INICIAR SESIÓNMegantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.
Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang. Baru beberapa jam yang lalu dan rasanya sudah seperti seharian penuh. Pintu ruangan itu tertutup, tapi tidak benar-benar memberi ketenangan. Suara samar aktivitas di luar masih terdengar, seperti suara langkah kaki, percakapan singkat, dan sesekali tawa kecil. Namun di dalam ruangan ini, suasananya berbeda. Lebih… personal. Kafka berdiri tidak jauh dari meja, menyandarkan tubuhnya santai dengan tangan bersedekap. Tatapannya tertuju pada Megantara, seolah sejak tadi sudah menahan sesuatu untuk dikatakan. “Lo yakin mau melanjutkan semua ini, Gan?” Megantara tidak langsung menjawab. Ia membuka kancing jasnya, lalu sedikit merapikan posisi duduk. Kafka menghela napas pendek, lalu melanjutkan, nada suaranya setengah serius, setengah tidak percaya. “Sumpah, lo nekat banget, sih. Lo ninggalin perusahaan segede itu… cuma demi perusahaan sekecil ini.” Kata sekecil itu menggantung sebentar di udara. Bukan merendahkan lebih ke… mempertanyakan. Megantara mengangkat wajah. Tatapannya langsung mengunci pada Kafka. Tenang, tapi tegas. Ia tahu persis arah pembicaraan ini akan ke mana. Dan ia juga tahu Kafka tidak akan berhenti sebelum mendapat jawaban jujur. “Gue nggak punya pilihan, Ka,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya rendah, tapi tidak goyah. Kafka mengernyit. “Nggak punya pilihan? Sejak kapan lo jadi orang yang kepepet, Gan?” Megantara tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. “Sejak ada Ranu.” Nama itu membuat Kafka terdiam sepersekian detik. Megantara melanjutkan, kali ini lebih pelan. “Gue nggak bisa ninggalin Hagia sendirian ngurusin Ranu.” Kafka menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah menimbang kata-kata itu. Lalu, sudut bibirnya terangkat, senyum miring yang khas. “Halah,” ia mendecih ringan, “bilang aja kalau masih cinta sama mantan.” Megantara tidak langsung membantah. Dan itu… sudah jadi jawaban. Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Lalu lintas di bawah sana tampak kecil dari ketinggian, kendaraan bergerak seperti aliran yang tidak pernah benar-benar berhenti. “Perasaan itu nggak pernah benar-benar hilang, Ka,” katanya akhirnya, pelan. “Cuma… bentuknya yang berubah.” Megantara menarik napas, lalu kembali menatap temannya. “Sekarang bukan soal gue sama dia lagi.” “Terus?” “Ada Ranu, yang menjadi tanggung jawab kami berdua.” Jawaban itu sederhana. Tapi cukup untuk menjelaskan banyak hal. Kafka mengangguk pelan, meski ekspresinya masih belum sepenuhnya puas. “Oke. Gue ngerti soal anak. Tapi tetep aja, Gan… lo bisa bantu tanpa harus pindah ke sini. Lo punya resources, punya posisi—” “Dan jarak,” potong Megantara. Nada suaranya masih tenang, tapi kali ini lebih tegas. Kafka diam. “Lo tahu sendiri kerjaan gue dulu kayak apa,” lanjut Megantara. “Meeting luar negeri, proyek berbulan-bulan, pulang nggak tentu. Gue bahkan sering nggak ada waktu buat sekadar nelepon.” Ia berhenti sejenak, rahangnya sedikit mengeras. “Dan gue udah pernah gagal di situ.” Kafka menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke dinding. “Oke,” gumamnya. “Jadi ini… cara lo buat benerin semuanya?” Megantara menggeleng pelan. “Bukan buat benerin.” “Terus?” “Buat nggak ngulang kesalahan yang sama.” Sunyi kembali mengisi ruangan. Kafka menatap Megantara lebih lama, kali ini tanpa candaan. Ada sesuatu di wajahnya, semacam pengertian yang akhirnya sampai. Namun tentu saja, itu tidak menghentikannya untuk kembali menyenggol. “Jadi…” Kafka mengangkat bahu ringan, “kalian mau… backstreet?” Megantara menoleh, menatapnya datar. “Itu lebih baik.” Kafka terkekeh kecil. “Serius lo?” Megantara mengangguk sekali. “Gue nggak mau orang-orang mikir yang nggak-nggak tentang Hagia.” Nama itu disebut dengan hati-hati. Seperti sesuatu yang dijaga. “Dan juga,” lanjutnya, “Hagia pasti nggak akan setuju kalau orang-orang tahu soal hubungan kami.” Kafka menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Oke.” Satu kata. Tapi cukup sebagai tanda bahwa ia mengerti atau setidaknya, memilih untuk tidak memperdebatkan lagi. Namun beberapa detik kemudian, Kafka kembali bicara, kali ini lebih pelan. “Lo udah bilang ke dia?” Megantara terdiam. Pertanyaan sederhana itu… justru yang paling sulit dijawab. Ia mengalihkan pandangan, menatap meja di depannya. Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan kayu, ritme kecil yang tidak ia sadari. “Belum,” jawabnya akhirnya. Kafka mengangkat alis. “Serius?” Megantara mengangguk. “Gue rencananya mau ngomong langsung. Walaupun, ya… dia pasti ngamuk setelah ini.” “Jelaslah, Monyet.” Kafka menghela napas, setengah tertawa. “Lo malah muncul tiba-tiba sebagai bosnya. Siapa coba yang nggak ngamuk?” Megantara menutup mata sejenak, lalu membuka lagi. “Makanya. Palingan bentar lagi ngamuknya. Gue udah hafal banget gimana dia.” Kafka menggeleng, tidak habis pikir. “Gila sih lo.” Megantara tidak membalas. Hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih banyak mengandung lelah daripada lucu. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap kosong ke depan. “Well, malah gitu lo lanjutin, deh. Berkas-berkas proyek yang lagi kita handle udah ada di meja lo semuanya. Termasuk orang-orang yang bertanggung jawab di situ. Lo bisa pelajari dulu.” “Oke, Ka. Thanks.” Pintu ruangan itu sudah tertutup dan kini hanya menyisakan Megantara seorang diri dengan pikirannya. Untuk sesaat, Megantara hanya duduk diam, menatap berkas di atas mejanya tanpa benar-benar berniat membukanya. Ujung jarinya menyentuh permukaan kertas itu, tapi tidak bergerak lebih jauh. Ia menghembuskan napas pelan. Tepat saat ia hendak membuka berkas tersebut, layar ponselnya menyala. Nama itu muncul. ‘Mamanya Ranu’ Refleks, Megantara langsung meraih ponselnya. Tatapannya turun, membaca deretan pesan yang masuk. _ [Mamanya Ranu] “Mas, kamu ngapain, sih?” “Kamu bercanda, kan?” “Sumpah, nggak lucu.” “Kamu sekarang jadi head architect di sini?” “Mas?” “Kenapa kamu nggak bilang apa-apa sama aku?” _ Sudut bibir Megantara perlahan tertarik ke atas. Bukan karena lucu. Lebih ke… familiar. Nada itu—campuran kesal dan bingung—tidak pernah benar-benar berubah sejak dulu. Ia bahkan bisa membayangkan ekspresi Hagia saat mengetik semua itu. Alis sedikit berkerut, bibir mengerucut tipis, mata fokus ke layar tapi pikirannya ke mana-mana. Megantara menggeleng kecil. Tanpa berpikir lama, ia mengetik balasan. _ [Megantara Adiwangsa] Ke ruangan saya sekarang _ Pesan itu terkirim. Belum sampai satu menit, layar kembali menyala. Kemudian Megantara membuka pesan masuk itu. _ [Mamanya Ranu] Telepon aku sekarang. Suruh aku bawa berkas kerjaan. Aku ke ruangan kamu sekarang juga! Kali ini, senyumnya sedikit lebih jelas. Masih sama. Selalu langsung ke inti. Megantara menggeser ibu jarinya, menekan line telepon untuk memanggil. Nada sambung terdengar sekali dan lalu langsung terangkat. “Halo? Dengan Hagia ada yang bisa dibantu?” Suara itu terdengar di telinganya, membuat sudut bibir Megantara terangkat, melengkungkan sebuah senyuman. Lelaki itu bersandar di kursinya, nada suaranya otomatis berubah lebih rendah, lebih tenang. “Halo, Mas!” “Iya.” “Kenapa kamu baru balas, sih?” Ada nada protes di sana, tapi tidak tajam. Lebih ke… kebiasaan. “Lagi ngobrol sama Kafka tadi,” jawab Megantara singkat. Hagia terdiam sepersekian detik, lalu menghela napas. “Kebiasaan banget!” Megantara melirik sekilas ke arah pintu ruangannya, memastikan tidak ada yang mendekat. “Bawakan berkas proyek Cilandak ke sini.” “Iya.” Ada jeda singkat di ujung sana. “… serius mau bahas kerjaan sekalian ini?” tanya Hagia, nadanya berubah sedikit lebih pelan. Megantara tersenyum tipis, meski Hagia tidak bisa melihatnya. “Biar kelihatan profesional.” Hening sebentar. Lalu, “Kamu tuh ya…” gumam Hagia pelan, nyaris seperti menggerutu, tapi ada nada yang… lebih ringan dari sebelumnya. Megantara bisa membayangkan ia sedang menggelengkan kepala. “Ya udah. Aku ke sana sekarang.” “Hmm.” Panggilan itu terputus. Megantara menurunkan gagang teleponnya perlahan, kemudian menggeser duduknya agar mengarah ke jendela. Beberapa detik, ia hanya diam. Lalu ia berdiri, merapikan sedikit posisi berkas di mejanya—meski sebenarnya tidak ada yang perlu dirapikan. Langkah kaki di luar terdengar samar. Dan entah kenapa, detak jantungnya sedikit berubah ritme. Bukan gugup. Bukan juga canggung. Lebih ke… sadar. Bahwa pertemuan ini—meskipun dibungkus alasan pekerjaan—tidak akan pernah benar-benar sesederhana itu. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan di pintu. Megantara menolehkan wajah. “Masuk.” Pintu terbuka. Dan di sana Hagia berdiri, dengan map berkas di tangannya, ekspresi yang berusaha tenang tapi matanya jelas menyimpan banyak pertanyaan. Sama seperti dulu. Dan seperti yang Megantara tahu percakapan ini tidak akan berhenti hanya di urusan kerja. ***“Kamu yakin bakalan baik-baik saja?” tanya Megantara.Lelaki itu menoleh ke samping. Raut wajahnya terlihat khawatir. “Aku cuma bentar, sih. Cuma kalau—”“Aku baik-baik saja, Mas,” sela Hagia dengan cepat. “Aku udah nggak ngerasa mual kayak pagi tadi, kok. Sekarang udah mendingan.”Megantara masih terlihat ragu. Tatapannya menelusuri wajah Hagia seolah memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja.“Telepon aku kalau kamu kenapa-napa. Oke?”Hagia tersenyum. “Iya.”Setelahnya, Hagia mendekat, mengecup bibir Megantara lembut. Kemudian ia beranjak turun.Mobil Megantara perlahan meninggalkan area depan sekolah, sementara Hagia masih berdiri beberapa saat di tempatnya, memperhatikan mobil itu sampai menghilang di balik gerbang.Terhitung sudah sebulan ini Hagia berhenti bekerja. Dan sedikit banyaknya, ia bersyukur karena sekarang bisa lebih fokus dengan Ranu.Tidak lagi terburu-buru mengejar waktu pulang kantor, tidak lagi harus membagi perhatian antara pekerjaan dan putranya. Meski
“Jadi pengangguran kayaknya bikin Lo happy, ya?”Suara celetukan Kafka membuat Megantara yang baru saja datang langsung terkekeh. Lelaki itu menarik kursi kosong di samping Kafka, kemudian duduk dengan santai.“Kayaknya gue mesti nyoba jadi pengangguran juga, deh,” sahut Kafka lagi.“Yang ada lo pusing, Ka.” Megantara mendecak pelan. Tak lama kemudian, seorang barista datang menghampiri. Megantara langsung memesan secangkir kopi sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Kafka.“Udah sempat jenguk nyokap lo?” tanya Kafka sembari menyesap kopinya.Megantara terdiam sejenak. “Mm.” Ia menarik napas pendek. “Beberapa hari yang lalu gue ke sana.”“Terus?”“Ya...” Megantara bersandar pada kursinya. “Mau separah apa sakitnya, dia masih saja terlihat arogan.”Kafka terkekeh. “Nyokap lo sakit, Gan. At least lo udah jenguk dia, sih. Nggak ada huru-hara diantara kalian, kan?”Megantara menoleh. “Huru-hara apa, sih?”Kafka mengangkat kedua tangannya. “Ya mana tahu ada kejadian apa gitu, kan? G
“Kalau menurut jadwal terakhir Bu Hagia menstruasi, usia kandungan Ibu saat ini sekitar tujuh Minggu,” ujar Dokter Inggit. Hagia menggigit bibirnya bagian dalam.Tujuh minggu. Entah kenapa, mendengar angka itu membuat dadanya terasa sesak oleh haru.Dokter Inggit kembali menggerakkan transduser di atas perut Hagia. Tatapannya sesekali beralih pada layar monitor di sampingnya.“Perkembangan janinnya juga baik.”Mata Hagia seketika berkaca-kaca. Ia menatap layar di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Setelah sekian tahun tidak lagi merasakan jantungnya berdebar seperti ini, kali ini Tuhan kembali memberinya kesempatan untuk merasakan hal yang sama.Ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya. Sesuatu yang bahkan beberapa hari lalu belum pernah ia bayangkan.Hagia menoleh ke samping. “Mas...”Megantara yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung meraih tangannya. “Iya, Sayang?”Hagia menelan ludahnya dengan susah payah. Jemarinya menggenggam tangan Megantara lebih erat.Megan
Megantara tersentak kaget saat tiba-tiba merasakan kasur di sampingnya bergerak. Hagia yang beberapa detik lalu masih berbaring tenang mendadak bangkit.Tanpa mengatakan apa-apa, perempuan itu langsung turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. “Sayang…” Megantara masih memproses apa yang baru saja terjadi. Dengan wajah bingung sekaligus panik, ia segera turun dari ranjang dan menyusul Hagia.Begitu sampai di kamar mandi, suara muntah Hagia langsung menyambutnya. Megantara buru-buru berjongkok di sampingnya.“Hei...” Satu tangannya langsung mengusap punggung Hagia perlahan, sementara tangan lainnya menyatukan rambut perempuan itu yang jatuh ke depan agar tidak mengganggu.Hagia kembali memuntahkan isi perutnya. Megantara hanya bisa menunggu sambil terus mengusap punggungnya.Beberapa saat kemudian, Hagia akhirnya bersandar lemas pada dinding. Sementara Megantara melangkah keluar menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat.“Diminum dulu.” Sekembalinya lelaki itu, ia langs
Hagia baru saja keluar dari kamar mandi saat pandangannya langsung tertuju pada Megantara yang sedang duduk di sofa ruang tamu.Lelaki itu tampak sibuk dengan laptop yang bertengger di atas pangkuannya. Sesekali keningnya mengernyit, seolah tengah memikirkan sesuatu dengan serius. Masih dengan rambut yang basah, Hagia kemudian melangkah menghampirinya. “Mas...”Megantara seketika mengangkat wajah. “Hei, kamu udah selesai mandi?” Lelaki itu langsung menyingkirkan laptop dari pangkuannya, kemudian bangkit dari sofa. “You okay?”Hagia terkekeh kecil. “Apa sih, Mas?”Megantara mendekat. “Ya mana tahu kamu mual lagi, kan?”Hagia menggeleng pelan. “Nggak.”“Bener?”“Iya, Mas.”“Pusing?”“Nggak.”“Lemas?”“Nggak juga.”“Capek?”“Mas...”“Hm?”“Aku tuh cuma mandi. Kenapa sih kamu nanya-nanya terus dari tadi?” Hagia akhirnya tertawa kecil melihat ekspresi lelaki itu yang tampak begitu khawatir. “Belum juga tahu hasilnya, kamu udah kayak gini.”Megantara tersenyum sembari mengusap wajah Hagia
“Aku kayaknya hamil.”Megantara yang sejak tadi mengusap punggungnya seketika terdiam. Tangannya berhenti bergerak.Hagia menundukkan wajah, tak berani menatap lelaki di sampingnya. “Kamu... bakalan senang, nggak? Kamu bakalan tanggung jawab, kan?”Mendengar pertanyaan itu, Megantara seketika tertegun. Ia menatap Hagia seolah baru saja salah mendengar.“Ulangi lagi, Sayang.” Hagia menggigit bagian dalam bibirnya. “Kamu tadi bilang apa?”Hagia mengembuskan napas pendek. Ia masih belum berani menatap Megantara. “Ini belum pasti, kok. Aku cuma mau bilang kalau...” Hagia berhenti sejenak. “Aku telat.”Megantara masih diam.“Dan kayaknya...” Hagia akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. “... aku hamil.”Hening selama beberapa saat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Hagia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Megantara perlahan berubah.“Mas? Kenapa? Kamu nggak suka, ya? Kamu—” Hagia menelan ludah. “Ini belum pasti, kok. Aku cuma—”Belum sempat Hagia melanj
“Siapa tadi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Nadanya terdengar datar. Bahkan nyaris terdengar biasa.Namun tatapannya masih tertahan ke arah ruang meeting di ujung koridor, ke arah pintu yang baru saja tertutup setelah Hagia mengantar lelaki itu masuk.Kafka yang tadi sud
“Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar d
Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan
“Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. N







