INICIAR SESIÓNMenikah dengan mantan sendiri bukan sesuatu yang pernah Karuna Respadi Atmaja tulis dalam daftar keinginannya. Apalagi jika mantan itu adalah Rajendra Keenan Witjaksana; pria yang tujuh tahun lalu pergi dengan cara paling kejam, lalu kembali dengan wajah terlalu tenang dan satu alasan yang membuat dada Karuna terasa ditikam. “Saya harus menjadi pimpinan Witavest Group.” Karuna nyaris tertawa. Jadi, begitu? Pernikahan mereka hanya jalan lain agar Rajendra berdiri di puncak rantai keluarga Witjaksana? “Pernikahan bukan mainan, Rajendra!” Namun, Rajendra tetap berdiri di sana; dingin, stabil, dengan sorot mata yang jelas membuatnya muak. “Kalaupun kita menikah,” tanyanya, “apa kamu bisa mencintai saya–lagi?” Dua tahun. Satu rumah. Satu pernikahan yang katanya hanya kewajiban. Karuna pernah mencintai Rajendra. Pernah juga membencinya dengan seluruh tenaga yang ia punya. Naasnya, ketika keluarganya nyaris bangkrut, kebencian saja tidak cukup untuk membuatnya menolak pernikahannya. Maka ia harus berbagi hidup pria yang dulu menghancurkannya; terikat oleh kepentingan keluarga, luka lama, dan keintiman yang datang tanpa sempat ia duga. Karena mungkin, ada satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada masa lalu mereka. Bukan pernikahan dadakan ini. Melainkan fakta bahwa jatuh cinta pada orang yang sama… bisa terjadi dua kali.
Ver más“Kamu kapan mau nikah?”
Perasaan Karuna mendadak tidak enak saat Winanto, papinya mengajukan pertanyaan. Meja dan kursi-kursi taman belakang kediaman keluarga Atmaja di kota Bandung bagai membeku.
Untuk mengusir rasa tidak nyaman itu, Karuna mengambil satu keripik kentang dari sebuah toples camilan yang masih terbengkalai sejak tadi.
“Kalau nggak Minggu, ya, Sabtu?” ujarnya terkekeh, berpura-pura santai.
Winanto menatap Karuna lurus. “Kamu bercanda terus–jadi Papi dan Mami yang ambil keputusan.”
Alis Karuna berkerut lebih dalam, matanya memincing.
“Kami sudah menjodohkan kamu.”
Dunia Karuna berhenti bergerak. Ia tertawa pendek, seolah Winanto sedang membual. “Haha. Papi yang bercanda mulu, nih.”
Namun,
“Kita nggak bercanda.” Kini, giliran Mami yang menatapnya.
Kerongkongan gadis itu terasa kering, ia meraih satu gelas air mineral. “Oke,” katanya cepat. “Oke, bentar,” ia mengerjapkan matanya berkali-kali, juga menarik dan menghembuskan napasnya sebanyak empat kali.
“Kita ulang dari awal, ya? Papi sama Mami barusan bilang apa?”
Iya.
Kita ulang.
Siapa tahu Karuna salah mendengar.
Siapa tahu Karuna berhalusinasi.
Saat itu, detak jantungnya jelas berlarian. Menunggu jawaban Winanto terasa jauh lebih menegangkan, dibandingkan dengan persiapan presentasi promosi naiknya jabatan.
“Papi dan Mami sudah menjodohkan kamu.”
Bagi Karuna, kalimat Papinya barusan adalah yang terkonyol sepanjang masa.
Mual mulai mendera organ pencernaannya. “Hok–” Gadis itu buru-buru meraih tisu, hampir memuntahkan kunyahan keripiknya.
Winanto menghela napas, mengernyit ke arah gadisnya yang kini mencondongkan wajah ke arahnya. Ia dorong pelan kening itu dengan telunjuk agar menjauhinya. "Karuna."
“Piiiiii?”
“Tiga bulan lagi, ya?”
“Tiga….bulan?” ulangnya terbata, segalanya semakin tidak masuk akal. “Papi sadar nggak sih, tiga bulan itu artinya apa?”
“Artinya cukup waktu buat kamu adaptasi.” ujar Winanto.
Marlina meraih tangan Karuna. Kali ini wanita paruh baya itu menggenggamnya erat. “Ini bukan keputusan mendadak. Keluarga mereka sudah lama kenal kita dan sebaliknya.”
“Kami lakuin ini karena kami percaya ini yang terbaik.” imbuh Marlina.
“Terbaik versi siapa?” Karuna menarik tangannya pelan, habis sudah energinya untuk bercanda berlama-lama. “Versi Papi dan Mami, atau versi aku?”
tanya Karuna lagi, menatap dua orang itu bergantian. “Kenapa sekarang?”“Karena kesempatan ini nggak datang dua kali.”
Kesempatan.
Kata itu terdengar ironis di telinga Karuna.
Sejak kapan perjodohan jadi buah kesempatan, bukan jebakan?
“Siapa?”
Dua orang itu akhirnya saling pandang.
“Siapa orang yang Papi dan Mami maksud?” ulang Karuna, suaranya lebih rendah sekarang.
Winanto menarik napas dalam-dalam. Tangannya terletak di atas meja, jemarinya saling bertaut. “Kamu kenal, kok, Kak.”
Perut Karuna terasa mengeras, berdecak tidak sabar. “Siapa?"
Winanto mengangguk pelan. “Ya–ya.”
Ia menatap Karuna lurus-lurus, tanpa senyum, tanpa basa-basi.
“Rajendra.”
Hah?
“Rajendra Keenan Witjaksana.”
Benturkan kepala Karuna ke benda keras mana pun yang ada di hadapannya.
Sekarang.
Maksud mereka … Rajendra mantan kekasihnya!?
“Nikah sama Rajendra?! Pi?! Yang bener aja?!”
Yang dituju hanya menghela napas pendek. Winanto melepas kaca mata yang terpasang di tulang hidungnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas meja dengan ketenangan yang mencurigakan.
“Toh, dulu kamu kemana-mana sama Rajendra terus. Sampai kelas berapa itu? Rajendra kelas tiga, kamu kelas satu SMP, ya?” Winanto tersenyum penuh keyakinan. “Laki-laki itu—Rajendra ‘kan baik."
Karuna mual.
Bahkan untuk mengingat apapun yang terjadi dengannya bersama Rajendra di masa lalu, ia sungguh enggan.
Tujuh tahun bukan waktu sebentar untuk pulih dan Karuna sama sekali tidak berniat mengulanginya. Sungguh ia tak mau kembali lagi.
Ah, bagaimana Karuna mengatakannya jika orang tuanya saja tidak pernah tahu hubungannya dengan Rajendra seperti apa?
Yang mereka tahu hanyalah Rajendra dan Karuna yang adalah teman masa kecil—bukan mantan sepasang kekasih. Mereka tidak tahu bahwa tahun-tahun itu bukanlah satu-satunya momen Rajendra dan Karuna saling mengenal. Ada gelombang tahun lain yang selama ini Karuna tutup rapat-rapat.
“Kata siapa dia baik sih?!”
Wanita dua puluh enam tahun itu baru saja pulang kerja. Blazer masih menggantung di lengannya, tas bahkan belum sempat ia letakkan, sementara migrain mulai berdenyut di pelipisnya—hingga sebuah kalimat akhirnya lolos dari bibirnya.
Kalimat yang sekonyong-konyong, tidak ia saring dengan otak juga mulutnya.
“Mereka tawarin apa aja ke Papi sama Mami, huh? Uang? Saham? Atau janji investasi? Karuna janji, Karuna bisa cari yang lebih! Nggak dengan dijodoh-jodohin kayak gini!”
“Karuna,” tegur Marlina, jelas tidak suka.
Akan tetapi bagi Winanto, adalah wajar jika Karuna mengungkap kecewanya. Gadis itu juga ada benarnya, pria tua itu juga tidak mau berbohong dan sembunyi tangan.
“Mungkin kamu masih kerja dengan fasilitas baik di bagian kantor Dago, karirmu bagus, cara kerjamu juga nggak ada masalah. Empat tahun ini, kamu memang banyak bantu, tapi… itu belum cukup, Kak. Kamu tahu, ‘kan, cabang Braga dan Martadinata sedang defisit habis-habisan sekarang? Kebutuhan yang sekarang terlalu mendesak. Berapa pegawai restoran lagi yang harus Papi PHK?”
Kalimat itu jatuh lebih berat dari yang Karuna bayangkan.
Ia bukan anak manja. Ia terbiasa bekerja keras. Tapi mendengar itu langsung dari Winanto, seolah semua usahanya hanya catatan kaki. Rupanya, apa yang ia lakukan tidak pernah cukup. Ia kecewa dan malu.
Mendengar itu, Karuna langsung memicingkan matanya. Rasanya kacau hingga setetes air mata begitu saja turun di pipinya. Ia semakin merasa bahwa pendapatnya di sini sama sekali tidak diperlukan.
“Kenal sama dia nggak menjamin dia orang yang tepat buat jadi suamiku.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan dingin.
Tak ada yang langsung menjawab.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Karuna angkat kaki dari duduknya. Langkahnya cepat, hampir tergesa, menutup pintu taman belakang kencang.
Rajendra adalah sisi koin paling sempurna, sementara Karuna adalah yang paling cacat, begitukah maksud orang tuanya?
Mereka kini duduk berdampingan di sofa kamar–Karuna yang membawanya. Ia tidak mungkin melanjutkan topik yang dibawa sang adam untuk dihabiskan di dalam kamar mandi tertutup.Setidaknya mereka perlu udara segar untuk bisa berpikir jernih.“Memaafkan… kesalahan keluarga kamu?” ulang Karuna pelan, suaranya nyaris hilang.Rajendra mengangguk pelan. Matanya yang biasanya tajam kini dipenuhi badai yang kelam.“Kamu sempat ketemu Ayah kemarin?”“Iya,” jawab Rajendra, suaranya rendah. “Saya tidak bisa menahan diri.”Karuna merasakan dadanya sesak. Ada rasa takut yang pelan merayap, seolah ia sudah tahu bahwa apa yang akan didengarnya akan mengguncang damai yang baru ia bangun kembali.“Terus Ayah bilang apa?”Rajendra menarik napas dalam-dalam, seolah bahkan udara lepas di sekitarnya tiba-tiba menipis. Ia menatap bola mata Karuna cukup lama, ada luka, amarah, dan kelelahan yang begitu kental di netranya.“Ayah meminta maaf,” katanya getir. “Beserta semua alasan yang dia bawa. Tapi saya belum b
Karuna bangun perlahan, matanya menyipit menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menyusup lembut melalui celah tirai. Saat ia menoleh ke samping, napasnya tertahan.Lengan Rajendra menjadi bantalan kepalanya. Tubuh mereka begitu dekat–berhadapan, nyaris saling menempel. Telapak tangan Karuna tanpa sadar berada di dada bidang pria itu, merasakan naik-turun napasnya yang teratur. Di pucuk kepalanya, ia bisa merasakan hembusan napas hangat Rajendra yang pelan dan dalam.Sejak kapan mereka tidur seperti ini?Karuna mengerjapkan netranya lambat, membiarkan kesadarannya kembali satu demi satu. Posisi ini terlalu intim–dan hangat. Lengan Rajendra melingkar longgar di pinggangnya, seolah sepanjang malam tubuh mereka saling mencari tanpa disadari.Ketika ia bergerak sedikit, lengan Rajendra yang tadinya berada di pinggangnya ikut bergerak, seolah enggan melepaskan. Setelahnya barulah lengannya naik–pria itu mengucek matanya pelan, suaranya serak khas bangun tidur.Karuna spontan menjauh, memi
Karuna keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan piyama sutra tipis berwarna krem. Bau semerbak sabun khas miliknya langsung tercium, perpaduan aroma buah segar dan mawar lembut yang selalu melekat di kulitnya. Rambutnya masih basah, dan handuk putih melilit kepalanya sambil sesekali digosok pelan dengan kedua tangan.“Tuh, mandi kamu,” ujar Karuna.Rajendra yang sudah duduk di tepi ranjang langsung bangkit begitu melihat istrinya. Tanpa banyak bicara, ia mengambil handuk bersih dan celana bahan panjang dari lemari, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi. Meski di lantai bawah ada kamar mandi lain, entah mengapa Rajendra memilih tetap menggunakan kamar mandi utama ini.Karuna menghentikan gosokan rambutnya, kemudian melilitkan handuk itu di kepala seperti turban agar rambutnya kering lebih merata. Ia naik ke ranjang, duduk bersandar di kepala ranjang dengan kaki selonjor santai, kemudian meraih ponselnya.“Udah sampe juga dia,” gumamnya sendiri melihat deretan pesan pribadi yang Rh
“Berhenti tertawa.”“Nggak–ahahaha, kamu–hahaha.”Rajendra segera berbalik ke counter dapur, menyerahkan spatula pada Natri sebelum mencuci tangannya di wastafel dengan gerakan kasar. Ia membuka celemeknya dengan cepat, hendak membawanya ke keranjang kotor, namun Natri langsung menghentikannya.“Sini, Den. Saya yang cuci saja, digantung dulu.”Rajendra hanya mengangguk pelan, napasnya terdengar berat. Karuna yang masih berdiri di sana semakin penasaran. Senyum di bibirnya belum mau hilang, justru semakin lebar melihat wajah suaminya.“Bikin apa dia, Bi?” tanya Karuna, suaranya masih bergetar karena menahan tawa.Natri melirik majikannya dengan senyum kecil yang penuh arti. “Mau buat kejutan buat–”“Saya sedang luang, jadi coba memasak. Apa salah?” potong Rajendra dengan nada datar, presensinya leakes keluar dari area dapur tanpa menoleh lagi.Ia duduk di meja makan dengan punggung yang kaku, berusaha terlihat tenang. Karuna mengikuti dan duduk di sampingnya, masih sesekali terkikik gel


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás