Chapter: 338. OversharingSerayu menghabiskan makan siangnya yang tersisa sedikit lagi, lalu merapikan perlengkapan pumping dan menyimpan ASI perahnya di tempat penyimpanan khusus. Semuanya dilakukan dengan sedikit terburu-buru, tetapi ia tak ingin ada satu langkah pun yang terlewat. Hal itu penting baginya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk putra kecilnya. Setelah memastikan semuanya beres, ia segera menuju kafetaria. "Saya kayaknya pernah beberapa kali lihat perempuan ini datang ke rumah sakit, Dok,” ujar salah seorang rekan dokter yang berjalan di sampingnya. "Tapi saya nggak tahu kepentingannya apa. Biasanya kelihatan keluar dan masuk area administrasi." Serayu hanya mendengarkan. "Tadi saya sempat tanya namanya siapa, tapi dia nggak mau jawab. Maunya ketemu langsung sama Dokter. Saya bilang tunggu di kafetaria saja karena saya tahu Dokter lagi makan. Baru dia mau." Serayu mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok,” balas Serayu. Ia mempercepat langkahnya. "Itu, Dok... yang pakai blazer hita
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: 337. Hari Pertama KerjaSetelah Abra kembali bertugas, kini giliran Serayu memulai hari pertamanya bekerja. Pagi tadi, ia menghabiskan waktu cukup lama memeluk Satria sebelum berangkat. Rasanya berat meninggalkan putra kecilnya, meski hanya untuk beberapa jam. Semua perlengkapan pumping pun sudah dipastikan masuk ke dalam tas. "Kenapa diam saja, hmm?" tanya Abra. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Husada. Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya, lalu mengecup punggung tangannya. "Udah kangen anaknya masa," rajuk Serayu. Abra tersenyum tipis. "Nanti kangen papanya juga, nggak?" "Mas..." Serayu hanya mendesah pelan. Ia sudah terlalu hafal dengan godaan suaminya itu. Abra terkekeh kecil. "Nanti pulangnya saya sama Satria yang jemput." "Belum tahu selesai jam berapa juga," kata Serayu. "Kalau sudah selesai, kabari saya." Serayu mengangguk. Saat mobil berhenti di depan rumah sakit, Serayu belum juga turun. Tangannya masih melingkar di lengan Abra, seolah enggan melepaskannya.
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: 336. Foto Keluarga KecilSesampainya di rumah, perhatian Serayu langsung tertuju pada Satria. Oleh-oleh terbaik untuk putra kecilnya itu adalah beberapa botol ASI hasil pumping yang menambah memenuhi kulkas khusus penyimpanan ASI. "Pangerannya sudah tidur?" tanya Abra sambil mengulurkan tangan ketika Serayu masuk ke kamar. Serayu menyambut uluran itu, lalu duduk di pangkuan suaminya. "Sudah. Malam ini anaknya tidur di kamarnya. Tidurnya pulas banget, jadi nggak tega dipindahin. Nanti kalau bangun dan minta susu, biar nanny yang hangatkan ASI," jelas Serayu. Abra mengangguk paham. "Nggak lama lagi kita bakal sama-sama sibuk. Jadwal operasi saya memang masih libur untuk sementara, jadi mungkin sesekali masih bisa kerja dari rumah." Serayu yang semula menyamping berputar menghadap suaminya. Kedua lengannya melingkar di leher Abra. "Sedih … di rumah sakit pasti padat banget. Syukur-syukur masih sempat video call," rajuknya sambil mengerucutkan bibir. Abra tersenyum tipis. "Apa pun kesibukan kita
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: 335. Puas BersamaSuasana yang berbeda menghadirkan debar yang tak biasa. Di ruangan yang sunyi itu, keduanya menikmati kebersamaan yang sempat tertunda. Kerinduan yang telah lama dipendam akhirnya menemukan pelabuhannya. Tak ada lagi jarak yang memisahkan, tak ada lagi salah paham yang menjadi sekat. Yang tersisa hanyalah dua hati yang kembali saling menguatkan, mengisi, dan menemukan ketenangan dalam dekapan satu sama lain. Keheningan ruang baca itu menjadi saksi ketika semua kerinduan yang akhirnya luruh. Abra mendekap Serayu begitu erat, seolah tak ingin membiarkan wanita itu menjauh lagi. Jemari mereka saling bertaut, saling menggenggam dengan hangat, sementara tatapan keduanya berbicara jauh lebih banyak daripada kata-kata. "Saya benar-benar merindukanmu," bisik Abra, tanpa menghentikan permainannya. Serayu membalas dengan senyum tipis. Ia mengusap lembut pipi suaminya, lalu turun lagi mengusap rahang tegas di hadapannya. Serayu melabuhkan kecupan-kecupan singkat penuh rasa sayang pada set
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: 334. Suasana Baru"Kita ke ruangan saya sebentar, ya," pinta Abra. Serayu hanya mengangguk. "Dokter Stephan mau pinjam buku." Begitu memasuki ruangan, Abra menutup pintu lalu menguncinya. Ia tahu istrinya masih merajuk. Serayu memilih duduk di sofa, sementara Abra berjalan menuju rak buku di sudut ruangan. Setelah menemukan buku yang dimaksud, ia kembali ke meja kerjanya membukanya, memotret beberapa halaman, lalu mengirimkannya kepada rekannya. Sesekali ia melirik ke arah Serayu. Wajah itu masih tampak murung saja. "Kamu menegur Sarah tadi?" tanya Abra tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel. Serayu tetap diam. Abra kembali ke rak buku untuk memastikan edisi bukunya sudah benar. Baru saja ia hendak berbalik, dua lengan kecil melingkar di pinggangnya dari belakang. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya. Serayu memeluknya erat. "Kamu masih kesal?" tanya Abra lembut. Tak ada jawaban, tapi Serayu mengangguk pelan. Abra membalikkan badan hingga kini mereka saling berhadapan.
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: 333. Pertemuan Yang DirencanakanAksa menggaruk belakang kepalanya, masih berusaha mencerna titah atasannya. "Mana mungkin dibatalkan," gumamnya. Berkas kerja sama itu bahkan baru saja ia teruskan ke bagian keuangan. Sementara di kediaman Abra… "See? I can do everything," ujar Abra, seolah ingin menunjukkan bahwa ia bisa menyelesaikan masalah apa pun. Abra yang arogan mulai kehilangan akal. "Mas masih belum paham." Serayu menggeleng pelan. "Ini bukan soal kerja samanya." Tatapannya dalam menatap Abra. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar Satria menuju kamar mereka. Abra mengusap wajahnya kasar. Ia segera menyusul. Bukan kebiasaannya membiarkan masalah berlarut-larut, apalagi jika menyangkut Serayu. Ia juga tidak ingin kondisi emosional istrinya terganggu. Serayu baru melahirkan. Hormonnya belum sepenuhnya stabil, tubuhnya masih beradaptasi dan setiap hari kesayangannya masih berjuang mengAsihi putranya. Ia tidak ingin Serayu terus larut dalam stres, merasa tidak bahagia
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Extra Part #6“Kamu masih di rumah Abi, Sayang?” tanya Aditama lewat sambungan telepon.Beberapa hari terakhir ia berada di Singapura untuk menghadiri rapat umum pemegang saham. Meski sudah pensiun dan menyerahkan perusahaan pada ketiga putranya, Aditama tetap setia menemani urusan besar yang membutuhkan kehadirannya. Namun, di balik semua itu, ia lebih menikmati masa tuanya berdua bersama sang istri.“Masih, aku mau extend, deh. Dua hari lagi,” jawab Kinara santai.“Mas pulang besok, lho. Kamu malah nambah hari nginap di sana? Mas sendirian dong di rumah?” nada suaranya terdengar seperti rajuk manja.Kinara tersenyum mendengar itu. “Tapi kan aku tetap pulang, Mas. Aku masih kangen sama cucuku.”“Suamimu ini lho juga kangen banget sama kamu.” Kinara terkekeh geli mendengar pengakuan jujur itu.“Boleh ya, Mas? Dua hari aja…,” pintanya lembut. Mana mungkin Aditama bisa menolak. Apa yang tidak bisa ia usahakan untuk istrinya? Mau tidak mau, ia hanya bisa mengalah, meski dalam hati sebenarnya tak rela.
Last Updated: 2025-09-07
Chapter: Extra Part #5“Kamu itu anak yang paling susah keluarnya. Selama hamil kamu, Mama sampai harus bed rest,” keluh Kinara saat menelepon si bungsu yang kini sibuk berkelana di negeri orang.“Bed rest di Bintan, maksud Mama?” sahut Dion santai dari seberang.Kinara melirik sekilas ke arah Aditama yang duduk santai membaca koran. Sang suami hanya tersenyum tipis, ikut mendengarkan percakapan itu.“Pokoknya kamu itu anak yang paling bikin Mama susah,” lanjut Kinara, meski kenyataannya justru berbanding terbalik. Kehamilan Dion adalah yang paling ringan, ia bisa bepergian lintas udara hingga menyeberang lautan tanpa keluhan berarti.“Tapi paling disayang ‘kan?” goda Dion.“Pulanglah, Nak,” lanjut Kinara akhirnya melemah. “Mama kangen banget sama Dion. Tolonglah bantu Mas Nadeo sama Mas Abi. Papa kamu sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya di perusahaan,” ujarnya dengan nada manja sekaligus serius.“Ujung-ujungnya disuruh kerja rodi. Jadi sebenarnya Mama kangen anaknya atau butuh tenaga kerja?” balas
Last Updated: 2025-09-06
Chapter: Extra Part #4Pagi pertama di villa terdengar suara burung laut dan sinar matahari menembus tirai besar membangunkan Kinara lebih dulu. Ia duduk di teras sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Sesekali menoleh melihat suami dan anaknya masih terlelap. Di hadapannya, laut biru membentang luas, ombak kecil berkejaran pelan membuatnya bersemangat hingga beranjak berdiri di sisi pagar balkon. Tak lama kemudian, Nadeo berlari keluar dengan piyamanya, langsung menghambur ke pelukan ibunya.“Bunda, sudah bangun? Lagi lihat laut ya? Mas senang sekali di sini,” gumamnya. “Tidurnya nyenyak.”“Oh, ya? Enak tidurnya?” Nadeo mengangguk setuju. Ia mendekat ke arah perut Kinara berbisik, “Adik suka juga nggak di sini? Sayang sekali tidak bisa main air dan pasir. Mas semalam main pasir pantai dengan Abi,” katanya menceritakan keseruan versinya. Kinara terkekeh, mencium rambut putranya.Ia tersentak saat merasakan pelukan dari belakang. Aditama muncul membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. “Selama
Last Updated: 2025-09-05
Chapter: Extra Part #3Kehamilan kali ini benar-benar terasa berbeda bagi Kinara. Tidak ada drama seperti dua kehamilan sebelumnya. Justru ia merasa jauh lebih rileks, tenang, dan dimanja oleh Aditama. Setiap hari berjalan dengan penuh cinta, seakan waktu tak ingin berlari terlalu cepat. Karena itulah, sore itu saat mereka duduk di ruang tengah, Kinara tiba-tiba mengutarakan keinginannya. “Mas, aku ingin babymoon,” ujarnya sembari mengusap lembut perutnya yang mulai membuncit. Aditama menoleh dengan senyum geli. “Babymoon atau honeymoon?” tanyanya menggoda. “Mas …,” rajuknya manja. “Mau ke mana, Sayang?” Kinara tersenyum penuh arti. “Ke Bintan, yuk!” Sejenak Aditama terdiam, menatap istrinya yang tampak begitu serius. “Berdua saja?” tanya Aditama menggoda. Kinara langsung menggeleng tegas. “Nggak, dong. Aku nggak tega meninggalkan Nadeo dan Abi. Mereka bagian dari kita, masa ditinggal. Babymoon hanya istilah, aslinya pengen liburan di pantai.” Aditama menghela napas, tidak bisa menolak.
Last Updated: 2025-09-03
Chapter: Extra Part #2“Kamu menerima kehamilan ini, Mas?” tanya Kinara pelan, sorot matanya ragu.“Kenapa nanya begitu?” Aditama mengernyit. “Jelas Mas terima, itu anak Mas.”“Tapi… Abi masih kecil banget, baru satu tahun lebih. Kayak… kebobolan gitu.”Aditama terkekeh kecil, menggeleng. “Nggak ada istilah kebobolan, Ra. Kita melakukannya dengan sadar dan sama-sama mau. Kamu ini lucu, punya suami malah takut hamil.”Kinara menunduk, pipinya bersemu. Namun Aditama segera meraih jemarinya, menggenggam hangat.“Mas tahu, mengandung, melahirkan, sampai menyusui itu bukan hal mudah. Karena itu, Mas janji bakal bikin kamu senyaman mungkin. Kamu nggak sendirian, Sayang. Suruh saja Nadeo kalau kamu butuh apa-apa,” kekehnya saat melihat mata sang istri membulat dan mulutnya sedikit terbuka ingin melayangkan protes. “Atau Abi,” lanjutnya sedikit memutar tubuh mungil di pangkuannya. “Jagain Mama, ya! Jangan maunya nyusu aja kerjanya. Papa udah banyak ngalah sama Abi—”“Heh … heh …! Ngomong apa sih,” protes Kinara menu
Last Updated: 2025-09-02
Chapter: Extra Part #1Empat tahun berlalu sejak perjalanan panjang Kinara dan Aditama sebagai orang tua. Waktu telah menjadikan mereka lebih dewasa, lebih utuh, dan semakin menyadari betapa berharga kebersamaan yang kini mereka miliki.Kinara memutuskan untuk tidak lagi fokus mendesain. Waktunya kini telah sepenuhnya ia abdikan untuk kedua putranya—Nadeo, si sulung yang beranjak semakin pintar dan penuh rasa ingin tahu, serta si kecil Abinza Deo Aditama yang hari ini genap berusia satu tahun. Baginya, menjadi seorang ibu sepenuhnya bukan berarti meninggalkan impian, melainkan menggantinya dengan kebahagiaan yang lebih nyata.Pokoknya Kinara adalah wanita paling cantik seisi rumah, memiliki tiga bodyguard—suami tampan dan dua anak lelakinya yang tak kalah tampan. Pesona alaminya tak pernah luntur meski sudah menjadi ibu dua anak.Fany, sang adik, kini telah menempuh sekolah khusus desain di luar negeri dan tinggal di asrama atas permintaannya sendiri. Meski begitu, rumah mereka tak pernah terasa sepi. Justru
Last Updated: 2025-09-01