INICIAR SESIÓNSuaminya meninggal dalam kecelakaan yang meninggalkan terlalu banyak tanda tanya. Sheza kehilangan rumah, rasa aman, dan kendali atas hidupnya. Atas desakan keadaan, ia tinggal di rumah seorang pria yang hanya berniat melindungi; sahabat suaminya. Dua kamar bersebelahan. Jarak tipis yang perlahan runtuh. Awalnya sekadar kebutuhan. Lalu keheningan yang terlalu lama, tatapan yang tak ditarik, hingga satu malam di kamar kedua mengubah segalanya. Di tengah duka dan misteri kematian suaminya, Sheza terikat pada hubungan yang tak pernah ia rencanakan; antara perlindungan, ketergantungan, dan perasaan yang tumbuh diam-diam. (Untuk visual novel dan kabar ter-update kunjungi Instaagraam @juskelapaofficial dan Faceeboook Anda Juskelapa)
Ver más“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …Sebenarnya, tidak ada pasangan yang bertengkar dengan niat mengakhiri pernikahannya.Hampir semua pertengkaran dimulai dari hal-hal yang terasa biasa. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau kalimat-kalimat yang terlontar karena emosi sesaat.Begitu pula yang terjadi pada Calvin dan Ratri.Perbedaan latar belakang yang begitu jauh membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk saling memahami. Cara mereka memandang hidup berbeda. Cara mereka menyelesaikan masalah pun sering kali tidak sejalan.Namun, semua itu masih terasa wajar.Setidaknya, begitulah yang selalu diyakini Ratri.Ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pertengkaran mereka pada suatu pagi akan menjadi percakapan terakhir sebelum Calvin menghilang dari hidupnya.Yang hingga kini masih terus menghantuinya adalah satu pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban.Apa sebenarnya yang sedang dipikul Calvin saat itu?Ratri tidak pernah benar-benar tahu.Ia hanya menyadari, beberapa hari sebelum menghilang, Calvin m
Mata Nayla langsung membulat. “Tapi...” Ia kembali menoleh ke arah perut Sheza. “Sagara masih kecil, kan?”Sheza mengangguk sambil tersenyum. “Iya.”“Terus kok udah punya adik lagi?” Pertanyaan polos itu membuat Sheza terkekeh.“Kenapa memangnya?”“Soalnya adiknya temen-temen aku nggak secepat itu.” Nayla mulai menghitung dengan jari-jarinya. “Temenku yang adiknya masih bayi ... ya cuma satu-satu gitu. Nggak ada yang punya adik bayinya dua.”Sheza baru saja hendak menjawab ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu yang tersambung dengan garasi.Pria itu masuk sambil membuka kancing kemeja di lengannya. “Lagi ngomongin apa?”Nayla langsung menoleh. “Papa ... kenapa Sagara masih kecil tapi udah punya adik?”Satria tersenyum. “Karena adiknya Nayla memang masih sedikit.”Nayla mengernyit. “Sedikit?”“Iya.” Satria duduk di ujung sofa—di dekat kaki Sheza. “Papa kan memang berencana punya anak lebih banyak.”Kali ini mata Nayla benar-benar melebar. “Banyak?”Satria mengangguk santa
Karena melihat Sheza masih terpaku menatap alat tes kehamilan dengan raut tak percaya, Satria mengambil alat tes yang satunya lagi.“Ayo,” ujarnya sambil tersenyum. “Sekali lagi. Biar aku juga puas lihat hasilnya.”Tanpa banyak bicara, ia menggandeng Sheza kembali mendekati kloset.“Aku happy, Zee,” ucapnya pelan, tetapi kali ini terdengar jauh lebih tulus.Ya, tentu saja Satria bahagia.Bukankah hampir setiap hari pria itu bercanda, atau bahkan dengan serius, mengatakan ingin memiliki banyak anak?Mendengar pengakuan itu, Sheza pun tak bisa memungkiri kebahagiaannya sendiri. Perempuan mana yang tidak ingin merasa dicintai dan diinginkan sedemikian besar oleh laki-laki yang menjadi suaminya?Hanya saja ….Di balik rasa bahagia itu, pikirannya masih dipenuhi kegelisahan.Studio yang baru saja ia bangun akhirnya menerima proyek pertamanya. Ia bahkan sudah mendapat tawaran menjadi model katalog pakaian ibu dan bayi untuk sebuah department store.Bukan proyek yang besar.Namun, bagi Sheza
Berikutnya … Sheza tak bertanya lagi. Desahnya sudah memenuhi ruang kerja yang terang benderang, dengan tubuh mereka yang terlindung di satu sisi dinding.Geraman rendah Satria mengiringi napas hangatnya yang menerpa leher Sheza.“Nggak lama lagi bakal ada dua bayi,” bisik Satria di telinga Sheza.Sheza hanya menghela napas kasar. Percintaan siang hari di ruang kerja membuat debar jantungnya menjadi dua kali lipat. Terutama saat pelan-pelan intensitas kenikmatan semakin meningkat. Suaranya jadi sulit disembunyikan dan gerakannya semakin kacau.Punggung Sheza yang tadi tegak, kini sudah bersandar ke bahu Satria. Dengan kedua tangan yang merangkul leher pria itu, tubuhnya sedikit menegang seiring dengan puncak kenikmatan yang menghantamnya.Pelukannya di leher Satria menjadi erat beberapa saat, lalu tubuhnya terkulai. Dagunya bertumpu di bahu Satria dengan mata terpejam.“Soal hamil ini … aku belum yakin. Soalnya aku belum ada ngerasain apa-apa.”“Nggak lama lagi bakal ngerasain. Soal i
Sheza semakin mendongak. Ia mengerang. Seluruh aliran darahnya seakan dipompa ke satu tempat. Kedua tangannya yang tadi menopang belakang tubuh, kini satunya terangkat untuk mengacak rambut Satria. Jemarinya menyusuri kepala pria itu. Menggaruk pelan.Satria masih menunduk di antara pahanya. Pria i
Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.
Sewaktu mereka tiba di rumah, malam sudah turun sepenuhnya. Lampu-lampu taman menyala temaram dan dari dapur tercium aroma masakan hangat yang langsung membuat rumah terasa hidup. Tuti sedang menyusun lauk di meja makan. Semuanya lauk pauk yang baru dimasak dengan asap masih mengepul. Sebelum mere
Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Calificaciones
reseñasMás