Beranda / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 3. Kemarahan Hagia

Share

3. Kemarahan Hagia

Penulis: IKYURA
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 13:54:31

“Gi, mau ke mana?”

Hagia yang sudah berdiri sambil merapikan map di tangannya menoleh sekilas. Sinta bersandar di sandaran kursinya, memutar badan setengah menghadap Hagia dengan ekspresi penasaran yang tidak ditutup-tutupi.

“Mau nganterin berkas proyek Cilandak ke Pak Megantara, Sin.”

Alis Sinta langsung terangkat tinggi. “Widih, baru juga pertama kerja, udah main terabas saja. Hati-hati, Gi.”

Hagia mengernyit. “Hati-hati kenapa?”

Sinta menyeringai, mencondongkan tubuh sedikit. “Takutnya lo langsung digigit nanti,” kekehnya.

Hagia mendengus pelan, memutar mata. “Sembarangan lo, ah!”

Namun langkahnya tidak berhenti. Map berkas ia pegang sedikit lebih erat dari seharusnya. Entah karena kesal dengan ucapan Sinta, atau karena sesuatu yang lain, sesuatu yang sejak tadi terus mengganjal di dadanya.

Lorong menuju ruang kepala arsitek itu tidak terlalu panjang. Tapi pagi itu terasa… berbeda.

Beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya. Ada yang sekadar lewat, ada yang jelas-jelas memperhatikan. Mungkin karena ia dipanggil langsung di hari pertama atasan baru datang.

Atau mungkin… karena gosip yang mulai beredar. Hagia tidak peduli. Ia berhenti tepat di depan pintu. Napasnya ia atur sekali. Dua kali.

Lalu tangannya mengetuk pintu.

“Masuk.”

Suara itu terdengar dari dalam, tenang, datar, terlalu familiar. Hagia langsung membuka pintu tanpa ragu.

Dan detik itu juga semua yang sejak tadi ia tahan, pecah.

“Mas!” Suaranya langsung memenuhi ruangan, tidak keras berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan emosi yang tidak lagi ia sembunyikan. “Bisa nggak kamu jelasin semua ini?”

Pintu tertutup di belakangnya.

Megantara yang tadi berdiri di dekat meja, perlahan menoleh. Wajahnya tetap tenang, seperti yang Hagia lihat sejak pagi tadi.

Tapi matanya tidak sepenuhnya netral. Ada sesuatu di sana. Tipis, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia sudah menduga ini akan terjadi.

“Duduk dulu,” ucapnya pelan.

“Nggak usah,” potong Hagia cepat.

Ia melangkah mendekat, map berkas masih di tangannya, tapi jelas bukan itu yang jadi fokus.

“Kamu pikir ini bisa dianggap biasa aja?” lanjutnya. “Tiba-tiba muncul di kantor aku, jadi atasan aku, tanpa bilang apa-apa sebelumnya?”

Megantara menarik napas pelan. Ia tidak langsung menjawab.

Hagia menggeleng kecil, setengah tidak percaya. “Kita itu bukan orang asing, Mas.” Panggilan itu terdengar lebih tajam dari biasanya. “Kalau kamu pindah kerja, itu bukan hal kecil. Apalagi sampai jadi head architect di sini.”

Megantara akhirnya bergerak, melangkah pelan mendekat. Jarak di antara mereka kini hanya terpisah meja.

“Aku tahu,” katanya.

“Tahu?” ulang Hagia. “Kalau tahu, kenapa nggak bilang?”

Nada suaranya naik sedikit, bukan karena marah sepenuhnya, lebih ke campuran kecewa dan bingung yang belum terurai.

Megantara menatapnya lurus. Tidak menghindar. “Aku mau bilang.”

“Kapan?” potong Hagia lagi. “Pas aku udah datang ke sini sebagai atasan aku, dan aku sebagai bawahan kamu?”

Sunyi sejenak. Megantara tidak membalas dengan emosi yang sama. Justru itu yang membuat suasana terasa semakin berat.

“Aku baru dapat keputusan final tiga hari lalu,” ucapnya tenang.

Hagia langsung menjawab, cepat. “Tiga hari itu cukup buat ngabarin aku.”

Megantara mengangguk kecil. “Iya.”

Jawaban itu membuat Hagia terdiam sepersekian detik. Lagi-lagi tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan panjang. Hanya pengakuan yang terlalu sederhana.

“Terus kenapa nggak ngabarin?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan. Lebih… jujur.

Megantara menghela napas pelan, menurunkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Hagia. “Aku nggak mau ngomong ini lewat chat atau telepon.”

Hagia mengernyit. “Kenapa?”

“Karena ini bukan hal kecil.”

Jawaban itu menggantung. Beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Lalu Megantara melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Aku mau jelasin langsung ke kamu.”

Hagia terdiam.

Emosinya masih ada, jelas. Tapi ada sesuatu dalam cara Megantara bicara yang membuatnya tidak bisa langsung memotong lagi.

“Dan aku nggak nyangka kalau kamu bakalan semarah ini,” tambah Megantara.

Hagia menghembuskan napas pelan, mengalihkan pandangan sejenak ke arah jendela sebelum kembali menatapnya.

Namun kali ini, Hagia tidak langsung meledak. Ia menatap lelaki di depannya itu lebih lama. Wajah yang sangat ia kenal. Cara berdiri yang sama. Cara menahan emosi yang sama. Dan entah kenapa itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

“Kamu tahu kalau ini bakal ribet kan, Mas?” ucap Hagia akhirnya.

Megantara tidak langsung menjawab.

“Aku kerja di sini,” lanjut Hagia. “Kamu atasan aku. Orang-orang bakal ngomongin kita.”

“Aku tahu.”

“Dan aku nggak mau…” Hagia berhenti sejenak, memilih kata, “… Ranu kena dampaknya.”

Nama itu membuat suasana berubah. Megantara menatapnya lebih dalam. “Aku juga nggak mau,” jawabnya tegas.

Hagia menelan pelan. “Makanya aku butuh tahu,” lanjutnya. “Kamu ini sebenarnya mau apa?”

Pertanyaan itu jatuh di antara mereka. Bukan hanya tentang pekerjaan. Bukan hanya tentang keputusan pindah. Tapi… lebih dari itu.

Megantara terdiam beberapa detik. Cukup lama untuk membuat detak jantung Hagia terasa lebih keras di telinganya sendiri.

Lalu akhirnya, “Aku mau lebih dekat sama Ranu,” katanya.

Sederhana. Tapi cukup untuk membuat Hagia membeku sesaat.

Hagia menatapnya tanpa berkedip. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu amarahnya tidak hilang. Tapi… mulai bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih sulit untuk ia hadapi.

“Mas alasan kamu tuh nggak masuk akal. Emang gimana biasanya, sih? Selama dua tahun ini kan kamu juga jauh sama Ranu. Dan semua baik-baik saja. Kenapa sih, kamu sampai nekat begini, hm? Mama tahu soal kamu pindah ke sini? Dan setuju?”

Nada suara Hagia terdengar lebih tajam sekarang. Bukan sekadar mempertanyakan, tapi menahan sesuatu yang lebih dalam.

Megantara menatapnya tanpa menghindar. Rahangnya sedikit mengeras, tapi suaranya tetap dijaga rendah.

“Aku udah jelasin ke Mama kalau aku mau dekat dengan Ranu. Ini soal hidup aku, Nadi. Aku yang paling berhak memutuskan semuanya.”

Panggilan itu—Nadi—membuat sesuatu di dalam diri Hagia bergetar pelan. Sudah lama ia tidak mendengarnya diucapkan seperti itu. Namun emosi yang sedang naik membuatnya tidak sempat tenggelam terlalu jauh.

“Mas, tahu nggak keputusan kamu tuh bisa aja nyakitin Mama tahu nggak?” lanjutnya cepat. “Mama yang minta kamu pindah ke Singapura. Jadi—”

“Menurut kamu Mama jauh lebih butuh aku ketimbang Ranu, begitu?”

Kalimat itu memotong. Dan membuat Hagia seketika bungkam. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.

Megantara tidak meninggikan suara. Justru karena itu, setiap katanya terasa lebih dalam.

“Alasan aku pindah ke Jakarta sederhana, Nadi,” lanjutnya. “Aku cuma nggak mau Ranu kehilangan peran seorang ayah.”

Sunyi menyelimuti ruangan.

“Aku tahu selama ini aku yang mencukupi kebutuhan kalian secara materi,” sambungnya, kali ini sedikit lebih pelan. “Tapi itu saja nggak cukup.”

Hagia menunduk sedikit. Napasnya terasa berat.

“Kita sudah sepakat buat ngebesarin Ranu sama-sama, ingat?”

Kalimat itu seperti menarik sesuatu dari masa lalu, sebuah janji yang dulu mereka ucapkan dengan keyakinan penuh, tanpa tahu akan berakhir seperti sekarang.

Hagia masih bungkam. Ingatan itu datang begitu saja.

Tentang malam panjang di rumah sakit. Tentang keputusan yang diambil berdua. Tentang Ranu yang menjadi alasan mereka bertahan… bahkan saat hubungan mereka tidak lagi utuh. Namun tetap ada satu hal yang mengganjal.

Hagia mengangkat wajahnya kembali. “Tapi, Mas…” suaranya kali ini lebih rendah, tapi tetap tegas. “Kenapa harus di sini? Emang nggak ada kerjaan lain yang bisa kamu ambil, hm?”

Megantara menatapnya sejenak, lalu menjawab tanpa ragu. “Rupa Rancang Nusantara juga salah satu aset yang aku punya. Kali aja kamu lupa.” Ia berhenti sebentar, memberi jeda yang tipis tapi terasa. “Ada namaku di sini.”

Hagia mendecak pelan, jelas tidak suka dengan jawaban itu.

“Terserah kamu deh, Mas,” katanya akhirnya, menghela napas. “Tapi ingat satu hal…”

Tatapannya mengunci Megantara. Kali ini benar-benar serius. “Aku nggak mau orang-orang tahu kalau kamu adalah mantan suami aku!”

Megantara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Hagia, cukup lama. Seolah menimbang sesuatu.

Lalu akhirnya, ia mengangguk pelan. “Itu juga yang aku mau.”

Hagia sedikit tertegun. “Apa?”

“Aku juga nggak mau orang kantor tahu.” Megantara menarik napas pelan, lalu bersandar sedikit ke kursinya. “Aku nggak mau posisi kamu jadi sulit,” katanya. “Orang-orang bisa mikir kamu dapat perlakuan khusus.”

Hagia terdiam.

“Dan aku juga nggak mau…” Megantara berhenti sejenak, memilih kata, “… nama kamu dibawa-bawa ke arah yang nggak perlu.”

Nada suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang terasa jelas di sana, seperti perlindungan.

Hagia menatapnya lebih lama. Emosinya belum hilang. Kesalnya masih ada. Tapi di saat yang sama… ada bagian kecil dalam dirinya yang mengerti.

Yang tahu Megantara tidak asal mengambil keputusan ini. Yang tahu semua ini memang tentang Ranu. Dan mungkin… sedikit tentang mereka.

“Bagus kalau kepikiran sampai sejauh itu,” ujar Hagia akhirnya.

“Jadi kita profesional di kantor,” jawab Megantara. “Di luar itu… kita tetap seperti biasa. Untuk Ranu.”

Hagia menghela napas panjang. Hanya menggumam pelan. Sebelum kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan Megantara. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
prima
halah gombal... yakin bisa profesional d kantor? nti baper2an.wkwkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
untuk Ranu... oke. kita lihat nanti sampe batasan mana untuk Ranu ini wkwkwkwk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Mantan!   90. Harus Jujur

    “Jadi... sekarang udah nggak denial lagi, nih?”Carmen yang tengah menikmati semangkuk ramennya mengangkat sebelah alis. Senyum jahil langsung terbit di wajah perempuan itu.“Bukan lagi yang kemarin-kemarin nolak mentah-mentah, terus bilang mau fokus sama hidup sendiri. Eh, faktanya masih cinta mati.”Hagia mendecak pelan. Terlihat enggan sekali menanggapi ledekan Carmen. “Nggak usah lebay deh, Men.”“Lho, siapa juga yang lebay, sih? Kan gue cuma mau konfirmasi, doang.”Sementara Hagia memilih kembali menyeruput kuah ramen di hadapannya. “Lo tuh hobi banget ya datang tiba-tiba begini?” gerutu Hagia. “Nggak ada kerjaan apa gimana?”“Lho, suka-suka gue dong.” Carmen menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kan gue bosnya.”“Bos apanya. Lo cuma manfaatin jabatan buat ganggu hidup orang.”“Benar sekali.” Carmen menjentikkan jarinya, kemudian terkekeh. “Emang mau ganggu siapa lagi kalau bukan lo?”Sore ini Carmen memang tiba-tiba muncul di kantor dan menyeretnya keluar untuk menikmati ramen di

  • Hello, Mantan!   89. Penolakan Auriga

    “Kamu bahkan nggak punya hak mengusik ketenangan hidup anak saya lagi, Megantara Adhiwangsa. Setelah apa yang dia lalui sendirian... sampai mati pun, saya nggak akan pernah mengizinkan kamu kembali ke hidup anak saya lagi. Jadi jangan buang-buang waktu kamu di sini.”Auriga berbalik. Lelaki itu sudah berniat mengakhiri percakapan itu dan pergi meninggalkan Megantara.Namun suara lelaki itu kembali terdengar dari belakang hingga membuat Auriga menghentikan langkahnya.“Kami saling mencintai, Pa.”Auriga mengepalkan kedua tangannya erat. Sementara Megantara melanjutkan kalimatnya. “Saya tahu selama ini saya telah melakukan kesalahan. Saya tahu saya nggak seharusnya pergi ninggalin Nadi begitu saja. Saya tahu saya gagal sebagai suami. Tapi saya kembali ke sini untuk menebus semua kesalahan itu.”Megantara menatap punggung Auriga yang masih membeku. Namun lelaki itu masih belum berniat untuk membalikkan badan. “Perasaan kami masih utuh. Setelah semua yang terjadi, kami masih memilih satu

  • Hello, Mantan!   88. Mantan Mertua

    “Mas Megan? Mas, kok ke sini? Ada apa?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Raga—adik Hagia. Megantara yang baru saja menginjakkan kaki di lobi gedung kantor milik keluarga Chandrakanta lantas menghentikan langkah, kemudian menoleh. Sudah lama sekali ia tidak datang ke tempat ini. Bahkan terakhir kali, kedatangannya justru berakhir dengan ketegangan yang tidak menyenangkan.“Apa kabar, Ga?” tanya Megantara. “Baik, Mas.” Raga menyalami Megantara. “Mas Megan bukannya di Singapura?”“Aku udah sebulanan lebih di Jakarta.”Megantara mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa karyawan masih terlihat lalu-lalang di area lobi, sementara resepsionis di meja depan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.“Papa kamu ada?”Namun alih-alih langsung menjawab, Raga justru mengernyit. Tatapannya menelusuri wajah Megantara yang siang itu terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.“Mas Megan mau nemuin Papa?” tanyanya hati-hati. “Ada masalah apa? Apa ini ada hubungannya sama Mbak H

  • Hello, Mantan!   87. Cemburu?

    “Selama aku tinggal, Ranu nggak rewel kan, Mbak? Tadinya saya sempat kepikiran kalau anaknya malah ngerepotin.”“Nggak kok, Mbak.” Mbak Asri menggeleng sambil tersenyum. “Ranu anaknya nurut banget. Dia tahu kalau Mamanya kerja, jadi dia nggak pernah rewel.”Hagia mengulas senyum tipis.Pandangannya tertuju pada Ranu yang sedang berlarian di taman apartemen bersama beberapa anak seusianya. Sesekali terdengar tawa riang bocah itu ketika berhasil mengejar temannya.“Syukurlah.”Jujur saja, selama dirawat kemarin, salah satu hal yang paling mengganggu pikirannya adalah Ranu. Ia khawatir putranya rewel atau bahkan membuat Mbak Asri kerepotan.Namun melihat Ranu yang tampak baik-baik saja saat ini, beban di dadanya sedikit berkurang.“Mbak Hagia sendiri gimana?” tanya Asri kemudian. “Wajahnya masih pucat sekali. Ada luka serius?”“Nggak ada kok, Mbak.” Hagia menggeleng pelan. “Cuma beberapa memar sama benturan. Dokter bilang harus banyak istirahat aja.”“Alhamdulillah.” Asri memperhatikan p

  • Hello, Mantan!   86. Terbongkar

    Hagia sempat kehilangan napas selama beberapa saat, sebelum akhirnya berpaling. Kepalanya mendadak berdengung, pikirannya tiba-tiba saja buntu.Ia tidak tahu harus menjelaskan apa setelah apa yang baru saja mereka lihat.“Ris, Sen, Lun...” Hagia berdeham pelan. “Ini nggak seperti yang kalian—”“Pak Megan nggak pakai baju dan kalian ciuman. Lo mau bilang kalian nggak ada apa-apa, Mbak? Seriusan, lo pikir kami sebodoh itu?” potong Arsenio tanpa ampun.“Apa yang kalian lihat nggak seperti yang kalian pikirkan, kok.” Hagia meraup wajahnya dengan kasar. “Iya, kami memang… ciuman. Tapi soal Mas Megan yang nggak pakai baju ini, dia luka dan aku baru lihat. Aku cuma mau mastiin kalau dia… nggak apa-apa.”“Oh, jadinya lagi khawatir gitu ya, Gi?” sahut Kafka dengan sengaja. Hagia melotot kesal kemudian menoleh ke arah Megantara. Lelaki yang berdiri di samping ranjang justru terlihat jauh lebih tenang.“Pokoknya gue sama Mas Megan tuh—”“Apa yang kalian pikirkan tentang kami itu benar,” ujar Me

  • Hello, Mantan!   85. Tamu Tak Diundang

    “Mas, udah jadi telepon Mbak Asri? Ranu gimana? Rewel, nggak?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Hagia. Di luar jendela, langit sudah berubah gelap. Lampu-lampu kota mulai menyala, sementara suasana ruang rawat terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya.“Belum. Ini baru mau—”“Gimana, sih?” Hagia memukul bahu Megantara dengan kesal.“Aww...”Hagia langsung membeku. “Mas?”Megantara spontan memegang bahu kirinya. Raut wajahnya sempat berubah sebelum lelaki itu berusaha terlihat biasa saja.“Mas, kamu kenapa?” kejar Hagia. “Hah? Nggak ada, Sayang. Aku—”“Mas.” Nada suara Hagia langsung berubah serius. “Kamu sakit juga?”Megantara memalingkan wajah. Kemudian menggeleng pelan. “Nggak kok.”“Bohong! Terus tadi itu apa?”Megantara mengembuskan napas pelan.Sial.Seharusnya tadi ia tidak bereaksi. “Aku cuma pegal sedikit,” ujarnya berkilah. “Nadi, aku nggak apa-apa, ini tadi cuma—”“Buka baju kamu sekarang!”Megantara mengerjap beberapa kali. Belum sempat ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status