LOGINSatu malam. Satu kesepakatan. Tapi, rasa ini tak bisa ditukar. ------- Edward seorang sopir yang menikah dengan Faela yang merupakan seorang pembantu. Keduanya bekerja di kediaman Tuan Bald dan Nyonya Laura. Saat malam tiba, keduanya larut di ranjang masing-masing yang jauh berbeda. Saat Tuan Bald hanya bisa melakukan pemanasan dan sulit memuaskan Nyonya Laura, justru Faela mengeluhkan Edward yang main sangat lama. Hal itu tak sengaja terdengar Laura yang sedang mengambil minum di dapur. Dia mendengar suara desahan dari kamar pembantu dan membayangkan bagaimana Edward bisa memuaskan dirinya. Satu kesepakatan gila pun muncul! Laura mengajak Faela bertukar ranjang untuk puaskan rasa. Faela yang takut dipecat akhirnya mau. Namun, siapa sangka ini menjadi gerbang dari jurang dosa yang menjerat kedua pasangan itu lebih dalam? -------------- "Satu malam saja. Aku mohon. Aku akan berikan uang sepuluh juta untukmu kalau mau bertukar ranjang denganku. Aku ingin merasakan suamimu, Faela. Kamu gantikan aku tidur dengan Bald," pinta Nyonya Laura dengan wajah memelas. "Ta-tapi ... janji satu malam saja, Nyonya? Saya juga takut kalau Tuan Bald tahu dan saya bisa di ...." "Dia tidak akan protes. Dia main hanya sebentar. Dia hanya lama saat pemanasan dan selalu mematikan lampu. Tenang saja," pungkas Nyonya Laura yang ingin mempercepat kesepakatan.
View MoreSuara mesin mobil perlahan mati tepat di garasi rumah megah milik keluarga Bald. Edward mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggungnya di jok.
Sejak pukul enam pagi dia sudah mengantar Tuan Bald ke kantor, menghadiri rapat di beberapa tempat, lalu menjemput Nyonya Laura dari salon dan pusat perbelanjaan. Baru sekarang, hampir pukul sembilan malam, pekerjaannya selesai. Dia melirik rumah tiga lantai yang berdiri anggun di hadapannya. Lampu-lampu kristal memancarkan cahaya hangat dari balik jendela besar. Halaman dipenuhi bunga yang selalu dirawat tukang kebun. Rumah itu bahkan lebih mirip hotel berbintang daripada tempat tinggal. Edward tersenyum tipis. "Semoga suatu hari nanti aku bisa punya rumah sendiri. Tidak perlu sebesar ini. Yang penting milik sendiri." Dia mengambil tas kecilnya lalu berjalan menuju bangunan belakang, tempat para asisten rumah tangga tinggal. Baru saja membuka pintu, aroma tumisan bawang langsung menyeruak. "Kamu pulang juga." Faela keluar dari dapur mungil sambil mengusap kedua tangannya dengan celemek. Senyum perempuan itu langsung membuat lelah Edward seakan menguap. "Kok belum tidur?" tanya Edward. "Nunggu kamu." Edward mendekat. "Kamu capek?" Faela menggeleng pelan. "Capek, sih. Tapi kalau belum lihat kamu pulang rasanya belum tenang." Edward terkekeh pelan sebelum mengusap kepala istrinya. "Kamu selalu begini." "Memangnya salah?" "Enggak." Mereka memang bukan pasangan yang hidup berkecukupan. Edward hanyalah sopir pribadi. Sedangkan Faela bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang mengurus kebersihan rumah, mencuci pakaian, sekaligus membantu memasak jika koki sedang libur. Penghasilan mereka cukup untuk menyewa rumah kecil di pinggiran kota. Namun, demi menghemat ongkos dan memudahkan pekerjaan, pasangan itu memilih tinggal sementara di kamar asisten rumah tangga yang telah disediakan majikan. Kamarnya sederhana. Hanya ada ranjang kayu berukuran sedang, lemari kecil, kipas angin tua, dan meja lipat. Jauh berbeda dengan kamar utama milik Bald dan Laura yang luasnya bahkan lebih besar daripada seluruh bangunan tempat tinggal para pekerja. Akan tetapi, Edward tidak pernah mengeluh. Baginya, selama masih bisa pulang dan melihat Faela tersenyum, hidup sudah terasa cukup. "Aku masak nasi goreng." "Wah ... harum." Faela terkekeh. "Cepat mandi dulu." "Iya, Sayang." Mereka makan malam berdua di meja kecil. Sesekali Edward menceritakan tingkah lucu Tuan Bald yang hampir salah masuk ruang rapat karena sibuk menerima telepon. Faela ikut tertawa sampai matanya menyipit. "Kasihan juga sebenarnya Tuan." "Kenapa?" "Soalnya tadi siang Nyonya Laura kelihatan kesal." Edward mengangkat alis. "Lagi bertengkar?" "Aku enggak tahu. Tapi waktu makan siang, Nyonya diam terus." Edward hanya mengangguk. Sebagai pekerja, mereka tahu batas. Tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga majikan. Setelah makan, Faela segera membereskan piring. Edward membantu mencuci. "Kamu enggak usah bantu, Sayang." "Biar cepat, Sayang." Mereka saling melempar senyum. Tak ada pembagian tugas yang kaku dalam rumah tangga mereka. Apa yang bisa dikerjakan bersama, mereka kerjakan bersama. Sementara itu .... Di kamar utama lantai dua .... Laura berdiri di depan cermin besar. Gaun tidur berbahan satin jatuh lembut membalut tubuhnya. Dia sebenarnya masih tampak cantik. Kulitnya putih bersih. Rambut panjangnya terurai rapi. Namun, wajah itu sama sekali tidak memancarkan kebahagiaan. Pintu kamar mandi terbuka. Bald keluar sambil mengeringkan rambut. "Aku capek sekali hari ini." Laura hanya menoleh sekilas. "Hmm ...." Bald menghampiri istrinya. "Kamu masih marah?" "Aku cuma lelah." Pria itu memeluk pinggang Laura dari belakang. "Besok kita jalan-jalan." Laura tidak menjawab. Pelukan itu terasa hangat. Tetapi entah mengapa, hatinya tetap kosong. Bald mencium pelipis istrinya dengan lembut. "Kita tidur, ya." Laura kembali mengangguk. Lampu kamar diredupkan. Suasana menjadi sunyi. Tak lama kemudian .... Bald kembali mencoba mendekati istrinya. Laura membalas pelukan itu dengan harapan yang sudah berkali-kali dia pupuk. Namun, harapan itu lagi-lagi kandas. Bald berhenti. Menghela napas panjang. Lalu memijat pelipisnya sendiri. "Aku ... maaf." Laura memejamkan mata. "Tidak apa." "Besok kita ke dokter lagi." "Terserah." Bald menggenggam tangan istrinya. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah. Laura tahu suaminya juga tersiksa. Masalah ini bukan sesuatu yang diinginkan. Sudah hampir dua tahun mereka berpindah dari satu dokter ke dokter lain. Mengonsumsi berbagai vitamin. Mengikuti terapi. Namun, hasilnya belum juga berubah. Akhirnya Bald hanya memeluk Laura sampai tertidur. Sedangkan Laura tetap membuka mata menatap langit-langit kamar. Air matanya perlahan mengalir. Bukan karena marah. Melainkan karena kecewa pada keadaan. ------------ Hampir tengah malam, Laura terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Dia turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air. Rumah begitu sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak perlahan. Saat melewati koridor menuju dapur belakang, langkahnya terhenti. Ada suara pelan dari arah kamar para pembantu. Bukan suara bertengkar. Bukan pula suara televisi. Melainkan percakapan lirih yang terdengar samar karena jendela kamar sedikit terbuka. Laura sebenarnya berniat langsung pergi. Namun, tanpa sengaja salah satu kalimat membuat langkahnya membeku. "Sayang ... sudah, nanti kamu capek." Itu suara Faela. Laura spontan menoleh. Dia tidak berniat menguping. Tetapi suara berikutnya kembali terdengar. "Aku enggak capek, Sayang. Ahh, enak banget. Aku masih kuat beberapa puluh menit lagi." Suara Edward terdengar pelan diselingi tawa kecil. "Kamu itu memang ...." "Aku cuma kangen." Laura berdiri diam. Ada kehangatan dalam nada bicara pasangan muda itu. Hangat. Sederhana. Namun terdengar begitu tulus. Faela terkikik pelan. "Kalau begini terus, besok aku bangun kesiangan. Nanti lecet juga." "Aku bantu bangunin besok " "Ih, Sayang ...." Suara tawa mereka kembali terdengar. Laura menelan ludah. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Bukan karena kata-kata itu terdengar vulgar. Justru karena kasih sayang yang mengalir begitu alami. Mereka hidup sederhana. Tidur di kamar sempit. Tidak punya kasur mahal. Tidak punya pendingin ruangan. Tetapi mereka masih bisa saling bercanda seperti sepasang pengantin baru. Laura menundukkan kepala. Sedangkan dirinya ... Memiliki rumah mewah. Perhiasan. Mobil. Liburan ke luar negeri. Namun, setiap malam justru diisi keheningan yang menyakitkan. Dari balik jendela kembali terdengar suara Faela, kali ini disertai tawa malu. "Edward ... kamu ini memang kuat sekali. Aku benar-benar enggak nyangka." Edward tertawa pelan. "Baru begitu saja sudah menyerah?" "Ih ... jangan godain terus." Laura menggigit bibir bawahnya. Pipi perempuan itu terasa menghangat. Kalimat sederhana itu justru membuat imajinasinya bekerja sendiri. Dia buru-buru menggeleng. "Apa yang kupikirkan?" Dia seharusnya pergi. Namun kedua kakinya seolah sulit bergerak. Percakapan kecil penuh kemesraan itu terus terdengar samar. Bukan isi percakapannya yang membuat Laura terpaku. Melainkan kebahagiaan yang terdengar jelas di balik suara mereka. Sesuatu yang sudah lama hilang dari rumah tangganya sendiri. Laura akhirnya menarik napas panjang. Dia melangkah ke dapur, mengambil segelas air, lalu kembali ke kamar. Namun sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi bayangan pasangan sederhana itu. Sesampainya di kamar, Bald masih tertidur pulas. Laura memandang wajah suaminya cukup lama. Pria itu baik. Penyayang. Tidak pernah kasar. Tidak pernah selingkuh. Tetapi ada ruang kosong yang semakin hari semakin membesar di dalam hatinya. Laura mematikan lampu samping tempat tidur. Lalu berbaring. Anehnya ... Setiap kali memejamkan mata.... Yang terngiang justru suara tawa Edward dan Faela dari balik dinding. Sebuah pikiran yang seharusnya tidak pernah muncul perlahan menyelinap ke dalam benaknya. "Bagaimana rasanya ... bila hidupku seperti Faela?" Laura langsung membuka mata. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia buru-buru mengusir pikiran itu. Namun, semakin berusaha melupakan, rasa penasaran itu justru semakin tumbuh. Di luar kamar .... Angin malam berembus pelan. Tak seorang pun menyadari bahwa percakapan sederhana dari kamar pembantu baru saja menjadi awal dari sebuah keinginan terlarang yang kelak akan menghancurkan hidup empat orang sekaligus.Laura terkejut mendengar suara desahan Edward. Sopirnya yang tampan dan gagah rupawan itu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Apalagi kondisi saat ini jendela kamar pembantunya itu tidak tertutup dengan rapat sehingga menampilkan hal yang seharusnya tidak dilihat oleh Laura."Tidak ... aku sudah mencoba untuk menahan diri dan aku memberikan uang secara cuma-cuma untuk Faela pulang kampung demi membantu keselamatan ibunya," gumam Laura dengan perasaan yang campur aduk. Dia berbicara dalam benaknya sendiri menahan rasa resah dan gelisah, tetapi matanya terus tertuju pada kenikmatan sesaat yang terpampang nyata. Edward masih berupaya untuk menyelesaikan permainannya sendiri dengan tangannya yang kekar dan berotot. Hal itu membuatnya selalu membayangkan istri yang dicintai saat ini sedang berada di kampung halaman, tidak bersama dengan dirinya. "Ahhh ... Faelaku ... Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu meski hanya semalaman saja. Argggh ...."Tangan Edward be
Laura terpaku di ambang pintu. Dia tidak menyangka Faela benar-benar datang malam itu. Koridor belakang rumah begitu sunyi. Hanya suara rintik hujan yang masih terdengar dari luar. "Masuk dulu," ucap Laura pelan. Faela menggeleng. "Saya tidak lama, Nyonya. Maaf, saya sudah banyak merepotkan selama bekerja di sini." Laura memperhatikan wajah pembantunya yang tampak lebih pucat daripada siang tadi. "Ada kabar dari ibumu?" Faela mengangguk. "Dokter meminta tindakan secepatnya. Om saya sudah meminjam uang ke tetangga, tapi masih kurang." Laura ikut menundukkan kepala. "Aku ikut prihatin." Faela menggenggam kedua tangannya sendiri. "Saya datang bukan karena saya setuju dengan keinginan Nyonya." Laura mengangkat wajah. "Saya datang karena saya bingung." Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat dada Laura sesak. "Aku mengerti." "Tidak, Nyonya ... mungkin Nyonya tidak mengerti." Air mata Faela kembali mengalir. "Kalau saya hanya memikirkan diri sendiri, saya pasti langsung
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Faela sudah berada di dapur sejak pukul lima. Tangannya sibuk mengiris bawang dan menyiapkan bahan sarapan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Semalaman dia hampir tidak memejamkan mata. Wajah ibunya. Suara omnya yang terdengar panik.Lalu ucapan Laura kemarin soal tawaran. "Aku akan memberimu sepuluh juta. Dua puluh juta. Bahkan tiga puluh juta kalau perlu."Faela mengembuskan napas panjang. Pisau yang dipegangnya nyaris mengenai ujung jari karena lamunannya. "Astaga ...."Dia buru-buru meletakkan pisau itu."Faela." Suara lembut membuatnya menoleh. Laura sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya terlihat pucat, seolah sama lelahnya karena tidak bisa tidur."Pagi, Nyonya.""Pagi."Suasana mendadak canggung. Tak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya.Laura memperhatikan mata Faela yang sembap. "Kamu menangis?"Faela buru-buru menggeleng. "Enggak, Nyonya."Laura tahu perempuan itu
Tok ...Tok ...Tok ...Suara ketukan pelan di pintu membuat Laura dan Faela sama-sama tersentak. Wajah Faela yang masih basah oleh air mata langsung memucat.Laura buru-buru mengusap sudut matanya. "Si-siapa?" tanyanya dengan suara berusaha tenang."Maaf, Nyonya." Suara itu terdengar dari balik pintu. "Saya Pak Darto."Pak Darto adalah kepala keamanan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah keluarga Bald.Laura mengembuskan napas lega. "Ada apa, Pak?""Tukang listrik datang. Katanya mau mengecek lampu taman yang semalam mati.""Iya. Silakan.""Baik, Nyonya." Langkah kaki itu kembali menjauh.Ruangan kembali sunyi. Namun, suasananya sudah berbeda. Faela memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuka pintu. "Nyonya ... saya izin keluar.""Tunggu."Faela menghentikan langkahnya.Laura tidak lagi mendekat. Dia hanya berdiri beberapa meter dari pembantunya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku minta maaf."Kalimat itu terdengar tulus.Faela menundukkan kepala. "Saya anggap ... saya tida












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.