Masuk#Novel Romantis Dewasa 21+ Hanya satu minggu sebelum janji suci diucapkan, Adista malah memergoki tunangannya sedang bercumbu mesra dengan sekretaris pribadinya. Alih-alih meratap dan membatalkan pernikahan yang akan mempermalukan nama besar keluarganya, Adista memilih jalan yang lebih nekat, yaitu dengan mencari mempelai pengganti! Ia menemukan Fero, seorang pria asing yang sedang babak belur dihajar preman di sebuah gang gelap. Di mata Adista, Fero adalah solusi instan, pria yang menjadi suaminya selama satu tahun di atas kertas. Tapi, di saat Adista berada dalam titik terpojok, pria yang tak punya apa-apa itu malah muncul kembali dalam balutan jas mahal, diiringi para asisten dan pengawal yang memanggilnya dengan penuh hormat.
Lihat lebih banyakSeminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu.
"B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlambat laju mobilnya. "Astaga, itu pengeroyokan?" Di dalam gang, lima orang pria berbadan besar sedang membabi-buta memukuli seorang laki-laki yang terlihat sudah tergeletak tak berdaya. "Bu Adista, jangan bertindak macam-macam. Kita telepon polisi saja! Saya tidak mau ibu kenapa-kenapa." Hana cemas. Adista suka bertindak di luar dugaannya. Terkadang ide di kepalanya terlalu liar bagi Hana. "Kelamaan kalau nunggu polisi. Keburu mati orang itu. Aku harus menolongnya," ujar Adista. Sebelum Hana sempat mencegah, Adista sudah melepas sabuk pengaman, dan keluar dari mobil. "Bu Adista! Ingat, anda sekarang pakai rok span, ya Tuhan! Bu Adista! Bu, jangan!" jerit Hana histeris dari dalam mobil. Adista tidak peduli. Dia berjalan dengan langkah tegap memasuki gang. "Hei, kalian! Beraninya lima lawan satu? Memalukan! Maju sini lawan aku!" teriak Adista lantang. Kelima preman itu berbalik, menatap Adista dengan pandangan meremehkan. Salah satu dari mereka yang bertato ular di lehernya maju sambil terkekeh. "Wah, ada neng cantik mau minta diserang? Tidak usah sok jago, bagaimana kalau kita ke hotel saja untuk bersen—" Brak! Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, tendangan Adista mendarat telak di rahangnya. Pria itu langsung terjungkal dan pingsan di tempat. "Kurang ajar! Serang dia!" teriak preman yang lain. Empat orang sisanya maju bersamaan. Adista bergerak dengan lincah. Dia merobek sedikit belahan rok spannya agar pergerakannya lebih bebas. Dalam waktu kurang dari tiga menit, kelima preman itu sudah terkapar di tanah, mengaduh kesakitan. "Masih ada yang mau mengajakku ke hotel?" tanya Adista sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, napasnya bahkan tidak tersengal. Melihat lawan mereka bukan manusia biasa, para preman yang masih bisa bergerak langsung tertatih-tatih melarikan diri, meninggalkan bos mereka yang masih pingsan. Adista mengembuskan napas panjang, lalu buru-buru mendekati laki-laki yang menjadi korban. Dia berlutut di samping tubuh yang tak berdaya itu. "Hei, kamu bisa mendengarku?" Adista menepuk pipi laki-laki itu pelan. Laki-laki itu terbatuk pelan. Luka lebam di sekujur wajahnya. Meski dengan penampilan berantakan, Adista tahu pria ini cukup tampan. Badannya tegap dengan otot yang padat di balik kaos longgarnya, wajahnya memiliki garis rahang tegas. Saat merapikan rambutnya yang menutupi wajah, Adista merasa wajah laki-laki itu sangat familiar. "Bu Adista! Anda nggak apa-apa?! Ada yang luka?" Hana berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi. "Hana, bantu aku," kata Adista cepat, suaranya terdengar mendesak. "Kita bawa dia ke rumah sakit terdekat." Saat Adista hendak merangkul tubuh pria itu, tangan pria itu bergerak dan sontak mencengkram lengannya. "Jangan… rumah sakit." Adista mengernyitkan kening. "Lukamu parah begini, apa mau dibiarkan aja?" Pria itu tidak menjawab dan bernapas dengan berat, terlihat kesakitan. Tapi tangannya tidak melepaskan cengkramannya. Kelihatannya dia sangat tidak mau dibawa ke rumah sakit, entah apa alasannya. "Baiklah. Kita bawa saja ke rumahku." Hana melotot. "Apa? Ke rumah ibu? Bu Adista, kita bahkan nggak tahu dia siapa! Bagaimana kalau dia penjahat? Ibu jangan gegabah." "Nggak papa, bantu aku papah dia ke mobil. Hubungi juga Dokter Bram, suruh dia stand-by di rumahku." Hana menghela napas panjang, tahu bahwa jika Adista sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa membantahnya. "Baik, baik. Tapi bagaimana kalau pak Stevan tahu ibu membawa laki-laki asing ke rumah seminggu sebelum pernikahan? Dia akan salah paham, Bu." "Itu urusanku, Hana. Ikuti saja perintahku." Satu jam kemudian, suasana di kediaman mewah Adista sudah lebih tenang. Dokter Bram baru saja keluar dari kamar tamu setelah mengobati luka-luka laki-laki itu. "Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Adista yang menunggu di luar kamar bersama Hana. "Tidak ada luka dalam yang serius, Non Adista. Hanya memar di permukaan dan kelelahan ekstrem. Saya sudah membersihkan lukanya dan memberikannya infus nutrisi. Perawat juga sudah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Dia hanya butuh istirahat sampai besok pagi," jelas Dokter Bram ramah. "Terima kasih banyak, Dok." Setelah mengantar Dokter Bram keluar, Adista merasakan tubuhnya sendiri sangat lengket. "Hana, kamu bisa pulang sekarang. Terima kasih bantuannya hari ini. Aku mau mandi dulu." "Sama-sama, Bu. Ingat, jangan sampai lupa makan malam dengan pak Stevan. Dia pasti sudah menunggu ibu," ingat Hana sebelum berpamitan. Adista tersenyum dan mengangguk. Dia segera masuk ke kamarnya, melepaskan pakaian kerjanya yang sempat terkena debu jalanan, dan berdiri di bawah pancuran air hangat. Sebuah anggilan dari Stevan datang tepat di saat Adista selesai bersiap. "Halo, Sayang? Aku baru saja selesai bersiap—" "Adista sayang, maaf ya, " potong suara Stevan di seberang telepon. Suaranya terdengar agak terengah-engah dan berisik oleh latar belakang suara ketikan. "Malam ini sepertinya kita harus batal makan malam." Senyum Adista perlahan pudar. "Batal? Kenapa? Ada masalah?" "Iya, urusan pekerjaan di kantor benar-benar mendesak. Ada audit mendadak dari investor asing, dan aku harus lembur semalaman ini untuk merapikan laporan keuangan. Maaf banget ya, Sayang. Aku benar-benar merasa bersalah." Adista terdiam sejenak. Ada rasa tidak percaya, tetapi dengan cepat Adista menepis itu. "Oh, begitu ya... Ya sudah, tidak apa-apa, Stevan. Pekerjaan memang nomor satu. Jangan lupa makan malam ya, jangan sampai sakit," kata Adista lembut, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. "Makasih ya, Sayang, kamu memang yang paling pengertian. Aku tutup dulu ya, love you." Telepon diputus sepihak. Saat berjalan melewati meja konsol di dekat ruang tamu, mata Adista tidak sengaja melihat flashdisk milik Stevan. Adista menepuk jidatnya. "Astaga, ini kan flashdisk dokumen tender penting milik Stevan yang ketinggalan waktu dia mampir ke rumah kemarin malam." Adista melirik jam dinding. Masih jam delapan malam. "Daripada dia kelabakan mencari ini untuk lemburnya, lebih baik aku antarkan saja ke kantornya. Sekalian memberi kejutan kecil," gumam Adista bersemangat. Dia mengambil flashdisk tersebut dan langsung bergegas menuju mobilnya. Perjalanan menuju kantor Stevan memakan waktu sekitar dua puluh menit. Gedung kantor milik keluarga Stevan tampak sepi, hanya beberapa lampu lantai atas yang menyala, menandakan memang ada yang sedang lembur. Adista menyapa satpam penjaga di lobi yang sudah mengenalnya dengan baik, lalu naik menggunakan lift menuju lantai kerja Stevan. Adista berjalan berjinjit, berniat mengejutkan tunangannya. Dia bersiap memutar knop pintu. Tapi tiba-tiba tangannya seakan kaku. Dari celah pintu yang rupanya tidak tertutup rapat, terdengar suara seorang wanita yang mendesah keenakan. "Ah... Stevan, pelan-pelan... Bagaimana kalau tunanganmu yang sok suci itu tiba-tiba datang?" Adista berdiri terpaku, dan air matanya jatuh begitu saja tanpa komando.Kegiatan sarapan pagi akhirnya selesai. Fero bangkit berdiri, merapikan letak dasinya dan bersiap untuk mengambil tas kerjanya di atas meja dekat ruang tengah. Baru saja Adista hendak mengantarkan suaminya sampai ke pintu depan, Tante Rosa tiba-tiba memegang pergelangan tangan Adista dengan erat. Tubuh wanita tua itu mendadak lemas, kepalanya bersandar pada bahu Adista dengan napas yang sengaja dibuat berat."Adista... Tante mohon, hari ini kamu jangan ke kantor dulu, ya?" rintih Rosa memohon. "Tante benar-benar enggak sanggup sendirian di rumah besar ini. Pikiran Tante kacau banget, Sayang. Tante takut... Tante takut melakukan hal-hal nekat kalau ditinggal sendiri."Adista seketika panik melihat kondisi tantenya yang tampak sangat depresi. "Tante... Tante jangan bicara begitu. Tapi hari ini Fero harus ke kantor, dan aku berniat mendampinginya untuk memantau transisi kepemimpinan.""Kan ada Hana, Adista. Hana itu sekretaris yang cerdas, dia pasti bisa bantu Fero," potong Rosa cepat
Embun pagi masih menempel di dedaunan taman ketika sebuah ketukan keras di pintu depan merusak ketenangan rumah Adista. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Adista, yang baru saja turun ke lantai bawah dengan jubah tidur sutranya, mengernyitkan alis heran."Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini? " omelnya kesal. Begitu pintu jati besar itu dibuka, Adista seketika terpaku. Di hadapannya berdiri Tante Rosa, lengkap dengan kacamata hitam besar dan sebuah koper ukuran jumbo di samping kakinya. Sebelum Adista sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Rosa tiba-tiba maju dan langsung mendekap tubuh keponakannya itu dengan sangat erat. Isak tangis buatan terdengar dari balik pundak Adista."Adista... maafin Tante, Sayang! Tante menyesal sekali," ratap Rosa dengan suara bergetar yang terdengar begitu meyakinkan.Adista yang masih setengah mengantuk tertegun. Dia bingung harus bereaksi seperti apa. "T-Tante Rosa? Ada apa ini? Kenapa bawa koper besar begini?"Rosa melepaskan pelukannya
Aroma harum seduhan kopi menguar di area Gloria Coffeeshop. Hana berdiri di depan konter penyerahan menu, merapikan blazer kerjanya sembari menunggu pesanannya. Rambutnya yang biasa diikat rapi kini digerai bebas, memberikan kesan kasual yang jarang ia tunjukkan ketika berada di kantor."Satu Iced Americano atas nama Mbak Hana," panggil barista dari balik konter."Ah, iya. Terima kasih," ucap Hana, melangkah maju dan mengambil gelas plastiknya.Hana membalikkan tubuh, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Kedua alisnya bertaut. Sial, tempat ini benar-benar penuh. Tidak ada satu pun meja kosong yang tersisa. Satu-satunya tempat yang bisa ia tempati adalah sebuah meja kayu panjang di dekat jendela kaca besar yang hanya diisi oleh satu orang pria yang tampak sibuk menatap layar laptopnya.Hana menghela napas pasrah, lalu melangkah menuju meja tersebut. "Permisi... Boleh bergabung?"Pada saat yang bersamaan, pria di meja itu mendongak. Di sebelahnya, sebuah gelas Iced Americ
Jarum jam dinding di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Suasana rumah Adista terasa begitu tenang, hanya menyisakan suara sayup-sayup dari layar televisi yang masih menyala, menampilkan sebuah acara bincang-bincang malam.Adista melangkah perlahan dari arah dapur, kedua tangannya membawa seangkir kopi hitam hangat yang aromanya menguar menenangkan. Tapi langkah kakinya mendadak memelan begitu sepasang matanya menangkap pemandangan di atas sofa. Di sana, Fero masih mengenakan kemeja putih kerjanya yang kancing teratasnya sudah terbuka, duduk bersandar dengan kepala bersandar di sandaran sofa dan matanya terpejam rapat. Lelaki itu telah terlelap, tampak begitu kelelahan setelah seharian penuh memeras otak di kantor barunya.Sebuah senyuman manis nan tulus terukir di wajah cantik Adista. Dia berjalan sangat hati-hati, meletakkan cangkir kopi itu ke atas meja kaca agar tidak menimbulkan suara sekecil pun. Dengan gerakan yang amat anggun, Adista mengambil posisi duduk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.