MasukLaura terkejut mendengar suara desahan Edward. Sopirnya yang tampan dan gagah rupawan itu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan.
Apalagi kondisi saat ini jendela kamar pembantunya itu tidak tertutup dengan rapat sehingga menampilkan hal yang seharusnya tidak dilihat oleh Laura. "Tidak ... aku sudah mencoba untuk menahan diri dan aku memberikan uang secara cuma-cuma untuk Faela pulang kampung demi membantu keselamatan ibunya," gumam Laura dengan perasaan yang campur aduk. Dia berbicara dalam benaknya sendiri menahan rasa resah dan gelisah, tetapi matanya terus tertuju pada kenikmatan sesaat yang terpampang nyata. Edward masih berupaya untuk menyelesaikan permainannya sendiri dengan tangannya yang kekar dan berotot. Hal itu membuatnya selalu membayangkan istri yang dicintai saat ini sedang berada di kampung halaman, tidak bersama dengan dirinya. "Ahhh ... Faelaku ... Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu meski hanya semalaman saja. Argggh ...." Tangan Edward bergerak naik dan turun semakin cepat membuat aliran darahnya semakin deras. Gesekan itu membuat dirinya bersemangat, dada berdebar-debar, dan juga keringat mulai membasahi seluruh tubuh. Laura yang terpaku dan terdiam melihat pemandangan itu semakin merasa kalau debaran yang muncul dalam benaknya menantang diri untuk berbuat nekat. "Apa aku masuk saja? Pasti Edward tidak akan menolakku karena dia juga orang bawahan. Sopir pribadi suamiku bisa berbuat apa kalau aku memintanya? Kalau dia menolak, aku bisa saja berteriak dan memfitnah dia biar dia dilempar keluar dari rumah ini," teriak batin Laura yang mulai terbakar rasa ingin yang amat sangat. Namun, sisi kemanusiaan Laura juga meronta-ronta tidak mau melakukan hal sekecil itu kepada anak buahnya yang selama ini sudah setia mengabdi kepada keluarganya. Laura kembali merasa gusar dan menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Dia berusaha untuk berpikir positif dan berusaha untuk pergi dari tempat itu, tetapi kakinya terasa kaku dan matanya terus terpaku ke arah Edward. "Meski hatiku berkata tidak dan jangan, tetapi keinginanku sudah meronta-ronta. Bahkan mendengar suaranya pun aku semakin menginginkan. Bagaimana ini?" Laura menggigit bibir bawahnya dengan kencang mencoba untuk menahan diri agar tidak melakukan hal yang buruk. Dia merasa gugup dan berdebar kencang, sehingga keringat dingin mulai menetes. Edward sama sekali tidak tahu kalau Nyonya saat ini sedang memperhatikan permainan yang dia lakukan seorang diri. Dia masih fokus untuk menuju puncak kepuasan. "Ahhhh ...." Hingga akhirnya miliknya benar-benar merasa puas untuk saat ini. Cairan bening kental menyembur dan mengotori tangannya. Rasa lega muncul dalam benak. "Akhirnya ... lama banget yang selesai. Apalgi istriku sedang pergi," kata Edward yang segera meraih tisu untuk membersihkan tangannya. Laura yang mengetahui sopir pribadi suaminya itu sudah menyelesaikan kegiatan terlarang, dengan buru-buru mencoba melangkahkan kakinya untuk membalikkan tubuh dan meninggalkan dekat jendela kamar pembantunya. "Astaga ... sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan dan apa yang sedang aku lakukan? Semua ini begitu memalukan jika diketahui oleh orang lain." Susah payah Laura melangkahkan kaki meninggalkan depan kamar pembantunya dengan perasaan yang masih berdebar-debar. Laura menghela nafas panjang dan kembali mengambil minum untuk segera meredakan tubuhnya yang terasa panas dan gerah. "Huh, untung saja aku nggak ketahuan. Kalau sampai ketahuan, gimana? Memalukan!" Dia benar-benar merasa campur aduk di dalam benak. Di sisi lain, dia menikmati Apa yang dilihat tadi. Laura merasa makin penasaran dengan Edward. Meski lelaki itu merupakan sopir pribadi suaminya, tetapi entah mengapa semakin dipikirkan justru membuat Laura semakin penasaran bagaimana rasanya menjadi partner ranjang dengan Edward. "Kenapa semakin aku mencoba menghindari dan tidak memikirkan hal ini, malah justru ada saja hal-hal yang membuatku semakin terdorong dan tertarik kepadanya?" "Aku tahu kalau ini salah. Tapi ... aku ini wanita biasa. Bald tidak bisa memberikan hal itu. Dia selalu loyo dan lemas saat hendak memulai memasukkan padaku. Dia hanya bisa memberikan pemanasan, tanpa ada hal inti dan pendinginan." Kemudian semua hal yang dirasakan oleh Laura membuatnya menangis. Dia masih berdiri di dapur seorang diri. "Aku ini sangat menyedihkan. Bergelimang harta, tapi miskin sentuhan. Miskin rasa puas di ranjang ...."Laura terkejut mendengar suara desahan Edward. Sopirnya yang tampan dan gagah rupawan itu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Apalagi kondisi saat ini jendela kamar pembantunya itu tidak tertutup dengan rapat sehingga menampilkan hal yang seharusnya tidak dilihat oleh Laura."Tidak ... aku sudah mencoba untuk menahan diri dan aku memberikan uang secara cuma-cuma untuk Faela pulang kampung demi membantu keselamatan ibunya," gumam Laura dengan perasaan yang campur aduk. Dia berbicara dalam benaknya sendiri menahan rasa resah dan gelisah, tetapi matanya terus tertuju pada kenikmatan sesaat yang terpampang nyata. Edward masih berupaya untuk menyelesaikan permainannya sendiri dengan tangannya yang kekar dan berotot. Hal itu membuatnya selalu membayangkan istri yang dicintai saat ini sedang berada di kampung halaman, tidak bersama dengan dirinya. "Ahhh ... Faelaku ... Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu meski hanya semalaman saja. Argggh ...."Tangan Edward be
Laura terpaku di ambang pintu. Dia tidak menyangka Faela benar-benar datang malam itu. Koridor belakang rumah begitu sunyi. Hanya suara rintik hujan yang masih terdengar dari luar. "Masuk dulu," ucap Laura pelan. Faela menggeleng. "Saya tidak lama, Nyonya. Maaf, saya sudah banyak merepotkan selama bekerja di sini." Laura memperhatikan wajah pembantunya yang tampak lebih pucat daripada siang tadi. "Ada kabar dari ibumu?" Faela mengangguk. "Dokter meminta tindakan secepatnya. Om saya sudah meminjam uang ke tetangga, tapi masih kurang." Laura ikut menundukkan kepala. "Aku ikut prihatin." Faela menggenggam kedua tangannya sendiri. "Saya datang bukan karena saya setuju dengan keinginan Nyonya." Laura mengangkat wajah. "Saya datang karena saya bingung." Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat dada Laura sesak. "Aku mengerti." "Tidak, Nyonya ... mungkin Nyonya tidak mengerti." Air mata Faela kembali mengalir. "Kalau saya hanya memikirkan diri sendiri, saya pasti langsung
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Faela sudah berada di dapur sejak pukul lima. Tangannya sibuk mengiris bawang dan menyiapkan bahan sarapan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Semalaman dia hampir tidak memejamkan mata. Wajah ibunya. Suara omnya yang terdengar panik.Lalu ucapan Laura kemarin soal tawaran. "Aku akan memberimu sepuluh juta. Dua puluh juta. Bahkan tiga puluh juta kalau perlu."Faela mengembuskan napas panjang. Pisau yang dipegangnya nyaris mengenai ujung jari karena lamunannya. "Astaga ...."Dia buru-buru meletakkan pisau itu."Faela." Suara lembut membuatnya menoleh. Laura sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya terlihat pucat, seolah sama lelahnya karena tidak bisa tidur."Pagi, Nyonya.""Pagi."Suasana mendadak canggung. Tak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya.Laura memperhatikan mata Faela yang sembap. "Kamu menangis?"Faela buru-buru menggeleng. "Enggak, Nyonya."Laura tahu perempuan itu
Tok ...Tok ...Tok ...Suara ketukan pelan di pintu membuat Laura dan Faela sama-sama tersentak. Wajah Faela yang masih basah oleh air mata langsung memucat.Laura buru-buru mengusap sudut matanya. "Si-siapa?" tanyanya dengan suara berusaha tenang."Maaf, Nyonya." Suara itu terdengar dari balik pintu. "Saya Pak Darto."Pak Darto adalah kepala keamanan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah keluarga Bald.Laura mengembuskan napas lega. "Ada apa, Pak?""Tukang listrik datang. Katanya mau mengecek lampu taman yang semalam mati.""Iya. Silakan.""Baik, Nyonya." Langkah kaki itu kembali menjauh.Ruangan kembali sunyi. Namun, suasananya sudah berbeda. Faela memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuka pintu. "Nyonya ... saya izin keluar.""Tunggu."Faela menghentikan langkahnya.Laura tidak lagi mendekat. Dia hanya berdiri beberapa meter dari pembantunya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku minta maaf."Kalimat itu terdengar tulus.Faela menundukkan kepala. "Saya anggap ... saya tida
Sejak percakapan singkat di koridor malam itu, Laura tidak lagi bisa memandang Faela seperti biasanya. Setiap kali perempuan muda itu menyuguhkan teh, menyapu lantai, atau sekadar menanyakan menu makan siang, pikiran Laura justru dipenuhi pertanyaan yang sama."Bagaimana rasanya menjadi Faela?" Pertanyaan itu terdengar gila. Bahkan Laura sendiri membencinya.Dia memiliki semua yang diimpikan banyak perempuan. Rumah megah. Perhiasan mahal. Rekening yang tidak pernah kekurangan isi.Namun, setiap malam dia tidur dengan perasaan hampa.Sementara Faela ... Hidup sederhana. Tetapi sorot matanya selalu penuh kebahagiaan.Sore itu hujan turun cukup deras.Bald menelepon dari kantor. "Aku ada rapat dadakan. Mungkin pulang malam."Laura menjawab singkat. "Iya."Telepon ditutup. Rumah kembali sunyi.Faela sedang mengepel lantai ruang keluarga ketika Laura memanggilnya. "Faela."Perempuan itu segera menghentikan pekerjaannya. "Iya, Nyonya?""Temani saya minum teh."Faela tampak bingung. Biasanya
Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela besar ruang makan. Meja sepanjang tiga meter telah dipenuhi berbagai hidangan. Roti panggang, telur setengah matang, salad, buah-buahan segar, hingga kopi hitam kesukaan Bald telah tertata rapi.Faela berdiri beberapa langkah di belakang Nyonya Laura. Seperti biasa, dia menunggu jika majikannya membutuhkan sesuatu. Namun, pagi ini suasananya terasa berbeda.Laura tampak lebih banyak diam. Tatapannya kosong, sesekali justru mengarah ke halaman depan melalui jendela kaca."Laura?" Suara Bald membuyarkan lamunannya."Hmmm?""Kamu sakit?"Laura menggeleng. "Enggak.""Kamu enggak makan?""Nanti saja."Bald menatap istrinya beberapa saat. Kalau biasanya Laura cerewet menanyakan jadwalnya atau mengingatkan agar tidak melewatkan makan siang, hari ini perempuan itu bahkan hampir tidak mengucapkan sepuluh kalimat."Kamu masih kepikiran semalam?"Laura tersentak. Semalam ... Bukan kegagalan suaminya untuk urusan ranjang yang memenuhi pikirannya. Melaink







