
Tukar Ranjang Puaskan Rasa
Satu malam. Satu kesepakatan. Tapi, rasa ini tak bisa ditukar.
-------
Edward seorang sopir yang menikah dengan Faela yang merupakan seorang pembantu. Keduanya bekerja di kediaman Tuan Bald dan Nyonya Laura.
Saat malam tiba, keduanya larut di ranjang masing-masing yang jauh berbeda. Saat Tuan Bald hanya bisa melakukan pemanasan dan sulit memuaskan Nyonya Laura, justru Faela mengeluhkan Edward yang main sangat lama.
Hal itu tak sengaja terdengar Laura yang sedang mengambil minum di dapur. Dia mendengar suara desahan dari kamar pembantu dan membayangkan bagaimana Edward bisa memuaskan dirinya.
Satu kesepakatan gila pun muncul! Laura mengajak Faela bertukar ranjang untuk puaskan rasa. Faela yang takut dipecat akhirnya mau.
Namun, siapa sangka ini menjadi gerbang dari jurang dosa yang menjerat kedua pasangan itu lebih dalam?
--------------
"Satu malam saja. Aku mohon. Aku akan berikan uang sepuluh juta untukmu kalau mau bertukar ranjang denganku. Aku ingin merasakan suamimu, Faela. Kamu gantikan aku tidur dengan Bald," pinta Nyonya Laura dengan wajah memelas.
"Ta-tapi ... janji satu malam saja, Nyonya? Saya juga takut kalau Tuan Bald tahu dan saya bisa di ...."
"Dia tidak akan protes. Dia main hanya sebentar. Dia hanya lama saat pemanasan dan selalu mematikan lampu. Tenang saja," pungkas Nyonya Laura yang ingin mempercepat kesepakatan.
قراءة
Chapter: Bab 8 - Kepergok"Nyo-nyonya?" Suara yang 'ngebass' itu sangat familiar di telinga Laura.Ya, Edward keluar dari kamar pembantu untuk menengok apa yang terjadi karena mendengar sesuatu di area dapur. Dia tidak berpikir kalau Nyonya Laura yang ada di sana. Awalnya mengira ada orang iseng atau pegawai lain masuk ke area rumah.Laura sontak saja langsung menoleh ke arah suara itu dan merasa benar-benar gugup. Padahal dia masih memikirkan tentang apa yang dilakukan Edward tadi di dalam kamar seorang diri, tetapi sosok bertubuh tinggi besar dan berotot itu saat ini berada di dekatnya. "Ah, eh, iya, Edward? A-aku ... haus dan baru saja minum," jawab Laura dengan terbata-bata karena merasa bingung harus berbuat apa. Dia memang baru saja menenggak minuman air putih dari gelas dan memang tumpah di pakaian tidurnya yang berbahan satin. Laura terlalu ceroboh dan terburu-buru karena merasa begitu gerah ketika melihat pemandangan Edward sedang memuaskan hasrat sendirian.Edward yang awal mulanya tidak mengetahui
آخر تحديث: 2026-07-31
Chapter: Bab 7 - Debaran MenantangLaura terkejut mendengar suara desahan Edward. Sopirnya yang tampan dan gagah rupawan itu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Apalagi kondisi saat ini jendela kamar pembantunya itu tidak tertutup dengan rapat sehingga menampilkan hal yang seharusnya tidak dilihat oleh Laura."Tidak ... aku sudah mencoba untuk menahan diri dan aku memberikan uang secara cuma-cuma untuk Faela pulang kampung demi membantu keselamatan ibunya," gumam Laura dengan perasaan yang campur aduk. Dia berbicara dalam benaknya sendiri menahan rasa resah dan gelisah, tetapi matanya terus tertuju pada kenikmatan sesaat yang terpampang nyata. Edward masih berupaya untuk menyelesaikan permainannya sendiri dengan tangannya yang kekar dan berotot. Hal itu membuatnya selalu membayangkan istri yang dicintai saat ini sedang berada di kampung halaman, tidak bersama dengan dirinya. "Ahhh ... Faelaku ... Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu meski hanya semalaman saja. Argggh ...."Tangan Edward be
آخر تحديث: 2026-07-30
Chapter: BAB 6 — KEPUTUSAN YANG MAHALLaura terpaku di ambang pintu. Dia tidak menyangka Faela benar-benar datang malam itu. Koridor belakang rumah begitu sunyi. Hanya suara rintik hujan yang masih terdengar dari luar. "Masuk dulu," ucap Laura pelan. Faela menggeleng. "Saya tidak lama, Nyonya. Maaf, saya sudah banyak merepotkan selama bekerja di sini." Laura memperhatikan wajah pembantunya yang tampak lebih pucat daripada siang tadi. "Ada kabar dari ibumu?" Faela mengangguk. "Dokter meminta tindakan secepatnya. Om saya sudah meminjam uang ke tetangga, tapi masih kurang." Laura ikut menundukkan kepala. "Aku ikut prihatin." Faela menggenggam kedua tangannya sendiri. "Saya datang bukan karena saya setuju dengan keinginan Nyonya." Laura mengangkat wajah. "Saya datang karena saya bingung." Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat dada Laura sesak. "Aku mengerti." "Tidak, Nyonya ... mungkin Nyonya tidak mengerti." Air mata Faela kembali mengalir. "Kalau saya hanya memikirkan diri sendiri, saya pasti langsung
آخر تحديث: 2026-07-07
Chapter: BAB 5 — TAWARAN YANG BELUM TERJAWABPagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Faela sudah berada di dapur sejak pukul lima. Tangannya sibuk mengiris bawang dan menyiapkan bahan sarapan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Semalaman dia hampir tidak memejamkan mata. Wajah ibunya. Suara omnya yang terdengar panik.Lalu ucapan Laura kemarin soal tawaran. "Aku akan memberimu sepuluh juta. Dua puluh juta. Bahkan tiga puluh juta kalau perlu."Faela mengembuskan napas panjang. Pisau yang dipegangnya nyaris mengenai ujung jari karena lamunannya. "Astaga ...."Dia buru-buru meletakkan pisau itu."Faela." Suara lembut membuatnya menoleh. Laura sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya terlihat pucat, seolah sama lelahnya karena tidak bisa tidur."Pagi, Nyonya.""Pagi."Suasana mendadak canggung. Tak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya.Laura memperhatikan mata Faela yang sembap. "Kamu menangis?"Faela buru-buru menggeleng. "Enggak, Nyonya."Laura tahu perempuan itu
آخر تحديث: 2026-07-01
Chapter: BAB 4 — PERTAMA KALI DENGAN LIDAHTok ...Tok ...Tok ...Suara ketukan pelan di pintu membuat Laura dan Faela sama-sama tersentak. Wajah Faela yang masih basah oleh air mata langsung memucat.Laura buru-buru mengusap sudut matanya. "Si-siapa?" tanyanya dengan suara berusaha tenang."Maaf, Nyonya." Suara itu terdengar dari balik pintu. "Saya Pak Darto."Pak Darto adalah kepala keamanan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah keluarga Bald.Laura mengembuskan napas lega. "Ada apa, Pak?""Tukang listrik datang. Katanya mau mengecek lampu taman yang semalam mati.""Iya. Silakan.""Baik, Nyonya." Langkah kaki itu kembali menjauh.Ruangan kembali sunyi. Namun, suasananya sudah berbeda. Faela memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuka pintu. "Nyonya ... saya izin keluar.""Tunggu."Faela menghentikan langkahnya.Laura tidak lagi mendekat. Dia hanya berdiri beberapa meter dari pembantunya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku minta maaf."Kalimat itu terdengar tulus.Faela menundukkan kepala. "Saya anggap ... saya tida
آخر تحديث: 2026-06-30
Chapter: BAB 3 — SATU KESEPAKATANSejak percakapan singkat di koridor malam itu, Laura tidak lagi bisa memandang Faela seperti biasanya. Setiap kali perempuan muda itu menyuguhkan teh, menyapu lantai, atau sekadar menanyakan menu makan siang, pikiran Laura justru dipenuhi pertanyaan yang sama."Bagaimana rasanya menjadi Faela?" Pertanyaan itu terdengar gila. Bahkan Laura sendiri membencinya.Dia memiliki semua yang diimpikan banyak perempuan. Rumah megah. Perhiasan mahal. Rekening yang tidak pernah kekurangan isi.Namun, setiap malam dia tidur dengan perasaan hampa.Sementara Faela ... Hidup sederhana. Tetapi sorot matanya selalu penuh kebahagiaan.Sore itu hujan turun cukup deras.Bald menelepon dari kantor. "Aku ada rapat dadakan. Mungkin pulang malam."Laura menjawab singkat. "Iya."Telepon ditutup. Rumah kembali sunyi.Faela sedang mengepel lantai ruang keluarga ketika Laura memanggilnya. "Faela."Perempuan itu segera menghentikan pekerjaannya. "Iya, Nyonya?""Temani saya minum teh."Faela tampak bingung. Biasanya
آخر تحديث: 2026-06-30
Chapter: BAB 24 - Tante Almara Diculik! (18+++)Jantung Leo berdetak semakin keras. Tangannya masih menggenggam ponsel milik Tante Almara yang berisi pesan terakhir wanita itu."Maafkan Tante. Apa pun yang terjadi nanti, jangan tinggalkan panggung. Selamatkan konser ini."Bagaimana mungkin dia tetap berdiri di atas panggung ketika wanita yang dicintainya sedang berada dalam bahaya?"Leo!" Suara manajer membuatnya menoleh."Kamu di sini? Semua orang mencari kamu! Lima menit lagi pembukaan!"Leo menggertakkan rahangnya. "Bu Almara hilang."Manajer mengernyit. "Apa maksudmu?""Seseorang membawanya pergi."Belum sempat manajer bertanya lebih jauh, Rama datang berlari sambil membawa tablet di tangannya. "Leo!""Ada kabar?"Rama mengangguk cepat. "Aku berhasil menemukan rekaman CCTV yang sempat hilang.""Lihat."Leo menatap layar tablet. Rekaman itu hanya berlangsung beberapa detik. Terlihat Tante Almara berjalan seorang diri menuju lorong servis di bawah tribun stadion. Wajahnya tenang, tetapi langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah se
آخر تحديث: 2026-07-17
Chapter: BAB 23 - Membawa Kabur Tante AlmaraPagi hari yang seharusnya menjadi awal paling membahagiakan bagi Almara Entertainment justru dipenuhi kecemasan. Sejak pukul enam, kawasan sekitar stadion sudah dipadati para penggemar. Ribuan lightstick berwarna biru muda memenuhi pelataran. Spanduk raksasa bergambar Leo dan anggota boyband lainnya terbentang di berbagai sudut.Namun, di balik kemeriahan itu, suasana di ruang kontrol keamanan jauh dari kata tenang. "Semua akses belakang sudah diperiksa?""Sudah, Pak.""Tim keamanan VIP?""Lengkap.""Petugas backstage?""Stand by."Rama berdiri di depan monitor CCTV bersama kepala keamanan. Puluhan layar menampilkan setiap sudut stadion. Tetapi perasaannya justru semakin tidak nyaman."Tambah personel di pintu barat," perintah Rama."Kenapa?""Perasaanku nggak enak."Di ruang ganti artis, Leo sedang mengenakan kostum panggung. Hari itu seharusnya menjadi hari yang selama bertahun-tahun dia impikan. Tur nasional pertama. Puluhan ribu penonton. Siaran langsung ke berbagai platform digit
آخر تحديث: 2026-07-14
Chapter: BAB 22 – Skandal yang MeledakSuasana di depan gedung Almara Entertainment berubah kacau. Puluhan wartawan berdesakan di depan pintu utama. Kilatan kamera menyala tanpa henti. Beberapa reporter bahkan melakukan siaran langsung. "Benarkah CEO Almara Entertainment memiliki hubungan spesial dengan salah satu artisnya?" "Apakah berita yang beredar di media sosial itu benar?" "Siapa idol yang dimaksud?" Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan. Petugas keamanan berusaha menahan mereka agar tidak memasuki area lobi. Di lantai dua puluh, Tante Almara berdiri memandangi kerumunan itu dari balik kaca. Tangannya perlahan mengepal. "Dia berhasil..." Leo berdiri tidak jauh darinya. Tatapannya sama dinginnya. "Belum." Tante Almara menoleh. "Ini baru permulaan." Di ruang rapat darurat, seluruh jajaran direksi sudah berkumpul. Ekspresi mereka tampak tegang. "Bu Almara, harga saham perusahaan mulai bergerak turun setelah rumor itu menyebar." "Kami juga mendapat telepon dari dua sponsor utama." "Mere
آخر تحديث: 2026-07-13
Chapter: BAB 21 – Topeng yang Mulai TerbukaPagi itu suasana di kantor pusat Almara Entertainment jauh lebih sibuk daripada biasanya. Para staf berlalu-lalang membawa berkas. Tim promosi sibuk membahas jadwal tur nasional boyband yang dipimpin Leo, sementara divisi media terus menerima telepon dari berbagai pihak.Namun di balik kesibukan itu, Tante Almara sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Semalaman dia tidak tidur. Pesan terakhir Faizal terus menghantui pikirannya."Nikmati dua hari terakhir kalian sebelum semuanya berubah."Kalimat itu bukan lagi terdengar seperti ancaman. Melainkan sebuah rencana. Sebuah rencana yang sudah disusun dengan matang.--------Leo memasuki ruang direktur tanpa mengetuk. Wajahnya terlihat tegang. "Tante."Tante Almara langsung berdiri. "Ada apa?"Leo menyerahkan tablet yang dibawanya. "Coba lihat."Di layar terpampang sebuah akun media sosial anonim. Akun itu baru dibuat beberapa jam lalu. Namun unggahan pertamanya langsung menarik ribuan perhatian. Isinya hanyalah sebuah foto siluet seorang w
آخر تحديث: 2026-07-07
Chapter: Bab 20 - Situasi Genting dan TegangBAB 20Ruangan rapat di lantai paling atas gedung Almara Entertainment dipenuhi suasana tegang. Beberapa direktur, manajer artis, dan kepala divisi pemasaran sudah duduk mengelilingi meja oval besar. Di layar proyektor terpampang jadwal konser nasional yang akan dimulai dua bulan lagi."Kalau tidak ada perubahan, tiket akan mulai dijual minggu depan," ujar salah seorang manajer.Tante Almara mengangguk pelan. "Pastikan semua persiapan berjalan sesuai jadwal. Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun."Semua mengiyakan. Namun di balik wajah tenangnya, pikirannya sama sekali tidak berada di ruang rapat itu.Pesan-pesan Faizal.Foto-foto yang diam-diam diambil.Ancaman yang semakin berani.Semua itu membuatnya sulit berkonsentrasi.Setelah rapat selesai, para peserta satu per satu meninggalkan ruangan. Baru saja Tante Almara hendak duduk kembali, sekretarisnya mengetuk pintu."Bu Almara.""Ya?""Ada wartawan hiburan yang menghubungi. Katanya ingin meminta konfirmasi mengenai rumor sa
آخر تحديث: 2026-06-26
Chapter: Bab 19 - Satu Ketukan MautBAB 19Leo tiba di kantor pusat Almara Entertainment tepat dua puluh menit setelah menerima telepon dari Tante Almara.Begitu pintu ruang direktur utama terbuka, Leo langsung melihat wanita itu berdiri di dekat jendela dengan wajah pucat. Di atas meja masih tergeletak kotak kiriman misterius beserta bingkai foto yang sudah dicoret tinta merah.Ruangan itu terasa sunyi. Terlalu sunyi. Seolah-olah ancaman Faizal masih menggantung di udara."Tante."Tante Almara menoleh. Begitu melihat Leo, ketegangan di wajahnya sedikit mengendur. Namun hanya sedikit.Leo menghampiri meja dan mengambil bingkai foto tersebut. Foto dirinya dan Tante Almara sedang keluar dari sebuah restoran. Foto yang jelas diambil diam-diam.Wajah Leo dicoret dengan tinta merah. Di bawahnya tertulis kalimat yang membuat darahnya mendidih."Dia akan pergi. Cepat atau lambat."Leo meletakkan foto itu perlahan. Sangat perlahan.Namun justru itu yang membuat Tante Almara tahu bahwa dia sedang marah. Sangat marah."Leo ...."
آخر تحديث: 2026-06-25