LOGINWulan Suryani ibu yang mencurahkan segalanya untuk anak-anaknya berakhir tragis dibunuh sosok yang paling disayang hanya demi harta warisan. Dalam keputusasaan dan rasa tidak adil, Tuhan memberikan kesempatan kedua untuk Wulan. Ia kembali ke masa lalu, tepat sebelum sang suami meninggal dan sebelum keluarganya jatuh dalam kehancuran yang disebabkan oleh tipu daya kekasih dari anak mereka. Wulan bertekad memperbaiki kesalahan di masa lalu dan mencegah nasib buruk yang menimpa keluarga mereka. Dengan kecerdikan, Wulan mengatur siasat untuk memperbaiki sikap anaknya, menghancurkan rencana licik para musuh dan mengembalikan kebahagiaan keluarganya. Berhasilkah usaha Wulan atau justru wanita itu terjatuh di lubang yang sama kembali?
View More“Jika aku tahu membunuhmu semudah ini, akan aku lakukan dari dulu!”
Wulan Suryani, wanita setengah baya itu tergeletak tak berdaya di tengah jembatan besar. Darah terus merembes dari kepalanya, membuat bau amis menusuk semakin tajam di tengah genangan air hujan.
Namun, meskipun kesadaran Wulan nyaris hilang, ia tentu masih bisa mengenali wajah gadis itu dengan sangat baik. Ia adalah Reina, kekasih Raka, anak kedua Wulan.
Wulan sama sekali tak menyangka ini semua akan terjadi padanya. Ia kira, kecelakaan beberapa detik lalu adalah murni kecelakaan biasa yang menimpanya. Namun, ternyata semua ini telah direncanakan oleh Sarah.
“Buang mayatnya ke sungai,” perintah Reina pada dua orang suruhannya, setelah itu ia memberi satu tas berisi uang. “Ambil ini dan pergi dari sini. Jangan pernah lagi muncul di hadapanku.”
“Tolong …. Jangan lakukan itu …” rintih Wulan berusaha menggapai tangan Sarah.
Namun, Reina langsung menangkisnya. Ia menunduk dan menatap Wulan dengan seringai. “Setelah ini, aku bisa bebas menguasai harta keluarga kalian!”
"Bagaimana bisa kau melakukan ini, apa salahku?" Pertanyaan sia-sia yang miris sekali tidak ada yang menjawab selain suara deras hujan.
Mata wanita itu mendelik dengan mata terbuka, sakit yang tidak mampu dilukiskan dengan kata saat bagian dada wanita tua diinjak si sopir.
Terdengar suara retak tulang bersamaan muntahan darah kental kembali. Tubuhnya tidak lagi mampu menahan beban fisik yang remuk. Wulan benar-benar sudah tidak kuat lagi bertahan.
"Aku tidak pernah dihormati anak-anakku, entah sejak kapan kasih sayang mereka berubah? Mereka berbuat jahat padaku tanpa belas kasih, dan sekarang nyawaku melayang di tangan orang yang sungguh tidak terduga. Kau sangat kejam, Tuhan!"
Rasa sakit mulai menjalar keseluruh tubuh, nafasnya mulai putus putus. Air mata semakin deras siring hujan yang lebat bertemu angin kencang. Alam menemani saat-saat terakhir Wulan yang menutup mata untuk selamanya.
"Aku tidak rela jika harus mati seperti ini!"
Benar, hidup kadang memang tidak adil, bahkan beberapa waktu sebelum Wulan meninggal dunia. Tidak ada kenangan manis bersama anak-anaknya.
Saat terakhir Wulan teringat ketidakadilan dan sikap buruk yang dilakukan putra-putri Wulan.
Siang hari sebelum kecelakaan mengenaskan terjadi.
"Ma, cepat berikan aku uang 50 juta untuk membeli tas," ujar Zevran, putra sulung Wulan, sambil menggandeng Sarah, kekasihnya.
"Zevran Suryani, sudah mama katakan bahwa semenjak ayahmu meninggal keuangan kita sedang menurun," ujar Wulan sambil menyesap teh yang berada di genggamannya.
Zevran menatap ibunya dengan kesal. Tanpa pikir panjang ia menepis teh yang yang berada di tangan Wulan yang membuat teh itu terjatuh.
"Tidak usah berpura pura, ayah sudah memberikanmu semua hak perusahaan! Cepat berikan kepadaku!" tegas Zevran.
Wulan merasa sesak di dadanya saat mendengar hal itu, amarah yang tak tertahankan bercampur dengan rasa sakit yang sudah lama terkubur.
Anak-anak yang ia besarkan, yang dulu ia harapkan menjadi kebanggaan hidupnya, kini malah berubah menjadi sosok yang hanya peduli pada uang dan kenikmatan sementara.
Setiap kata yang keluar dari mulut mereka seperti sayatan yang tajam, menghancurkan harapan-harapan yang dulu ia pupuk dengan penuh cinta.
Wulan menatap Zevran yang masih terus menggandeng kekasihnya, lalu beralih ke Raka yang berdiri tak jauh dari kakaknya.
"Kenapa kalian hanya peduli dengan uang? Apa kalian tidak ingat bagaimana susahnya kami membesarkan kalian?"
Wulan berkata dengan suara yang bergetar, menahan air mata yang hampir tumpah. Emosinya benar-benar tak bisa tertahan lagi.
"Aku tidak pernah meminta kalian untuk menjadi seperti ini, tapi kalian sendiri yang memilih jalan ini. Kalian hanya memanfaatkan aku! Kalian hanya peduli pada diri kalian sendiri!"
Zevran dan Raka saling bertukar pandang, seolah tak terpengaruh dengan amarah dan kesedihan Wulan.
Zevran menatap ibunya dengan jijik, sementara Raka hanya menatapnya dengan tatapan kosong, seolah merasa tidak ada yang salah dengan permintaan mereka.
"Tapi kita butuh uang itu, Bu!" Zevran menjawab dengan nada mengejek. “Zaman sekarang semua butuh uang!”
Wulan merasa tubuhnya mulai gemetar. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka terasa seperti cambukan, merobek hatinya.
"Jadi, inikah anak-anak yang aku besarkan?" pikirnya, rasa sakit dan kekecewaan meresap ke dalam setiap pori tubuhnya. "Inikah hasil dari semua pengorbanan yang aku lakukan?"
Ia menatap kedua putranya lalu berkata dengan penuh kekecewaan. "Sejak kalian mengenal perempuan, rasanya semua berubah. Bahkan, aku tidak tahu kapan kalian berhenti menganggapku sebagai ibu."
Wulan menatap kedua putranya dengan tatapan kecewa, ia ingin sekali menangis tetapi coba ia tahan. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu seolah semua rasa cinta dan kasih sayangnya hanya hal rendah bagi kedua putranya itu.
Wulan segera menarik nafas mencoba menguatkan dirinya lalu berkata, "Aku ada urusan keluar kota, untuk sekarang kalian pulanglah ke rumah kalian terlebih dahulu."
Wulan menundukkan kepala, air mata tidak henti berderai.
Sudah beberapa tahun terakhir anak-anaknya memang memaksa tinggal terpisah, meninggalkan Wulan menempati apartemen masing-masing dengan alasan privasi tidak menginginkan sang ibu turut campur kehidupan mereka. Dan seperti biasa mereka hanya datang ke rumah Wulan saat meminta uang.
Raka dan Zevran yang melihat sang ibu mengusirnya hanya menatap dengan tatapan kesal. Lalu membalikkan badannya dan pergi menuju ke arah luar rumah menyisakan Wulan sendiri.
Wulan hanya bisa menahan sesak di dada melihat tingkah dan perbuatan anak yang disayang, tega menyakiti bahkan sangat boros.
Entah sejak kapan anak-anaknya berubah, Wulan mulai meraba-raba, dan semakin yakin jika semua itu bermula ketika anak-anaknya mengenal perempuan.
"Bukan aku tidak mau membagi warisan atau uang, aku hanya berusaha memikirkan untuk masa depan mereka. Membelikan beberapa aset daripada memberikan mereka uang yang akan habis dalam satu waktu," pikirnya.
Dalam kekacauan pikiran, Wulan mendapati telepon bisnis. Ia buru buru mengangkat telepon yang cukup penting itu.
Bisnis peninggalan suami harus tetap berjalan demi menopang kehidupan dan gaya hedon anak-anaknya, ditengah hujan deras Wulan keluar dari rumahnya.
"Urusan bisnis yang sangat mendesak tidak bisa ditunda. Jika gagal menemui klien kali ini, mereka akan mencabut saham yang sudah diinvestasikan," ujarnya lalu bergegas menuju ke arah mobil.
Pada akhirnya, perjalanan tersebut menjadi sebuah petaka yang merenggut nyawa. Sebuah truk muatan berat melaju kencang dari arah berlawanan dan menabrak mobil Wulan hingga terpelanting.
Tubuh wanita itu terpental keluar terseret di jalan beraspal beberapa meter. Diambang kematian, Wulan justru mendapati hal tidak terduga, wanita itu membawa kebencian teramat sangat.
Sebuah cahaya menerangi indra penglihatan, Wulan yang terganggu pun membuka mata dengan perlahan. Tidak ada rasa sakit remuk, Wulan masih tampak kebingungan menggerayangi seluruh tubuh yang tidak lagi sakit.
"Aku sudah mati? Apa Tuhan sedang memperlihatkan kehidupan untuk terakhir kali sebelum aku dilempar ke surga?”
Silva ya g mendengar jawaban Raka kembali menatap pria itu dengan tatapan kesal. "Terserah lo anjir, gue mau pulang." Silva yang malas menanggapi kebodohan dari Raka segera pergi meninggalkannya. Raka masih berdiri dengan tatapan penuh kebingungan. Ia memilih untuk mendekat ke arah mobil Zidan dan membawanya untuk bekerja part time di cafe. Namun, saat mendengar dering dari ponselnya. Raka menghentikan langkahnya, ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Terlihat satu pesan singkat dari ibunya. "Raka, cepat pulang." Membaca pesan itu Raka terdiam sejenak, sejujurnya ia sangat malas untuk kembali ke rumah besar itu. Namun, entah kenapa kakinya tiba tiba melangkah menuju ke arah mobil milik Zidan. "Aku akan pulang," ujarnya, akhirnya. Raka segera melajukan mobil itu keluar dari gedung sekolah. Selama beberapa menit berkendara, Raka akhirnya sampai di depan villa mewah milik keluarganya. Ia segera masuk ke dalam gerbang dan memarkirkan mobil itu di parkiran. Saat ia tu
Raka terdiam. Kalimat Seira terdengar sederhana, tetapi entah kenapa terasa seperti sesuatu yang menghantam dadanya. Bersikap seperti teman. Dua kata itu seharusnya mudah ia terima, karena selama ini memang itulah hubungan mereka. Teman. Namun entah sejak kapan, Raka mulai merasa bahwa hubungan mereka bukan hanya sebatas itu. "Teman?" ulang Raka pelan. Seira mengangguk kecil. "Iya. Kita sudah dewasa, Raka. Aku tahu kamu peduli sama aku, dan aku juga menghargai itu. Tapi bukan berarti kamu harus selalu mengatur siapa yang boleh dekat denganku." Raka menatapnya tanpa berkedip. "Aku nggak mengatur," bantahnya cepat. Seira menatapnya lembut. "Tapi tadi kamu melakukannya." Raka terdiam. Ia tidak bisa menyangkalnya. Tangannya yang menarik Seira pergi, tatapannya pada Julian, bahkan caranya berbicara tadi memang terlihat seperti seseorang yang sedang melarang. "Aku cuma takut," ucap Raka akhirnya. Seira sedikit terkejut mendengar pengakuan itu.. Raka menundukkan kepalanya
Kalimat Raka membuat Seira langsung kehilangan kata-kata. Ia menatap pria di sampingnya dengan wajah sedikit terkejut. "Bukankah kita memang dekat?" ulang Raka, kali ini lebih sambil tersenyum manis. Seira segera mengalihkan pandangannya ke arah meja. Entah kenapa jawaban sederhana itu justru membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "Iya... kita memang dekat," gumamnya. Raka tersenyum kecil melihat reaksinya. Ia tidak menyangka bahwa mengatakan hal seperti itu kepada Seira bisa membuat gadis itu terlihat gugup. Raka dengan cepat menggeser kursinya untuk mempersilahkan Seira duduk. "Kalau kita memang dekat, cepat duduk," pintanya. Seira dengan ragu ragu segera duduk, Raka yang melihat Seira sudah duduk segera ikut duduk di sebelahnya. Pandangan Raka sekilas kearah Julian yang terus menatap ke arahnya, Raka yang melihat itu hanya tersenyum sinis. 'Raka, aku tidak akan membuatmu bahagia,' batin Julian, tangannya mengepal. Bel masuk akhirnya berbunyi, Raka masih terus men
Reina mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tidak menyangka Raka akan mengatakan hal seperti itu dengan mudah. Sementara Seira yang melihat ekspresi Reina mulai merasa tidak enak. "Reina, mungkin Raka memang sedang tidak ingin makan daging," ujar Seira mencoba mencairkan suasana. Reina langsung menoleh kepadanya. Ia menatap kesal ke arah Seira, yang terlihat ikut campur dengan urusannya dengan Raka. "Tidak usah ikut campur," ujarnya, dingin ke arah Seira. Raka yang melihat sikap Reina segera memukul meja dengan kasar, yang membuat beberapa orang disana segera menoleh. "Reina! Jaga sikapmu kepada Seira!" tegas Raka. Reina terdiam mendengar bentakan Raka. Tatapan tajam pria itu membuatnya sedikit terkejut. Selama mereka berpacaran dulu, Raka tidak pernah membentaknya seperti itu, apalagi di depan banyak orang. Suasana meja mereka langsung berubah hening. Seira yang duduk di samping Raka ikut terkejut. Ia tidak menyangka Raka akan bereaksi sebesar itu hanya karena ucapan
Raisa menahan napasnya, matanya mengikuti langkah ibunya yang berlari tanpa ragu meninggalkan ruang VIP itu. "Ma!" teriaknya, namun suaranya seolah tidak terdengar. Nyonya Hartono tidak menoleh sama sekali. Melihat itu seperti tamparan yang lebih menyakitkan daripada semua kata-kata Wulan tadi
Zevran terdiam cukup lama. Jari-jarinya masih menekan map itu, seolah jika ia melepasnya, semua yang baru ia sadari akan ikut menghilang dan kembali menjadi kebohongan yang lebih dalam. "Aku benar-benar bodoh," gumamnya pelan. Jonathan tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, memberi ruang pada Z
Nerlina menatap Raisa dengan wajah datar, tidak ada sedikit pun rasa takut atau marah di matanya. Suaranya tenang, hampir datar, saat ia menjawab, "Aku tidak berminat berebut perhatian denganmu, Raisa." Dengan itu, Nerlina melepaskan tangannya dari genggaman Raisa dan melangkah mundur, meninggal
Wulan menatap putranya yang menenangkan dirinya, dadanya masih terasa sesak meski amarahnya sudah mereda. Matanya menatap ke arah pintu, menyaksikan Raka, Reina, dan Sarah berjalan menjauh. Baskara menepuk pundak Wulan dengan lembut. "Ma, jangan rusak suasana ulang tahunmu. Raka pasti hanya tersul
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews