Dewa
Titin Widyawaticerpen suamiku garangcerita sedih anak tak dianggap
Tapi Zafan bukan seperti itu, jiwa Zafan memang tak bisa dipungkiri masih tenggelam dalam bara kebencian sikap Reihan, tapi kepeduliannya tak akan lengang begitu saja, melihat kini sahabatnya yang bejat itu terkapar tak berdaya.
"Reihan! Kau kenapa?" desis Adelia untuk yang kesekian kalinya. Dia duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya menyentuh leher Reihan, mencari-cari denyut nadi pemuda itu.
"Hapenya mana? Kita telfonkan saja ibunya. Biar kita bisa ambil tindakan," usul Zafan sambil menebar pandang untuk menangkap keberadaan benda elektronik itu. Meja belajar, rak buku, lembaran permadani, meja teve, di lemari, semuanya tak ada. Entah di mana hapenya bersembunyi, di atas kasur pun tak ada.
人気のチャプター