INICIAR SESIÓNTidak pernah terlintas sedetik pun dipikiran Donna bahwa dia akhirnya akan berada ditengah-tengah cinta antara Reza dan Fani. Dan sialnya lagi, dialah yang justru berstatus sebagai istri sah disini. Mampukah Donna mempertahankan rumah tangganya bersama Reza, menjadi orang Ketiga dalam hubungan rumit Reza dan Fany atau memilih untuk menyerah dan melepaskan semuanya. Penokohan: Donna: Seorang wanita usia 25 tahun, bekerja sebagai CS di bank swasta, istri Reza yang mencintai Reza sejak SMA. Reza: Laki-laki usia 27 tahun, perawakan tampan, manager di branch area bank swasta, menikah dengan Donna. Fanny: wanita usia 27 tahun, pacar Reza dari SMA , bekerja sebagai peneliti obat-obatan di perusahaan obat. Galih: Pria usia 28 tahun, seorang dokter SPog, kakak angkat Donna yang jatuh cinta pada Donna. Alur: Cerita berawal dari Reza yang menikahi Donna karena perjodohan, saat itu Reza masih mencintai Fanny pacarnya sejak SMA. Karena satu kesalahan, Donna meminta cerai, mereka pun akhirnya bercerai, Reza menikahi Fany setelah bercerai dengan Donna. Tanpa Reza sadari saat bercerai dengan Donna, ternyata Donna tengah mengandung anak Reza. Fanny yang wanita karier menganut prinsip Free child, tidak mau mengandung sementara ada Donna yang bisa memberikan anak kembar ke Reza. Reza pun meminta Donna agar kembali. Disisi lain, ada Galih yang mampu memberikan kebahagiaan untuk Donna. Donna dihadapkan oleh dua pilihan yang sulit. Namun ditengah pilihan itu, Fanny sakit leukimia, dia menyesal karena telah merebut Reza dari Donna, sebelum meninggal Fanny memohon pada Donna untuk menerima Reza kembali.
Ver másTok!
Tok!
Tok!
Suara palu hakim memecah keheningan ruang sidang siang itu, tanda berakhirnya sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Jika kalian bertanya siapa yang bercerai, jawabannya adalah aku.
Reza berdiri, tubuhnya kaku mendekatiku. " Maaf," ucapnya pelan nyaris tak terdengar.
Aku terdiam, tidak langsung menyambut uluran tangan Reza yang hendak menyalamiku, sekuat tenaga ku tahan tangis yang ingin meledak.
Tidak, aku tidak boleh menangis di sini. Aku hanya mengangguk singkat, dengan sisa-sisa kekuatanku, aku berdiri dan akhirnya meraih uluran tangan Reza, kami bersalaman kemudian berpelukan singkat.
Reza sempat menoleh ketika kami sudah berada di luar gedung. Cuaca sudah mendung. "Abang antar pulang."
Aku menggeleng lemah, kami baru saja bercerai, dan aku butuh waktu untuk menenangkan hatiku yang porak poranda.
Sedang laki-laki yang baru saja mengubah statusku menjadi janda ini dengan entengnya menawarkan tumpangan seolah tidak pernah terjadi apa- apa diantara kami, yang benar saja. "Enggak." Jawabku tegas, mataku sudah tajam sekali menembus manik matanya.
"Oke, hati-hati nanti di jalan." Reza akhirnya mengalah dan melangkah pergi.
Kutatap langit yang sudah menghitam, langitpun tau kalau hati ini sakit, begitu sakit ketika melihat dia akhirnya berjalan mendahuluiku menampakkan punggung yang selalu ingin ku peluk dari belakang tapi tak pernah bisa.
Aku menghela nafas kemudian berlari kecil ke halte terdekat, namun belum juga sampai di halte, hujan sudah turun. Kubiarkan guyurannya menerpa tubuh ringkihku, biarlah, setidaknya itu bisa menghapus kesialan hidupku, mengalir bersama sisa hujan.
Kubiarkan tubuhku diterpa hujan, menantang langit yang tak lelah menumpahkan airnya. Aku menangis dalam diam, air mataku bercampur hujan membuatku terlihat begitu menyedihkan.
Pernikahan yang hanya berjalan genap enam bulan itu berakhir sudah, mengapa bisa menikah jika salah satunya tak ada rasa? Jawabannya terpaksa? Bukan, aku menikah bukan karena terpaksa, tapi mungkin Reza yang terpaksa menikah denganku.
Awal dari sebuah perjodohan antara dua keluarga, aku begitu senang ketika tau dijodohkan dengannya, dia orang yang kupuja sejak dibangku putih abu, kakak kelas yang sempurna, digilai banyak wanita, ketua OSIS, masuk tim basket, anggota Paskibra, dan begitu keren.
Jujur, dia penyemangatku untuk pergi ke sekolah setiap pagi, berusaha mencuri pandang disaat upacara bendera atau ketika jam istirahat tiba, sungguh indah semuanya.
Tanpa banyak basa-basi kuterima lamaran dari orang tuanya, perjodohan yang bagaikan sebuah anugerah untukku, begitu banyak mimpi yang telah kurajut.
"Gue akan berhenti bekerja dan akan menjadi ibu rumah tangga yang sempurna, mengurus anak- anak dan suami tercinta," ucapku waktu itu di depan Loli, sahabatku.
"Emangnya Lo gak rugi resign dari pekerjaan ini, bahkan ini impian lo sejak dulu kan?"
"Impian terbesar gue adalah menjadi istri untuk kak Reza, melahirkan anak- anaknya dan jadi istri terbaik untuknya." Jawabku santai, pandanganku melayang jauh kedepan melewati batas nyata yang telah ditakdirkan untukku.
Satu kali aku bertemu dengannya sebelum pernikahan kami dilangsungkan. Dia baik, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ia menikahiku karena terpaksa.
Tidak banyak yang kami bicarakan waktu itu, hanya seputar rencana pernikahan. Aku terlalu gugup berhadapan dengannya.
Entah apa yang kubicarakan, semuanya tampak kacau keluar dari mulutku. Pesonanya benar-benar telah menghipnotisku.
Bagaimana tidak? Selama ini hanya melihatnya dari kejauhan, namun sekarang dia tepat berada di hadapanku, duduk di seberangku.
Ya Tuhan, rasanya aku berkali-kali mencubit lenganku sendiri, takut sekali kalau ini hanya mimpi.
Garis wajah yang sempurna, hidung tegak lurus menjulang, mata tajam dengan alis bak semut sedang berparade, ya Tuhan aku bisa tenggelam ditatap oleh mata itu.
Satu hal yang menjadi kesalahanku, aku tidak pernah bertanya perasaannya padaku sebelum pernikahan kami, ego ku terlalu mendominasi kala itu, yang ada dipikiranku hanyalah sebentar lagi ia akan jadi milikku, itu saja.
Sampai pada saat pernikahan itu benar- benar diberlangsungkan, hanya Tuhan yang tau betapa bahagianya aku, aku terlalu bahagia, sampai tak pernah ku perhatikan dengan jelas bagaimana mimik wajah sang mempelai pria, wajahnya mendung kala itu, aku tenggelam dengan perasaanku sendiri.
Dan disaat malam pengantin tiba, barulah aku tersadar dari mimpi yang telah kutenun sempurna itu, dia sama sekali tidak menyentuhku, dia pergi entah kemana malam itu, meninggalkan aku yang sudah terlanjur hanyut dalam euforia.
Ku pikir memang seperti itu, lumrah untuk pasangan yang baru menikah, yah aku terlalu lugu, aku bahkan tidak pernah memiliki pacar sebelumnya. Kutunggu dia dengan tiduran disofa sampai entah sejak kapan aku mulai lelah dan akhirnya tertidur.
Menjelang pagi, aku terbangun tapi ruangan itu masih sama, hanya aku makhluk hidup yang bernafas disana, dia tidak pulang. Hatiku berdenyut pilu, ini terasa janggal, aku mulai menyadari sesuatu, dia sengaja menghindariku.
Aku berusaha menetralkan perasaanku yang sudah mulai berkecamuk, ku tepiskan rasa sakit hati, rasa kecewa, rasa tak diinginkan yang mulai terbangun di alam bawah sadarku. Aku masih menunggu nya, aku tidak berusaha untuk menghubungi, aku akan menunggunya pulang sendiri.
Pagi itu dia benar- benar pulang, aku tersenyum, aku tidak bertanya dari mana saja ia, mengapa tidak pulang, ada apa dengannya, tidak, aku tidak ingin bertanya, biar dia yang menjelaskan sendiri.
Setelah membersihkan diri, dia mengajakku sarapan, masih di area hotel tempat kami mereservasi penginapan.
Aku terus menunggunya bicara, dan saat itulah ia bicara.
"Maaf...."
"Karena tidak pulang tadi malam?" Tanyaku datar.
"Salah satu nya."
"Berarti ada banyak alasan untuk satu permintaan maaf ini?"
"Tidak banyak, hanya dua."
"Apa saja?" Aku mulai jengah bicaranya berbelit- belit.
"Aku hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa aku menikahi wanita lain bukan kekasihku."
Deg...
Jantungku berhenti berdetak sepersekian detik, rahangku mengeras, berusaha mencerna kata-katanya. Ku telan saliva yang membeku di tenggorokanku, rasanya begitu sakit.
Ku pegangi erat gelas minumku, bolehkah jika aku menyiram air yang berada di dalamnya tepat ke wajah sempurna pria yang ada dihadapanku ini.
Mendadak aku cemas setengah mati, mondar- mandir berjalan di depan kursi, wajahku memanas. Jantungku jangan ditanya, dia seperti ingin melompat keluar dari tulang iga yang mengungkunginya.Matilah aku kali ini, Reza akan membaca pesan itu, apa katanya nanti.Tuhan toloonggg...Reza sudah datang lagi dengan sepedanya membawa kantong plastik berisi ice cream. Dari jauh dia sudah tampak tersenyum padaku. Aku mencoba kembali peruntungan dengan membuka ponsel, pesan itu sudah tidak ada lagi di ponselku karena sudah terklik hapus untuk saya, namun sudah terkirim ke ponsel Reza, aihh sial sekali sih."Ini." Sodor Reza ice cream coklat pesananku membuatku kaget sebab aku tidak sadar kapan dia sudah tiba dan berdiri dihadapanku."Makasih." Gagapku meraih ice cream yang Reza sodorkan itu.Kami duduk di bangku bersebelahan sambil mulai memakan ice cream, aku memindai tubuh Reza, tidak ada tanda bahwa ia sedang mengantongi ponsel.Dimana ponselnya..."Ada apa?" Curiga Reza melihat gelagatku yan
Perlahan aku berjalan menuju dapur dan Glekk... Reza sudah ada disana, berkutat di depan kompor, sudah rapi mengenakan kemeja dan dasi, baru saja aku ingin berbalik "Hei, sudah mandi?" "Oh hei." Jawabku kikuk. "Abang sudah bikin sarapan, kamu kerja kan hari ini?" Reza meletakkan nasi goreng ke atas piring. "Iya kerja, kenapa Abang yang bikin sarapan?" "Enggak apa- apa, sekali- kali, ayo duduk." Aku menurutinya duduk di kursi, mulai menyuap nasi goreng buatan Reza. "Abang minta maaf ya." "Minta maaf?" Aku bingung, kenapa dia meminta maaf. "Untuk malam tadi." Glekk... Aku menghentikan suapanku, otak ku masih mencerna permintaan maaf Reza, bukankah wajar suami istri melakukan itu, mengapa dia merasa bersalah. "Abang salah, abang sudah..." "Ya, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Keperawananku sudah Abang ambil. Aku sudah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku." Mataku berkaca- kaca, apakah itu akting atau bukan aku tidak tau, tapi jiwa p
Ini kisah cintaku Yang akan selalu membekas sampai kapanpun dihatinya Akhirnya kuputuskan untuk pulang setelah hujan telah mereda, kembali ku tatap gedung pengadilan agama yang berdiri kokoh dibelakangku, tempat bersejarah dalam hidupku, tak pernah terpikir akan menjadi seorang janda diusia ku yang belum genap seperempat abad ini. Empat bulan yang lalu, dia pernah bertanya, itu bertepatan saat ulang tahunku yang ke dua puluh empat, waktu itu pernikahan kami hampir berjalan dua bulan, walau belum ada perkembangan yang berarti, sajauh ini kak Reza sangat baik, aku diperlakukan seperti adiknya. Ia benar- benar menjadi suami idaman, memenuhi segala kebutuhanku, kecuali kebutuhan biologis, kalian tau, dia belum pernah menyentuhku sekalipun, agaknya ia menganut prinsip nafsu berdasarkan cinta, tak masalah bagiku. "Hari ini Donna ulang tahun ya? Selamat." Aku mengangguk datar, heran sendiri, dia mengucapkan selamat padaku seperti ingin menanyakan alamat, kaku sekali. Ingin tertaw
Ketika barang yang sudah kami beli tadi tiba di apartemen, aku dan Reza mulai sibuk menyusunnya, ada sofa minimalis kami letakkan di ruang tamu, tidak ada sofa disana karena aku lebih suka rebahan sambil selonjoran kaki jadi ku pilih karpet berbulu untuk ruang keluarga, nampaknya Reza tidak protes dengan pilihanku dan oh iya satu set tempat tidur untuk diletakkan di kamar tamu. Keringatku bercucuran, begitu letih dan melelahkan, kubaringkan tubuhku di karpet bulu yang bau tokonya masih tercium itu. Tersenyum getir melihat ini semua, rasanya seperti sedang bermain rumah- rumahan, pernikahan macam apa sebenarnya yang sedang kujalani ini, kututup mataku dengan lengan yang terlipat. Aku sudah hampir tertidur. "Mau makan apa Don? sore ini gak usah masak, kita pesan aja." Suara Reza lagi-lagi mengagetkanku membuatku langsung terduduk sehingga membuat kepalaku sedikit pusing. "Hahh...?" Dongakku pada tubuh pria yang tegak menjulang dihadapanku itu. "Mau makan apa, biar kakak pesan."












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.