MasukPagi itu, sinar matahari menerobos jendela besar ruang makan. Meja sepanjang tiga meter telah dipenuhi berbagai hidangan. Roti panggang, telur setengah matang, salad, buah-buahan segar, hingga kopi hitam kesukaan Bald telah tertata rapi.
Faela berdiri beberapa langkah di belakang Nyonya Laura. Seperti biasa, dia menunggu jika majikannya membutuhkan sesuatu. Namun, pagi ini suasananya terasa berbeda. Laura tampak lebih banyak diam. Tatapannya kosong, sesekali justru mengarah ke halaman depan melalui jendela kaca. "Laura?" Suara Bald membuyarkan lamunannya. "Hmmm?" "Kamu sakit?" Laura menggeleng. "Enggak." "Kamu enggak makan?" "Nanti saja." Bald menatap istrinya beberapa saat. Kalau biasanya Laura cerewet menanyakan jadwalnya atau mengingatkan agar tidak melewatkan makan siang, hari ini perempuan itu bahkan hampir tidak mengucapkan sepuluh kalimat. "Kamu masih kepikiran semalam?" Laura tersentak. Semalam ... Bukan kegagalan suaminya untuk urusan ranjang yang memenuhi pikirannya. Melainkan suara tawa dari kamar pembantu. Dia segera menggeleng. "Aku baik-baik saja." Bald menghela napas. "Sepulang kantor kita ke dokter lagi, ya?" Laura hanya mengangguk. Tak lama kemudian Edward datang membawa tas kerja Bald menuju mobil. Melalui kaca ruang makan, Laura melihat pria itu sedang membuka pintu kendaraan dengan sigap. Wajahnya terlihat segar. Sesekali dia tersenyum ketika Bald mengatakan sesuatu. Laura mengalihkan pandangan. "Aku ini kenapa?" Dia bahkan tidak mengenal Edward lebih jauh. Yang dia tahu, pria itu sopan, rajin bekerja, dan sangat menyayangi istrinya. Hanya itu. Namun entah mengapa, sejak semalam bayangan suara pasangan itu terus mengganggu pikirannya. ------------ Mobil perlahan keluar dari halaman rumah. Laura masih berdiri di balik tirai. Tak lama kemudian Faela menghampiri. "Nyonya ... ruang makan sudah saya bereskan." Laura menoleh. "Oh ... iya." Faela tersenyum ramah. "Nyonya mau dibuatkan teh?" "Boleh." "Iya." Perempuan muda itu segera menuju dapur. Laura memperhatikannya dari belakang. Tubuh Faela sebenarnya biasa saja. Tidak tinggi. Tidak pula berpakaian mahal. Rambutnya hanya diikat sederhana. Wajahnya bahkan tanpa riasan. Namun, ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Perempuan itu terlihat begitu hidup. Setiap tersenyum, matanya ikut berbinar. Setiap berbicara tentang Edward, nada suaranya selalu berubah menjadi lebih lembut. Laura pernah memiliki sorot mata seperti itu. Beberapa tahun lalu. Sebelum pernikahannya dipenuhi jadwal konsultasi dokter. Sebelum setiap malam berubah menjadi rutinitas yang melelahkan. Faela kembali membawa secangkir teh hangat. "Silakan, Nyonya." "Terima kasih." Laura menerima cangkir itu. Namun sebelum Faela pergi, tanpa sadar dia bertanya, "Faela." "Iya, Nyonya?" "Kamu ... bahagia menikah dengan Edward?" Pertanyaan itu membuat Faela tersenyum malu. "Iya, Nyonya." "Padahal hidup kalian sederhana." Faela tertawa kecil. "Justru karena sederhana, kami belajar bersyukur." Laura terdiam. "Edward orangnya baik." Faela mengangguk mantap. "Edward enggak pernah bikin saya merasa sendirian." Kalimat itu menghantam Laura tepat di dada. Tak pernah merasa sendirian. Sederhana. Tetapi begitu berarti. Setelah Faela pergi, Laura kembali memandangi teh yang mulai mengeluarkan uap tipis. Entah sejak kapan dirinya merasa kesepian di rumah sebesar ini. ----------- Siang harinya, Laura memutuskan pergi ke taman belakang. Dia duduk di gazebo sambil membaca buku. Namun baru beberapa halaman, pikirannya kembali melayang. Dari kejauhan terdengar suara mesin mobil. Edward baru saja pulang sebentar untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Laura tanpa sadar mengangkat kepala. Edward turun dari mobil, lalu berjalan cepat menuju rumah. Ketika melewati taman, pria itu melihat Laura. "Permisi, Nyonya." Edward membungkukkan badan dengan sopan. Laura tersenyum tipis. "Kamu kembali?" "Ada berkas Tuan yang tertinggal." "Oh." Edward tidak banyak bicara. Dia segera masuk ke dalam rumah. Laura memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu. Tidak ada yang istimewa. Sikapnya profesional. Tatapannya bahkan tidak pernah berani menatap Laura terlalu lama. Namun justru kesopanan itu membuat Laura merasa semakin bersalah pada pikirannya sendiri. Beberapa menit kemudian Edward keluar lagi. Saat hendak menuju mobil, Faela menghampiri sambil membawa kotak makan. "Mas!" Edward berhenti. "Lupa bawa bekal." Faela menyerahkan kotak makan itu. "Kamu pasti nanti telat makan." Edward tersenyum lebar. "Terima kasih." "Harus dihabiskan." "Iya." Faela merapikan sedikit kerah baju suaminya. Gerakan yang sederhana. Begitu wajar bagi pasangan suami istri. Namun Laura yang melihat dari kejauhan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan iri pada kemesraan itu. Melainkan iri karena perhatian kecil seperti itu sudah lama tidak dia rasakan. Bald terlalu sibuk. Bahkan kadang lupa menanyakan apakah dia sudah makan. Edward melambaikan tangan sebelum kembali masuk ke mobil. Sedangkan Faela berdiri sampai kendaraan itu menghilang dari gerbang. Laura memejamkan mata. "Kenapa aku memperhatikan mereka terus?" --------- Malam kembali datang. Bald pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya terlihat sangat lelah. "Maaf." Laura membantu melepaskan jas suaminya. "Kerjaan banyak?" "Iya." "Kamu makan dulu." "Aku enggak selera." Laura mengangguk pelan. Setelah mandi, Bald duduk di tepi ranjang. "Aku sudah buat janji dengan dokter spesialis." Laura tersenyum hambar. "Lagi?" "Kita belum boleh menyerah." Laura menatap wajah suaminya. Dia tahu Bald benar-benar berusaha. Semua dilakukan demi mempertahankan rumah tangga mereka. Namun setiap kegagalan justru membuat hubungan mereka semakin canggung. Seolah setiap malam berubah menjadi ujian. Bukan lagi ungkapan kasih sayang. Melainkan beban. Malam itu Bald kembali memeluk istrinya. Laura mencoba membalas. Tetapi lagi-lagi semuanya berhenti di tengah jalan. Setelah pemanasan yang menderu, tetap saja junior milik Bald tidak bisa berdiri tegak. Itu menyakiti perasaan Laura yang berharap mendapatkan kepuasan rasa. Pria itu memukul pelan kasur dengan kesal. "Sial." Laura segera menggenggam tangannya. "Sudah." "Aku benar-benar gagal jadi suami." "Jangan bilang begitu." "Aku bikin kamu menderita." Laura tersenyum getir. "Kita sama-sama berjuang." Bald akhirnya memeluk Laura erat. Namun setelah beberapa menit, pria itu tertidur karena kelelahan. Laura tetap terjaga. Dadanya terasa sesak. Perlahan dia bangkit dari ranjang. Kembali menuju dapur untuk mengambil air. Langkahnya melambat ketika melewati bangunan belakang. Malam begitu sunyi. Tidak terdengar suara apa pun. Laura mengembuskan napas pelan. Ada sedikit rasa kecewa yang bahkan dia sendiri tidak mengerti asalnya. "Aku ini benar-benar aneh." Saat hendak berbalik, pintu kamar pembantu terbuka. Faela keluar sambil membawa ember berisi pakaian yang baru selesai dicuci. Melihat Laura berdiri di sana, Faela tampak terkejut. "N-Nyonya?" Laura ikut tersentak. "Oh ... aku mau ambil minum." "Maaf, saya kira ada siapa." Laura mengangguk. "Lagi mencuci malam-malam?" "Iya. Besok pagi banyak pekerjaan." Laura memperhatikan wajah Faela yang masih menyimpan senyum tipis. Senyum yang sama seperti pagi tadi. Senyum perempuan yang merasa dicintai. Entah dorongan dari mana, Laura tiba-tiba bertanya pelan, "Faela ...." "Iya, Nyonya?" "Kalau ... seandainya kamu diberi uang yang sangat banyak ..." Faela mengernyit bingung. "... apa kamu mau melakukan apa saja demi uang itu?" Faela tertawa kecil. "Kalau melanggar hati nurani, saya enggak berani, Nyonya." Jawaban itu membuat Laura membeku. Faela lalu berpamitan kembali ke kamarnya. Sementara Laura tetap berdiri seorang diri di koridor. Angin malam meniup lembut rambutnya. Pertanyaan itu sebenarnya belum selesai. Masih ada kalimat lain yang sejak semalam berputar-putar di kepalanya. Kalimat yang begitu gila hingga dia sendiri takut mengucapkannya. Laura mengepalkan tangan. Lalu berbisik lirih kepada dirinya sendiri, "Kalau satu malam saja ... apakah semuanya akan berubah?" Begitu kalimat itu keluar dari bibirnya, Laura langsung menutup mulutnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang. Dia tahu. Sejak malam itu ... Sebuah keinginan yang tak pantas mulai tumbuh, dan perlahan menguasai akal sehatnya.Laura terkejut mendengar suara desahan Edward. Sopirnya yang tampan dan gagah rupawan itu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Apalagi kondisi saat ini jendela kamar pembantunya itu tidak tertutup dengan rapat sehingga menampilkan hal yang seharusnya tidak dilihat oleh Laura."Tidak ... aku sudah mencoba untuk menahan diri dan aku memberikan uang secara cuma-cuma untuk Faela pulang kampung demi membantu keselamatan ibunya," gumam Laura dengan perasaan yang campur aduk. Dia berbicara dalam benaknya sendiri menahan rasa resah dan gelisah, tetapi matanya terus tertuju pada kenikmatan sesaat yang terpampang nyata. Edward masih berupaya untuk menyelesaikan permainannya sendiri dengan tangannya yang kekar dan berotot. Hal itu membuatnya selalu membayangkan istri yang dicintai saat ini sedang berada di kampung halaman, tidak bersama dengan dirinya. "Ahhh ... Faelaku ... Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu meski hanya semalaman saja. Argggh ...."Tangan Edward be
Laura terpaku di ambang pintu. Dia tidak menyangka Faela benar-benar datang malam itu. Koridor belakang rumah begitu sunyi. Hanya suara rintik hujan yang masih terdengar dari luar. "Masuk dulu," ucap Laura pelan. Faela menggeleng. "Saya tidak lama, Nyonya. Maaf, saya sudah banyak merepotkan selama bekerja di sini." Laura memperhatikan wajah pembantunya yang tampak lebih pucat daripada siang tadi. "Ada kabar dari ibumu?" Faela mengangguk. "Dokter meminta tindakan secepatnya. Om saya sudah meminjam uang ke tetangga, tapi masih kurang." Laura ikut menundukkan kepala. "Aku ikut prihatin." Faela menggenggam kedua tangannya sendiri. "Saya datang bukan karena saya setuju dengan keinginan Nyonya." Laura mengangkat wajah. "Saya datang karena saya bingung." Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat dada Laura sesak. "Aku mengerti." "Tidak, Nyonya ... mungkin Nyonya tidak mengerti." Air mata Faela kembali mengalir. "Kalau saya hanya memikirkan diri sendiri, saya pasti langsung
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Faela sudah berada di dapur sejak pukul lima. Tangannya sibuk mengiris bawang dan menyiapkan bahan sarapan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Semalaman dia hampir tidak memejamkan mata. Wajah ibunya. Suara omnya yang terdengar panik.Lalu ucapan Laura kemarin soal tawaran. "Aku akan memberimu sepuluh juta. Dua puluh juta. Bahkan tiga puluh juta kalau perlu."Faela mengembuskan napas panjang. Pisau yang dipegangnya nyaris mengenai ujung jari karena lamunannya. "Astaga ...."Dia buru-buru meletakkan pisau itu."Faela." Suara lembut membuatnya menoleh. Laura sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya terlihat pucat, seolah sama lelahnya karena tidak bisa tidur."Pagi, Nyonya.""Pagi."Suasana mendadak canggung. Tak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya.Laura memperhatikan mata Faela yang sembap. "Kamu menangis?"Faela buru-buru menggeleng. "Enggak, Nyonya."Laura tahu perempuan itu
Tok ...Tok ...Tok ...Suara ketukan pelan di pintu membuat Laura dan Faela sama-sama tersentak. Wajah Faela yang masih basah oleh air mata langsung memucat.Laura buru-buru mengusap sudut matanya. "Si-siapa?" tanyanya dengan suara berusaha tenang."Maaf, Nyonya." Suara itu terdengar dari balik pintu. "Saya Pak Darto."Pak Darto adalah kepala keamanan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah keluarga Bald.Laura mengembuskan napas lega. "Ada apa, Pak?""Tukang listrik datang. Katanya mau mengecek lampu taman yang semalam mati.""Iya. Silakan.""Baik, Nyonya." Langkah kaki itu kembali menjauh.Ruangan kembali sunyi. Namun, suasananya sudah berbeda. Faela memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuka pintu. "Nyonya ... saya izin keluar.""Tunggu."Faela menghentikan langkahnya.Laura tidak lagi mendekat. Dia hanya berdiri beberapa meter dari pembantunya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku minta maaf."Kalimat itu terdengar tulus.Faela menundukkan kepala. "Saya anggap ... saya tida
Sejak percakapan singkat di koridor malam itu, Laura tidak lagi bisa memandang Faela seperti biasanya. Setiap kali perempuan muda itu menyuguhkan teh, menyapu lantai, atau sekadar menanyakan menu makan siang, pikiran Laura justru dipenuhi pertanyaan yang sama."Bagaimana rasanya menjadi Faela?" Pertanyaan itu terdengar gila. Bahkan Laura sendiri membencinya.Dia memiliki semua yang diimpikan banyak perempuan. Rumah megah. Perhiasan mahal. Rekening yang tidak pernah kekurangan isi.Namun, setiap malam dia tidur dengan perasaan hampa.Sementara Faela ... Hidup sederhana. Tetapi sorot matanya selalu penuh kebahagiaan.Sore itu hujan turun cukup deras.Bald menelepon dari kantor. "Aku ada rapat dadakan. Mungkin pulang malam."Laura menjawab singkat. "Iya."Telepon ditutup. Rumah kembali sunyi.Faela sedang mengepel lantai ruang keluarga ketika Laura memanggilnya. "Faela."Perempuan itu segera menghentikan pekerjaannya. "Iya, Nyonya?""Temani saya minum teh."Faela tampak bingung. Biasanya
Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela besar ruang makan. Meja sepanjang tiga meter telah dipenuhi berbagai hidangan. Roti panggang, telur setengah matang, salad, buah-buahan segar, hingga kopi hitam kesukaan Bald telah tertata rapi.Faela berdiri beberapa langkah di belakang Nyonya Laura. Seperti biasa, dia menunggu jika majikannya membutuhkan sesuatu. Namun, pagi ini suasananya terasa berbeda.Laura tampak lebih banyak diam. Tatapannya kosong, sesekali justru mengarah ke halaman depan melalui jendela kaca."Laura?" Suara Bald membuyarkan lamunannya."Hmmm?""Kamu sakit?"Laura menggeleng. "Enggak.""Kamu enggak makan?""Nanti saja."Bald menatap istrinya beberapa saat. Kalau biasanya Laura cerewet menanyakan jadwalnya atau mengingatkan agar tidak melewatkan makan siang, hari ini perempuan itu bahkan hampir tidak mengucapkan sepuluh kalimat."Kamu masih kepikiran semalam?"Laura tersentak. Semalam ... Bukan kegagalan suaminya untuk urusan ranjang yang memenuhi pikirannya. Melaink







