LOGINDi saat Lilis sedang berjuang mengandung buah hati mereka, Rendy justru sibuk membagikan kehangatan dengan wanita lain. Tragisnya, wanita itu adalah Wulan—adik kandung Lilis sendiri. Berawal dari kecurigaan yang berujung pada isi pesan teks menjijikkan di ponsel sang adik, Lilis dipaksa menelan kenyataan bahwa suami yang dicintainya dan adik yang disayanginya telah lama bermain gila di belakangnya. Bahkan, mereka sudah merencanakan sebuah perceraian. "Terus, Kakang kapan cerai sama Mbakku?" Pengkhianatan berdarah ini terlanjur dimulai. Lilis tidak akan tinggal diam menangis meratapi nasib. Jika mereka bisa menghancurkan hatinya maka mereka juga harus siap menerima balasan yang setimpal. Namun Lilis tahu, ia belum sekuat itu melawan suaminya yang licik. Ia harus menggandeng orang yang punya kekuatan lebih besar dari Rendy. Di saat yang bersamaan, ada Brandon Sebastian--CEO juga orang dari masa lalu Lilis yang hadir kembali di hidupnya. Apakah Lilis akan memanfaatkan Brandon dalam proses perceraiannya dengan suaminya? 📝 Base on true story yang aku dramatisir
View More"Saran gue, lu mending cek HP adek lu deh, Lis," ucap Yura sahabat Lilis.
Lilis yang sedang mengelus perut buncitnya pun mengerutkan keningnya bingung. Ia memang sedang janjian dengan sahabatnya itu, dan membicarakan banyak hal menyenangkan. Sampai topik yang diangkat Yura meleber ke hal berbau hubungan. "Maksud lu?" tanyanya. "Udah lu ikutin kata gue aja." "Tapi kenapa?" "Udah cek aja, percaya ama gue." Lilis pun hanya diam setelahnya. Yura memang suka bercanda, tapi Lilis juga tau kapan sahabatnya itu serius. Dan kali ini, Yura jelas serius dengan ucapannya. "Ya udah kapan-kapan deh," balas Lilis santai. Ia tak menganggap serius ucapan sang sahabat awalnya. Namun, ketika ia mengamati adik kesayangannya--Wulan. Ia mulai menangkap beberapa keanehan dalam beberapa pekan terakhir. Saat Lilis pulang dari pekerjaannya, suaminya selalu sudah pulang. Lalu, adiknya juga di rumah. Mereka terlihat tertawa dan mengobrol santai. Ditambah pakaian adiknya yang memang sering terbuka. Itu membuat hati Lilis sedikit tidak nyaman. Bagaimanapun Wulan dan Rendy bukan mahrom, tidak boleh memperlihatkan aurat apalagi pakaian Wulan sudah lebih dari batas aurat. Kadang Lilis menegur sang adik agar tidak keluar kamar dengan pakaian seksi. Tapi sang adik memegang prinsip kebebasan yang sulit untuk dinasihati. Lilis tidak memandangnya sebagai masalah untuk saat ini, karena sejak ia dan suaminya pacaran Wulan memang akrab dengannya. Lilis meyakinkan dirinya sendiri bahwa keanehan Wulan pasti tidak ada hubungannya dengan sang suami. "Kenapa, Ma?" tanya Rendy pada sang istri. Entah kenapa, Lilis diam saja dan masuk ke kamar. Rendy pun mengikutinya masuk ke kamar. Setelah Lilis selesai bersih- bersih, mereka duduk di tepi ranjang. "Baru pulang ya... capek?" tanya Rendy lagi. Rendy memang selalu seperti itu, lembut dan penuh perhatian. Akan tetapi, entah desakan dari mana. Hatinya makin terusik atas kehadiran suaminya. Seolah ada energi lain yang mendorongnya untuk mengamati suaminya juga. Meski begitu, Lilis sadar kalau ini bukan waktunya untuk melampiaskan keresahannya pada orang yang tak salah apa-apa. Saat ini semua pikiran buruk itu hanyalah asumsi tanpa bukti. Ia kemudian tersenyum. "Iya, Mas. Hari ini aku lukis hena pengantin untuk empat orang di tempat berbeda." "Hem... mau kupijit?" tanyanya. "Boleh, Mas." Ada banyak pikiran buruk yang langsung menghampirinya. Ia jadi mengingat apa yang dikatakan oleh Yura waktu itu. Mungkin memang sebaiknya ia mengecek HP adiknya. HP suaminya lumayan susah untuk dicek. Selain suaminya yang memasang sandi, ia juga marah karena merasa tak punya privasi. Jujur saja, dulu saat pacaran Rendy sangat terbuka padanya. Tiga tahun awal pernikahan juga mereka masih saling memeriksa HP. Namun sekarang, Lilis sampai tak ingat kapan ia mengecek HP suaminya. Lilis makin penasaran, takut kalau kekhawatiran yang ada di kepalanya benar terjadi. Kesibukan Rendy yang sudah naik jabatan itu makin membuat hubungan Lilis dengannya jauh. Hanya saja, Wulan yang memang dalam posisi kerja serabutan selalu pulang bersamanya. Lilis kira, adiknya itu memiliki pacar. Tapi kenapa jarang sekali bersamanya. Lilis pun memiliki ide untuk menghabiskan malam minggu di tempat lain. Mungkin seperti kata ahli, bahwa beberapa pasangan ketika menginjak usia pernikahan yang lama akan bosan. Butuh suasana baru untuk membangkitkan gairah cinta. "Mas, gimana kalau malam minggu besok kita Staycation?" Pijatan di tangan Lilis tiba-tiba berhenti. Saat menoleh, Lilis melihat ekspresi suaminya yang agak pucat. "Aku ada kerjaan, Ma. Gimana kalau malam minggu depannya lagi?" tawar Rendy. Lilis pun hanya mengangguk. Ia menikmati dan merasa nyaman dipijit suaminya. Biasanya setelah itu, suaminya minta jatah (hubungan suami istri). Namun kali ini berbeda, suaminya mengajaknya tidur saja. Tidak ada kegiatan apa-apa. Lilis menyadari intensitas bersenggama mereka memang mengalami penurunan sejak tiga tahun terakhir ini. Apa mungkin ia kurang aktif untuk merayu suaminya? ••• Semua berjalan normal. Sampai malam minggu ketika ibunya berkunjung ke rumahnya. Lilis pun memiliki kesempatan untuk mengintip ponsel adiknya yang telah lama ia rencanakan. Wulan sedang mandi, sehingga tak membawa ponsel miliknya. Saat ia membuka aplikasi pesan, ia hampir menjatuhkan ponsel sang adik. Kakang || "Aku lagi pengen nih, kamu malah di rumah. Padahal aku udah nolak Lilis buat Staycation, biar bisa malam mingguan sama kamu di hotel. Jadinya aku kerja nih... lembur beneran." Deg! Ini jelas Rendy, dia menyebut namanya--Lilis. Menolak ajakan Staycation. Percakapan mereka sebelumnya, kemarin malam. Air mata Lilis langsung mengalir dan terus mengalir. Ia terus menggulir pesan keduanya selama beberapa hari yang belum sempat dihapus oleh sang adik. Wulan || "Jangan gitu ah... kan aku juga gak tau kalo Ibu ngajak masak-masak." Kakang || "Masa? Emang kamu gak mau ngerasain sentuhanku?" Wulan || "Ih Kakang, aku juga jadi kepengen nih gara-gara kamu bilang begitu." Kakang || "Awas aja ya, besok, kamu bakal aku buat gak bisa jalan! Haha!" Wulan || "Siapa takut wleeee" Kakang || "Oke, deal ya! Btw, kamu suka lewat belakang, apa depan?" Wulan || "Depan dong, lebih nikmat" Kakang || "Bangsat, sengaja ya kamu bikin aku tegang. Awas ya kamu!" Wulan || "Duh, cepet banget 'naik'nya, malu ih... mau punya anak lagi." Tak hanya itu, di bagian gambar keduanya saling mengirimkan foto vulgar yang sangat menjijikan. Wulan || "Terus, Kakang kapan cerai sama Mbakku?"Brandon menutup laptopnya dengan kasar. Wajah pengacara muda itu tampak pias, dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat atas sikap ibunya. "Lis, saya minta maaf," ucap Brandon, suaranya bergetar menahan amarah dan penyesalan. "Saya benar-benar tidak menyangka Mommy akan sekasar itu bicaranya." Lilis menghela napas pelan. Ia melepaskan tautan tangannya yang sempat mendingin, lalu menatap Brandon dengan senyum yang sangat tenang. Tidak ada air mata, atau baper yang berlebihan. "Nggak apa-apa, Kak. Aku mengerti, kok," sahut Lilis santai. "Kamu jangan dengerin ucapan Mommy, Lis. Mommy cuma--" "Kak, aku ngomong gini bukan karena aku pesimis sama diriku sendiri," potong Lilis halus, menatap Brandon lurus-lurus. "Tapi sejak awal, rencana pura-pura kita ini memang udah pasti gagal, gak sih?" Brandon mengerutkan kening, menatap tidak mengerti. "Ya maksudnya, selain karena kita cuma sandiwara, faktanya aku memang belum punya kualitas untuk bisa dipertimbangkan oleh Mommy Kakak," l
"Sialan, Lilis!!!" teriak Rendy berang. "Bangsat!" Prak! Ponsel di genggamannya melayang menghantam tembok ruang tamu, lalu jatuh ke lantai dengan layar yang sudah retak. Napasnya memburu naik-turun, wajahnya merah padam menahan luapan emosi yang membakar dadanya. Lilis benar-benar telah berubah. Wanita yang dulu selalu tunduk dan menangis setiap kali ia bentak, sekarang berani menantangnya dengan nada sedingin es. Mendengar suara pecahan yang begitu keras, Puji buru-buru berlari dari arah dapur dengan tangan yang masih basah habis mencuci piring. "Astaga, Rendy! Ada apa lagi, Nak?" tanya Puji panik, menatap ngeri ke arah pecahan ponsel di lantai. "Pikir aja sendiri! Gara-gara anak sialan Ibu itu, semua proyek sampingan aku habis! Gaji aku dipotong!" bentak Rendy, langsung meluapkan kekesalannya pada Puji. "Sumber penghasilan ludes!" Puji tersentak, wajah rentanya tampak ketakutan. "La-lalu kita harus bagaimana, Ren? Uang belanja bulanan dari kamu kan belum Ibu terima...
Lilis tertawa kecil, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh gertakan sambal itu. "Silakan lapor, Ren. Laporkan ajalah. Jangan lupa bawa bukti-buktinya ya. Tapi sebelum kamu sampe ke kantor polisi, pastiin juga kalo kamu punya uang buat bayar pengacara. Oh, atau kamu mau pakai jasa pengacara gratisan?" "Sialan lu, Lis!" makian Rendy terdengar semakin serak dan putus asa. "Dengar ya, Rendy," ucap Lilis, memperkecil volume suaranya namun menekankan setiap kata dengan penuh ancaman. "Uang yang kamu punya sekarang mungkin cuma cukup buat makan promag sama mi instan sampai akhir bulan. Dan itu baru permulaan. Nikmati saja prosesnya bersama ibuku dan Wulan di rumah itu. Kuberikan neraka itu untuk kalian bertiga." Klik! Lilis langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Tanpa berpikir dua kali, ia segera memblokir nomor telepon Rendy, serta semua akun media sosial calon mantan suaminya itu agar tidak bisa menghubunginya lagi. Ia menarik napas panjang, merapikan rambutn
Brandon terdiam sejenak, menimbang kalimatnya agar tidak membebani Lilis. "Mommy bukan tipe orang yang kaku soal status sosial, Lis. Beliau lebih peduli pada karakter. Untuk sementara, kita bilang saja kita sudah berteman lama sejak kuliah, dan belakangan ini hubungan kita menjadi lebih dekat secara alami. Soal proses sidangmu, biar saya yang jelaskan dengan bahasa hukum yang bisa Mommy saya." Lilis mangut-mangut. "Siap deh, Kak. Aku akan ikut semua arahan Kakak. Yang penting besok malam aku harus terlihat rapi dan gak kelihatan kuyu seperti emak-emak kurang tidur, kan?" "Kamu selalu kelihatan cantik dan rapi, Lis. Gak usah khawatir soal itu," sahut Brandon spontan. Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Brandon, membuat suasana di antara mereka jadi agak canggung. Namun, Lilis yang dasarnya cuek dan menganggap Brandon murni sebagai mentor penolongnya, hanya menganggap kalimat itu sebagai pujian sopan antarteman untuk membesarkan hatinya. "Makasih pujiannya, Kak. Sangat m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews