Masuk"Nyo-nyonya?" Suara yang 'ngebass' itu sangat familiar di telinga Laura.
Ya, Edward keluar dari kamar pembantu untuk menengok apa yang terjadi karena mendengar sesuatu di area dapur. Dia tidak berpikir kalau Nyonya Laura yang ada di sana. Awalnya mengira ada orang iseng atau pegawai lain masuk ke area rumah. Laura sontak saja langsung menoleh ke arah suara itu dan merasa benar-benar gugup. Padahal dia masih memikirkan tentang apa yang dilakukan Edward tadi di dalam kamar seorang diri, tetapi sosok bertubuh tinggi besar dan berotot itu saat ini berada di dekatnya. "Ah, eh, iya, Edward? A-aku ... haus dan baru saja minum," jawab Laura dengan terbata-bata karena merasa bingung harus berbuat apa. Dia memang baru saja menenggak minuman air putih dari gelas dan memang tumpah di pakaian tidurnya yang berbahan satin. Laura terlalu ceroboh dan terburu-buru karena merasa begitu gerah ketika melihat pemandangan Edward sedang memuaskan hasrat sendirian. Edward yang awal mulanya tidak mengetahui itu, malah matanya langsung tertuju ke arah gunung kembar Laura. Itu karena baju tidur bahan satin yang terkena air putih itu menunjukkan apa yang ada di dalamnya dengan samar-samar. "Glek ...." Suara Edward dengan susah payah mencoba menelan air liurnya sendiri terdengar di telinga Laura. Laura pun melihat sorot mata Edward yang mulai sayu menatap ke arah gundukan kenyal bukit kembarnya. Hal itu membuat tebar jantung Laura semakin berdegup kencang. "Eh, maaf. Tadi aku terburu-buru yang mengambil minum sampai tumpah di pakaianku. Kamu ... kenapa kamu ke sini malam-malam gini?" Laura langsung menyilangkan kedua tangannya ke arah depan tubuh untuk menutupi baju tidurnya yang besar itu. Edward langsung mengalihkan pandangannya karena ketahuan sudah menatap bukit kembar milik nyonyanya. Dia takut kalau akan dimarahi apalagi kalau dilaporkan kepada Tuan Bald. "Uhmm ... maaf, Nyonya. Tadi ... saya dengar sesuatu ... Maka dari itu, saya ke sini. Maaf sekali lagi. Saya cuma khawatir kalau ...." Belum sempat Edward menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja entah hal apa yang membuat Laura langsung melangkahkan kakinya dengan cepat mendekat ke arah tubuh Edward. Baju tidurnya yang tadi basah langsung menempel ke kaos warna biru muda milik Edward. "Sssttt ... kamu jangan berisik nanti Bald bisa terbangun kalau mendengar orang yang bicara terlalu keras. Aku ... kedinginan." Susah payah Edward mencoba menghindari tubuh Nyonya Laura yang ditempelkan ke tubuhnya, tetapi Laura kembali mendekat dan kali ini kedua tangannya sambil memegang bahu Edward. "Stop! Jangan menghindar lagi. Aku mohon ... aku ...." Laura menatap wajah Edward yang muda, segar, dan tampan. Dalam benak Laura merasa kalau lelaki yang ada di hadapannya itu justru layak bersanding dengan dirinya yang masih cantik, terlihat muda dan segar, dan juga seksi. Dia tidak tahu mengapa sopirnya itu begitu menggoda dan kenapa juga harus menikah dengan seorang pembantu yang tidak bisa membuatnya puas. "Nyonya, kumohon, jangan ...." pinta Edward dengan suara yang bergetar. Antara takut, malu, dan bingung menguasai benak Laura yang sudah menginginkan tubuh Edward untuk disentuh dan menyentuhnya. "Kamu ... Apa kamu tahu kalau sebenarnya istri yang kamu cintai itu sudah melakukan perjanjian denganku? Sebelumnya, aku menjanjikan sejumlah uang untuknya jika mau bertukar ranjang denganku. Atau ... Aku ingin mendapatkan kamu meski hanya semalam saja." Mata Edward terbelalak. Dia tidak menyangka kalau majikannya mengucapkan hal itu. Meski sebelumnya dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Laura dan Faela, tetapi jika hal itu diucapkan secara langsung oleh Laura justru membuat Edward bingung dan takut. Debar jantungnya tak karuan. Dia bingung harus berbuat apa. Di hadapannya ada seorang perempuan cantik dengan tubuh aduhai sedang menggodanya. "Duh, bagaimana ini?Apa yang harus aku lakukan? Ditolang sayang banget. Tapi ... aku tak mungkin mengkhianati istriku. Faela yang aku cinta ...." batin Edward berkecamuk antara perasan dan juga logika serta h4wa n4fsunya yang mulai terpancing dengan tingkah laku Laura. Laura semakin mendekat, tubuhnya menempel ke d4da Edward. "Edward ... aku berikan berapapun yang kamu mau ... tapi ... tolong puaskan aku." Deg!"Nyo-nyonya?" Suara yang 'ngebass' itu sangat familiar di telinga Laura.Ya, Edward keluar dari kamar pembantu untuk menengok apa yang terjadi karena mendengar sesuatu di area dapur. Dia tidak berpikir kalau Nyonya Laura yang ada di sana. Awalnya mengira ada orang iseng atau pegawai lain masuk ke area rumah.Laura sontak saja langsung menoleh ke arah suara itu dan merasa benar-benar gugup. Padahal dia masih memikirkan tentang apa yang dilakukan Edward tadi di dalam kamar seorang diri, tetapi sosok bertubuh tinggi besar dan berotot itu saat ini berada di dekatnya. "Ah, eh, iya, Edward? A-aku ... haus dan baru saja minum," jawab Laura dengan terbata-bata karena merasa bingung harus berbuat apa. Dia memang baru saja menenggak minuman air putih dari gelas dan memang tumpah di pakaian tidurnya yang berbahan satin. Laura terlalu ceroboh dan terburu-buru karena merasa begitu gerah ketika melihat pemandangan Edward sedang memuaskan hasrat sendirian.Edward yang awal mulanya tidak mengetahui
Laura terkejut mendengar suara desahan Edward. Sopirnya yang tampan dan gagah rupawan itu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Apalagi kondisi saat ini jendela kamar pembantunya itu tidak tertutup dengan rapat sehingga menampilkan hal yang seharusnya tidak dilihat oleh Laura."Tidak ... aku sudah mencoba untuk menahan diri dan aku memberikan uang secara cuma-cuma untuk Faela pulang kampung demi membantu keselamatan ibunya," gumam Laura dengan perasaan yang campur aduk. Dia berbicara dalam benaknya sendiri menahan rasa resah dan gelisah, tetapi matanya terus tertuju pada kenikmatan sesaat yang terpampang nyata. Edward masih berupaya untuk menyelesaikan permainannya sendiri dengan tangannya yang kekar dan berotot. Hal itu membuatnya selalu membayangkan istri yang dicintai saat ini sedang berada di kampung halaman, tidak bersama dengan dirinya. "Ahhh ... Faelaku ... Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu meski hanya semalaman saja. Argggh ...."Tangan Edward be
Laura terpaku di ambang pintu. Dia tidak menyangka Faela benar-benar datang malam itu. Koridor belakang rumah begitu sunyi. Hanya suara rintik hujan yang masih terdengar dari luar. "Masuk dulu," ucap Laura pelan. Faela menggeleng. "Saya tidak lama, Nyonya. Maaf, saya sudah banyak merepotkan selama bekerja di sini." Laura memperhatikan wajah pembantunya yang tampak lebih pucat daripada siang tadi. "Ada kabar dari ibumu?" Faela mengangguk. "Dokter meminta tindakan secepatnya. Om saya sudah meminjam uang ke tetangga, tapi masih kurang." Laura ikut menundukkan kepala. "Aku ikut prihatin." Faela menggenggam kedua tangannya sendiri. "Saya datang bukan karena saya setuju dengan keinginan Nyonya." Laura mengangkat wajah. "Saya datang karena saya bingung." Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat dada Laura sesak. "Aku mengerti." "Tidak, Nyonya ... mungkin Nyonya tidak mengerti." Air mata Faela kembali mengalir. "Kalau saya hanya memikirkan diri sendiri, saya pasti langsung
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Faela sudah berada di dapur sejak pukul lima. Tangannya sibuk mengiris bawang dan menyiapkan bahan sarapan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Semalaman dia hampir tidak memejamkan mata. Wajah ibunya. Suara omnya yang terdengar panik.Lalu ucapan Laura kemarin soal tawaran. "Aku akan memberimu sepuluh juta. Dua puluh juta. Bahkan tiga puluh juta kalau perlu."Faela mengembuskan napas panjang. Pisau yang dipegangnya nyaris mengenai ujung jari karena lamunannya. "Astaga ...."Dia buru-buru meletakkan pisau itu."Faela." Suara lembut membuatnya menoleh. Laura sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya terlihat pucat, seolah sama lelahnya karena tidak bisa tidur."Pagi, Nyonya.""Pagi."Suasana mendadak canggung. Tak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya.Laura memperhatikan mata Faela yang sembap. "Kamu menangis?"Faela buru-buru menggeleng. "Enggak, Nyonya."Laura tahu perempuan itu
Tok ...Tok ...Tok ...Suara ketukan pelan di pintu membuat Laura dan Faela sama-sama tersentak. Wajah Faela yang masih basah oleh air mata langsung memucat.Laura buru-buru mengusap sudut matanya. "Si-siapa?" tanyanya dengan suara berusaha tenang."Maaf, Nyonya." Suara itu terdengar dari balik pintu. "Saya Pak Darto."Pak Darto adalah kepala keamanan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah keluarga Bald.Laura mengembuskan napas lega. "Ada apa, Pak?""Tukang listrik datang. Katanya mau mengecek lampu taman yang semalam mati.""Iya. Silakan.""Baik, Nyonya." Langkah kaki itu kembali menjauh.Ruangan kembali sunyi. Namun, suasananya sudah berbeda. Faela memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuka pintu. "Nyonya ... saya izin keluar.""Tunggu."Faela menghentikan langkahnya.Laura tidak lagi mendekat. Dia hanya berdiri beberapa meter dari pembantunya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku minta maaf."Kalimat itu terdengar tulus.Faela menundukkan kepala. "Saya anggap ... saya tida
Sejak percakapan singkat di koridor malam itu, Laura tidak lagi bisa memandang Faela seperti biasanya. Setiap kali perempuan muda itu menyuguhkan teh, menyapu lantai, atau sekadar menanyakan menu makan siang, pikiran Laura justru dipenuhi pertanyaan yang sama."Bagaimana rasanya menjadi Faela?" Pertanyaan itu terdengar gila. Bahkan Laura sendiri membencinya.Dia memiliki semua yang diimpikan banyak perempuan. Rumah megah. Perhiasan mahal. Rekening yang tidak pernah kekurangan isi.Namun, setiap malam dia tidur dengan perasaan hampa.Sementara Faela ... Hidup sederhana. Tetapi sorot matanya selalu penuh kebahagiaan.Sore itu hujan turun cukup deras.Bald menelepon dari kantor. "Aku ada rapat dadakan. Mungkin pulang malam."Laura menjawab singkat. "Iya."Telepon ditutup. Rumah kembali sunyi.Faela sedang mengepel lantai ruang keluarga ketika Laura memanggilnya. "Faela."Perempuan itu segera menghentikan pekerjaannya. "Iya, Nyonya?""Temani saya minum teh."Faela tampak bingung. Biasanya







