LOGINSeperti apa jadinya jika menikah berlandaskan hutang budi? Demi membalas budi orang tuanya, Paskal Alvaro harus menikahi wanita biasa yang berasal dari panti asuhan. Paskal yang tak menerima pernikahan ini lantas menyiksa dan mengakui Larissa di depan semua orang sebagai pembantunya. Dengan sengaja, Paskal membawa wanita lain dalam rumah tangga mereka. Sampai akhirnya Paskal terjatuh. Ia baru sadar bahwa hanya ada Larissa yang menggenggam tangannya. Wanita yang diperlakukannya semena-mena namun mempersembahkan cinta suci yang luar biasa.
View MoreSebuah mobil hitam melaju kencang menembus malam yang begitu sunyi. Seperti sedang mengejar sesuatu, mobil ini tak perduli akan empat persimpangan yang ada di depannya. Mobil itu terus melaju tanpa mengurangi kecepatan. Sampai akhirnya..
Brak! Mobil hitam itu berguling-guling di jalanan raya yang sepi. Serpihan kaca berserakan memenuhi jalan. Seorang pengemudi terlihat tak sadarkan diri. Noda merah mengucur deras dari kepalanya. Sepasang kaki setengah berlari menghampiri mobil tersebut. Membantu pengemudi yang sudah terperangkap untuk keluar dari sana. Samar-samar pengemudi pria itu melihat orang yang telah menolongnya. Seorang wanita yang wajahnya tak jelas, berambut hitam kecoklatan dengan menggunakan jaket rajut rumahan. Wanita tersebut menarik pria itu untuk keluar dari mobil. Memposisikannya dengan aman karena takut jika akan memperparah cederanya. "Sebentar lagi ambulance akan datang.. bertahanlah.." pintanya lirih. Tergambar guratan cemas di wajah yang tak bisa pria ini lihat jelas. "Aa..kuu...." dan semuanya menjadi gelap. *** Plak! Suatu tamparan mendarat di wajah Paskal. "Anak kurang ajar! Apa begini hasil didikanku selama ini?" Sungguh tak percaya Demian dibuatnya. Anak perusahaan yang dibangunnya bersusah payah mengalami kebangkrutan akibat ulah anak semata wayangnya. Paskal menyeka noda merah yang keluar dari bibirnya. Sial! Kenapa perih sekali. "Perusahaan papa memang diambang kehancuran. Itu bukan sepenuhnya salahku." "Masih mau membela diri!" "Aku benar, pa!" Tangan ini hendak melayang lagi jikalau tak ada Imelda yang menahannya. "Sabar, pa.. apa dengan kamu terus memukulnya perusahaan itu akan bangkit kembali?" Imelda menggeleng. "Tidak, kan." "Dia ini anak kurang ajar, ma! Aku mengirimnya ke Amerika untuk menyelesaikan program doktornya dan sekaligus menjalankan perusahaan. Tapi, apa yang dia lakukan? Kerjaannya hanya ke club malam dan menghamburkan uang!" Desis Demian kesal. Imelda sebenarnya kesal. Tapi dia tak ingin menambah percikan api di kemarahan suaminya. "Apa sudah kalian marah-marahnya? Aku mau keluar." "Lihat, imel! Dia bahkan nggak merasa bersalah!" "Minta maaf, Paskal!" Imelda menatap tajam putranya. "Maaf." Paskal langsung keluar setelah mengucapkan kata maaf. Demian lalu terduduk sembari mengelus dadanya. Jika Paskal terus bersikap seperti ini, Demian yakin akan cepat menghadap Sang Pencipta. "Kita harus menghukumnya." "Ya, dia memang harus dihukum." Imel sepakat. "Ambilkan ponselku, aku harus menghubungi seseorang." Ucap Demian. Bak angin lalu, Paskal tak menganggap tak ada yang terjadi setelah kemarahan ayahnya tadi. Menggunakan mobil hitamnya, Paskal melaju menuju sebuah klub malam. Ah, sudah 8 tahun tidak menginjakkan kaki di negara asalnya. Dia jadi rindu setiap sudut kota yang menjadi tempat kenangannya. Sekitar 35 menit, Paskal tiba di sebuah club malam bernama Neptunus. Disana ia sudah ditunggu oleh teman lamanya. "Sudah lama nggak ketemu!" Adit memberi pelukan. "Apa kabarmu?" "Baik. Ayo, ku kenalkan dengan temanku yang lain." Adit lalu mengajak Paskal berkumpul dengan teman-temannya. Ada sekitar 5 orang disana. "Teman kantormu?" "Ya." Adit terkekeh. "Hai!" Sapa wanita bernama Elya. Paskal hanya membalas dengan mengangkat tangan. Teman-teman Adit saling melirik. Pria yang baru datang ini begitu dingin. Terkesan kejam dari rahangnya yang tegas. Apalagi tatapan mata itu, begitu tajam menusuk. Hari semakin larut, semua pengunjung membaur menjadi satu di lantai dansa. Kecuali Paskal yang hanya bisa melihat dari tempat duduknya saja. "Mau berdansa denganku?" Tawar Elya. Paskal melirik sampai senyuman Elya mengambang. Sinis sekali tatapan itu! Elya jadi tertekan. "Boleh." Paskal bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan. Elya menyambutnya dengan senang hati. Keduanya kemudian bergabung bersama pengunjung lain menikmati alunan musik bersama. Paskal menatap wanita ini. Cantik. Tapi standar. Tak istimewa. Tapi tubuhnya begitu menggoda. Tak tahan Paskal untuk tidak menyentuh punggung tegap yang begitu mulus itu. "Bermalam bersamaku?" Elya terkesiap. Pria yang disangka dingin dan kaku ini malah mengajaknya bermalam. "Hanya sampai pagi." Bisik Elya yang berhasil menggoda iman Paskal. Paskal tersenyum sembari menarik tangan gadis yang ada di hadapannya ini. Mereka lalu menuju sebuah kamar yang terletak di lantai tiga. Berhubung suasana hati Paskal sedang kesal, ia butuh pelampiasan. Pintu kamar terbuka. Paskal menutup dengan satu tendangan. Elya menyambut dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Paskal. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Jadi, kamu temannya Adit?" "Teman lamanya." "Ku dengar kamu baru kembali dari Amerika. Apa itu benar?" Elya mengusap rahang tegas itu. Paskal tak menjawab dan malah menarik tubuh Elya dalam dekapannya. Menyesap bibir mungil yang terus saja dari tadi bicara. Keduanya terbakar hasrat. Elya tersenyum menggoda, ia menuntun Paskal menuju tempat tidur sembari melepas pakaian atasnya. Begitu juga Paskal yang hanya memperhatikan. Sedari tadi, pria ini tak memiliki beragam ekspresi. Paskal menjatuhkan dirinya di atas tubuh wanita yang baru saja dikenalnya. Tatapan memelas seakan haus kasih sayang, tubuh yang menggeliat terbakar oleh hasrah. Oh, tidak. Paskal harus menyelesaikan semuanya. Bibir itu kembali bertautan dengan tangan yang sudah menjelajah kemana-mana. Apalagi Elya yang malah membisikkan nama Paskal di telinganya, membuat Paskal jadi tak sabar untuk mengarunginya. Dertt.. dertt.. Tautan diputus begitu saja oleh Paskal. Pria ini mendengkus sembari meraih ponselnya. "Ah, sial!" Umpatnya kesal.Selesai makan malam, Larissa juga yang harus membersihkan bekas makan mereka. Wanita itu membawa piring kotor ke tempat cuci dan mencuci semuanya.Tak lama terdengar suara riuh dari tangga, ternyata tiga sahabat tadi sedang bercengkrama sambil menuruni anak tangga. Mereka menuju pintu keluar tanpa mengucapkan satu katapun."Aku memang nggak seharusnya disini," Larissa menghela nafas. Jika punya pilihan, dia jelas tak mau berada disini. "Setelah ini, aku harus tidur."Tubuh Larissa lelah, entah apa lagi selanjutnya yang akan dilakukan mereka padanya. Dia harus istirahat sekarang.Selesai membersihkan semuanya, Larissa masuk kamar dan beristirahat di kamar yang kecil.Sementara Paskal, Gabriel dan Catline pergi menuju club malam yang memang terkenal di daerah ini."Sayang sekali istrimu nggak ikut!" Gabriel terkekeh. Dia sungguh penasaran dengan istri Paskal. "Apa dia seorang anak kolongmerat juga?"Paskal hanya berdeham. "Aku nggak mau membahas masalah pribadi.""Ups! Sorry!" Gabriel l
Sakit hati Larissa mendengarnya tapi bibir ini membisu untuk menjawab. Bagaimana tidak? Paskal malah memperkenalkannya sebagai pembantu bukan seorang istri."Alih-alih bawa istri kamu malah bawa pembantu," Catline tertawa geli."Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sudah lama nggak bertemu." Tawar Gabriel."Betul juga. Sudah lama kita nggak berbincang." Sahut Paskal."Kita ke restoran seafood disana saja." Ajak Catline.Kedua pria setuju dan berjalan bersama. Sementara Larissa bingung, dia harus ikut atau kembali ke hotel."Kamu mau disini atau ikut?" Tanya Catline pada Larissa. "Pas, asistenmu gimana?"Paskal menoleh dan menatap Larissa. "Ikut saja."Larissa lalu ikut ketiga orang yang tengah asik berbincang itu dari belakang. Ketika masuk ke restoran, Paskal memberi kode agar Larissa menunggu saja di luar.Larissa menghela nafas. "Kalau begitu, harusnya aku pulang saja." Dia lalu duduk di kursi yang tersedia diluar restoran."Asistenmu tadi nggak diajak makan bersama?" Catline
Larissa mengerjap berulang kali. Lengannya juga terasa nyeri akibat cengkramam kuat pria di hadapannya ini."Dasar bodoh!" Paskal menoyor kepala Larissa. "Kenapa kamu keluar dari kamar, hah?""Bukannya tadi kamu bilang aku harus tidur di kamar pelayan?" Larissa ketakutan."Bodoh!" Paskal menoyor lagi. "Dengar! Di depan orang tuaku, kita harus terlihat akur. Mengerti?"Larissa mulai menangis."Malah menangis! Aku tidak terbuai dengan air matamu itu gadis bodoh! Menyesal sekali aku menikah denganmu!" Paskal melepaskan cengkramannya kasar sampai Larissa mengadu kesakitan."Mas.." panggil Larissa."Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku nggak suka!" Bentak Paskal yang sekali lagi yang membuat Larissa ketakutan."Panggil aku Tuan. Jika didepan orang tuaku maka boleh memanggilku dengan sebutan kotormu itu!" Paskal memandang tajam."Ba-baik.""Satu lagi. Jangan pernah mengungkapkan sandiwara kita di depan orang tuaku atau siapapun. Jika kamu berani, maka panti asuhan tempatmu itu akan ti
Larissa terbangun dari mimpinya sambil terengah-engah. Peluh membasahi sekujur tubuhnya.Mimpi itu seolah jelas sekali.. mungkinkah itu sebuah pertanda?Ia terjatuh dari tangga dimana ada satu tiang yang menimpanya. Kenapa? Apa maksudnya? Besok adalah hari pernikahannya. Kenapa mimpi ini tiba-tiba datang. Apa mungkin ini sebuah pertanda agar Larissa mundur saja? Pernikahan ini mungkin tak bisa membawa kebahagiaan untuknya.Larissa mengusap wajahnya. Sepertinya, ia tak memiliki pilihan selain melanjutkan pernikahan ini. Jelas sekali keluarga Alvaro akan murka jika Larissa tiba-tiba membatalkan pernikahan sepihak.Malam berganti pagi, Larissa sudah diantar menuju gedung tempat ia akan melakukan janji suci pernikahan.Gaun satin putih sudah dipakai.. gaun yang memiliki ekor putih panjang terjuntai. Rambut ini juga dibiarkan tergerai. Rambut coklat kehitaman lurus melebihi dada. Rambutnya di tata ikatan setengah ke belakang. Tak lupa mahkota bunga kecil ditaruh di atas kepala.Untuk riasa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.