Ibu Menjualku Demi Satu Milyar

Ibu Menjualku Demi Satu Milyar

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-10
Oleh:  JustmeBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
7Bab
13Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Elsa sudah delapan tahun diperas menjadi LC dan tulang punggung keluarga, tetapi ibunya melarang keras dia berhenti. Di tengah rasa muak itu, sang ayah justru kalah judi satu miliar rupiah hingga menyeret Elsa ke dalam jeratan Bram—pria kaya raya dengan fetish seksual sadis yang suka mencambuk dan memasung tubuhnya. Demi menyelamatkan rumah dari lintah darat, Elsa terpaksa pasrah menjadi budak nafsu demi menghidupi keluarga yang tidak tahu diri.  "Jangan bertingkah seolah kamu paling menderita, Elsa! Bram memenuhi semua permintaan Mamah, dia bahkan berniat menikahi kamu." 

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. Keinginan Hati Yang di Tolak Ibu.

Plak!

Suara tamparan itu terdengar nyaring, meninggalkan bekas kemerahan yang terasa perih.

"Kamu itu harus ingat! Kamu lahir dari perut Mamahmu, membalas budi segitu aja kamu ngeluh. Pake bilang mau berhenti segala. Elsa, kamu kira nyari duit itu mudah? Kamu harusnya bersyukur masih dapat penghasilan besar dari pekerjaan itu."

Elsa memegangi pipinya yang terasa berdenyut. Rasa sakit fisik itu tidak seberapa dibanding remukan di hatinya. Delapan tahun menjalani profesi sebagai Ladies Companion, selama itu pula dia menjadi tulang punggung yang memenuhi seluruh kebutuhan orang tua dan adiknya.

Wanita dua puluh delapan tahun itu menggigit bibir sekuat tenaga, menahan sesak yang membakar dada. Ingin sekali dia menumpahkan seluruh keluh kesah, namun baginya, tidak ada tempat yang aman untuk menampung kesedihan itu.

"Elsa cuma ingin pindah kerja aja, Mah. Elsa akan tetap ngasih Mamah uang. Elsa janji," bela wanita itu dengan mata penuh permohonan. Kelelahan yang amat sangat—atau lebih tepatnya rasa muak—terpancar jelas di sana.

"Kamu pikir, ada pekerjaan yang bisa gaji kamu sebanyak itu dalam waktu singkat? Cicilan apartemen, perawatan Mamah, kuliah adek kamu? Papa juga butuh mobil baru karena yang lama sudah ketinggalan zaman. Di mana kamu bisa dapat uang untuk semua itu, Elsa?!" Diana, ibu dari Elsa memekik nyaring, suaranya bagai racun yang mengikis seluruh rasa percaya diri wanita itu.

Dia lelah. Ingin rasanya berlari menjauh, kembali pada dunia normal dan hidup sebagai wanita bebas. Namun, tuntutan tidak masuk akal yang dibebankan sang ibu seolah menghipnotis dan mengurung pikirannya.

"Elsa akan cari pekerjaan lain, Mah. Elsa cuma butuh keluar dari dunia itu, Elsa udah enggak kuat..." ujarnya lirih, nyaris merintih sarat kesakitan.

Plak!

Tamparan kedua yang lebih keras runtuh, membuat air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh membasahi pipinya yang kian memerah. Elsa terisak pasrah. Suaranya tenggelam oleh rasa sakit yang membuncah, memaksa dirinya untuk kembali berpura-pura kuat.

"Pekerjaan layak mana yang mau menerima wanita kayak kamu? Hah? Elsa, kita butuh uang untuk bertahan hidup!" bentak ibunya lagi dengan kemarahan yang memuncak.

Elsa bungkam. Ucapan itu telak menghantam harga dirinya. Mungkin benar kata ibunya, tidak ada tempat di dunia normal bagi wanita dengan sayap patah sepertinya. Seorang janda yang bekerja sebagai LC—sebuah label kelam yang tak pernah diinginkan wanita mana pun.

Dia memilih mundur, melangkah terseok ke kamar. Setelah pintu ditutup rapat, tubuhnya merosot di atas lantai marmer yang dingin. Elsa memeluk kedua lututnya, menangis dalam diam demi menyembunyikan kerapuhannya dari dunia yang kejam.

Uang dan kemewahan yang selama ini dikirimnya ke rumah ternyata tidak pernah membawa ketenangan. Elsa hanya ingin bersimpuh, berdoa, dan memohon ampun. Namun, setiap kali ingin berbalik arah, tuntutan orang tuanya selalu memaksa Elsa kembali berkhianat pada dirinya sendiri dan Tuhan.

"Ya Allah, izinkan aku melangkah. Izinkan hambamu yang penuh dosa ini berubah. Yang Maha Kuat, Maha Bijaksana, berilah kekuatan, berilah jalan terbaik," bisik Elsa lirih sembari meremas dadanya yang kian sesak. Walau merasa tak pantas, jauh di lubuk hati, dia tahu Tuhan adalah satu-satunya tempat ia bersandar.

Namun pada akhirnya, Elsa kembali kalah oleh kenyataan. Air mata dan doanya malam itu menguap begitu saja, tenggelam oleh rentetan beban yang didiktekan sang ibu. Mau tidak mau, sayapnya yang patah harus dipaksa mengepak lagi.

Malam berikutnya, di depan cermin ruang rias yang benderang, Elsa memulas bedak lebih tebal demi menutupi bekas tamparan yang masih menyisakan linu. Begitu kakinya melangkah keluar menuju aula, dunianya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sudah berada di tempat kerja yang kini mulai terasa asing baginya.

Lampu strobo warna-warni yang berputar membuat kepalanya pening. Asap rokok mengepul, berbaur dengan bau alkohol yang menyengat dari setiap tubuh yang menari di bawah temaram lampu. Di tengah dentuman house music yang memekakkan telinga, semua terasa hampa bagi Elsa. Tidak ada lagi euforia atau rasa antusias, bahkan saat tamu memberinya tips besar. Hanya ada kekosongan yang makin dalam.

Seperti malam-malam biasanya, hari Elsa selalu diakhiri dengan sebuah dosa yang membuatnya merasa malu bahkan pada dirinya sendiri. Namun malam ini berbeda. Ini adalah malam penyiksaan bagi Elsa, dimulai dari kedatangan seorang pria empat puluh tahunan bernama Bram yang punya fetish mengerikan.

Ketakutan Elsa menjadi nyata. Udara di dalam kamar hotel yang dingin terasa mencekik lehernya, seolah menjadi akhir dari dunianya. Penyiksaan berkedok pelampiasan nafsu ini terasa begitu jahanam.

Elsa menahan isakan yang keluar dari belahan bibirnya yang mulai memar. Matanya ditutup kain hitam rapat-rapat. Kedua tangan diikat ke atas kepala, sementara kakinya dipasung di sisi ranjang. Meski pakaian tidurnya masih utuh, pecutan dari cambuk kecil di tangan Bram membuat sekujur tubuhnya menjerit kesakitan. Dia merasa ternodai dan kehilangan seluruh harga diri.

"Hiks!" Sebuah isakan akhirnya lolos karena rasa sesak yang tak lagi tertampung.

Dulu, Elsa pernah mengadukan kegilaan ini pada Tante Meri. Namun, mucikari paruh baya itu selalu abai. Jumlah uang fantastis yang digelontorkan Bram selalu sukses membungkam rasa kemanusiaan mereka. Elsa tahu, malam ini dia benar-benar sendirian. Dan rintihan sekecil apa pun justru akan membuat pria di hadapannya semakin beringas.

"Bagus! Gitu dong, masa manusia enggak ada suaranya. Kamu bukan boneka, sayang! Kamu wanita cantik yang aku bayar mahal untuk melakukan semua ini," ujar Bram dengan seringai puas. Suara tangis Elsa justru menjadi bahan bakar yang memuaskan dahaga liarnya.

Bersamaan dengan tawa meledak pria itu, suara desing udara kembali terdengar.

Ctar!

Cambuk kecil di tangan Bram kembali menghantam lekuk tubuh Elsa dengan kejam, kali ini jauh lebih keras hingga memercikkan rasa perih yang membakar. Di balik kegelapan kain hitam yang menutup matanya, kesadaran Elsa mulai menipis, dan dia hanya bisa berharap malam ini tidak menjadi malam terakhir bagi nyawanya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status