Di Bawah Selimut Tetangga
Ia menatap layar itu beberapa detik, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya menekan tombol hijau.
“Om,” sapanya pelan.
“Kamu di mana?” suara Bram terdengar hangat, tidak menyelidik.
“Di Jakarta.”
“Hm,” Bram mendengus kecil. “Kamu tahu kan, minggu depan ada kumpul keluarga kecil di Bandung.”
Sagara terdiam.
“Kamu nggak harus datang,” lanjut Bram cepat, seolah membaca keheningan itu, “cuma mereka tanya terus, katanya ‘gimana kabar Sagara?’. Lima belas tahun itu lama, Gar.”