MasukDi hari pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan keluarga Djayadi, sebuah pengkhianatan terjadi di balik pintu yang terkunci. Saat janji suci tinggal hitungan jam, Shaka justru berlutut di hadapan Sekar, memuja rahimnya, dan berbisik parau "Persetan dengan pernikahan ini. Aku nggak peduli pada Nadira. Aku hanya ingin kamu, Sekar... Aku ingin menanamkan benihku di sini, di rahimmu." Bagi Shaka, ini adalah cinta mati yang tak terkendali. Bagi Sekar, ini adalah pembalasan yang manis.
Lihat lebih banyakAku menyeret koper perak itu menyusuri koridor lantai dua. Beratnya seolah mewakili beban rahasia yang kupikul, namun langkahku tetap kupaksa tenang, nyaris tak bersuara di atas karpet tebal. Aku menghela napas panjang di depan pintu kamar Nadira, menatap koper di tanganku sejenak sebelum mengetuk pintu kayu mahoni yang berat.Tok. Tok. Tok."Masuk," suara Shaka terdengar dari dalam.Aku membuka pintu perlahan. Aroma pengharum ruangan yang terlalu manis memenuhi ruangan. Shaka berdiri membelakangiku di dekat jendela besar. Ia mengenakan bathrobe putih longgar yang memperlihatkan tengkuk kokohnya."Aku menaruh kopernya di sini, Mas," bisikku sembari meletakkan koper itu di dekat sofa.Mendengar derit roda koper, ia berbalik. Matanya yang tadi sedingin es kini menggelap, memancarkan rasa lapar yang selama ini ia tekan rapat di depan istrinya."Berani sekali kamu pergi dengan Mahesa saat aku nggak ada, Sekar," desisnya tepat di depan wajahku. Napasnya beraroma mint, berbaur dengan aura
Setelah selesai makan, Mahesa tidak langsung mengajakku pulang. Ia menarik tanganku, menuntunku melewati riuh rendah kerumunan menuju deretan stan permainan pasar malam.Ia berhenti di depan stan Lempar Gelang. Hadiah utamanya adalah sebuah boneka beruang besar yang warnanya sudah agak kusam oleh debu jalanan. Namun, Mahesa menatapnya seolah boneka itu adalah trofi paling bergengsi di dunia."Aku akan memenangkan beruang itu untukmu," katanya penuh tekad."Esa, jangan konyol. Kamu bisa beli seribu boneka yang jauh lebih mewah di mal," bisikku, mencoba menarik lengannya agar kami segera pergi."Ssst," potongnya jenaka sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada penjual. "Lihat dan pelajari, Sekar."Namun, realita ternyata tidak semanis film romantis. Mahesa, dengan segala kecerdasannya di dunia bisnis, ternyata sangat payah dalam urusan membidik botol kaca dengan gelang plastik. Sepuluh lemparan pertama meleset jauh. Lima lemparan berikutnya memantul liar ke segala arah.Aku tertawa
Mahesa terdiam cukup lama, membiarkan kalimatku menggantung di udara bersama aroma kamboja yang luruh. Ia menoleh perlahan, menatap tanganku yang masih bersandar di pundaknya. Ada keheningan yang menyesakkan, namun anehnya terasa menenangkan di saat yang bersamaan.“Kamu orang kedua yang mengatakan itu, Sekar,” bisiknya parau. “Biasanya orang hanya bilang aku harus bersyukur atas harta ini, atau mengingatkanku untuk tidak mempermalukan nama besar Dinata.”Ia meraih jemariku, menggenggamnya dengan hangat seolah tak ingin melepaskan satu-satunya jangkar yang ia miliki saat ini. "Terima kasih."Orang kedua? Lalu siapa orang pertama yang mengatakannya?Jujur aku penasaran, namun aku tahu itu bukan kapasitas ku untuk mencampuri urusan pribadi Mahesa.Kami menghabiskan waktu beberapa jam di sana. Mahesa menceritakan masa kecilnya yang sepi di rumah bak istana, sementara aku mendengarkan dengan saksama. Di depan nisan itu, topeng kami berdua tanggal. Kami bukan lagi Sekar Djayadi yang haus d
Hari-hariku selanjutnya berlalu dalam kedamaian semu di toko bunga. Papa masih sering menanyakan Mahesa dengan nada antusias, sementara Rena—untuk sementara waktu—tidak lagi berani menggangguku. Namun, ada satu hal yang terus mengusik ketenanganku: sudah beberapa hari ini Shaka tidak menelepon.Ada apa dengannya? Biasanya, dia tidak pernah lupa menghubungiku, sekadar bertanya apa yang sedang aku lakukan hampir setiap jamnya.Apa dia benar-benar begitu menikmati bulan madunya dengan Nadira hingga melupakanku sepenuhnya?Tunggu!Sekar, apa yang baru saja kamu pikirkan?! Kamu merindukannya? Kamu cemburu pada Nadira? Kamu sudah gila rupanya!"Mbak Sekar, masih pagi kok sudah melamun?" Suara Maya, pegawaiku, tiba-tiba muncul di balik buket mawar pesanan pelanggan.Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan gunting dahan di tanganku. Dengan gugup, aku memaksakan senyum tipis untuk menutupi kekacauan di benakku."Eh, Maya. Enggak kok, cuma lagi mikirin stok krisan yang mulai menipis," alihku asa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.