Lelaki Penakluk Nona Muda
Gianna, yang tegak berpangku tangan tidak jauh dari meja Amisha, hanya mendecak dan geleng-geleng kepala melihat keberanian Dede serta semburat kejengkelan di raut muka sahabatnya.
“Dia lelaki yang hebat!” puji Gianna, setelah Dede menutup pintu. Ia kembali melangkah mendekati Amisha.
“Kau pasti buta,” rungut Amisha. Mengundang tawa Gianna.
“Ingat, Kawan! Benci dan cinta itu hanya terhalang sehelai benang tipis. Sangat mudah untuk memutar balik keduanya. Bahkan, adakalanya benci itu berkembang menjadi benar-benar cinta. Aku melihat cinta di mata Dede. Pilihannya hanya dua, beri dia kesempatan atau jangan beri dia harapan!”
Hot Chapters