LOGINMujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Serayu terpaksa menikah dengan Abra, dokter arogan sekaligus pewaris rumah sakit ternama. Pernikahan yang semula tanpa cinta dan penuh sandiwara itu perlahan berubah, berlayar menuju dermaga cinta. Namun, campur tangan mertua serta hadirnya mantan kekasih Abra menjelma badai yang mengguncang rumah tangga mereka. Bertahan ataupun berpisah, keduanya tetap meninggalkan luka.
View MoreSerayu menghabiskan makan siangnya yang tersisa sedikit lagi, lalu merapikan perlengkapan pumping dan menyimpan ASI perahnya di tempat penyimpanan khusus. Semuanya dilakukan dengan sedikit terburu-buru, tetapi ia tak ingin ada satu langkah pun yang terlewat. Hal itu penting baginya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk putra kecilnya.Setelah memastikan semuanya beres, ia segera menuju kafetaria."Saya kayaknya pernah beberapa kali lihat perempuan ini datang ke rumah sakit, Dok,â ujar salah seorang rekan dokter yang berjalan di sampingnya. "Tapi saya nggak tahu kepentingannya apa. Biasanya kelihatan keluar dan masuk area administrasi."Serayu hanya mendengarkan."Tadi saya sempat tanya namanya siapa, tapi dia nggak mau jawab. Maunya ketemu langsung sama Dokter. Saya bilang tunggu di kafetaria saja karena saya tahu Dokter lagi makan. Baru dia mau."Serayu mengangguk pelan."Terima kasih, Dok,â balas Serayu.Ia mempercepat langkahnya."Itu, Dok... yang pakai blazer hitam."Rekan dokte
Setelah Abra kembali bertugas, kini giliran Serayu memulai hari pertamanya bekerja.Pagi tadi, ia menghabiskan waktu cukup lama memeluk Satria sebelum berangkat. Rasanya berat meninggalkan putra kecilnya, meski hanya untuk beberapa jam. Semua perlengkapan pumping pun sudah dipastikan masuk ke dalam tas."Kenapa diam saja, hmm?" tanya Abra. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Husada.Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya, lalu mengecup punggung tangannya."Udah kangen anaknya masa," rajuk Serayu.Abra tersenyum tipis."Nanti kangen papanya juga, nggak?""Mas..." Serayu hanya mendesah pelan. Ia sudah terlalu hafal dengan godaan suaminya itu.Abra terkekeh kecil."Nanti pulangnya saya sama Satria yang jemput.""Belum tahu selesai jam berapa juga," kata Serayu."Kalau sudah selesai, kabari saya."Serayu mengangguk.Saat mobil berhenti di depan rumah sakit, Serayu belum juga turun. Tangannya masih melingkar di lengan Abra, seolah enggan melepaskannya."Semangat,
Sesampainya di rumah, perhatian Serayu langsung tertuju pada Satria. Oleh-oleh terbaik untuk putra kecilnya itu adalah beberapa botol ASI hasil pumping yang menambah memenuhi kulkas khusus penyimpanan ASI. "Pangerannya sudah tidur?" tanya Abra sambil mengulurkan tangan ketika Serayu masuk ke kamar. Serayu menyambut uluran itu, lalu duduk di pangkuan suaminya. "Sudah. Malam ini anaknya tidur di kamarnya. Tidurnya pulas banget, jadi nggak tega dipindahin. Nanti kalau bangun dan minta susu, biar nanny yang hangatkan ASI," jelas Serayu. Abra mengangguk paham. "Nggak lama lagi kita bakal sama-sama sibuk. Jadwal operasi saya memang masih libur untuk sementara, jadi mungkin sesekali masih bisa kerja dari rumah." Serayu yang semula menyamping berputar menghadap suaminya. Kedua lengannya melingkar di leher Abra. "Sedih ⊠di rumah sakit pasti padat banget. Syukur-syukur masih sempat video call," rajuknya sambil mengerucutkan bibir. Abra tersenyum tipis. "Apa pun kesibukan kita
Suasana yang berbeda menghadirkan debar yang tak biasa. Di ruangan yang sunyi itu, keduanya menikmati kebersamaan yang sempat tertunda. Kerinduan yang telah lama dipendam akhirnya menemukan pelabuhannya. Tak ada lagi jarak yang memisahkan, tak ada lagi salah paham yang menjadi sekat. Yang tersisa hanyalah dua hati yang kembali saling menguatkan, mengisi, dan menemukan ketenangan dalam dekapan satu sama lain. Keheningan ruang baca itu menjadi saksi ketika semua kerinduan yang akhirnya luruh. Abra mendekap Serayu begitu erat, seolah tak ingin membiarkan wanita itu menjauh lagi. Jemari mereka saling bertaut, saling menggenggam dengan hangat, sementara tatapan keduanya berbicara jauh lebih banyak daripada kata-kata. "Saya benar-benar merindukanmu," bisik Abra, tanpa menghentikan permainannya. Serayu membalas dengan senyum tipis. Ia mengusap lembut pipi suaminya, lalu turun lagi mengusap rahang tegas di hadapannya. Serayu melabuhkan kecupan-kecupan singkat penuh rasa sayang pada set
Abra segera pulang, tak sabar ingin menikmati makan malam dengan sang istri dan mertuanya.Begitu pintu terbuka, Serayu menyembulkan kepalanya dari dapur sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil. Wajahnya tampak cerah, ada kilau bahagia yang sulit disembunyikan saat mendekati suaminya.âMas
Lorong sore itu mulai lengang, Serayu baru saja selesai bertugas, pundaknya terasa pegal tetapi langkahnya ringan menuju ruangan Abra.Namun langkahnya tertahan ketika Ryan muncul.âKoas,â panggilnya singkat.Tatapan Ryan berubah serius, sedikit cemas. Meski larut dalam cerita, Ryan sempat melirik k
Serayu tiba di apartemen bersama Abra. Ragu-ragu, wanita itu melangkah. Sepanjang jalan menuju apartemen tadi pun, ia lebih banyak diam.Begitu pintu terbuka, hal pertama yang menyambutnya adalah foto besar pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang tamuâfoto yang sejak lama tergantung di san
Bulu kuduk Serayu meremang mendengar ucapan Abra bahwa ia menunggunya di rumah. Belum lagi tatapan lelaki ituâtajam, namun entah mengapa seolah menghipnotis. âTidak perlu menunggu, Mas. Saâsaya sudah siapkan semua keperluan Mas sampai besok. Pakaian, sarapan, tinggal dihangatkan sajaââ âSaya menun
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore