MasukBagaimana kisah hidup Meysa Olinda yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga dan harus bekerja sebagai pengasuh disebuah keluarga terpandang? Hidupnya berubah drastis ketika terpaksa harus menikah dengan cucu dari orang yang memperkerjakannya. Adrian Lysander, pria dingin yang menunjuk Meysa sebagai pengantin dadakan demi memenuhi keinginan sang Oma. Namun kisah keduanya tidak semulus yang Adrian pikirkan, ada sebuah rahasia besar dibalik istri polos yang sama sekali tak dia ketahui. *Sequel Nozela dan William dari novel "Gairah Sahabatku" ada disini..
Lihat lebih banyak“Mulai hari ini kamu saya pecat!”
Meysa membelakan matanya Ketika kalimat itu keluar dari mulut manager restoran tempatnya bekerja, perlahan dia mengangkat kepalanya menatap seorang pria dewasa yang tengah menatapnya dengan datar.
“P-Pak, tapi saya tidak melakukan apapun,” ucap Meysa lirih.
Manager itu menyerahkan beberapa lembar foto dirinya dan juga foto sejumlah uang yang ada di dalam tas Meysa.
“Bukti sudah sejelas ini, kamu masih mau mengelak apa lagi?”
Meysa menelan ludahnya kasar, matanya mulai memerah dan dadanya terasa sesak Ketika dia dituduh sekeji ini. Perlahan matanya mulai menganak sungai, sekuat mungkin dia menahan air mata yang sudah diujung mata dan siap meluncur kapan saja Ketika dia mengediapkan matanya.
“Saya sangat kecewa dengan kamu, Meysa. Kamu adalah karyawan terbaik dan paling tekun namun justru kamu malah mencuri uang restoran demi kepentingan kamu sendiri.”
Meysa Kembali menundukkan kepalanya, cairan bening yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh begitu saja
“Saya minta maaf pak, tapi sungguh bukan saya yang melakukannya.”
“Saya difitnah pak, saya dijebak,” jelas Meysa.
“Saya tidak menerima alasan apapun, yang saya percaya saat ini adalah bukti. Dan semua buktinya sudah jelas bahwa kamu yang telah mencuri uang itu, karena uang itu ditemukan di tas kamu yang ada di loker.”
Meysa tak bisa lagi menahan air matanya, dia sangat sedih karena dia sangat membutuhkan uang yang sangat banyak saat ini untuk biaya pengobtan ibunya. Jika dia dipecat, maka dia tak tahu lagi harus mencari pekerjaan kemana lagi mengingat betapa susahnya mencari pekerjaan saat ini.
Pluk.
“Itu pesangon untuk kamu,” ucap Manager restoran sambil menyerahkan amplop cokelat pada Meysa.
“Terima kasih sudah membantu restoran selama ini, kamu oang yang baik dan karyawan yang teladan. Semoga setelah dari sini kamu mendapat pekerjaan yang lebih baik.”
Tangan Meysa terangkat kemudian mengambil uang itu.
“Terima kasih pak, saya minta maaf jika selama bekerja saya pernah membuat kesalahan,” ucap Meysa sambil sesekali mengusap air matanya.
Manager menangguk. “Saya juga meminta maaf sama kamu jika selama saya memimpin banyak kekurangan.”
“Kalau begitu saya permisi pak.”
“Silakan.”
Dengan Langkah kaki yang terasa berat, Meysa meninggalkan ruangna manager restoran. Dia menarik nafas dalam kamudian menghembuskannya panjag. Dia menongakan kepalanya agar air matanya tak Kembali jatuh.
“Kamu pasti bisa Mey,” batin Meysa menyemangati dirinya sendiri.
Meysa keluar dari rangan manager dan di depan pintu sudah ada beberapa teman waitersnya yang menunggunya.
“Gimana Mey?” tanya teman Meysa.
“Aku dipecat,” jawab Meysa lirih.
Dua orang teman Meysa yang berdiri tak jauh dari sana tersenyum miring karena berhasil membuat Meysa dipecat dari pekerjaannya.
Meysa berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumahnya yang ada di sebuah gang, cuaca siang ini terasa panas bak matahari berada tepat di atas kepalanya. Wanita itu terus berjalan hingga sampai di sebuah rumah yang tak terlalu besar.
“Huft.”
Meysa menghembuskan nafas kasar sambil berdiri di depan pintu, dia menatap amolop di tangannya yang terdapat sejumlah uang yang tak seberapa.
“Aku harus cari kekurangannya kemana lagi?” gumam Meysa frustasi.
Dia Kembali menyimpan amplop itu ke dalam tas lalu masuk ke dalam rumah.
“Ibu, Mey pulang bu.”
Meysa menutup Kembali pintu rumahnya kemudian pergi mencari ibunya.Dia pergi ke kamar ibunya namun saat hendak mebuka pintu tiba-tiba pintu itu terkunci dari dalam. Meysa pun mengetuk-ngetuk pintunya namun tak ada jawaban dari ibunya.
“Ibu, buka pintunya bu. Ini Meysa.’
Meysa terus mengetuk pintunya namun tak kunjung dibuka,dia menempelkan telinganya ke pintu dan tak mendengar suara apapun dari dalam kamar ibunya. Meysa mendadak panik bukan main karena saat dia meninggalkan ibunya tadi pagi ibunya masih baik-baik saja.
Dengan sisa tenaga yang dia milik, dia berusaha mendobrak pintu reot itu beberapa kali. Cucuran keringat membasahi tubuh dan baju yang Meysa gunakan, dia panik serta khawatir bukan main.
Brak.
Saat pintu terbuka, Meysa menemukan sang ibu sudah tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
“IBU,” jerit Meysa.
“Ibu, ibu kenapa bu?”
Meysa mendekati tubuh lemas ibunya lalu memangku kepalanya ke atas paha, dia berusaha menepuk-nepuk pipi ibunya berharap ibunya akan sadar namun usahanya tak membuahkan hasil sama sekali. Ibunya masih memejamkan mata.
“TOLONG!!!”
Suara sirine ambulance menggema di depan IGD, sambil berlinang air mata, Meysa ikut mendorong brankar yang terdapat ibunya yang masih tak sadarkan diri. Dia terus menangis sambil memanggil nama ibunya.
“Anda tidak boleh masuk nona,” ucap seorang perawat lalu menutup pintu ruang IGD dengan rapat.
Tubuh Meysa luruh begitu saja, dia terduduk di lantai sambil meremas dadanya yang terasa amat sesak. Baru saja dia kehilangan pekerjaannya dan sekarang sudah dihadapkan dengan keadaan ibunya yang tidak baik-baik saja.
Satu tangannya dia gunakan sebagai tumpuan tubuhnya yang hampir limbung, kepalanya tertunduk degan air mata yang mengalir semaki deras. Meysa bingung, takut sekaligus tak tahu lagi bagaimana menangani masalahnya sekarang. Sebagai tulang punggung dia sudah bekerja kesana kemari bahkan bekerja part time pun dia lakukan demi keluarganya.
Ceklek.
“Keluarga pasien?”
Meysa lekas berdiri saat seorang dokter keluar dari ruangan. “Saya dok, saya putrinya.”
“Bagaimana keadaan ibu saya dok?”
“Maaf, namun saya terpaksa mengatakan ini. Kondisi jatung ibu anda sudah sangat parah dan harus segera melakukan pemasangan ring jantung. Jika tidak segera di lakukan maka kami tidak bisa menjamin kondisi ibu anda akan baik-baik saja.”
“Apa? Operasi?” lirih Meysa.
Dokter mengangguk. “Benar nona, obat yang selama ini ibu anda konsumsi sudah tak efektif lagi dan harus segera melakukan operasi.”
“Dok, kira-kira berapa biaya untuk operasi pemasangan ring jantung?”
“Kisaran 150 sampai 200 juta, itu belum termasuk biaya rawat inap dan obat.”
Deg!
Jantung Meysa terasa behenti berdetak saat mendengar jumlah yang harus dia bayar untuk biaya operasi ibunya, tubuhnya terasa lemas seketia. Dia tak memiliki uang sebanyak itu unutk membiayai ibunya.
“Harap segera melunasi biaya operasinya agar ibu anda segera mendapat Tindakan. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Tubuh Meysa ambruk seketika. “Aku harus mencari uang kemana?”
Brak!Sebuah map berkas tebal terlempar kasar, menghantam permukaan meja kaca hingga menimbulkan suara benturan yang memekakkan telinga. Beberapa lembar kertas di dalamnya bahkan sampai sedikit mencuat keluar.Di seberang meja, seorang pria muda tampak bergeming. Ia masih duduk dengan posisi santai, menyandarkan punggungnya ke sofa kulit. Jemarinya dengan tenang menjepit sebatang rokok yang asapnya mengepul tipis, mengaburkan pandangan di antara mereka berdua. Ia menyesap rokok itu sekali lagi, lalu mengembuskannya perlahan, seolah ketegangan di ruangan itu sama sekali tak memengaruhinya.Pria paruh baya yang berdiri di depan meja menatapnya dengan pandangan yang begitu tajam. Napasnya memburu, dan kilat amarah yang tertahan jelas terpancar dari kedua matanya. Pria muda di hadapannya ini bukanlah orang asing dia adalah putranya sendiri."Jika bukan karena koneksi yang papa miliki, kamu tidak akan semudah itu keluar," suara pria paruh baya itu terdengar berat dan penuh penekanan, menah
Matahari siang itu bersinar terik, namun sama sekali tidak mengurangi binar kebahagiaan di wajah Adrian. Langkah kakinya keluar dari gedung pertemuan terasa begitu ringan. Kerja kerasnya berhari-hari di luar kota akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.Adrian tidak hanya berhasil menyelesaikan proyek besarnya, tetapi ia juga sukses memikat hati seorang investor asing papan atas. Sang investor sangat terkesan dengan dedikasi dan visi Adrian, hingga tanpa ragu sepakat untuk menjalin kerja sama jangka panjang. Sebuah pencapaian besar yang akan membawa perusahaannya ke level berikutnya."Terima kasih atas kepercayaan anda Tuan, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.""Terima kasih juga kembali untuk perusahaan Lysander."Adrian dan investor asing itu saling berjabat tangan, Adrian senang bukan main karena bisa kembali menjalin kerja sama dengan perusahaan asing.Tepat setelah rapat selesai, Adrian dan Evan memutuskan untuk kembali ke hotel."Segera pesankan tiket untuk pulang, saya
Langkah kaki seseorang terdengar konstan di atas lantai keramik putih gedung polres yang sibuk siang itu. Pria itu berjalan dengan postur tegak, dibalut kemeja flanel berpotongan rapi yang disetrika kaku dan celana kain gelap. Tidak ada keraguan dalam geraknya. Tatapan matanya datar, lurus mengunci ke depan, mengabaikan lalu-lalang petugas berseragam dan aroma kopi instan yang bercampur dengan bau kertas arsip.Di sebelahnya, seorang pria paruh baya dengan setelan jas necis dan tas jinjing kulit berlogo firma hukum melangkah dengan tergesa, sesekali menyesuaikan letak kacamatanya. Dialah sang kuasa hukum, yang sejak tadi tampak lebih gelisah ketimbang kliennya sendiri.Mereka melewati lorong demi lorong hingga tiba di area khusus, ruang kunjungan tahanan. Setelah menyelesaikan administrasi dan pemeriksaan barang bawaan di meja piket, seorang petugas mengantarkan mereka ke sebuah ruangan berpagar besi dengan beberapa meja sekat di dalamnya.Pria itu menarik kursi besi secara perlahan.
Mobil melaju perlahan, membelah jalanan pagi yang sudah cukup ramai oleh kendaraan. Maklum, hari libur akhir pekan seperti ini biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang ingin berolahraga atau sekadar mencari sarapan di luar.Di kursi penumpang, Ibu Ningsih menatap ke arah luar jendela. Awalnya beliau hanya diam menikmati pemandangan kota, namun perlahan kedua alisnya bertaut. Dahinya mengerut dalam ketika menyadari gedung-gedung dan papan penunjuk jalan yang mereka lewati terasa asing."Lho, ini kan bukan jalan ke arah rumah Ibu?" gumam Ibu Ningsih, mulai merasa ada yang keliru.Tak ada yang menjawab. Keheningan yang canggung sempat menyelimuti kabin mobil hingga beberapa saat kemudian, mobil tersebut berbelok dan berhenti tepat di lobi sebuah kompleks apartemen mewah yang menjulang tinggi.Ibu Ningsih menatap bangunan megah di hadapannya, lalu menoleh ke kursi depan dengan tatapan penuh tanya."Kita ngapain ke sini? Meysa, Maya, kenapa kita ke apartemen ini?"Mendengar pertanyaan itu,


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.