LOGINSetelah hidup dengan pemikiran "Ini yang terbaik untuk anakku", Carina berakhir dibunuh anaknya sendiri. Kemudian Carina diberikan kesempatan, dan mengulang waktu ke 5 bulan sebelum pembunuhan terjadi. Apakah Carina bisa berubah, dan menghentikan anaknya membunuh Carina?.
View MoreMeski baru pulang dari hotel, wajah Carina tampak pucat. Namun seperti biasa, wanita itu tetap berjalan tegak dengan ekspresi dingin yang nyaris tidak berubah.
"Devian." Langkahnya terhenti saat melihat putranya berdiri di tengah aula mansion. Ada sesuatu yang berbeda dari anak itu hari ini. Tidak ada lagi tatapan takut yang selama ini selalu Carina lihat setiap kali mereka berhadapan. "Apa ada yang ingin Anda ucapkan untuk terakhir kalinya?" Carina terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. "Jangan bicara seolah kau akan membunuhku." Sudut bibir Devian terangkat tipis. Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah pistol lalu memasukkan peluru ke dalamnya tepat di depan Carina. "Setelah melihat benda ini, apa Anda masih mengira aku tidak bisa membunuh Anda?" Namun Carina tidak bergeming sedikit pun. "Ck. Membosankan." DOR! Peluru pertama menembus bahunya. Darah langsung mengalir membasahi pakaian Carina, tetapi wanita itu tidak berusaha menghentikan pendarahan tersebut. Ia hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya. "Itu bukan meleset," ujar Devian sambil tersenyum miring. "Aku sengaja." Ada banyak hal yang ingin Carina katakan, tetapi semuanya terasa terlambat. Selama bertahun-tahun, Carina mengabaikan Devian. Saat anak itu patuh, ia tidak peduli. Saat nilainya turun atau gagal memenuhi harapannya, ia datang hanya untuk menghukum dan menyakiti. Mati dibunuh anak sendiri, terdengar seperti akhir yang pantas bagi sosok seperti Carina. Namun entah mengapa, ada perasaan ganjil yang memenuhi dadanya. "Tcih." Tatapan Devian berubah tidak sabar. DOR! Peluru kedua menembus jantung Carina. Tubuh wanita itu langsung roboh ke lantai. Para pelayan berlarian menghampiri dengan wajah panik, tetapi suara mereka terdengar semakin jauh. Pandangan Carina perlahan memburam. Di tengah kesadarannya yang memudar, Carina masih berusaha mencari sosok Devian untuk terakhir kalinya. Namun anak itu sudah pergi. Air mata mengalir dari sudut matanya. "M-maaf..." Itulah kata terakhir yang berhasil keluar sebelum semuanya berubah gelap. **** Saat membuka mata lagi, Carina tidak melihat langit, lantai, ataupun dinding. Di sekelilingnya hanya ada kegelapan tanpa ujung. Carina mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi tidak ada satu bagian pun yang merespons. Bahkan untuk berbicara pun ia tidak mampu. Kebingungan mulai menguasainya hingga sebuah layar putih tiba-tiba muncul di hadapannya. Tulisan merah perlahan terbentuk di atas layar tersebut. TAKDIR DEVIAN SETELAH KEMATIAN CARINA Layar mulai bergerak. Carina melihat Devian meninggalkan aula setelah membunuhnya. Anak itu berjalan kembali ke kamar dengan wajah datar seperti biasa. Namun begitu pintu kamar tertutup, tubuh Devian langsung jatuh terduduk di lantai. Lalu Devian menangis. Carina mengernyit. Bukankah dia yang membunuhku? Lalu mengapa dia menangis seperti itu? Hari demi hari berlalu di layar. Empat hari setelah kematian Carina, Devian menghampiri seorang pelayan dengan wajah kebingungan. "Mengapa Mommy belum pulang?" Jantung Carina langsung berdegup kencang. Pelayan itu menatap Devian seolah melihat orang asing. "Nyonya tidak akan pernah pulang, Tuan Muda. Bukankah Anda sendiri yang membunuh beliau?" Wajah Devian langsung pucat. "Hah?" Tatapan bingung dan terkejut itu terlihat begitu tulus hingga membuat Carina terdiam. Devian terus membantah, Ia bersikeras tidak pernah membunuh Carina. Bahkan ketika rekaman CCTV ditunjukkan kepadanya, Devian tetap mengatakan bahwa orang di video tersebut bukan dirinya. Tidak ada yang percaya. Semua orang melihat pembunuhan itu dengan mata kepala sendiri. Waktu kembali melompat. Tahun demi tahun berlalu. Devian mengurung dirinya di kamar dan menolak berhubungan dengan siapa pun. Ia hidup seperti bayangan yang perlahan kehilangan arah. Suatu hari, sebuah artikel menarik perhatiannya. Di sana tertulis bahwa dirinya akan menjadi penerus perusahaan Ayahnya. Carina langsung mengerutkan dahi. Itu mustahil. Devian bahkan tidak pernah meninggalkan kamarnya. Lalu bagaimana mungkin ia menjadi penerus perusahaan? Namun Devian tidak mencari jawaban. Ia hanya menatap artikel itu lamat. Kemudian mengambil tali. "Dasar bodoh!" Amarah Carina langsung meledak. "Mengapa kamu memilih bunuh diri! Mengapa kamu tidak menemui bajingan itu, dan mempertanyakan apa yang tengah terjadi!" "Kamu membunuhku!.. Mengapa.. Mengapa kamu tidak melakukan hal yang sama pada ayahmu?.." "Mengapa kamu bunuh diri.." Tanpa bisa Carina tahan, air matanya mengalir deras saat melihat Devian mengakhiri hidupnya sendiri. Tepat saat itulah sebuah suara terdengar dari sampingnya. "Apa kamu sudah menyesal?" Carina menoleh, dan untuk pertama kalinya ia melihat sosok lain di ruang gelap itu. Seseorang berjubah hitam berdiri beberapa langkah darinya. "Kamu baru saja melihat masa depan anakmu," ujar sosok itu tenang. "Menurutmu, siapa yang harus disalahkan?" Tanpa ragu, Carina menjawab dengan penuh amarah. "Bajingan itu!." Sosok itu tertawa keras, ia tau panggilan 'bajingan' merujuk pada Maxlian, ayah Devian. "Lucu sekali." Atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa berat. "Apa kamu sungguh berpikir dirimu tidak bersalah?" "Aku sudah melakukan yang terbaik." "Benarkah?" Carina mengepalkan tangan. "Semua ini terjadi karena Devian terlalu lemah dan Maxlian gagal menjadi seorang ayah." Keheningan memenuhi ruang gelap itu. Sosok berjubah tersebut hanya menatap Carina beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Kalau begitu, nikmati rekaman berikutnya." Tubuhnya perlahan menghilang ke dalam kegelapan. Di saat yang sama, layar di depan Carina kembali menyala dan menampilkan tulisan baru berwarna merah. TAKDIR LAIN DEVIAN."Mommy sedang berbicara. Tolong fokus." Pinta Carina yang berbicara, seolah Devian adalah karyawannya. Aura yang dikeluarkan Carina tak main-main, persis seperti bos yang dibuat pusing oleh karyawannya yang terus tak mengerti. Devian mengerjapkan matanya, membuat beberapa butiran bening jatuh di pipinya."M-maaf.." ucap Devian sambil menunduk takut. Jujur saja, sedari tadi Devian hanya fokus dengan diri sendiri. Devian memikirkan tentang kejadian kemarin, dimana Carina memeluknya. Namun, melihat tatapan Carina saat ini. "Mommy pasti ga suka kalau aku mikirin hal ga penting." Batin Devian. Perasaan bahagia yang tadinya menyeruak di hati Devian hilang begitu saja, digantikan rasa penyesalan. "Sepertinya berbasa-basi denganmu, hanya membuat kesalahpahaman diantara kita semakin besar." ucap Carina seraya menghela nafas berat. Devian yang tadinya akan menunduk, langsung menatap Carina. "Kesalahpahaman?" Tanya Devian ragu, sekaligus bingung. Carina mengangguk, ia menatap Devian. "Be
Seolah kemarin malam, mereka tak pernah berpelukan. Suasana sarapan pagi hari ini terasa mencekam. Tidak ada yang bersuara dari dua manusia yang tengah duduk di kursi makan. Mereka terus diam, ditemani dentingan sendok yang memecahkan keheningan. Hingga akhirnya, Salah satu dari Pelayan yang menunggu di Ruang makan mendekati Carina. "Coba Nyonya tanyakan, apa tidur Tuan Muda nyenyak atau tidak" bisik Ayu yang mencondongkan tubuhnya ke kuping Carina, sebelum akhirnya berdiri tegak lagi. Carina menatap tajam Ayu yang sudah berdiri dibelakangnya. "Untuk apa aku menanyakan hal tak berguna seperti itu?." desis Carina dengan suara pelan, tapi terdengar tajam. "Tentu saja, agar kalian berbincang." Jawab Ayu dengan senyum tipis, yang terlihat mengerikan. Alis Carina menukik sempurna. "Kamu tak lihat aku sedang makan?." Balas Carina yang tak ingin kalah dari Ayu. Ayu memutarbalikan bola matanya malas. "Apa anda juga tak melihat, bahwa sedari tadi Tuan Muda mencuri pandang pada an
"Mommy tanya sekali lagi, kamu mau kemana Devian."Nada suara yang penuh penekanan itu, sukses membuat air mata yang ditahan Devian lolos begitu saja. Namun, bukan kemarahan Carina yang membuat Devian menangis. Melainkan.. "M-mommy?" tanya Devian dengan lirih, ia membalikan tubuhnya agar bersitatap dengan Carina. Perasaan hangat menyeruak dihati Devian, ia menatap Carina dengan linglung sekaligus tak percaya. Apa Devian tak salah dengar?. Namun, kata 'Mommy' terasa jelas, dari pada saya, ataupun aku. "Apa sekarang mommy, sudah menganggap aku sebagai anaknya?" batin Devian, air mata nya mengalir deras membuat Carina mengerjapkan matanya. "Ada apa denganmu? Mengapa menangis?" tanya Carina dengan kerutan didahinya.Carina bukanlah wanita yang menyukai anak kecil, tapi ia juga tak membencinya. Dan sampai saat ini Carina masih bingung, cara menghadapi anak kecil. "M-mommyy" panggil Devian dengan sendu, dengan bibir yang melengkung ke bawah. "Kenapa?" tanya Carina yang terlihat bing
Entah apa yang terjadi pada Carina, tapi setelah Ayu membual bahwa Carina dan Devian bisa mengisi tanki cinta masing-masing, Carina malah langsung bergerak. Kali ini Carina pergi ke kamar Devian, dengan niat mengajak anak kecil itu makan bersama. Langkah Carina terhenti, ia menatap papan nama yang menempel disebuah pintu didepannya. Debaran jantung milik Carina terasa menyakitkan. Namun, Carina tetap memilih menggegam knop pintu. "Semasa aku remaja. Aku selalu ingin orangtua ku mengulurkan tangan terlebih dahulu.." Batin Carina sembari menatap sendu tangannya. "Mungkin Devian juga seperti itu." Ungkap Carina dengan suara kecil, ia menutup matanya dan mengatur nafas. "Aku bisa melakukan peran orang tua." Lanjut Carina dengan penuh keyakinan, ia akhirnya memutar knop pintu. Saat pintu terbuka sempurna, mata Carina langsung menangkap Devian yang juga menatap kearahnya. Dalam beberapa detik, Mereka bertatapan seolah mencoba mengerti satu pikiran masing-masing. Lalu tiba-ti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.