam. Glen membenci Aruna karena wasiat sang kakek. Bagi Glen, Aruna adalah simbol paksaan. Tapi di balik senyum Aruna, tersembunyi luka yang tak pernah disuarakan. Ketika Aruna memilih mengakhiri hidupnya tepat di hadapan Glen, segalanya berubah—termasuk hatinya.
Kalea Pradipta adalah seorang gadis yang selalu ceria dan memiliki banyak hobby. Sesuai dengan hobbynya yaitu menyanyi, sedari kecil Kalea selalu mengikuti berbagai ajang pencarian bakat dan sudah meraih berbagai prestasi dalam bidang menyanyi. Kalah dalam pencarian bakat? Sudah biasa, tapi ia tidak mau berputus asa dan menyerah. Kalea yang biasa akrab disapa Lea ini, tetap gigih mencapai cita-citanya menjadi penyanyi muda berbakat. Hingga ia akhirnya di kontrak oleh label musik Indonesia yang bertaraf internasional. Ia juga seorang anak tunggal dari pemilik sebuah wedding organizer yang terkenal di Indonesia. Mamih dan papihnya selalu memanjakannya juga sangat menyayanginya.
Damas Evans adalah seorang CEO. Tampan, muda, pintar dan berbakat. Ia adalah anak bungsu dari pemilik Nada Indonesia Corp. Perusahaannya bergerak dibidang label musik dan entertaiment bertaraf internasional, perusahan perikanan, dan kuliner. Laki-laki berusia dua puluh lima tahun ini ditunjuk sebagai penerus perusahaan milik ayahnya, sejak ayahnya pensiun. Damas Evans yang biasa disapa dengan Damas ini memiliki dua kakak perempuan yang sangat menyayanginya dan sangat dekat dengannya. Damas juga pintar bermain alat musik. Ia diam-diam menyukai Kalea setelah putus dengan mantan kekasihnya.
-Waiting For Her Love, a story by SZ. Soed-
* * * * * * *
Cover By : Diarra_Design
Dibesarkan di keluarga yang menganut adat kuat membuat Zayna Zee Zara masuk dalam perangkap berondong kinyis yang sukses dan juga manis.
Pertemuan tidak terduga membuat Arta Satya Adiwirya seorang penerus perusahaan online shop tersohor di Indonesia, menginginkan Zayna jadi miliknya. Zayna yang menolak membuat Arta memutar otak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Pamali menolak lamaran 3 kali, yang ketiga harus di terima, jika tidak nasib sial akan menimpa keluarga anda."
Zayna marah dengan tingkah Arta yang nekat itu. Dia bahkan membodohi keluarganya dengn mitos, yang sialnya keluarganya percaya.
"Kamu milik saya, dan akan terus begitu sampai kehidupan berikutnya, sayang.."
"Pria licik!"
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Yukk mari baca..
Salam hangat dari
Anggrek Hitam
Cover by. Painters
Dingin... Pagi ini dingin menusuk hilang ke relung hati.Menenggelamkan rasa candu yang selama ini melekat dalam diri. Apa yang kau inginkan?Maaf aku belum bisa mengabulkannya.Ada batasan tak kasat mata untuk kita, dan itu karena kau yang memulainya.Jadi mengapa saat ini kau kembali merusak keyakinanku, dengan bersikap kekanakan? Apa kau tahu bagaimana rasanya melawan arus?Tolong jangan seperti ini.Jangan menyulitkan apa yang sudah mulai kuterima.Kau hanya perlu untuk melanjutkan sisa hidup, dan aku pun demikian.°• Julia Malika Kuncoro•°Aku menyesal melewatkanmu,tanpa berjuang lebih dulu.Seharusnya aku tidak membiarkankesempatan itu lewat begitu saja,di saat kuyakini kau memiliki rasa untukku.Saat ini ketika tak ada satu pun petunjuk, aku merasa benar-benar seperti manusia bodoh.Puluhan purnama aku berusaha, tapi puluhan kali pula aku merasasemakin bodoh lagi dan lagi.Apa yang kau inginkan?Haruskah semua ini ku akhiri? °• Saidan Pratama Putra•°
Nadine percaya rumah adalah tempat untuk pulang. Tapi ketika suaminya, Raka, semakin sering membawa pulang lelah—bukan cinta—dan nama perempuan lain mulai muncul di sela-sela telepon, Nadine mulai mempertanyakan segalanya.
Tania, rekan kerja Raka, hadir tanpa banyak suara. Ia tahu celah itu sudah ada. Ia hanya tinggal masuk.
Di tengah keretakan itu, Adrian—teman lama sekaligus sahabat Raka—muncul sebagai sosok yang mengerti. Tapi Nadine tahu: perasaan yang datang di tengah luka, bisa jadi jebakan yang lebih halus.
"Rumah Tanpa Pulang" adalah kisah tentang cinta yang tak lagi kembali, kebisuan yang menyakitkan, dan langkah paling berat: memilih diri sendiri saat cinta tak lagi tinggal.
Mendengarkan 'Work in Progress' selalu bikin aku merenung tentang perjalanan hidup. Lagu ini kayak cermin buat banyak orang, terutama generasi muda yang masih mencari jati diri. Liriknya yang jujur tentang proses, kegagalan, dan harapan itu relate banget sama fase 'belum jadi' tapi tetap berusaha. Aku suka bagaimana musiknya nggak terlalu berat, tapi bisa nyampein emosi yang dalem.
Ada satu bagian lirik yang ngena banget: 'Bukan salahmu jika kau terjatuh, yang penting bangun lagi'. Itu kayak reminder kalau progress itu nggak linear, dan itu okay. Buatku, lagu ini lebih dari sekadar hiburan—ini semacam teman di kala galau.
Ada sesuatu yang magis dari lagu 'Work in Progress' yang bikin aku selalu kembali mendengarnya. Liriknya tentang perjalanan seseorang yang terus berusaha menjadi versi terbaik diri sendiri, dengan segala ketidaksempurnaan dan prosesnya. Aku suka sekali bagian chorus yang bilang 'I'm still a work in progress, every scar is part of my story'—terjemahan kasarannya mungkin 'Aku masih dalam proses, setiap luka adalah bagian dari ceritaku.'
Kalau diterjemahkan lebih natural dalam Bahasa Indonesia, mungkin bisa jadi 'Masih dalam pengerjaan, setiap bekas luka jadi bagian kisahku.' Terjemahan literal kadang nggak ngambil roh lagunya, jadi lebih baik cari makna yang nyaman di telinga lokal. Lagu ini cocok banget buat mereka yang lagi proses self-improvement, kayak reminder bahwa nggak ada yang instan.
Penyanyi lagu 'Work in Progress' adalah duo pop Korea Selatan, AKMU (Akdong Musician). Lagu ini sebenarnya bagian dari album 'Sailing' yang dirilis tahun 2019, tapi baru booming global ketika di-cover oleh banyak musisi di TikTok tahun 2022. Liriknya tentang proses menerima ketidaksempurnaan diri—aku selalu suka cara mereka menyampaikan filosofi kompleks dengan melody sederhana. Suara Lee Chanhyuk yang serak kontras dengan Lee Suhyun yang jernih bikin lagu ini terasa seperti obrolan antara dua sisi kepribadian.
Maknanya dalam secara harfiah tentang 'pekerjaan yang belum selesai', tapi konteksnya lebih ke perjalanan emosional. Ada line favoritku: 'We’re just sketches in a notebook, but someday we’ll be masterpieces'—itu mewakili optimisme yang realistis. AKMU emang jagonya bikin lagu yang deep tapi relatable, apalagi buat generasi muda yang sering merasa 'belum cukup'.
Ada sesuatu yang sangat jujur dan personal tentang lagu 'Work in Progress' yang langsung menarik perhatianku. Liriknya seperti percakapan intim dengan diri sendiri, menggambarkan perjalanan seseorang yang terus belajar menerima ketidaksempurnaan. Aku sering menemukan diri terpaku pada baris-baris seperti 'I'm not finished, I'm just clay' - itu metafora yang begitu kuat tentang menjadi manusia yang selalu terbentuk, belum selesai, tapi justru dalam proses itulah keindahannya.
Yang menarik, lagu ini juga bicara tentang tekanan sosial untuk selalu tampil 'sempurna'. Dalam bagian bridge, ada lirik tersirat tentang bagaimana kita sering membandingkan draft kasar hidup kita dengan highlight reel orang lain. Pesannya sangat relevan di era media sosial sekarang, di mana kita semua butuh pengingat bahwa progress itu nonlinear dan setiap orang punya timeline berbeda.