LOGINAku ditolak calon mertua karena dianggap cuma jualan ikan di pasar dan bau amis, nggak setara dengan anaknya, Aris, yang sudah PNS. Bu Ratna lebih memilih Santi, gadis CPNS di kecamatan untuk jadi menantu idamannya. Dia nggak tahu, pendapatanku sehari bisa melebihi gaji mereka berdua sebulan! Pelan tapi pasti, ku tunjukkan identitasku sebenarnya sebagai Magdalena Harum Puspita, putri tunggal Pak Himawan, eksportir yang kaya raya dengan aset di mana-mana. Kira-kira, mereka bakalan pingsan nggak, ya?!
View MoreBab 33 Semburat jingga di ufuk barat mulai menyapa, namun suasana di meja pojok belakang kedai Magdalena Seafood and Resto terasa begitu dingin. Mas Toto duduk dengan punggung tegak, sementara Aris baru saja meletakkan helmnya dengan tangan sedikit gemetar. "Mas Aris, terima kasih sudah datang," buka Mas Toto tanpa basa-basi. "Sama-sama, Mas Toto. Kebetulan saya juga ingin bertanya soal tuntutan hukum pada Sinta. Apa itu perintah Lena?" Mas Toto menggeleng pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang mulai keriput. "Bukan. Mbak Lena itu hatinya terlalu lembut untuk memenjarakan orang, meskipun dia sangat marah. Yang melaporkan Sinta ke polisi itu... Pak Himawan sendiri." Aris tertegun. "Om Himawan?" "Benar. Bapak tidak terima putri semata wayangnya dipermalukan seperti itu. Beliau ingin memberi pelajaran bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya. Jadi, kalau Mas Aris mau minta Lena cabut laporan, itu salah alamat. Keputusan ada di tangan Bapak." Aris terdiam, lidahnya
Aris memarkir motornya dengan tergesa di halaman kantor kelurahan. Napasnya masih sedikit memburu sisa perjalanan dari rumah sakit. Namun, langkahnya mendadak terkunci saat melihat dua sosok yang sangat familiar duduk di kursi tunggu panjang depan lobi.Orang tua Sinta.Wajah mereka nampak sangat kuyu, mata mereka sembab, dan sang ibu terus meremas sapu tangan yang sudah basah. Begitu melihat sosok Aris, ayah Sinta langsung berdiri dengan tumpuan yang goyah."Nak Aris!" seru pria paruh baya itu dengan suara serak.Aris menghampiri mereka dengan dahi berkerut. "Lho, Bapak, Ibu? Ada apa pagi-pagi sudah di sini?" Ibu Sinta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru histeris, langsung meraih tangan Aris dan menggenggamnya erat, seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai."Nak Aris, tolong... tolong Sinta, Nak. Ibu mohon, bantu Sinta keluar dari sana. Dia tidak kuat, Nak. Dia ketakutan," tangis Ibu Sinta pecah, mengundang perhatian beberapa staf kelurahan yang mulai be
"Ternyata Mbak Lena di sini. Kirain ke mana, dicariin sampai ke kantin nggak ada."Lena tidak menoleh. Ia tetap bergeming di tepian pagar pembatas atap rumah sakit, membiarkan angin pagi yang cukup kencang memainkan ujung jilbab hitamnya. Matanya tertuju lurus ke bawah, ke arah area parkir di mana sebuah motor baru saja melaju meninggalkan gerbang rumah sakit. Ia tahu itu Aris."Mbak? Malah bengong," Anna menyandarkan punggungnya di pagar yang sama, ikut memandang ke arah yang sama dengan Lena."Nggak apa-apa, Ann. Cuma mau cari oksigen yang nggak bau karbol," sahut Lena datar. Tatapannya masih kosong.Anna terdiam sejenak, memperhatikan profil samping wajah bosnya yang rahangnya tampak kaku. "Bapak ngomong apa tadi, Mbak? Sampai Mas Aris keluar mukanya kayak orang habis menang lotre. Seneng tapi bingung cara nyairinnya."Lena akhirnya menoleh, menatap Anna dengan sisa-sisa mata sembapnya."Eh, kok mata Mbak merah? Habis nangis? Atau jangan-jangan ... Bapak minta Mbak balikan sama ma
"Bukan, Om. Justru saya yang harus minta maaf. Saya yang bodoh. Selama bertahun-tahun saya sudah sangat merepotkan Lena, menerima semua kebaikannya, tapi akhirnya... saya justru mengkhianati ketulusannya hanya karena silau dengan hal lain."Suasana mendadak hening. Hanya terdengar bunyi detak jantung dari monitor di samping ranjang. Lena menunduk, menyembunyikan genangan air di matanya yang mulai merembes jatuh ke atas sprei."Sudah, yang lalu biar berlalu," ujar Pak Himawan sambil meraih tangan Lena dan Aris, mencoba menyatukannya di atas pangkuan. Namun, Lena menarik tangannya lebih dulu—setelah bersentuhan dengan tangan Aris sebentar—untuk menyeka air mata. "Nasi sudah jadi bubur, seperti yang ada di depan kalian ini. Tapi bubur pun kalau bumbunya pas, tetap terasa nikmat, kan?" Pak Himawan menatap Aris dengan tatapan menguji, tapi tetap bersahabat. Aris menatap Lena dalam diam, tapi tak menjawab."Kamu masih sayang sama anak Om yang keras kepala ini?""Pak!" protes Lena segera,
POV Aris "Baru pulang, Ris?" tanya Ibu ketus saat masuk ke rumah. Beliau sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. "Listrik sudah nyala, tapi besok-besok jangan sampai kehabisan lagi. Apalagi sampe salah isi!"Aku tidak menjawab. Tidak membentak, tidak juga membela diri. Aku hany
"AAAAAAARGH!!!"Suaraku menggema di antara kesunyian malam. Aku menyuarakan semua emosi, kebencian pada diri sendiri, dan penyesalan yang terlambat. Ketidakhati-hatianku dalam bergaul benar-benar membawa petaka. Sifatku yang gampang akrab dengan orang—terutama lawan jenis—menjadi bumeran
POV Aris Udara malam yang menerpa wajahku saat memacu motor terasa begitu menyegarkan. Beban yang selama berbulan-bulan mencekik leherku seperti menguap bersama angin. Aku bebas. Foto vulgar yang dulu menjadi borgolku kini tak lagi berguna di tangan Santi. Namun, ada satu lubang besar di hatiku y
POV Aris Aku sampai di depan rumah Santi pukul 07.55 pagi. Dia sudah berdiri di teras dengan tas selempang kecilnya. Tanpa kata, ia langsung naik ke boncengan motor dan kami menuju kantor Kecamatan. Lewat kaca spion, kulihat Santi asyik bersenandung kecil sepanjang. Ia tampak sangat ceria, seolah


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews