INICIAR SESIÓNSuaminya memilih wanita lain. Keluarganya menyebut anaknya aib karena terlahir down syndrome. Dan Nurul Hidayah pun ditinggalkan. Di malam yang seharusnya menjadi perayaan, ia justru menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: suaminya datang bersama mantan pacarnya yang tengah hamil besar dan mengaku telah dinikahi secara siri. Sejak saat itu, Nurul bersumpah tak akan lagi percaya pada cinta. Namun takdir mempertemukannya dengan Elang, kakak dari wanita itu. Pria yang dingin dan tidak banyak bicara, tapi justru satu-satunya yang bersedia berdiri di sisinya. Mampukah Nurul membuka hatinya untuk sebuah pelukan yang kedua? Atau ia akan menutup pintu hatinya untuk lelaki mana pun selamanya. "Dulu Mas Erland itu lelaki yang baik. Hanya saja, sekarang dia berubah." - Nurul Hidayah "Bukan dia yang berubah, tapi kamu yang semakin mengenalnya." - Elang Samudera
Ver más"Nurul, bujuk dulu anakmu. Rengekannya membuat kepala Ibu pusing," seru Bu Titik.
Nurul meletakkan ayam yang akan digorengnya, menyeka tangan, dan menghampiri pintu kassa yang sedang dipukul-pukul oleh putranya. Alfi berusaha membuka pintu. Ia pasti ingin keluar dan bermain bersama sepupu-sepupunya di taman belakang namun terhalang oleh pintu.
"Alfi, main ini saja ya?" Nurul mengambil mobil-mobilan yang dibuang Alfi sembarang di sudut pintu.
"Ibu goreng ayam dulu. Alfi suka ayam goreng kan?" bujuk Nurul lembut. Alfi menggeleng cepat. Melenguhkan suara-suara bernada bantahan sambil menunjuk Dika dan Vito yang sedang lari-lari di taman belakang.
"Main... main!" Alfi merengek. Tangan mungilnya memukul-mukul pintu.
Alfi terlahir down syndrome. Di usianya yang keenam ini jantungnya lemah dan ia kesulitan berbicara. Makanya Nurul tidak memperbolehkannya keluar. Fisiknya yang berbeda membuat Alfi kerap dibully oleh Dika dan Vito.
"Main... main... main!" Rengekan Alfi kian menjadi. Tangannya tak henti-henti memukul pintu.
"Alfi cebol, sini!" Dika—anak Dini, kakak iparnya memanggil.
"Alfi monyet, ayo kita main!" Vito—anak Rina, adik iparnya ikut melambaikan tangan sambil menirukan gaya seekor kera saat berjalan.
"Hihihi... Alfi lucu ya. Udah cebol, jalannya lucu kayak anak monyet.” Kedua anak berusia sepuluh dan tujuh tahun itu tertawa geli.
Nurul merasa dadanya diremas.
Selama ini, ia sudah terlalu sering menelan hinaan. Dari suami, mertua, ipar bahkan dari keluarga besar Atmodjo. Bisik-bisik yang menyebutnya menantu tidak berguna karena hanya menjadi ibu rumah tangga.Selama ini ia hanya diam agar tidak terjadi konflik yang tidak perlu. Namun jikalau menyangkut anaknya, lain cerita. Ia akan selalu menjadi garda terdepan untuk membela sang putra.
"Alfi tunggu di sini dulu ya, Ibu mau ke sana sebentar." Nurul membuka pintu kassa dan menutupnya kembali dengan cepat.
"Ikut... ikut!" Alfi mengamuk. Kini ia mulai menendang pintu. Nurul berbalik. Ia menghadap Alfi dan berbicara dengan tegas.
"Alfi, lihat Ibu." Melalui tirai pintu kassa Nurul menatap mata Alfi dalam-dalam. Interaksi seperti ini biasanya lebih efektif dimengerti sang putra apabila ia sedang tantrum.
"Dengar Ibu baik-baik. Tidak boleh menendang pintu karena pintunya bisa rusak. Mengerti, Alfi?" Nurul mengeja setiap kata agar Alfi memahami kalimatnya.
Alfi mengangguk takzim. "Rusak. Alfi baik." Alfi menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Alfi adalah anak Ibu yang paling baik. Tunggu di sini sebentar ya?" bujuk Nurul lembut. Alfi menggangguk. Ia kini hanya berdiri di depan pintu.
Nurul mempercepat langkah. Mendekati dua keponakan suaminya yang tengah bermain di halaman belakang.
“Dika. Vito." Nurul memanggil anak-anak itu. Nada suaranya tidak tinggi namun sarat dengan ketegasan.
Kedua anak itu menoleh. Wajah mereka masih menyisakan sisa tawa.
“Kalian tahu nggak,” katanya perlahan, "kalau kalian mengejek Alfi, itu artinya kalian mengejek Allah. Karena Alfi adalah ciptaan Allah. Seperti kalian berdua."
Dika dan Vito saling berpandangan sebelum Dika menjawab.
"Kami cuma bercanda, Tante.”
Nurul tersenyum tipis. Senyum yang pahit.
"Bercanda itu kalau orang yang mendengar ikut tertawa. Tapi kalian lihat, Alfi tidak tertawa bukan?" Nurul menunduk sedikit agar sejajar dengan mata mereka. Kedua anak itu saling berpandangan dengan gelisah.
"Kalian berdua adalah sepupu Alfi. Darah kalian sama. Harusnya kalian berdua menyayanginya. Kenapa kalian malah memilih menyakitinya?"
Langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Dini dan Rina menghampiri anak masing-masing.
"Kamu ini kenapa sih, Rul? Sama anak-anak aja hitung-hitungan. Mereka kan sudah bilang, cuma bercanda. Berarti masalah sudah selesai kan?" tegur Dini kesal. Dika yang merasa dibela segera memegang lengan sang ibu.
"Iya nih, Mbak Nurul. Namanya juga anak-anak. Mereka itu nggak punya maksud jahat kok." Rina ikut menimpali.
Nurul menghela napas sedih. Dini dan Rina tidak pernah mengajari anak-anak mereka sopan santun. Makanya keduanya tumbuh menjadi pribadi yang apatis dan nirempati.
"Dika, Vito, tidak boleh ya mengejek apalagi menghina ciptaan Allah. Dika dan Vito kan anak baik." Nurul melanjutkan menasehati Dika dan Vito tanpa mempedulikan Dini dan Rina.
"Iya, Tante," jawab keduanya bersamaan.
"Pinter. Sekarang ayo minta maaf sama Alfi. Ingat ya, menghina siapa pun, terlebih yang tidak mampu membela diri adalah salah. Dan orang yang melakukan kesalahan harus apa?" Nurul mengajukan pertanyaan dengan suara lembut namun tegas.
"Minta maaf, Tante," seru keduanya pelan setelah saling memandang.
"Pinter," puji Nurul. "Ayo, sekarang kalian minta maaf pada Alfi," ujarnya sambil menggandeng tangan keduanya menuju tempat Alfi menunggu.
"Eh, ngapain pakai minta maaf-minta maaf segala!" Protes Dini berang. Ia kemudian menarik Dika dari tangan Nurul. Rina mengikuti aksi sang kakak. Ia juga menarik Vito.
"Agar mereka tahu kalau setiap kali berbuat salah, ada konsekuensinya. Dan sanksi yang paling ringan adalah meminta maaf," ujar Nurul tegas.
"Memangnya salah Dika apa? Anakmu yang agak lain kok anak orang yang kamu salahkan." Dini berkacak pinggang. Ia tidak terima anaknya diperlakukan semena-mena di depannya.
"Mbak Dini kok gitu sih ngomongnya?" tegur Nurul dengan suara bergetar. Ia tidak menyangka kalau tega Dini terang-terangan menghina Alfi yang juga keponakannya.
"Lho memang begitu kan kenyataannya?" Dini berkacak pinggang.
"Mau penyebutannya anak surga, anak berkebutuhan khusus, anak disabilitas intelektual atau apapun itu, toh artinya tetap sama — anakmu beda. Istilah-istilah itu dibuat hanya untuk menghibur diri saja," tandas Dini pedas.
"Kalau mau main salah-salahan, yang paling salah itu kamu. Karena melahirkan anak seperti Alfi. Asal kamu tahu, Ibu dan Erland jadi jarang menghadiri acara keluarga besar karena malu punya anak dan cucu tidak sempurna."
Semua mata mengikuti langkah Tasya. Bu Titik, Dini, dan Rina yang masih berada di dekat makam tampak terkejut melihat kehadirannya.Tasya berhenti di hadapan mereka.Dengan sopan ia mengulurkan tangan. "Assalamualaikum."Dini dan Rina membalas salamnya agak sedikit bingung. Aneh rasanya melihat Tasya sesopan ini. Sementara Bu Titik memandang Tasya beberapa saat sebelum berdiri dan memeluk Tasya."Maafkan Erland ya, Nak."Suara Bu Titik bergetar. "Maafkan anak saya karena tidak bertanggung jawab padamu. Erland salah." Bu Titik berurai air mata. Tasya membeku beberapa detik. Ia tidak menyangka, orang seegois dan semanipulatif Bu Titik mau meminta maaf. Mungkin kehilangan putra kesayangannya membuat mata hati Bu Titik terbuka.Matanya mulai berkaca-kaca.Perlahan, ia membalas pelukan Bu Titik. "Bukan cuma Erland yang salah, Bu," ucap Tasya sendu. Sikap legawa Bu Titik membuat Tasya ingin melakukan hal yang sama.Bu Titik melepaskan pelukannya. Ia lalu memandang Tasya penuh tanda tanya
Mendung menggantung rendah di langit siang itu. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang masih menyisakan jejak hujan semalam.Hari itu adalah hari pemakaman Erland. Nurul datang bersama Alfi dan Elang. Walau bagaimana pun, terlepas dari segala luka dan kesalahan yang Erland lakukan pada putranya, ia tetaplah ayah kandung Alfi.Di depan pusara yang masih merah, suasana dipenuhi duka.Bu Titik berjongkok di samping makam putranya. Tangannya berulang kali mengusap nisan yang baru ditancapkan. Air matanya mengalir tanpa henti."Kenapa semua jadi begini? Seharusnya kamu yang menguburkan Ibu. Bukan sebaliknya, Nak." Bu Titik meratap lirih.Di kanan dan kirinya, Dini dan Rina ikut menangis tersedu-sedu. Sesekali mereka memegang bahu sang ibu yang tampak semakin rapuh.Tak jauh dari mereka, Dika dan Vito berdiri dengan wajah gelisah. Suasana muram membuat mereka keduanya tidak nyaman.Suami Dini dan Rina tidak tampak hadir. Hendrik memilih tidak datang karena takut memicu perteng
"Mas, dengarkan aku baik-baik.""Ayo masuk mobil!" Erland memotong ucapan Nurul. Sambil tetap menggendong Alfi, ia berjalan cepat menuju mobilnya.Nurul tidak punya pilihan. Ia tidak mungkin membiarkan Alfi pergi berdua dengan Erland.Dengan langkah gemetar, ia mengikuti dari belakang. Begitu Erland memasukkan Alfi ke kursi penumpang, Nurul langsung masuk dan memangku Alfi."Ibu ... Alfi takut." Alfi menangis dipelukannya."Tidak apa-apa, Nak. Jangan takut. Ada Ibu," bujuk Nurul sambil membelai rambut Alfi walau tangannya gemetar..Baru saja pintu mobil tertutup, suara sirene terdengar meraung-raung dari kejauhan.Erland menoleh. Wajahnya berubah kesal. Di gerbang sekolah terlihat beberapa mobil polisi melaju masuk dengan cepat. Di belakangnya menyusul sebuah SUV hitam yang sangat dikenal Nurul. Mobil Elang!Namun bukan hanya itu.Beberapa mobil lain juga masuk ke halaman sekolah. Dari dalamnya turun laki-laki bertubuh besar dengan wajah garang. Nurul menduga mereka adalah para debt c
Nurul menghentikan laju motornya di tepi jalan saat merasakan ponselnya bergetar di saku jaketnya.Ia membuka layar ponsel sekilas. Keningnya langsung berkerut.Bu Helen. Wali kelas Alfi.Perasaannya tiba-tiba tidak nyaman. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Alfi. Tanpa menunggu dering kedua, Nurul segera mengangkat panggilan itu."Selamat siang, Bu Helen. Ada apa?" tanyanya cepat.Suara Bu Helen terdengar ragu."Bu Nurul, maaf mengganggu. Ini... Pak Erland datang ke sekolah. Katanya mau jemput Alfi."Nurul langsung menegakkan punggungnya."Menjemput Alfi?""Iya, Bu. Beliau bilang ingin membawa Alfi jalan-jalan. Saya menelepon untuk memastikan apakah Ibu mengizinkannya."Kali ini jantung Nurul berdetak dua kali lebih cepat.Berbagai kemungkinan buruk langsung berputar di kepalanya. Namun ia berusaha tetap tenang.“Bu Helen, tolong jangan izinkan Alfi ikut dulu.”"Tapi Pak Erland berjanji ingin membawa Alfi, Bu. Saat ini saya dan rekan-rekan sedang berusaha untuk menahan beliau.""Ba
"Iya, Mbak. Paham. Gimana motornya? Mbak suka nggak?" Daffa mengganti topik pembicaraan. "Suka dong, Dek. Apalagi gratis." Nurul nyengir. "Nanti tiap bulan Mbak cicil ya, motornya.""Nggak usah, Mbak," potong Daffa cepat. " Aku memang ingin menghadiahkannya untuk Mbak kok.""Baiklah kalau begitu.
"Maaf, Mbak, kita sudah sampai."Nurul terbangun dengan sedikit tersentak. Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mengusir kantuk yang masih menggantung."Oh… iya. Maaf," gumamnya gelagapan. Ia baru sadar motor sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Ternyata suara yang membangunkannya tadi ada
Beberapa kepala langsung menoleh. Nurul pun menghentikan pekerjaannya."Saya?" Nurul menunjuk dirinya sendiri.Ardy mengangguk. "Ia kalau Anda adalah Chef Nurul," katanya seraya menghampiri Nurul."Chef diminta menyiapkan makan siang untuk boss besar. Boss ada di meja 4 bersama dua orang anak buahn
Nurul mengebut sepanjang jalan dengan jantung berdebar tidak karuan. Angin sore menampar wajahnya karena helmnya tidak terpasang dengan baik. Ia tidak menyadarinya. Karena yang ada di pikirannya hanya Alfi."Semoga tidak ada luka yang serius ya Allah," gumamnya berulang-ulang. Inilah yang ia khawat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás