Se connecterSelama tujuh tahun menikah, Naila selalu menjadi penopang keluarga suaminya. Gajinya digunakan untuk membayar cicilan rumah mertua, biaya kuliah adik ipar, bahkan utang-utang keluarga yang bukan tanggung jawabnya. Namun, semua pengorbanan itu tak pernah dianggap cukup. Ketika Naila kehilangan pekerjaannya dan tak lagi mampu mengirim uang setiap bulan, keluarga suaminya menunjukkan wajah asli mereka. Ia dihina, dicap menantu tidak berguna, bahkan didesak untuk menjual warisan terakhir milik orang tuanya. Yang paling menyakitkan, suaminya memilih membela keluarganya daripada istrinya sendiri. Merasa tak lagi dihargai, Naila memilih pergi dan mengakhiri pernikahan itu. Tidak ada yang menyangka bahwa wanita yang selama ini mereka perlakukan seperti ATM ternyata adalah pemilik perusahaan investasi yang selama ini diam-diam berkembang pesat di bawah namanya. Saat kesuksesan Naila menjadi sorotan publik, mantan suami dan keluarganya mulai menyesali semua yang telah mereka lakukan. Sayangnya, penyesalan mereka datang terlambat.
Voir plus#Gajiku Bukan Milikku
Notifikasi dari aplikasi mobile banking muncul saat Naila sedang menggoreng telur di dapur. Bunyi singkat itu membuat tangannya otomatis meraih ponsel yang tergeletak di dekat kompor. Sesaat kemudian, angka saldo yang lebih besar dari biasanya terpampang di layar. Gaji bulan ini akhirnya masuk. Seharusnya itu menjadi kabar yang menyenangkan, terutama setelah sebulan penuh menghadapi target kerja yang melelahkan. Namun senyum yang sempat muncul di wajahnya perlahan memudar. Pengalaman selama lima tahun terakhir membuat Naila tahu bahwa uang itu tidak akan lama berada di rekeningnya. Ia baru saja meletakkan ponsel ketika bel rumah berbunyi. Dari balik jendela, Naila sudah bisa menebak siapa tamunya. Dugaan itu terbukti benar saat ia membuka pintu dan menemukan kedua mertuanya berdiri di sana dengan wajah yang tampak ramah seperti biasa. "Selamat pagi, Naila," sapa ibu mertuanya sambil melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Ayah mertuanya mengikuti dari belakang sambil membawa map plastik berwarna biru. Naila mengenal map itu dengan sangat baik. Hampir setiap bulan benda yang sama selalu muncul pada hari yang sama. Mereka duduk di ruang tamu, lalu ibu mertuanya mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam map. Tagihan listrik, tagihan air, cicilan rumah, dan beberapa kebutuhan lain langsung disusun di atas meja. "Tagihan bulan ini lumayan banyak," katanya. "Untung hari ini kamu gajian." Naila menatap tumpukan kertas di hadapannya tanpa berkata apa-apa. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia tahu maksud sebenarnya. Sejak menikah dengan Ardi, hampir seluruh kebutuhan keluarga suaminya perlahan berpindah ke pundaknya. Awalnya hanya membantu membayar satu atau dua tagihan. Namun lama-kelamaan bantuan itu berubah menjadi kewajiban yang dianggap biasa oleh semua orang. "Kamu kan yang paling stabil penghasilannya," lanjut ibu mertuanya. "Kalau bukan kamu yang bantu, siapa lagi?" Setelah kedua mertuanya pulang, Naila duduk sendiri di meja makan sambil menghitung total pengeluaran yang harus dibayarkan hari itu. Angka yang muncul membuat dadanya terasa sesak. Lebih dari separuh gajinya akan hilang sebelum matahari benar-benar berada di atas kepala. Belum sempat ia menyelesaikan perhitungan, ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan dari Ardi muncul di layar. "Sayang, aku mau minta tolong." Naila menatap pesan itu beberapa saat sebelum membukanya. "Adikku lagi kesulitan. Ibu mertuanya sakit dan butuh biaya berobat. Bisa bantu dulu?" "Berapa?" balasnya singkat. Nominal yang dikirim Ardi beberapa detik kemudian membuat Naila terdiam. Jumlahnya tidak kecil. Jika ditambah dengan seluruh tagihan yang sudah menunggunya sejak pagi, rekeningnya akan kembali menyusut seperti bulan-bulan sebelumnya. Menjelang sore, seluruh pembayaran akhirnya selesai. Saat membuka kembali aplikasi mobile banking, Naila melihat angka saldo yang tersisa jauh lebih kecil daripada yang ia bayangkan saat menerima gaji pagi tadi. Hari gajian yang seharusnya membawa rasa lega justru selalu berakhir dengan perasaan yang sama. Seolah-olah ia bekerja keras selama sebulan penuh hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Malam hari menjadi satu-satunya waktu yang benar-benar ia miliki. Setelah pulang kerja, menyiapkan makan malam, membereskan rumah, dan memastikan semua kebutuhan suaminya terpenuhi, Naila akhirnya bisa masuk ke kamar kerjanya yang sempit di sudut rumah. Ruangan itu tidak lebih dari bekas gudang yang diubah menjadi tempat menyimpan meja dan laptop tua, tetapi di sanalah ia menghabiskan sebagian besar mimpinya. Di dalamnya terdapat puluhan dokumen, laporan keuangan, proposal proyek, dan catatan strategi bisnis yang terus ia perbarui hampir setiap malam. Semua berhubungan dengan sebuah perusahaan kecil yang beberapa bulan lalu nyaris bangkrut. Perusahaan itu bernama Nexora Konsultan. Saat itu Naila mengambil keputusan yang bahkan sampai sekarang masih terasa nekat. Selama bertahun-tahun, ia diam-diam menyimpan bonus kerja yang tidak pernah diketahui Ardi maupun keluarga suaminya. Jumlahnya memang tidak fantastis, tetapi cukup untuk membeli saham mayoritas perusahaan yang sedang sekarat tersebut. Hampir seluruh tabungannya habis dalam satu transaksi. Banyak orang mungkin akan menganggap keputusan itu sebagai kebodohan, tetapi Naila melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat peluang yang tersembunyi di balik angka-angka kerugian. Ia percaya perusahaan itu tidak gagal karena produknya buruk, melainkan karena pengelolaannya berantakan. Sejak menjadi pemegang saham terbesar, Naila mulai bekerja dua kali lebih keras. Siang hari ia tetap menjadi karyawan biasa di kantornya, sementara malam hari ia mempelajari laporan perusahaan, menghubungi calon klien, memperbaiki proposal, bahkan menyusun strategi pemasaran sendiri. Tidurnya sering kali hanya tiga atau empat jam setiap malam. Semua itu dilakukan diam-diam. Tidak ada seorang pun yang mendukungnya. Bahkan jika keluarga suaminya mengetahui hal tersebut, mereka mungkin akan menertawakannya. Pikiran itu membuat Naila tersenyum tipis. Ia sudah terlalu sering diremehkan untuk merasa sakit hati. Sebuah notifikasi email muncul di layar laptopnya. Naila segera membukanya. Itu adalah balasan dari panitia tender yang selama dua minggu terakhir menjadi fokus utamanya. Sebuah proyek pengembangan sistem manajemen untuk perusahaan logistik nasional dengan nilai kontrak yang cukup besar bagi ukuran Nexora. Tangannya bergerak cepat membuka isi pesan. Beberapa detik kemudian, jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Nexora berhasil lolos ke tahap akhir. Naila menatap layar tanpa berkedip. Kabar itu saja sudah cukup membuat seluruh rasa lelahnya selama berminggu-minggu terbayar. Namun pekerjaan belum selesai. Masih ada beberapa perusahaan lain yang bersaing memperebutkan proyek tersebut. Ia kembali bekerja hingga lewat tengah malam, memperbaiki presentasi dan menyusun revisi terakhir sebelum dikirimkan kepada panitia. Ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari, sebuah email baru masuk. Naila sempat mengira itu hanya pemberitahuan biasa. Namun saat membaca nama pengirimnya, tubuhnya langsung menegang. Itu berasal dari pihak perusahaan logistik yang mengadakan tender. Perlahan ia membuka pesan tersebut. Matanya bergerak dari satu baris ke baris berikutnya. Lalu napasnya tertahan. Selamat. Berdasarkan hasil evaluasi akhir, Nexora Konsultan ditetapkan sebagai pemenang utama proyek pengembangan sistem manajemen nasional. Naila membaca kalimat itu berulang kali untuk memastikan dirinya tidak salah lihat. Di bawahnya tercantum nilai kontrak yang membuat tangannya gemetar. Lima miliar rupiah. Jumlah itu jauh melampaui seluruh keuntungan yang pernah diperoleh Nexora sejak perusahaan tersebut berdiri. Ponselnya kembali bergetar, sebuah email lanjutan masuk beberapa menit kemudian. Direktur utama Nexora Konsultan diwajibkan hadir dalam penandatanganan kontrak resmi besok pagi pukul sembilan. Naila memandangi pesan itu cukup lama. Besok pagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang memanggilnya bukan sebagai menantu, bukan sebagai istri Ardi, dan bukan sebagai pegawai biasa. Melainkan sebagai pemimpin sebuah perusahaan. Sementara itu, di kamar sebelah, Ardi masih tertidur nyenyak tanpa mengetahui bahwa istrinya baru saja memenangkan proyek bernilai lima miliar rupiah.Ibu yang Membela PerselingkuhanMalam setelah melihat Ardi makan malam bersama Rani terasa jauh lebih panjang daripada malam-malam yang pernah dilalui Naila sebelumnya. Sepanjang perjalanan pulang, bayangan tentang tangan mereka yang saling menggenggam terus berputar di kepalanya tanpa bisa diusir. Setiap kali dia mencoba memikirkan hal lain, yang muncul justru wajah Ardi yang tersenyum hangat kepada perempuan itu, senyum yang sudah sangat lama tidak pernah dia lihat ketika suaminya menatap dirinya.Sesampainya di rumah, Naila tidak langsung masuk ke kamar. Dia memilih duduk sendirian di ruang tamu yang hanya diterangi cahaya lampu teras dari luar. Dalam kesunyian itu, suara detak jam dinding terdengar begitu jelas hingga membuat rumah kecil tersebut terasa semakin asing baginya.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, Naila mulai mempertanyakan semua hal yang selama ini dia pertahankan. Dia mengingat kembali masa-masa awal pernikahan mereka ketika hidup masih sederhana
#Kebenaran yang Menyakitkan (Bagian 2)Naila sebenarnya berniat pergi setelah melihat apa yang terjadi di meja dekat jendela. Baginya, pemandangan Ardi yang menggenggam tangan perempuan lain sudah lebih dari cukup untuk menjawab semua kecurigaan yang selama ini memenuhi kepalanya. Namun sebelum sempat berdiri dari kursinya, suara Rani yang terdengar cukup jelas membuat langkahnya terhenti.Jarak mereka memang tidak terlalu dekat, tetapi suasana restoran yang tenang membuat beberapa bagian percakapan masih dapat terdengar di sela-sela alunan musik yang mengalun pelan."Aku capek harus sembunyi terus."Kalimat itu keluar dari bibir Rani dengan nada yang terdengar lelah sekaligus kecewa. Mendengarnya, Naila spontan menundukkan kepala dan berpura-pura membaca daftar menu yang sejak tadi tidak pernah benar-benar dia perhatikan.Beberapa detik kemudian, suara Ardi terdengar menyusul."Sabar sedikit lagi. Aku sudah janji, kan?"
#Kebenaran yang MenyakitkanNaila tidak langsung pulang setelah melihat Ardi memasuki restoran bersama Rani. Kakinya terasa berat seolah ada sesuatu yang menahannya untuk pergi begitu saja. Selama beberapa minggu terakhir, dia hidup dalam ketidakpastian sambil berusaha menyusun potongan-potongan kejadian yang tidak pernah membentuk gambaran utuh. Kini, ketika kebenaran itu berdiri tepat di depan matanya, dia justru merasa belum siap menerimanya.Dengan langkah pelan, Naila memasuki restoran yang sama beberapa menit setelah mereka masuk.Restoran itu cukup luas dan ramai. Lampu-lampu gantung berwarna keemasan menciptakan suasana hangat, sementara alunan musik lembut mengisi ruangan tanpa mengganggu percakapan para pengunjung. Naila memilih meja yang berada cukup jauh dari Ardi dan Rani, tetapi masih memungkinkan dirinya melihat keduanya dengan jelas. Begitu duduk, dia memesan secangkir teh agar keberadaannya tidak terlihat mencurigakan.Dari tempatnya, Naila dapat melihat Ardi dan Rani
Mengikuti ArdiSejak menemukan tas mahal yang dikirim ke rumah mereka beserta kartu ucapan yang seharusnya tidak pernah sampai ke tangannya, Naila merasa ada sesuatu yang perlahan berubah dalam dirinya. Rasa sedih yang selama ini selalu menguasainya tidak lagi muncul dalam bentuk tangisan atau keluhan. Yang tersisa justru kelelahan panjang yang membuatnya berhenti mencari pembenaran untuk setiap sikap Ardi.Selama ini dia selalu berusaha melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baik. Ketika Ardi pulang larut, dia mencoba percaya bahwa suaminya memang sedang bekerja keras. Saat menemukan aroma parfum asing di kemeja yang hendak dicuci, dia memaksa dirinya menganggap itu hanya kebetulan. Bahkan ketika nama Rani mulai muncul dalam pesan-pesan yang disembunyikan, Naila masih berusaha meyakinkan diri bahwa mungkin semuanya tidak seperti yang dia bayangkan.Namun semakin banyak kejadian yang terjadi, semakin sulit baginya untuk mempertahankan keyakinan itu.Malam setelah menemukan kar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires