LOGINTanah kuburan istrinya masih basah, tetapi Dharma sudah harus menikah lagi dengan Laras. Gadis belia yang dipilihkan ibunya untuk menjadi ibu pengganti bayinya. Dalam keterpaksaan itu, Dharma dan Laras mengarungi bahtera rumah tangga tanpa pernah benar-benar menjadi suami-istri. Tujuh tahun lamanya hingga Laras menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lelah. Ia merasa cukup dan ingin berhenti menjadi istri pengganti yang tak pernah diinginkan.
View More“Kalau Ayah terus memaksaku menikah dengan pria yang nggak kucintai, aku mati saja!”
Plak! Tubuh mungil nan kurus Laras tersungkur karena tamparan keras dari sang ayah. Tampang pria berusia 60 tahun itu tampak sangat garang. Amarah berkobar memenuhi setiap sel dalam tubuhnya. Semuanya karena anak tak berbakti yang terus melawan perintahnya. “Hati-hati kalau bicara, anak kurang ajar!” amuk Hadi makin menjadi. “Mau sampai kapan kamu bersikap kekanakan begini? Sudah saatnya kamu menikah dan Dharma adalah calon suami terbaik yang bisa kamu dapatkan!” Mata Laras memerah. Berbagai emosi bergumul di sana. “Aku punya Sandi, Yah! Aku sudah berjanji akan menikah dengannya saat dia pulang nanti!” Tamparan keras kembali bersarang di pipi Laras hingga rona merah menyebar di sana. Panas dan perih. Namun, Laras sudah terbiasa. Lagipula itu bukan pertama kalinya dipukul ketika dirinya tak patuh. “Apa yang masih kamu harapkan dari pria yang bertahun-tahun luntang-lantung tak punya kerjaan itu?! Kalau kamu menikah dengannya, keluarga kalian nanti mau dikasih makan pakai apa?!” “Sandi sudah tanda tangan kontrak dengan agensi yang terkenal, Yah. Dia sebentar lagi pasti akan menjadi penyanyi terkenal. Lalu kami akan meㅡ” “Omong kosong! Sudah berapa banyak kebohongan dan janji palsu yang anak itu katakan padamu? Semakin lama kamu bergaul dengannya, kamu hanya semakin bodoh saja, Laras!” “Apa kami berdosa hanya karena saling mencintai?” lirih Laras sedih. Hatinya amat sakit dikatai seperti itu oleh ayahnya sendiri. “Kenapa Ayah nggak pernah mau berusaha melihat ketulusanㅡ” “Sudah cukup, Larasati. Jangan membantah lagi!” Hadi menggebrak meja hingga gelas yang berisi air tumpah membasahi lantai di bawahnya. “Tinggalkan anak itu dan menikah dengan Dharma yang masa depannya lebih jelas!” “Aku cuma mau menikah dengan Sandi.” Hadi yang sudah sangat berang itu pun bergegas mendekati anaknya yang duduk di seberang lain. Tanpa belas kasihan, Hadi menarik tangan Laras dengan cengkeraman kuat. Laras berteriak dan meronta-ronta ketika tubuhnya diseret ayahnya masuk ke kamar. Namun, meski sudah sekuat tenaga, ia tetap tak bisa melepaskan diri. “Diam di kamar dan jadilah anak yang baik!” perintah Hadi penuh ancaman di balik kata-katanya. Tubuh Laras terhempas ke lantai yang dingin. Belum sempat dirinya bergerak, Hadi sudah lebih dulu menarik gagang pintu dan menutupnya keras-keras dari luar. Semalaman itu Laras menangis. Berbagai skenario terlintas di kepalanya. Memikirkan rencana terbaik untuk kabur dari rumah. Namun, setelah berjam-jam, tidak ada satu pun rencana yang cukup bagus. Jendela di kamarnya telah dipasangi teralis. Di dalam kamar pun tidak ada satu pun peralatan untuk membongkarnya. Sehingga Laras tidak mungkin bisa diam-diam pergi dari sana. Satu-satunya jalan hanya pintu kamar yang terkunci dari luar. ‘Apa yang harus kulakukan? Sandi akan sangat terluka kalau aku meninggalkannya,’ ratap Laras dalam hati. Sampai gadis itu terlelap hanya kekecewaan pekat di wajah sang kekasih yang terus terbayang di kepalanya. *** “Pakai baju terbaik yang kamu punya. Satu jam lagi keluarga Dharma akan datang melamar,” kata Hadi ketika menjelang sore di hari Minggu itu ia membuka kamar anak gadis semata wayangnya. Laras tidak menjawab. Gadis itu membisu seraya menahan amarah. Sudah belasan jam Laras terkurung di kamar. Pintu kamarnya hanya terbuka pagi ketika gadis itu harus sarapan dan mandi. Lalu di siang hari ketika sudah waktunya makan lagi. Dan baru kembali terbuka untuk yang ketiga kalinya saat ini. “Kenapa diam saja? Apa begini sikapmu menghadapi orang tuamu?” sergah Hadi amat tersinggung. Laras tetap diam, tetapi ia memang tak punya niat untuk membantah apa yang ayahnya perintahkan. Sebab, percuma saja. Ia hanya akan lelah sendiri karena tak pernah bisa menang melawan seorang Hadi Praja, yang seumur hidup mengendalikan hidup Laras. “Sudahlah! Buang-buang tenaga saja bicara dengan anak tak tahu diuntung sepertimu,” decih Hadi sengit. “Kamu harus mengingat ini, Larasati. Jangan sampai kamu bikin malu di depan keluarga Dharma nanti.” Lalu Hadi berbalik pergi dan membiarkan pintu kamar Laras tetap terbuka. Satu jam kemudian, keluarga Dharma benar-benar datang untuk melamar Laras. Selain Dharma dan kedua orang tuanya, hanya ada dua kerabat lain yang ikut hadir. “Semoga kedatangan kami tidak mengganggu waktu istirahat Pak Hadi dan Laras di hari Minggu begini,” ucap Surya Pranata ramah. “Kami sekeluarga datang ke sini dengan maksud baik. Saya selaku ayah Dharma mewakilinya untuk melamar Laras. Semoga Pak Hadi dan Laras menerima maksud baik kami.” ‘Aku nggak mau menikah dengan duda beranak satu itu!’ jerit Laras, tetapi hanya mampu terucap dalam hati. Tatapan tajam Hadi membuat Laras tak kuasa meneriakkan keinginan sesuka hati. “Pak Surya dan keluarga sama sekali tidak mengganggu. Saya sebagai tuan rumah justru merasa sangat terhormat karena Pak Surya mau repot-repot datang ke gubuk sederhana kami,” jawab Hadi merendah. Sikapnya sangat jauh berbeda dibandingkan saat menghadapi Laras. “Jadi, bagaimana Pak Hadi? Apakah Bapak mengizinkan Laras untuk dipersunting anak kami?” tanya Surya lagi. Tak mau banyak basa-basi. Hadi tersenyum sopan. “Saya menyerahkan keputusan di tangan anak saya,” katanya penuh dusta. Meski suaranya terdengar lembut dan ramah, tetapi tatapannya terhadap Laras begitu menusuk. “Laras, ayo dijawab dulu pertanyaan Pak Surya. Apa kamu bersedia menikah dengan Nak Dharma?” Nyali Laras menciut. Ingin hatinya menolak, tetapi ia teringat pada ucapan Hadi satu jam yang lalu. “Laras, ayo jangan malu-malu. Sudah bukan rahasia lagi kalau kamu dulu pernah naksir Mas Dharma!” ucap seorang wanita muda bernama Julia yang merupakan kerabat keluarga Dharma. Laras menunduk dalam karena celetukan ngawur itu. Ia sangat malu karena Julia membuka aibnya secara terang-terangan di depan para orang tua. “Ras, enggak sopan membuat keluarga Pak Surya menunggu jawabanmu terlalu lama,” tukas Hadi pelan. Urat-urat lehernya mulai keluar karena sikap diam anak perempuannya. “Laras….” Laras menelan ludah. Suaranya hampir tidak keluar saat membuka mulut. Ia berdeham kecil sebelum mengulangi dengan sedikit lebih keras. “Laras mau, Pak.” “Bisa diulangi dengan lebih jelas supaya kami semua mendengarnya, Nak Laras?” pinta Rahma, ibunda Dharma, yang sejak tadi tidak mengalihkan tatapan dari wajah ayu Laras. Laras menatap satu per satu wajah yang ada di sana dan berhenti pada satu sosok yang duduk di tengah-tengah antara Surya dan Rahma. Pandu Dharmasatya. Pria yang belum mengucapkan sepatah kata pun sejak masuk ke kediaman Hadi Praja itu bersitatap dengan sepasang mata Laras. Laras gentar. Yakin bahwa tatap dingin dan kelam milik pria itu hanya akan membawa ketidakbahagiaan lain pop dalam hidupnya, tetapi… ia tidak punya pilihan lain. “Laras mau menikah dengan Mas Dharma.”“Kamu lagi sakit begini lho. Ibu nggak enak jadinya, Dhar. Ibu nggak mau ngerepotin kamu.”“Saya nggak papa, Bu. Nggak repot sama sekali. Acaranya juga masih tiga mingguan lagi. Saya pasti sudah kembali sehat nanti.”Diyah berterima kasih berkali-kali dengan matanya yang berkaca-kaca karena Dharma masih begitu pengertian terhadap Gendhis dan keluarganya.“Mas Dharma, jangan sungkan-sungkan kalau butuh apa-apa ya. Bisa langsung kabarin aku juga. Biar aku berguna dikit gitu,” kata Galuh dengan suara amat lembut yang hanya keluar saat bicara dengan Dharma.Dharma mengangguk kecil. “Terima kasih, Galuh. Gendhis pasti bangga melihat kamu dari atas sana. Adik kecilnya yang dulu manja, sekarang sudah semakin dewasa dan bisa diandalkan.”Pujian itu membuat pipi Galuh memerah. Sama sekali tidak berusaha menyembunyikan salah tingkah karena ucapan Dharma.Di sisi lain, Laras tersenyum kecut. Suaminya itu selalu menjelma menjadi sosok yang sangat berbeda ketika bicara dan berinteraksi dengan ora
Laras tidak tidur sampai pagi menyapa. Wanita itu terus gelisah karena dilema yang memberati dada. Sehingga matanya tak mau menutup meski badannya sudah lelah sekali.Sementara itu, waktu yang semakin mepet dengan janji temu memaksa Laras untuk segera memutuskan.Dalam perjalanan mengantar Kanala, Laras pun mengirimkan pesan kepada calon pengacaranya.Wanita itu menuliskan, “Selamat pagi, Pak Sadewa. Saya mau konfirmasi untuk pertemuan hari ini. Kalau lokasinya pindah ke tempat lain, bagaimana ya, Pak? Maaf mengabarinya mendadak.”Laras juga sekaligus menyematkan lokasi yang baru untuk pertemuan pertama mereka. Balasan itu datang saat Laras dan Kanala baru saja turun dari taksi. Ya, hari itu mereka memang naik taksi karena kepala Laras sedang agak pusing akibat kurang tidur, sehingga wanita itu tidak berani menyetir sendiri seperti biasanya.[Sadewa (Pandawa Lawfirm)]: “Selamat pagi, Bu Laras. Boleh, Bu.”[Sadewa (Pandawa Lawfirm)]: “Saya fleksibel mau bertemu di mana saja. Kenyamana
“Mas Arman,” ucap Laras setelah menggeser pintu kamar inap Dharma hingga kembali terbuka.“Kenapa berdiri di depan pintu, Ras?” tanya suami dari Meidina itu seraya masuk ke dalam.“Tadi ada teman-teman kantornya Mas Dharma. Baru aja pamit pulang, jadi saya antar sampai ke depan pintu,” jawab Laras menyejajari langkah kakak iparnya itu. “Mas Arman dari kantor langsung ke sini?”“Nggak kok. Saya sebenarnya kerja dari rumah tadi. Ngurusin anak-anak dulu sepulang mereka sekolah, jadi nggak bisa langsung ke rumah sakit.”Laras manggut-manggut. “Mbak Mei udah di rumah berarti?”Arman mengangguk. “Saya bawain makanan, Ras. Kamu pasti belum makan dari siang tadi, kan?” tanya pria itu seraya menyodorkan paper bag berwarna putih yang berisi makanan.Tebakan Arman sepenuhnya benar.Sejak tiba di rumah sakit tadi, Laras terlalu sibuk mengurus ini itu sampai lupa untuk mengisi perut. Sekarang Laras baru sadar kalau dirinya sangat kelaparan.“Makasih, Mas Arman. Harusnya nggak usah repot-repot,” ja
“Berarti Bapak nggak bisa ikut gathering minggu depan ya? Nggak seru dong kalau Bapak nggak jadi ikut.”Pertanyaan yang dilontarkan salah seorang pria yang menjenguk Dharma itu menarik perhatian Laras.Jemari Laras berhenti mengetik, urung mengirimkan pesan kepada Rahma yang tidak mengangkat telepon darinya setelah Laras mencoba meneleponnya dua kali tadi.Dharma berdeham. “Saya lihat situasi dan kondisi dulu nanti. Kalau memungkinkan saya akan tetap ikut.”“Kalau saya yang di posisi Bapak sih udah minta cuti sampe tiga bulan. Pemulihan buat patah tulang kan lama. Apalagi cuma gathering, harusnya bisa skip aja, Pak,” sahut seorang wanita yang berdiri di samping Dewi dan membelakangi posisi Laras.“Pak Dharma kan bukan kamu. Beda level. Lagian kamu itu cuma kacung, cuti tiga bulan kalau selain cuti hamil yang ada malah bakal langsung ditendang dari perusahaan, Nin!”“Tapi dedikasi Bapak buat perusahaan patut diacungi jempol sih. Gathering kantor kan tinggal minggu depan. Kayaknya nggak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews