MERTUA IDAMAN
“Pikirkan saja baik-baik! Kedai kopi ini akan ditutup selama tiga sampai empat hari untuk berbenah. Jika masih ingin bergabung, silakan! Tapi mohon maaf apabila bonus-bonus yang biasa kalian terima itu hilang untuk saat ini. Hanya ada gaji pokok saja. Kalian tahu sendiri, kan, sebabnya apa? Sebabnya, ya, kalian sendiri. Kalau memang keberatan, boleh meninggalkan kedai kopi ini sekarang!”
Entah benar atau tidak aku mengatakan itu. Namun, aku melihat ke arah Mas Yusuf yang manggut-manggut menatapku.
“Kami masih ingin di sini.” Mereka serempak mengatakan itu.
“Baiklah jika itu yang kalian mau. Mohon kesadaran dan kerjasamanya. Karena apa? Kalau kedainya ramai seperti dulu, kan, yang senang juga