INICIAR SESIÓN"Tiga miliar, layani aku! Tapi jangan berani hamil anakku!" Suara desahan Arga begitu jelas, sentuhan pria itu juga nyata. Hampir tiap malam Anna berada di bawah kungkungan pria dingin itu, tapi dia tak merasakan kehangatan sama sekali. "Dulu, dia tak mau aku hamil, sekarang dia menginginkan anak-anakku." Diperlakukan dingin oleh suami, dimanfaatkan oleh keluarga sendiri, dan direndahkan oleh mertua. Puncaknya, Anna hampir kehilangan janin di rahimnya akibat ulah cinta pertama sang suami. Di titik itulah, dia memilih pergi dengan meninggalkan surat cerai. Bagi Arga dan seluruh keluarganya, Anna sudah mati. Tapi, Anna kembali dengan membawa dua buah hati. Wanita yang mereka sangka telah terkubur itu datang dan membuat Arga dan keluarganya tercengang tak percaya. Anna datang bukan untuk mengemis cinta yang tidak pernah dia dapat sebelumnya, tapi untuk menuntut perceraian dan kebebasan bagi anak-anaknya. Tapi saat Anna menyodorkan surat gugatan cerai, Arga menolak. "Kembalilah padaku. Aku akan melindungimu dan anak-anak kita. Percayalah padaku kali ini, Anna. Kumohon." Saat luka masa lalu sudah terlanjur menganga, akankah kata maaf dan perlindungan terlambat dari Arga bisa meluluhkan hati Anna yang telah membeku? ~~ Ketika wanita mengungkap rasa, bukan lagi kata-kata yang ia pilih untuk menjelaskan luka, tapi akan berbalik dan melangkah pergi. Dia akan berhenti memaksakan diri untuk bertahan. ~~ Jangan lupa mampir ke I-G Othor -- Angsa Kecil/angsakecil88
Ver másSuara desahan Arga begitu jelas, sentuhan pria itu juga nyata. Hampir tiap malam Anna berada di bawah kungkungan pria dingin itu, tapi dia tak merasakan kehangatan sama sekali.
“Berapa harga tubuhmu saat melayani Arga selama ini? Ini, tiga ratus juta, kamu harus bercerai dan pergi dari hidup anakku.” Manda mendorong selembar cek di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya dengan senyum kecut. Mata Anna menatap angka di kertas itu. Di bawah meja, jemarinya menggenggam lembar sonogram makin erat. Ada denyut kehidupan kecil yang baru saja dia ketahui, Arga juga belum mengetahuinya, dan kini niatnya ingin mengatakan hal ini, harus dia telan lagi. Tenggorokan Anna terasa kering. Dia sudah tahu Manda tidak pernah menyukainya, tapi tak menyangka wanita itu akan sejauh ini. “Calon istri Arga sudah kembali, dia seorang dokter hebat dan dari keluarga sepadan. Tidak sepertimu, hanya mantan manajer hotel kecil yang dipecat.” Anna mendongak, dadanya berdenyut. “Kamu itu cuma beban buat Arga. Menantu tak berguna dan memalukan. Sejak awal, pernikahan kalian itu memang salah. Dan sampai sekarang aku sangat heran, kenapa Arga mau saja menikahimu dan masih mempertahankanmu.” Dada Anna terasa sesak, ada rasa sakit yang menghantam ulu hatinya. Dia mengatupkan matanya sebentar, lalu tersenyum pada mertua yang sangat membencinya itu. “Hanya ada dua pilihan untuk wanita sepertimu. Terima uang ini dan pergi baik-baik, atau tidak menerima apa pun. Tapi tetap akan kubuat kamu bercerai dengan Arga secepatnya. Jangan mimpi bisa bertahan jadi istrinya.” Anna memajukan tubuhnya. Tangannya yang gemetar terulur mengambil selembar cek itu. Manda tersenyum puas, mengira menantunya yang miskin ini sudah takluk. Namun, sedetik kemudian, Anna malah merobek-robek cek itu menjadi serpihan kecil. Wajah Manda seketika memerah, matanya melebar, geram. “Dasar tidak tahu diri! Kamu itu cuma numpang hidup di sini! Keluargamu yang tak tahu diri itu selalu datang memeras dan minta uang.” “Sudah untung kamu masih kuberi uang, anggap saja itu upah lebih saat mengurus rumah ini. Arga sudah mau menikah dengan wanita yang benar-benar dia cintai. Jadi, kamu harus tahu diri.” Anna lalu berdiri dengan wajah tenang. “Kalau mau aku meninggalkan Arga, tiga ratus juta tidak cukup. Dua miliar. Dua miliar, aku akan pergi dari kehidupan anakmu.” Senyum tipis getir muncul di bibir Anna saat ingatan perdebatan siang tadi berputar di kepalanya. Sebuah getaran dari ponsel memutus lamunannya. Anna meraih benda itu, membaca satu pesan dari ayahnya. [Kirim tiga ratus juta malam ini juga. Kalau tidak, ayah akan langsung minta pada suamimu.] Anna tidak ada minat membalasnya. Dia meletakkan kembali ponsel itu, lalu beralih menatap selembar sonogram, sambil mengusap perutnya yang masih rata. Apa Arga akan menerima kehadiran anak ini? Anna tidak yakin. Jangankan menerima seorang anak, kehadirannya di rumah ini saja tidak pernah diinginkan. Derit pintu membuat Anna terperanjat. Dengan cepat, dia menyelipkan sonogram itu ke dalam lipatan buku bacaannya. Lalu gegas berdiri. Arga melangkah masuk dengan langkah tegapnya yang dibalut kemeja putih digulung sampai siku. Aura dominasi dan kekuasaannya menguar kuat, membuat banyak orang tak berani mengangkat kepala ketika di depan Arga. Anna menatap suami yang selama ini selalu dia cintai, meskipun Anna tahu, Arga tidak pernah mencintainya. Entah dianggap bodoh atau bagaimana. Anna tetap mencintainya, meski tiga tahun ini diperlakukan dingin. “Kamu sudah pulang. Maaf, tidak turun.” Anna mendekat, mengulurkan tangan untuk menerima tas kerja suaminya. “Mau aku siapkan air hangat untuk berendam?” “Tidak perlu.” Pria itu melangkah melewati istrinya begitu saja. Anna menarik napas dalam. “Arga, ada yang mau aku katakan.” Ekor mata Arga melirik sekilas, dingin. “Hm, katakan.” “Aku—” “Jangan hamil.” Arga meletakkan kotak pil di meja. Anna jadi terdiam terpaku menatap kotak pil kontrasepsi tersebut. Setiap bulan, tanpa pernah absen, Arga sendiri yang selalu menyiapkan obat itu untuknya. Pria itu selalu memastikan dengan baik, jangan sampai Anna mengandung darah dagingnya. Mana mungkin seorang Arga Atmaja mau memiliki anak dari wanita sepertinya, sementara di dalam hati pria itu sudah ada nama wanita lain yang selama ini ditunggunya kembali. Sejak awal, pernikahan itu memang tidak melibatkan perasaan Arga. Tiga tahun yang lalu, Anna tidak sengaja menolong dan merawat sampai sembuh seorang nenek yang hampir tertabrak mobil di jalan. Nenek itu ternyata adalah nenek Arga, yang kemudian menawarkan pernikahan dengan cucunya. Di saat yang sama, Anna sedang berada di titik paling frustasi dalam hidupnya. Dia sedang berjuang mengumpulkan biaya untuk kesembuhan ibunya yang punya sakit jantung. Tawaran bantuan pengobatan dari nenek Arga adalah satu-satunya pelampung yang bisa dia raih saat itu. Posisinya yang saat itu hanya seorang manajer hotel biasa membuatnya tak berdaya dan terpaksa menyetujui pernikahan itu. Tapi tidak bagi Arga. Meski Arga setuju menikah karena rasa sayang dan hormatnya pada sang nenek, dia tetap menganggap Anna wanita manipulatif yang memanfaatkan kebaikan neneknya. Tak ada pesta pernikahan megah, dan tidak ada yang tahu soal pernikahan mereka, selain keluarga. Yang Arga katakan waktu itu, “Kamu dan keluargamu sudah mendapatkan banyak uang, dan kuanggap kamu telah menyerahkan diri padaku.” Kini, Arga berjalan menuju pintu walk-in-closet, tapi langkahnya mendadak berhenti. Dia berbalik, menatap Anna dengan tatapan dingin. “Anna.” Anna mendongak, membalas tatapan itu dengan tatapan sorot mata redup. “Lain kali, suruh Papamu jangan menemuiku di rumah sakit. Jangan dikira aku akan memberinya uang yang diminta, karena kalian memanggilku di depan rekan dokter lain? Justru sebaliknya.” “Maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari bibir Anna. Dia tidak mencoba membuat pembelaan atau menjelaskan apa pun. Percuma. Karena tindakan seperti itulah yang sangat dibenci oleh Arga. Ayah kandungnya yang dulu sama sekali tidak peduli saat ibunya sekarat, yang menutup mata ketika Anna kelaparan, tiba-tiba muncul sebagai sosok ayah yang baik begitu ketika dia hendak menikah dengan keluarga Atmaja. Meminta mahar fantastis, dan kini terus-menerus mengusik suaminya demi uang. Kata ‘kalian’ yang selalu Arga sematkan, memperjelas kalau Anna juga termasuk bagian dari parasit itu. Lalu, Arga berbalik masuk ke kamar mandi. Sekian saat. Pria tampan dengan rahang tegas itu keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Dari punggung tegap Arga yang polos itu, air mengalir dari ujung rambut, hingga membuatnya tampak sangat memesona. Arga Atmaja. Di kalangan dokter muda dan perawat, pria itu akrab dengan julukan Dewa Iblis. Julukan dewa melekat karena ketepatan tangannya di meja operasi yang kerap menyelamatkan pasien dari kondisi kritis. Namun, predikat iblis disematkan karena sikapnya yang kejam, serta tuntutannya luar biasa tinggi dan tidak mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Arga duduk di single sofa sambil menatap layar ponsel, lalu Anna meletakkan secangkir kopi. “Arga, ayo kita urus perceraian.” Anna mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Rasa sakit yang menumpuk selama tiga tahun ini rasanya sudah sampai di titik nadirnya.Anna menunjuk mereka dengan tangan gemetar. “Aku ini manusia yang punya hati! Aku diam sama kalian selama ini karena malas menghitung dosa-dosa kalian! Tapi kalian malah datang sendiri untuk membuat perhitungan! Dan kali ini tidak akan aku lepaskan! Biarlah aku menjadi orang jahat sesaat, untuk menghadapi iblis gila seperti kalian!”Regan menaikkan dagunya dengan tatapan mematikan. “Satu kesalahan lagi dari kalian berdua, aku pastikan hutan rimba akan jadi tempat peristirahatan terakhir kalian.”Yuna tertawa puas. “Lempar saja mereka sekarang juga! Dasar manusia nggak tahu malu! Datang ke sini cuma mau mengemis harta dengan cara memaki-maki? Muka kalian itu terbuat dari apa, hah?! Sampah!”Dela menghentakkan tubuhnya kasar hingga terlepas dari cengkeraman bawahan Regan. Tangannya terangkat tinggi, hendak melayangkan tamparan ke wajah Anna, sementara Davin ikut maju dengan wajah memerah. “Anak sialan!”Tetapi, Anna bergerak lebih cepat. Dia menangkis dan mencengkeram kuat pergelangan
Yuna bergeser mendekat, menatap wajah sahabatnya yang tampak begitu tegang. “Kamu takut, tapi kamu juga marah dan ingin berontak, kan?”“Aku sangat marah,” sahut Anna cepat. Dia membusungkan dada, menegakkan punggungnya yang selama ini terasa berat menanggung beban. Tatapannya menajam pada lukisan abstrak. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh anak-anakku lagi. Kalau mereka menginginkan perang, akan kuberikan!”Yuna menatapnya lekat-lekat, perubahan aura itu. “Jadi, ini keputusanmu?”“Ya! Aku akan maju. Akan kuhadapi mereka semua.”Yuna menyunggingkan senyum tipis. “Aku setuju. Tapi, kamu juga harus memikirkan perasaan Regan. Apa yang bakal kamu lakukan pada sad boy satu itu?”Anna menghela napas panjang. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya saat nama Regan disebut. Pria itu selalu ada untuknya, tapi hatinya tak pernah sanggup memberi balasan yang setara. “Aku sangat merasa bersalah padanya. Tapi aku tahu Regan pria yang dewasa, dia pasti akan memahaminya. Nanti aku
Yuna mengusap dadanya, mencoba bersikap tenang meski gelisah. “Regan, dengar dulu. Sekuat apa pun kita mencoba menahan, Anna tetap tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Si kembar juga tidak bisa terus kita paksa mengikuti apa yang kita mau. Mereka terus bertindak mengikuti kata hati.”Napas Regan memberat, dadanya naik turun menahan emosi. “Aku cuma mau yang terbaik untuk mereka! Arga dan seluruh keluarganya itu racun! Kamu lupa seberapa menderitanya Anna dulu?” suaranya meninggi. Cemburu, posesif, tak terima, dan rasa khawatir bercampur membakar dadanya.Yuna menggeleng pelan lalu menarik tangan Regan menuju koridor kamar. “Lihat sendiri dengan matamu. Kepalaku sudah hampir mau pecah memikirkan semua ini.”Lalu, Regan berdiri tersembunyi di balik tembok, sementara Yuna masuk ke kamar si kembar. Yuna duduk di tepi ranjang, menatap Kaisar dan Kayla yang sedang main game dengan wajah malas, bergantian. “Tante mau apa? Kita nggak laper!”“Tante, apa udah ada kabar dari rumah saki
Nadia melenggang anggun, menarik satu kursi, lalu duduk dengan angkuhnya. Dia membuka kacamata hitamnya, meletakkannya di meja, lalu tersenyum miring pada mereka. “Aku bisa membantu kalian.”Davin mendekat dengan kekehan sinis dan remeh. “Memangnya siapa kamu dan mau bantu apa? Mau ngasih uang? Terus aku harus bayar pakai apa? Memangnya aku anak kecil? Aku tahu kalau semua ada harganya.”Dela memicingkan matanya sebentar. “Davin, dengar dulu kalau ada orang ngomong!” Dela lalu tersenyum dan mendekat pada Nadia. “Nona ini siapa, dari mana dan apa maksud berkata begitu?”Bagas melirik, tertarik tapi masih diam mendengar. Dia suka uangnya, tapi paling malas soal eksekusi.Nadia tersenyum miring. “Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Aku cuma orang yang ikut prihatin dengan kondisi kalian. Restoran biasa begini saja sepi, hampir bangkrut. Tapi Anna justru hidup bergelimang harta. Punya usaha besar. Tinggal di tempat nyaman.”Sontak Bagas berdiri dan mendekat dengan mata melotot. “Anna sudah
Pagi harinya, Arga baru kembali ke rumah dengan penampilan kusut, seperti tidak tidur semalaman. Dia melangkah cepat ke kamarnya, tapi saat memegang handle pintu, dia menahan sebentar. Saat ini dadanya sedang tak karuan dan banyak hal yang ingin dikatakan pada Anna. Masuk kamar, dan sangat yaki
“Dokter Arga, IGD sedang kekurangan dokter. Ada pasien banyak kecelakaan. Mohon Anda segera datang ke ruangan. Karena juga ada anak kecil yang terluka akibat terkena pecahan kaca cukup dalam.”Arga menutup panggilan, lalu menyambar masker medis dan memakainya sambil berjalan cepat keluar dari ruang
Elara Art Studio. Tempat ini dibangun Anna dari nol. Sebuah bisnis level menengah di bidang seni lukis yang merangkak dari bawah. Untuk mengenalkan karyanya, Anna masih sering mengikuti pameran bersama, menitipkan lukisan di galeri seni, hingga mengambil proyek mural dan wall printing. Bangunan du
“Bu Anna, lain kali ajari anak Anda untuk bertindak benar. Jangan cari masalah. Anak saya jadi kena mental karena trofinya hancur. Selamat mencari sekolah baru.” Anna menatap tajam. “Mereka bukan anak haram. Dan merekalah pemenang yang sebenarnya. Hanya kalah dengan uang Anda! Lain kali, ajari ana






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas