MasukMelahirkan anak pertama seharusnya menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap pasangan suami istri. Namun, tidak dengan Bima dan Siska. Kalimat talak lolos keluar dari mulut Bima hanya karena sang istri melahirkan anak pertama mereka seorang bayi perempuan bukan laki-laki seperti yang Bima harapkan. Bagaimana kisah selanjutnya Siska? simak kisahnya di GoodNovel
Lihat lebih banyak“LEOOOO, OPEN UP THE FUCKING DOOR, BEFORE I BREAK IT!”
The banging grew louder.
“Open up! I know you’re in there!”
They weren’t going to give up unless they broke my door down… or I opened it. And that was never going to happen. Either way, they wouldn’t be satisfied.
Not until they beat the hell out of me. Or I gave them their money. And either way, I didn’t have it.
Not now. Not ever. Not when I couldn’t even get a decent-paying job.
Money.
The root of all evil. And my main problem right now.
The men at the door went quiet for a second, and for a moment, hope flickered in my chest. Maybe I’d gotten lucky. Maybe they had finally left.
All I had to do now was find another place to crash
A brown envelope slid under my door.
I quietly stepped forward and picked it up from the floor.
“We’ll be back next week,” one of them growled from the other side of the door. “And if you don’t have our money by then, Leo, I’m breaking every bone in your body!”
I pulled the paper from the envelope with shaking hands.
“See you next week,” the man added as his heavy footsteps faded down the hallway.
My eyes locked onto the bold print.
And my whole body went still.
My stomach dropped.
“Seven million dollars?!”
There was no way.
I’d only borrowed ten grand. How the hell did it become Seven million?
I knew taking a loan from anyone other than a bank was risky… but I never imagined this. Not like this.
Fuck.
Fuck!
I couldn’t even afford a slice of bread, and they expected Seven million?
On top of that, there were other debts. Different places. Different people.
I was going to die.
Because of money.
I stumbled into my bedroom and grabbed my phone from the bed, dialing the only person I trusted.
“Hello? Leo?”
Relief flooded my chest when I heard his voice.
“Max,” I croaked, gripping the paper tighter. “They say I owe Seven million now. What am I going to do?”
“One of the guys just came here,” I went on. “If I don’t get it by next week, I’m dead. They’ll kick the door down next time. I know they will.”
“Whoa Leo, slow down. Seven million?!” he shouted.
“You need to go to the police. This is way out of hand. You’re being scammed and threatened. You have to tell them.”
Tears slipped down my cheeks and I didn’t even bother wiping them away.
“I already did,” I whispered. “They won’t help me. The banks have blacklisted me, and now work is drying up. I screwed up, Max. I never should’ve borrowed the money, but I was desperate.”
The more I thought about it… maybe I should just open the door next time.
Let them beat me.
Beg for my life.
Maybe they’d let me live if I worked for them.
Work off my debt.
My life was the only thing I had left to offer.
“I have an idea,” Max said carefully. “But it’s a long shot.”
“What?” I exhaled sharply. “I’ll do anything at this point. As long as it’s not something sketchy.”
“It’s not like that,” he insisted. “I knew a guy who helped this singer. She was in trouble and went to this man. He gave her the money. All she had to do was one simple thing whatever he asked and she did it.”
“That girl was Maltida Benson. Lead singer of Musical college. She took the deal, and after that? She got her dream. Fame. Money. Success.”
Maltida.
I knew the name.
One minute no one had heard of her next she was everywhere. Charts. Makeup ads. Awards.
“What did she do?” I asked quietly, tapping my foot. “It can’t be that simple.”
“Don’t know. NDA or something,” he said. Then his tone brightened. “But this could be your chance. Movie roles. Debts gone. You need this, Leo.”
“What else do you even have left to lose?”
He was right.
All I had was my bed… an empty fridge with ketchup inside… and the clothes I was wearing.
Still, something about this felt wrong.
No one gave away millions for nothing.
No one.
“Okay,” I said shakily. “Who is he?”
My pride was already shattered.
I had no other options left.
“Grayson Knight .”
The name meant nothing to me.
“Is it real?” I asked. “Would he even see me?”
Max hesitated.
“I mean… there’s no harm in trying, right?” he said awkwardly. “I’ll send the number and address. They say he’s the devil but he gets things done.”
“Thank you,” I whispered. “I don’t even know what I’d do without you. You’re my guardian angel.”
“Just stay alive until then,” he said firmly. “I am not burying my best friend, you hear me?”
Then he hung up.
A moment later, the address and number came through.
My stomach twisted when I read his name again.
Opening G****e, I typed it in.
Grayson Knight .
I clicked the first result his Wikipedia page.
And the first thing that hit me…
Was his face.
I’d expected an old, creepy, rich man with a taste for younger people.
But Grayson was young.
Handsome.
And disgustingly wealthy.
It said he’d built his empire himself. From nothing. And fast.
One of New york’s youngest and richest bachelors.
In the first photo, he stood in front of a floor-to-ceiling window with behind him. Arms crossed. Expression cold.
The image screamed money.
Power.
Control.
I scrolled.
My eyes nearly popped out of my head.
Billionaire.
Owner of Knight Enterprises.
CEO of Magical one of the biggest talent agencies in New york.
In the world.
Anyone signed to Magical had already made it.
That building was a dream most people would never even stand inside.
If I got in…
TV shows.
Movies.
No more dead-end commercials airing at midnight.
No more scraping by.
No more begging.
I sucked in a breath.
I was done running.
I was done hiding.
This was my only move left.
I tapped the call button.
Grayson Knight.
3 bulan kemudianPernikahan antara Reyden dan Siska telah digelar dengan sangat mewah. Gedung yang sudah dihias dengan pernak-pernik pernikahan membuat siapapun mata yang memandang akan terpesona. Siska yang masih menunggu di dalam ruangan merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Meski sudah pernah melakukan acara sakral ini. Tetap saja, perasaan itu kembali hadir. Tangannya terus bergemetar membuat Helena, calon ibu mertuanya tersenyum simpul. "Tenang saja, sayang. Acaranya hanya berjalan beberapa jam saja kok. Apa mau mama ambilkan minum?" "Enggak usah, Ma. Terimakasih. Barangkali mama capek, biar Siska aja yang gendong Bora." "Gendong anak selucu ini, gimana bisa mama merasa capek? Sudah kamu duduk saja yang tenang. Biar mama yang urus Bora, cucu Oma." Senyuman tak pernah lepas dari bibir Siska. Bagaimana tidak? Di hidupnya yang berantakan. Ia justru dipertemukan kembali dengan sosok laki-laki di masalalunya dan dipersatukan kembali. Tak hanya itu, sosok calon ibu mertuan
Mendengar kalimat tak terduga yang keluar dari mulut Siska yang dianggap masih menantunya. Bu Sarah membelalakkan kedua matanya memandang Siska dengan terkejut. Ia pun bergantian memandang cucunya dengan rasa tak percaya. "Jangan ngeprank Mama, Siska. Bima sendiri yang bilang kalau kamu melahirkan bayi laki-laki." Siska tetap menyakinkan Bu Sarah bahwa apa yang dikatakan Bima adalah kebohongan karena tak ingin membuatnya kecewa. "Aku tidak mau membohongi mama. Karena, bangkai kalau terus disimpan, pasti akan ketahuan juga. Lebih baik, aku bilang sama Mama daripada mama tau sendiri dan kecewa nantinya." ucap Siska berterus terang tentang perasaannya. "Lagipula, aku dan mas Bima sudah bercerai Ma. Mas Bima tidak mau mengakui anak itu karena ia ingin anak laki-laki sebagai anak pertamanya. Tapi, aku bisa apa? bukan aku yang menentukan jenis kelamin seorang anak yang akan dilahirkan. Semua itu kehendak Tuhan. Tapi, mas Bima tidak mau mengerti hal itu. Mas Bima bahkan menyuruhku untuk
"Kenapa mas? Kenapa berhenti? lanjutkan saja kegiatan kalian. Aku kesini hanya ingin mengambil dokumen pribadiku." ucapku tanpa memedulikan suamiku yang tengah sibuk memakai celana pendeknya. Sedangkan, perempuan itu hanya menundukkan wajahnya dengan selimut yang masih menutupi seluruh tubuhnya. Entah takut atau malu karena terpergok orang lain. Aku tidak peduli! "LANCANG SEKALI KAMU, SISKA! BERANI KAMU MENGINJAKKAN KAKI DI RUMAH INI LAGI?!" bentakan mas Bima membuat Bora yang tengah tertidur pulas di dekapanku akhirnya menangis dengan kencang. "Berani juga membawa anak pembawa sial itu kemari. Apa kamu menginginkanku untuk mengakuinya dengan alibi mencari dokumen pribadimu. Iya kan? Haha.. jangan harap! Aku tidak akan sudi meski kamu memaksaku dan memohon berlutut di depan kakiku." "Bagaimana? Senang hidup di luaran sana tanpa aku? berjualan gorengan dengan untung tak seberapa itu? ingat Siska! selama ini kamu hidup enak karena siapa? kalau kamu mau rujuk kembali padaku, akan aku
Seperti yang dikatakan Reyden siang tadi. Benar saja, sore ini ada mobil yang sudah terparkir di depan rumah kontrakanku datang hanya untuk menjemput ku. Entahlah, rasanya aku begitu malu jika diperlakukan bak ratu seperti ini. Karena, mengingatkanku pada mas Bima. Laki-laki yang menjadi mantan suamiku itu, dulunya juga sama saja memperlakukanku seperti ini. Aku hanya berharap, bahwa hubunganku dengan Reyden nantinya akan kokoh selamanya. Debora sengaja aku ajak, karena aku tidak akan tenang jika menitipkannya pada orang lain meski aku mengenalnya. Naluri seorang ibu, pastilah tak ingin berjauhan dengan buah hatinya. Setelah mengunci pintu rumah, lalu masuk ke dalam mobil. Menikmati perjalanan menuju arah butik Angola. Butik terkenal di pusat kota, dimana semua pelanggannya adalah hampir semua rata-rata orang kaya, artis juga selebgram terkenal. Tak bisa aku bayangkan, berapa uang yang akan Reyden keluarkan hanya untuk sekedar gaun yang hanya dipakai selama satu hari saja. Puluhan ju
"Jangan membuatku semakin marah, Siska!" Aku meringis menahan nyeri ketika jari-jari tangan mas Bima memegang tanganku begitu kuat. Aku yakin, pergelangan tanganku akan membekas kemerahan esok. Mungkin melihat ekspresi wajahku yang tengah kesakitan membuat mas Bima segera melepas cengkraman tangan
"Kamu mengancamku mas?" Tanyaku sembari menatap mas Bima dengan tatapan tak percaya. "Aku tidak mengancam, hanya memberi saran saja. Tapi, kamu justru menolak. Siska, aku tau kita saling mencintai. Kenapa harus ribut gara-gara anak itu. Kita hanya menukarnya saja, kamu masih bisa menjenguknya kapan
Aku terbangun di sebuah ruangan yang berwarna serba putih. Ku paksa untuk mengerjapkan kedua mataku. Meski rasa pusing menghantam seluruh isi kepala. Terasa berdenyut-denyut membuatku harus melenguh kesakitan. Terlebih bau obat-obatan begitu menyengat menyentuh rongga hidungku. Seketika, aku ingat
Aku begitu terkejut dengan kedatangan mas Bima yang secara tiba-tiba. Dia begitu terlihat marah, berdiri dengan berkacak pinggang di belakang tak jauh dariku dan Reyden."Ma-mas Bima!" Seruku. "Ya ini aku. Kenapa? Kamu terkejut Siska? Jadi, ini yang kamu lakukan di belakangku? Apa tidak ada tempat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan