LOGINLusi yang mendapati suaminya —Leon— berkhianat dan menikah lagi diam-diam, tetap berusaha bersikap tegar. Meskipun, luka dan rasa sakit itu jelas-jelas menyayat hatinya. Lusi bertekad bahwa dirinya lebih baik hidup menjanda daripada diduakan. Dia pun berusaha menunjukkan pada Leon kalau tanpa sang suami, dia akan tetap baik-baik saja. Membuat Leon akhirnya merasa sangat menyesal karena hanya Lusi yang mampu menerima segala kekurangan.
View MoreTangan Bima mulanya gemetar saat menerima surat itu. Jantungnya berdetak begitu keras hingga rasa–rasanya Bima bisa mendengarnya sendiri.
Surat dari Arafah.
[Untuk Mas Bima.]
[Mas, saat kamu membaca ini, itu artinya aku sudah pergi jauh. Jangan cari aku, jangan buang waktumu untuk seseorang yang sudah memilih pergi.]
Bima masih mencerna kata–kata dibait pertama. Baru awal namun rasanya Bima sudah menemui kekalahan—sakit luar biasa.
[Kamu mencintaiku. Aku tahu itu, aku merasakannya dalam setiap genggaman tanganmu, dalam setiap tatapanmu. Tapi di sisi lain, kamu juga punya keluargamu. Aku tahu, sebesar apa pun perasaanmu untukku, kamu tidak akan pernah bisa benar-benar mengorbankan keluargamu demi aku.]
[Jadi aku yang memilih pergi. Bukan karena aku ingin menyerah, tapi karena aku tidak ingin melihatmu menderita.
Aku tidak ingin melihatmu berada dalam dilema yang menyakitkan. Aku tidak ingin melihatmu kehilangan keluargamu karena aku, Mas.]
[Aku ingin kamu bahagia. Meski artinya aku harus pergi, maka akan aku lakukan. Jadi, tolong jangan cari aku. Jangan buang waktumu untuk sesuatu yang sudah berlalu. Jalani hidupmu, Mas.
Nikahi Kirana, itu permintaan terakhirku. Itu satu-satunya hal yang bisa membuat semua orang bahagia.]
[Selamat tinggal, Mas Bima. Dari seseorang yang pernah menjadi istrimu.]
===
"Siapa namanya? Mana keluarganya?” teriak seorang dokter sembari memeriksa kondisi pasiennya yang terbaring tak berdaya di atas brankar yang sedang melaju ke ruang IGD.
"Saya menemukan dia di jalan tergeletak setelah bunyi bom, sebentar saya periksa tasnya," jawab Komandan Bima.
Bima Shaka Sameer—salah satu Abdi Negara yang saat ini sedang bertugas di sebuah Negara yang sedang berkonflik dengan Negara sebelahnya. Sebagai Negara yang cinta perdamaian pemerintahnya mengirim untuk aksi perdamaian, belum lama tiba Bima sudah di sambut dengan bunyi tembakan dan bom yang menghancurkan sebuah Kota tidak jauh dari markasnya.
Menemukan seorang gadis yang tergeletak tidak jauh darinya membuat dia harus bertanggung jawab menyelamatkan gadis tersebut. Membawanya ke rumah sakit terdekat.
Rumah Sakit Indonesia—Rumah Sakit khusus warna negara Indonesia yang sedang berada di Negara Konflik tersebut, TKW atau TKI atau pelajar sekalipun bisa berobat di sana. Dan saat ini Rumah Sakit tersebut penuh dengan korban dari perang yang saat ini terjadi di Negara itu. Bukan hanya warna Negara Indonesia, warga Nagara setempat pun ada di dalamnya sedang berjuang hidup.
"Arafah Khanza, namanya Arafah Khanza, dok," pekik Bima yang sudah menemukan identitas gadis yang di tolongnya itu.
"Usia 25 Tahun, dia TKI," lanjutnya memberi informasi yang dia dapat.
"Jadi siapa yang tanggungjawab?" tanya sang Dokter.
Meskipun dalam kondisi darurat, tetap saja harus ada keluarga atau pendamping yang bertanggung jawab atas pasien yang saat ini sedang di selamatkan olah team medis di rumah sakit itu.
Bima celingak celinguk melihat sekeliling, tapi tidak ada satupun yang perduli, semua sibuk dengan kondisi mereka masing-masing, dalam kondisi genting saat ini terlihat keegoisan orang-orang. Menyelamatkan diri sendiri itu yang utama saat ini.
"Biar saya yang tanggungjawab, dok."
Dokter itu sontak menoleh mantap Bima, menegaskan kalau pria berseragam loreng itu benar mau bertanggungjawab sepenuhnya atas pasien yang bernama Arafah ini.
"Selamatkan dia, dok!" Sekali lagi Bima menegaskan.
"Baiklah, kami akan lakukan yang terbaik."
Srekkk ...
Dokter itu langsung menutup tirai dengan sempurna menutupi ruang kerjanya, sementara Bima terdiam terpaku di tempat.
Dia sendiri heran entah mengapa ada rasa yang sulit dia ungkapkan ketika melihat seorang gadis berjalan santai, dengan senyum manis di bibirnya menenteng sebuah plastik putih, sesekali gadis itu memeriksa isi kantung plastik di tangannya sembari berjalan di pinggir tapi tiba-tiba tubuh mungil itu terpental hingga beberapa meter dan terjatuh di dekat Bima bersamaan suara bom yang sangat kencang. Semua panik berhamburan menyelamatkan diri masing-masing.
Baru saja dia turun jaga, ingin menikmati libur di minggu pertamanya tugas di Negara konflik ini, tapi yang dia dapat bukan liburan melainkan serangan.
"To-tolong ...,” rintih gadis itu, tangannya menjulur memohon pertolongan tapi tidak ada satupun orang yang menoleh padanya.
Dengan sigap, Bima berlari meski dia harus menerobos beberapa orang yang berlari tanpa arah karena panik dan hampir menabrak dirinya.
Bima langsung menggendong gadis itu dan berlari menuju Rumah Sakit yang ada beberapa blok di belakang tempat kejadian. Sampai di Rumah Sakit, team medis sudah siap dengan beberapa brankar karena serangan dadakan memakan banyak korban. Sebagai Rumah Sakit terdekat dengan kejadian team medis langsung siap menerima para korban.
Napas Bima masih terengah namun dia harus bisa fokus menjawab pertanyaan dokter yang menangani gadis tersebut.
"Siapa namanya? Mana keluarganya?”
"Arafah Khanza, namanya Arafah Khanza, dok."
Bima tersentak ketika seseorang mendorong tubuhnya agar menyingkir, tidak menghalangi jalan. Seketika itu juga lamunannya atas kejadian beberapa saat lalu menguap.
Bima keluar dari ruang IGD agar tidak terlalu banyak orang di sana.
"Pak, tolong tandatangan di sini, Ibu Arafah harus di operasi." Seorang perawat menyerahkan beberapa berkas pernyataan yang harus Bima tandatangani.
"Operasi apa?” tanya Bima. Karena seingat dia dan sepintas ketika dia menemukan Arafah gadis itu tidak terlalu buruk kondisinya kecuali beberapa darah yang ada di kaki dan kepalanya.
"Dislokasi kaki kiri dan kaki kanan sobek cukup panjang," jelas Perawat itu dengan singkat karena situasi yang mengharuskannya cepat.
Bima sedikit paham tentang bahasa medis, dia tidak menyangka kaki Arafah Dislokasi—istilah medis yang merujuk pada kondisi ketika tulang di sendi bergeser atau keluar dari posisi normalnya. Saat itu Bima hanya fokus pada darah dikepala Arafah dan kaki kanannya. Sedangkan kaki kiri terlihat baik-baik saja tapi ternyata dalamnya bermasalah.
Pria bertubuh tegap itu menghela napas kemudian menandatangani surat pernyataan itu. Setelah selesai, Perawat langsung membawa berkas-berkas tersebut kedalam ruang IGD.
Bima duduk di kursi tunggu, beberapa saat dia tersadar dengan tas yang di pegangnya. Diperiksanya lagi tas milik Arafah itu. Selain dompet berisi tanda pengenal, tas itu juga ada berkas yang lainnya. Surat-surat penting lainnya juga dia bawa.
Drrrttt ... Ponsel Bima bergetar di saku celananya.
"Bim, kau dimana?" tanya teman satu lintingan Bima di seberang sana dengan nada penuh kekhawatiran. Bagaimana tidak khawatir, pria itu habis tukar jaga dan tidak lama Bima keluar dari markas, serangan dadakan itu pun terjadi.
"Aku di Rumah Sakit Indonesia, Ren. Kau dimana?” jawab Bima sekaligus dia melempar pertanyaan yang sama khawatirnya pada sahabat yang satu pendidikan militer bersamanya.
Tut ... Tut ... Tut ... Sambungan telpon terputus sepihak. Entah dari Bima atau sahabatnya yang bernama Reno. Situasi konflik seperti ini memang menyulitkan komunikasi, sinyal ponsel tidak tentu.
Beberapa saat kemudian, Reno datang dan langsung menghampiri Bima yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Astaga di sini kau rupanya, Kawan?! Ku kira kau jadi korban," cerocos Reno dengan logat kental melayunya, sembari dia menepuk pundak Bima.
"Sedang apa kau di sini?” sambung Reno yang sudah terduduk di sebelah sang sahabat.
"Di dalam ada korban yang aku selamatin tadi, sekarang dia lagi di operasi," jawab Bima.
Kening Reno mengernyit dalam. "Wanita atau pria?”
"Wanita."
"Heum, pantaslah!”
Mata Bima membola, hampir saja dia menyumpal mulut sahabatnya itu dengan kepalan tangannya kalah seorang perawat keluar dari ruang tindakan.
"Keluarga pasien Arafah?” tanya Perawat itu, lantang.
"Saya, Sus.”
"Anda suaminya? Istri Anda saat ini sedang butuh donor darah, Pak, dia banyak sekali kekurangan darah, stock darah di PMI baru saja habis. Apa Anda bisa cari orang dengan golongan darah O?”
Tanpa menyanggah asumsi perawat itu tentang status dirinya adalah suami dari Arafah, benak Bima hanya terlintas bagaimana dia mendapatkan donor darah untuk gadis itu. Pasalnya, golongan darahnya berbeda.
"Dia golongan darahnya O, Sus, ambil saja darahnya yang banyak." Bima menarik Reno yang masih terduduk di kursi tunggu.
"A-aku?”
"Iya, kau biasa donor darah kan, Ren?!”
"Kenapa mesti aku? Aku sedang tugas loh sekarang," tolak Reno.
"Tolong lah, Ren. Menolong orang itu jangan tanggung-tanggung," pinta Bima.
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Niat awal memang ingin melahirkan secara normal lagi, tapi ternyata tidak memungkinkan. Kali ini, dokter menyarankan agar menjalani operasi caesar demi keselamatanku dan bayinya. Akhir-akhir ini, tekanan darahku sering tidak stabil dan cenderung tinggi. Sampai Mas William dan orangtuanya panik sendiri takut terjadi apa-apa padaku.Aku pun tak bisa keras kepala. Jika memang melahirkan secara caesar adalah jalan terbaik, maka akan kulakukan.Tanggal sudah ditentukan dan kini semua persiapan sudah selesai. Jujur, aku sangat gugup karena ini pertama kalinya akan menjalani operasi. Bahkan kedua tanganku sampai gemetar, tapi Mas William dan orangtuanya selalu ada untuk menguatkan dan menenangkan."Dengar." Mas William menangkup lembut kedua pipiku. "Ada mas di sini. Enggak akan terjadi apa pun padamu atau bayi kita. Ok? Kamu harus rileks. Jangan sampai tensi kamu naik terus. Hm?"Aku mengangguk dan mencoba mengatur pernapasan."Berdoa, ya, Nak." Mama mengusap
Semua file bukti kebohongan Claudia sudah kusiapkan dengan baik. Ini juga berkat bantuan Mas Firman —asisten pribadi Mas William— yang diam-diam bantu menyelidiki. Memang aku sengaja tak memberitahu Mas William soal rencana ini. Saat itu, dia sedang banyak pikiran dan sibuk mengurus bisnis. Sampai-sampai dengan mudahnya memberikan uang tanpa berpikir dulu.Maka dari itu, biarlah kuman kecil seperti Claudia kutangani sendiri. Suami istri memang harus saling bahu membahu termasuk dalam membasmi bibit-bibit penyakit dalam pernikahan."Permisi, Bu."Aku menoleh pada Bi Yatmi yang berdiri di depan pintu yang memang terbuka lebar. Kuletakkan lipstik, lalu berdiri dan berjalan menghampirinya."Ya, Bi.""Tamunya sudah datang, Bu."Aku tersenyum. "Persilakan masuk dan sajikan minum.""Baik, Bu." Bi Yatmi mengangguk paham, lalu kembali ke lantai bawah.Aku berjalan ke kamar Hafsha untuk memanggil Mas William yang sedang bermain bersamanya. Hafsha sempat merengek minta ikut, tapi berhasil kubuju
Selama makan di restoran, hanya aku dan Mas Williamlah yang berbincang. Claudia bak makhluk tak kasat mata yang tidak diakui kehadirannya. Dia menyantap makan siang dengan wajah masam sambil sesekali melirik pada kami yang duduk di hadapannya."Enak?"Aku mengangguk dan tersenyum. "Coba, deh, Mas."Mas William membuka mulut menerima suapan dariku, lalu tersenyum."Enak, kan?" Aku terkekeh kecil."Iya. Kamu mau coba punya mas enggak?""Mau, dong."Kini giliran aku yang tersenyum menerima suapan darinya beberapa kali. Setelah menghabiskan menu utama, kini aku tengah menikmati es krim strawberry. Sementara, Mas William sedang menikmati minuman sodanya sambil memandangiku."Ada es krim nempel." Mas William mengusap sudut bibirku dengan ibu jari. "Manis," imbuhnya setelah menjilat ibu jari sendiri.Aku tertawa kecil. "Manis, dong, Mas. Namanya juga es krim.""Iya. Semanis yang lagi makan esnya." Mas William mencubit gemas hidungku."Eh? Mau ke mana, Claudia?" tanyaku saat melihatnya beranj
"Kamu meragukanku?" Mas William menatapku dengan dahi berkerut. Aku tersenyum, lalu mendekat padanya yang berdiri di dekat meja rias. "Aku percaya padamu, Mas. Sangat percaya," kataku sembari membantu membukakan kancing kemeja. "Terus, kenapa malah menyetujui permintaan Claudia? Kamu sungguh ingin mas menikahinya?" Tersirat ada kekecewaan dari sorot matanya yang membidikku. Kutangkup kedua pipinya lembut seraya menatap lekat. "Apa aku terlihat tipe wanita yang rela berbagi, hm? Mas William menyentak napas kasar, lalu menyentuh satu tanganku di pipinya. "Mas takut kamu terhasut ucapan Claudia, Sayang. Mas enggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya." Aku tersenyum. "Itu enggak akan terjadi. Enggak akan kubiarkan batu kerikil menghancurkan pernikahan kita." "Terus untuk apa kamu minta dia datang lusa nanti?" "Mas percaya padaku?" Dia mengangguk. "Kalau begitu, ikuti saja semua arahan dan perintahku tadi. Cukup ikuti sandiwara yang sudah kubuat ini. Ok, Suamiku?" Mas
Bang Leon dijaga oleh tiga pria berbadan tegap dan besar. Dia yang tengah mencoba menenangkan Alva yang menangis di gendongannya pun, seketika menoleh saat mendengar suara nyaringku."Dek ...." Dia berdiri dan menatap takut padaku yang melotot tajam kepadanya.
Mobil kupacu cepat menuju kediaman Papa untuk menyusul Leon yang dibawa ke sana. Sesuai permintaan Lusi tadi, walau dia marah dan kecewa, wanita itu tetap ingin masalah ini jangan diperpanjang. Apalagi sampai masuk ranah hukum. Bukan apa-apa, tapi dia memikirkan perasaan orangtuanya
~POV William~🍁🍁🍁Aku tahu Lusi panik dan cemas karena Alva hilang dibawa Leon. Wanita yang kini telah sah menjadi istriku itu juga sedikit marah dan kesal karena keluarga sepakat tetap melanjutkan acara pernikahan. Sejujurnya, aku tidak masalah jika ditunda. Apalah artinya uang dibandingkan kebaha
"Mas, aku ....""Enggak apa-apa." Mas William memotong ucapanku. "Aku sudah janji, bukan? Apa pun keputusanmu, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Aku sudah tahu dan bisa menebaknya, kok. Sudah kuduga kalian pasti kembali bersama. Aku tahu kalau kalian masih












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore