MasukHagia Nadi Chandrakanta sudah mengubur masa lalunya. Pernikahan yang gagal, luka yang tak sepenuhnya sembuh, dan satu-satunya alasan ia tetap berdiri adalah putranya, Ranu Adiwangsa. Namun hidupnya kembali berantakan saat Megantara Adiwangsa, mantan suaminya, tiba-tiba muncul sebagai atasan barunya. Di balik profesionalitas yang dipaksakan, mereka menyimpan rahasia yang tak boleh terungkap. Rahasia tentang mereka yang pernah saling memiliki… dan juga saling menghancurkan. Ketika jarak perlahan memudar dan rahasia mulai terbuka satu per satu, batas antara masa lalu dan masa kini jadi semakin kabur. Apakah ini kesempatan kedua yang tak terduga atau justru awal dari kesalahan yang sama?
Lihat lebih banyakPagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.
Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, sementara tangan kanannya merapikan botol minum kecil berwarna biru kesukaan Ranu. “Mbak, tolong Ranu jangan dibolehin jajan es nanti, ya. Semalam dia udah mulai batuk soalnya,” kata Hagia pada Mbak Asri yang berdiri di dekat pintu, sudah siap dengan tas kecil milik Ranu di bahunya. “Iya, Mbak Hagia. Nanti saya awasi anaknya.” Hagia mengangguk pelan, lalu melangkah menghampiri Ranu yang tengah duduk di kursi makan. Anak itu terlihat fokus menyuap nasi, pipinya sedikit mengembung setiap kali mengunyah. “Ranu,” panggilnya lembut. Anak itu menoleh, mata bulatnya menatap polos. “Iya, Ma?” “Dengar kata Mama, kan? Kalau sampai nanti Ranu batuk-batuk kayak semalam, bakalan Mama suruh tidur di sofa. Mau?” Ranu langsung menggeleng cepat. “Nggak mau.” “Jadi?” “Iya, Ma. Nggak jajan es. Maaf.” Nada suaranya lirih, membuat dada Hagia menghangat sekaligus sedikit perih. Ia mengusap rambut anak itu pelan. “Pinter.” Setelahnya, Ranu kembali menikmati sarapannya. Sesekali ia bercerita tentang temannya di sekolah, tentang mainan baru, tentang hal-hal kecil yang bagi anak seusianya terasa besar dan menyenangkan. Hagia mendengarkan sambil sesekali tersenyum, meski pikirannya diam-diam sudah berlari ke kantor, ke deadline, ke meeting, ke segala hal yang menunggunya di sana. Tak lama, mereka berangkat. Hagia mengantar Ranu sampai ke depan rumah, memastikan tasnya sudah lengkap, sepatu terpasang dengan benar, dan wajahnya bersih dari sisa nasi. Ranu menggenggam tangan Mbak Asri, tapi sebelum benar-benar pergi, anak itu menoleh. “Mama nanti jemput?” Hagia terdiam sepersekian detik. “Kalau Mama nggak lembur, Mama jemput. Kalau nggak, Mbak Asri yang jemput, ya.” Ranu mengangguk, meski terlihat sedikit kecewa. “Iya, Ma.” Hagia membungkuk, mencium keningnya. “Hati-hati di sekolah.” “Bye, Mama!” “Bye, sayang.” Ia berdiri di sana sampai punggung kecil itu benar-benar menghilang di ujung jalan. Baru setelah itu ia menarik napas panjang, seolah baru mengizinkan dirinya kembali menjadi seseorang selain ibu, seorang karyawan, seorang arsitek, seseorang yang harus kuat dengan caranya sendiri. Perjalanan ke kantor pagi itu tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jalanan Jakarta sudah padat meski matahari belum terlalu tinggi. Klakson bersahutan, motor menyelip di antara mobil, dan Hagia hanya bisa menggenggam setir dengan sabar. Pikirannya melompat-lompat. Tentang Ranu. Tentang pekerjaan. Tentang tagihan yang harus dibayar minggu ini. Dan entah kenapa tentang masa lalu yang selalu ia coba simpan rapat-rapat. Ia menggeleng pelan, seolah menolak pikirannya sendiri. Tidak pagi ini. Gedung Rupa Rancang Nusantara berdiri megah seperti biasa dengan kaca tinggi yang memantulkan langit Jakarta yang sedikit berawan. Hagia melangkah masuk dengan langkah cepat, menyapa beberapa rekan kerja yang ia lewati. “Pagi, Hagia.” “Pagi.” Namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Ada bisik-bisik kecil di sudut ruangan. Beberapa orang berkumpul lebih dekat dari biasanya. Nada suara mereka lebih pelan, tapi penuh antusias. Hagia mengernyit. “Ada apa?” tanyanya pada Sinta, rekan satu timnya, yang tampak tidak bisa menyembunyikan ekspresi penasaran. “Lo belum dengar kabar, Gi?” Sinta mendekat, suaranya diturunkan. “Hari ini atasan baru kita datang.” Hagia mengangkat alis. “Secepat itu? Bukannya minggu depan?” “Katanya dimajuin. Dan…” Sinta berhenti sejenak, matanya berbinar, “orangnya katanya gila sih track record-nya. Dari luar negeri, pernah pegang proyek besar.” Hagia mengangguk pelan, mencoba terlihat biasa saja. “Ya bagus, berarti kita bakal belajar banyak.” “Katanya juga… orangnya tegas banget. Dan termasuk salah satu pemegang saham kantor kita,” katanya lagi. “Semua atasan juga gitu, Sin.” “Iya sih, tapi ini beda katanya.” Hagia hanya tersenyum tipis. Ia tidak terlalu tertarik pada gosip kantor. Selama pekerjaannya jelas dan tidak mengganggu waktunya dengan Ranu, itu sudah cukup. Ia meletakkan tasnya di meja, menyalakan laptop, mencoba fokus pada pekerjaannya. Namun suasana kantor yang sedikit lebih tegang dari biasanya membuatnya sulit benar-benar tenggelam. Beberapa menit kemudian, suara dari arah ruang rapat terdengar. “Semua tim, tolong berkumpul sebentar.” Itu suara Kafka Birawa, project manager di Rupa Rancang Nusantara. Sinta langsung berdiri. “Ayo, ayo. Ini pasti dia.” Hagia menghela napas pelan, lalu ikut berdiri. Langkahnya tenang, tapi entah kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Mereka berkumpul di ruang utama. Beberapa orang berdiri, beberapa lainnya duduk. Semua menatap ke arah pintu, menunggu. Dan kemudian pintu itu terbuka. Seseorang lelaki melangkah masuk. Postur tubuhnya terlihat tinggi, tegap. Jas yang membungkus tubuhnya terlihat rapi. Auranya terlihat… tidak asing. Hagia menoleh ke arah pintu, detik itu juga dunia Hagia seperti berhenti. Namanya belum disebut, tapi hatinya sudah lebih dulu tahu. Lelaki itu melangkah masuk dengan tenang, matanya menyapu ruangan dengan profesional. Dan ketika pandangan itu sampai pada Hagia semuanya runtuh dalam diam. “Perkenalkan…” Suara Kafka memecah keheningan, “ini adalah Head Architect baru kita… Bapak Megantara Adiwangsa. Beliau juga adalah salah satu pemegang saham terbesar di Rupa Rancang Nusantara.” Nama itu menggema. Hagia tidak bergerak, napasnya tercekat. Ia sama sekali tidak bereaksi. Pandangannya hanya menatap Megantara Adiwangsa yang tak lain adalah mantan suaminya. Lelaki yang pernah menjadi rumah… sekaligus alasan ia harus belajar hidup sendiri. Dan sekarang, lelaki itu berdiri di depan semua orang sebagai atasannya. Tatapan mereka bertemu. Singkat. Tajam. Sarat akan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Namun hanya dalam satu detik, Megantara menarik kembali semua emosinya. Wajahnya kembali datar, profesional, seolah tidak ada sejarah apa pun di antara mereka. “Selamat pagi,” ucapnya tenang. “Perkenalkan saya… Megantara Adiwangsa, head architect baru di sini. Semoga dengan kehadiran saya di sini bisa berkontribusi positif untuk Rupa Rancang Nusantara. Setelah perkenalan singkat itu, suasana kantor perlahan kembali seperti semula. Kursi-kursi yang tadi terisi penuh mulai kosong, langkah kaki berderap kembali ke arah meja masing-masing, dan suara keyboard yang saling bersahutan kembali mendominasi ruangan. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah kemunculan Megantara Adiwangsa bukan sesuatu yang cukup besar untuk menggeser keseimbangan seseorang. Tapi bagi Hagia jelas tidak sesederhana itu. Perempuan itu duduk di kursinya, menatap layar laptop yang menyala tanpa benar-benar melihat isinya. Kursor berkedip pelan di sudut dokumen, seperti menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang. Pikirannya berisik. Bukan karena marah. Bukan juga karena kaget semata. Lebih ke… bingung. Hubungannya dengan Megantara baik-baik saja. Tidak canggung, tidak bermusuhan. Mereka bahkan masih sering bertemu demi Ranu—mengantar, menjemput, sesekali makan bersama. Tidak ada pertengkaran, tidak ada jarak yang dibuat-buat. Tapi ini hal besar dan Megantara tidak mengatakan apa-apa pada Hagia. Hagia menghela napas pelan, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Jemarinya bergerak cepat, nyaris tanpa berpikir. — [Hagia Nadi Chandrakanta] Mas, kamu ngapain, sih? Kamu bercanda, kan? Sumpah, nggak lucu. — Masih tidak ada tanda-tanda pesan dibaca. Hagia menggigit bibir bawahnya pelan. — [Hagia Nadi Chandrakanta] Kamu sekarang jadi head architect di sini? Mas? Kenapa kamu nggak bilang apa-apa sama aku? — Ia menatap layar ponselnya, menunggu. Satu menit. Dua menit. Tiga menit dan tidak ada balasan. Hagia menjatuhkan ponselnya pelan ke meja. Pandangannya kosong beberapa saat, sebelum akhirnya ia menyandarkan punggung ke kursi. Megantara bukan tipe orang yang menghindar. Kalau memang ada sesuatu, biasanya lelaki itu akan menjelaskan dengan singkat, jelas, tanpa bertele-tele. Lalu kenapa sekarang diam? Apakah lelaki itu sedang sibuk? Atau… memang sengaja tidak membalas? “Gi?” Suara Sinta kembali menarik lamunannya. Hagia menoleh, sedikit terlambat. “Hm?” “Lo kenapa, sih? Sikap lo pagi ini aneh banget tahu, nggak.” Hagia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, kok.” “Jangan bilang lo kepikiran sama Pak Megan, ya?” “Dih, ngapain? Walaupun ya…, sempat kaget, sih. Mungkin kita perlu adaptasi aja nggak, sih.” Sinta terkekeh kecil, lalu kembali ke mejanya. “Belum lewat sehari kali, Gi. Udah ah, nggak usah mikir yang nggak-nggak!” Hagia hanya mengangguk tipis. Matanya tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja di ujung ruangan. Dinding kaca dengan tirai yang setengah tertutup memperlihatkan siluet seseorang di dalamnya. Hagia mengalihkan pandangan cepat. Dadanya terasa sedikit tidak nyaman oleh perasaan yang terasa sulit untuk dijabarkannya. Hagia menghela napas panjang. Berusaha untuk memfokuskan diri pada pekerjaannya. Bersamaan dengan ponsel di atas meja bergetar pelan. Hagia refleks meraihnya. Harapannya naik sepersekian detik, lalu turun lagi. Bukan balasan dari Megantara. Hanya notifikasi email. Ia menghela napas pelan, menahan rasa kesal yang sebenarnya tidak terlalu ia pahami arahnya ke mana. Baru saja ia hendak meletakkan kembali ponselnya, layar itu kembali menyala. Kali ini nama itu muncul. ‘Papanya Ranu’ Hagia langsung membuka pesan itu. Singkat, seperti biasanya. — [Papanya Ranu] Ke ruangan saya sekarang. — Hagia menatap kalimat itu cukup lama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada sapaan. Tidak ada balasan dari semua pertanyaannya tadi. ***“Jadi... sekarang udah nggak denial lagi, nih?”Carmen yang tengah menikmati semangkuk ramennya mengangkat sebelah alis. Senyum jahil langsung terbit di wajah perempuan itu.“Bukan lagi yang kemarin-kemarin nolak mentah-mentah, terus bilang mau fokus sama hidup sendiri. Eh, faktanya masih cinta mati.”Hagia mendecak pelan. Terlihat enggan sekali menanggapi ledekan Carmen. “Nggak usah lebay deh, Men.”“Lho, siapa juga yang lebay, sih? Kan gue cuma mau konfirmasi, doang.”Sementara Hagia memilih kembali menyeruput kuah ramen di hadapannya. “Lo tuh hobi banget ya datang tiba-tiba begini?” gerutu Hagia. “Nggak ada kerjaan apa gimana?”“Lho, suka-suka gue dong.” Carmen menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kan gue bosnya.”“Bos apanya. Lo cuma manfaatin jabatan buat ganggu hidup orang.”“Benar sekali.” Carmen menjentikkan jarinya, kemudian terkekeh. “Emang mau ganggu siapa lagi kalau bukan lo?”Sore ini Carmen memang tiba-tiba muncul di kantor dan menyeretnya keluar untuk menikmati ramen di
“Kamu bahkan nggak punya hak mengusik ketenangan hidup anak saya lagi, Megantara Adhiwangsa. Setelah apa yang dia lalui sendirian... sampai mati pun, saya nggak akan pernah mengizinkan kamu kembali ke hidup anak saya lagi. Jadi jangan buang-buang waktu kamu di sini.”Auriga berbalik. Lelaki itu sudah berniat mengakhiri percakapan itu dan pergi meninggalkan Megantara.Namun suara lelaki itu kembali terdengar dari belakang hingga membuat Auriga menghentikan langkahnya.“Kami saling mencintai, Pa.”Auriga mengepalkan kedua tangannya erat. Sementara Megantara melanjutkan kalimatnya. “Saya tahu selama ini saya telah melakukan kesalahan. Saya tahu saya nggak seharusnya pergi ninggalin Nadi begitu saja. Saya tahu saya gagal sebagai suami. Tapi saya kembali ke sini untuk menebus semua kesalahan itu.”Megantara menatap punggung Auriga yang masih membeku. Namun lelaki itu masih belum berniat untuk membalikkan badan. “Perasaan kami masih utuh. Setelah semua yang terjadi, kami masih memilih satu
“Mas Megan? Mas, kok ke sini? Ada apa?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Raga—adik Hagia. Megantara yang baru saja menginjakkan kaki di lobi gedung kantor milik keluarga Chandrakanta lantas menghentikan langkah, kemudian menoleh. Sudah lama sekali ia tidak datang ke tempat ini. Bahkan terakhir kali, kedatangannya justru berakhir dengan ketegangan yang tidak menyenangkan.“Apa kabar, Ga?” tanya Megantara. “Baik, Mas.” Raga menyalami Megantara. “Mas Megan bukannya di Singapura?”“Aku udah sebulanan lebih di Jakarta.”Megantara mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa karyawan masih terlihat lalu-lalang di area lobi, sementara resepsionis di meja depan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.“Papa kamu ada?”Namun alih-alih langsung menjawab, Raga justru mengernyit. Tatapannya menelusuri wajah Megantara yang siang itu terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.“Mas Megan mau nemuin Papa?” tanyanya hati-hati. “Ada masalah apa? Apa ini ada hubungannya sama Mbak H
“Selama aku tinggal, Ranu nggak rewel kan, Mbak? Tadinya saya sempat kepikiran kalau anaknya malah ngerepotin.”“Nggak kok, Mbak.” Mbak Asri menggeleng sambil tersenyum. “Ranu anaknya nurut banget. Dia tahu kalau Mamanya kerja, jadi dia nggak pernah rewel.”Hagia mengulas senyum tipis.Pandangannya tertuju pada Ranu yang sedang berlarian di taman apartemen bersama beberapa anak seusianya. Sesekali terdengar tawa riang bocah itu ketika berhasil mengejar temannya.“Syukurlah.”Jujur saja, selama dirawat kemarin, salah satu hal yang paling mengganggu pikirannya adalah Ranu. Ia khawatir putranya rewel atau bahkan membuat Mbak Asri kerepotan.Namun melihat Ranu yang tampak baik-baik saja saat ini, beban di dadanya sedikit berkurang.“Mbak Hagia sendiri gimana?” tanya Asri kemudian. “Wajahnya masih pucat sekali. Ada luka serius?”“Nggak ada kok, Mbak.” Hagia menggeleng pelan. “Cuma beberapa memar sama benturan. Dokter bilang harus banyak istirahat aja.”“Alhamdulillah.” Asri memperhatikan p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak