LOGINAzalea Maharani tidak pernah menduga pernikahan yang dibinanya selama tiga tahun harus berakhir di halaman Masjid Al-Hikmah. Sebuah pesan anonim mengabarkan bahwa suaminya, Bara Adhitama, melangsungkan akad nikah dengan perempuan lain. Kebenaran yang lebih menyakitkan adalah perempuan tersebut Keyna Aulia—adik asuh Azalea dari Panti Kasih Bunda, sosok yang dibesarkan dan disekolahkan oleh Azalea sendiri. Di hadapan para jemaah, pengucapan ijab kabul Bara terdengar jelas dari pengeras suara masjid. Ketika Azalea menuntut keadilan sebagai istri pertama, yang ia terima justru tamparan keras dan ultimatum: terima dimadu atau bercerai. Bagaimana kisah hidup Azalea? Apakah dia menerima perceraian atau tetap bersama dengan Bara dan menerima madunya?
View MoreJam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.
*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mbak, Bapak Bara Adhitama, sedang melangsungkan ijab kabul di Masjid Al-Hikmah. Dengan perempuan lain. Namanya Keyna Aulia. Menurut informasi yang aku terima, perempuan tersebut sudah mengandung. Aku tidak tega melihat Mbak terus dibohongi. Tolong cek ke sana sekarang juga.*
Jari-jari Azalea membeku di atas layar. Napasnya tercekat. Selama tiga tahun pernikahan, ia terbiasa menerima pesan singkat dari ibu mertuanya yang berisi hinaan, "Kapan hamil? Mandul ya?" atau "Jangan-jangan kamu bawa sial untuk Bara."
Namun, pesan kali ini berbeda. Bukan hinaan, melainkan informasi yang membuat dinding jantungnya terasa runtuh mendadak.
Keyna Aulia. Nama itu terlalu ia kenal. Terlalu ia sayangi dan rasanya tak mungkin kalau suaminya itu berselingkuh dengan Keyna.
Keyna adalah adik asuh Azalea di Panti Asuhan Kasih Bunda. Gadis yang ia temukan menangis di pojokan panti sepuluh tahun lalu karena baru saja ditinggal meninggal oleh ibunya. Azalea yang saat itu masih duduk di bangku kelas dua SMA rela menyisihkan uang beasiswanya agar Keyna bisa melanjutkan sekolah.
Azalea yang memperjuangkan Keyna agar diterima bekerja sebagai staf administrasi di PT Adhitama Sejahtera, perusahaan milik suaminya. Azalea yang selalu berkata kepada siapa pun, "Keyna itu adikku. Satu-satunya keluarga yang aku punya selain Bara."
Kini, nama yang ia sebut sebagai keluarga justru tertulis sebagai pengantin perempuan di samping nama suaminya.
Dengan tangan gemetar, Azalea mengambil kunci mobil. Ia baru saja selesai mengajar muridnya. Kepalanya sakit tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan hanya satu: memastikan bahwa pesan itu bohong. Bahwa semua ini hanya lelucon jahat yang dikirim oleh orang yang tidak menyukainya.
Perjalanan menuju Masjid Al-Hikmah yang biasanya ia tempuh dalam dua puluh menit terasa seperti dua puluh tahun. Setiap lampu merah adalah siksaan. Setiap klakson kendaraan terdengar seperti vonis. Sepanjang jalan, Azalea terus berdoa dalam hati, merapal kalimat yang sama berulang kali, "Ya Allah, jangan. Tolong jangan jadikan ini kenyataan. Jika ini ujian, aku mohon jangan seberat ini."
Masjid Al-Hikmah berdiri megah di ujung Jalan Merpati. Masjid tempat ia dan Bara melangsungkan akad nikah tiga tahun lalu. Masjid tempat Bara berjanji di hadapan penghulu, di hadapan Allah, dan di hadapan dirinya, "Saya terima nikahnya Azalea Maharani binti Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin emas dua puluh gram dibayar tunai." Hari itu, TOA masjid mengumandangkan takbir. Hari itu, Bara menggenggam tangannya erat dan berbisik, "Kamu satu-satunya, Zel. Sampai mati."
Mobil Azalea berhenti mendadak di pelataran parkir masjid. Ia tidak peduli parkirnya miring dan hampir menyerempet pot tanaman hias. Dari kejauhan, ia melihat beberapa orang berdiri di teras masjid. Laki-laki berkopiah, perempuan berkerudung, beberapa anak kecil berlarian. Suasana tampak seperti baru saja selesai mengadakan sebuah acara sakral.
Dan kemudian, Azalea mendengarnya.
Suara itu. Suara yang sangat ia hafal. Suara yang selalu membangunkan dirinya untuk salat Subuh. Suara yang selalu ia dengar mengucap "aku sayang kamu" setiap malam sebelum tidur. Suara Bara Adhitama, suaminya.
Pengeras suara masjid masih menyala. Entah karena kelalaian panitia atau memang disengaja oleh Allah agar ia mendengar, kalimat itu meluncur jelas, lantang, menghantam seluruh kesadarannya:
"...saya terima nikahnya Keyna Aulia binti almarhumah Suryani dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin berlian lima karat dibayar tunai."
Gedebuk.
Tas jinjing Azalea jatuh ke lantai pelataran masjid. Tubuh Azalea menegang. Ia merasa seluruh darah di tubuhnya berhenti mengalir, kemudian berbalik arah dan menghantam kepalanya hingga pening. Ia ingin berteriak, tetapi tenggorokannya tercekat. Ia ingin berlari, tetapi kakinya terpaku di tanah. Ia hanya mampu berdiri di sana, di bawah terik matahari pukul dua siang, menyaksikan beberapa orang keluar dari pintu utama masjid dengan wajah berseri-seri.
Dan di antara mereka, ia melihatnya.
Bara Adhitama, mengenakan beskap putih bersih, peci hitam, dan senyum yang dulu selalu ia berikan kepada Azalea setiap hari raya. Di sampingnya, bergelayut manja, berdiri Keyna Aulia dengan kebaya putih modern, sanggul rapi, dan perut yang sedikit membuncit. Tangan Keyna melingkar di lengan Bara, seolah mengklaim kepemilikan.
Mata Azalea dan mata Bara bertemu.
Untuk sepersekian detik, dunia berhenti. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada suara anak kecil. Tidak ada suara azan yang sebentar lagi berkumandang. Yang ada hanya tatapan dua orang yang pernah saling berjanji setia, kini saling menghancurkan.
Senyum di wajah Bara luntur seketika. Ia tampak terkejut, panik, dan sedikit bersalah. Namun, rasa bersalah itu hanya bertahan tiga detik sebelum digantikan oleh ekspresi lain yang lebih dominan: amarah. Amarah karena merasa dipermalukan. Amarah karena rencananya diketahui.
Keyna yang menyadari arah pandang Bara menoleh. Matanya membulat. Tangan yang tadi melingkar di lengan Bara kini mencengkeram lebih kuat, seolah ketakutan Azalea akan menarik Bara darinya. Namun, bibirnya melengkungkan senyum. Bukan senyum bersahabat. Melainkan senyum kemenangan yang tipis, menusuk, dan penuh arti.
Azalea melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Kakinya terasa berat seperti membawa beban seratus kilogram di masing-masing pergelangan. Ia tidak berlari. Ia tidak menangis. Ia berjalan tegap, menghampiri dua manusia yang telah mengkhianatinya dengan cara paling keji: di rumah Allah, di hari Jumat, di hadapan penghulu.
Semua orang di teras masjid terdiam. Mereka mengenali Azalea. Istri pertama Bara Adhitama. Perempuan yang selama tiga tahun dikenal santun, setia mendampingi suami, dan rajin mengantar makanan ke masjid setiap hari Jumat. Kini perempuan itu berdiri di hadapan mereka dengan wajah pucat pasi. Mungkin lebih tepatnya adalah dengan wajah yang sangat kacau.
"Mas Bara," suara Azalea keluar. Terdengar tenang, tetapi siapa pun yang mengenalnya akan tahu bahwa itu adalah ketenangan sebelum badai. "Bisa jelaskan apa maksud semua ini? Kenapa kamu menikah dengan Keyna? Dia itu adikku!"
Jantung Keyna yang tadi sudah capek berdetak, kembali berpacu. Ia menunduk, mengatur napas, mencari alasan yang paling masuk akal. “Maaf, Ma,” jawab Keyna pelan. Suaranya dibuat lelah. “HP aku lowbat dari siang. Aku tadi ke rumah sakit buat senam hamil, Ma.Pas pulang, jalanan macet parah karena ada pohon tumbang di depan Mall Cipinang. Jadi macetnya parah banget sampai tadi baru lolos.”Bohong. Semuanya bohong. Tetapi Keyna mengatakannya dengan wajah paling memelas. Tangannya mengelus perut. “Debay juga rewel, Ma. Nonstop nendang dari tadi. Makanya aku jalan pelan-pelan.”Bu Ratna menatap Keyna dari atas sampai bawah. Tatapannya berhenti di perut Keyna yang memang sudah membesar. Lalu matanya turun ke tangan Keyna. Ke jari manis yang kosong.Dahi Bu Ratna mengernyit. “Cincin kawin kamu mana?”Mata wanita itu seolah curiga dengan cincin yang biasanya dikenakan dengan bangga oleh Keyna dan hari ini, cincin itu tak terlihat. Hanya ada bekas cincin saja di ja
Raka menghela napas. Ia menatap Keyna lekat. Matanya merah, bukan karena marah, tetapi karena putus asa.“Key, aku mohon. Sekali ini aja. Kamu apa tega lihat aku bangkrut parah? Kamu tega lihat aku jadi gelandangan? Aku nggak minta buat foya-foya. Ini buat hidup, Key. Untuk masa depan yang lebih baik.”Kalimat “masa depan” itu menohok Keyna. Masa depan siapa? Masa depan Raka sendiri, atau masa depan mereka? Keyna tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya sudah naik satu tingkat untuk Raka. Dulu hanya kangen dan butuh teman untuk curhat. Sekarang ia menjadi kasihan. Kasihan yang entahlah akan menjadi berbahaya atau tidak. Apalagi sekarang Keyna sudah menikah dengan Bara.“Aku janji, Key. Sumpah demi apa pun. Kalau uang udah kekumpul, yang pertama aku lakukan adalah nebus cincin kamu. Terus aku balikin semua uang kamu. Lima puluh juta, plus bunga kalau kamu mau.
Raka menunduk.“Aku tahu, Key. Aku nggak berhak minta ke kamu. Kamu sekarang istri orang. Tapi aku bener-bener udah buntu. Aku malu, Key. Harusnya aku yang jadi sandaran kamu, malah aku yang ngerepotin.”Hening. Hanya ada suara AC yang mendengung. Keyna menatap wajah Raka yang lelah. Pria yang dulu selalu menyambutnya dengan senyum dan kalimat “Ratuku datang”, kini terlihat seperti orang yang akan tenggelam.“Key... tolong aku, Key. Pinjemin aku dulu. Berapa aja. Aku janji ganti. Aku kerja rodi juga nggak apa-apa. Asal usaha aku selamat. Itu satu-satunya yang aku punya,”mohon Raka. Matanya berkaca-kaca.“Aku nggak mau jadi pecundang di depan kamu sama debay.”Keyna menggigit bibir. Otaknya berperang. Tabungannya cuma lima puluh juta. Sisa dari transferan Bara yang ia ku
Raka menggeleng pelan. Ia menutup laptopnya, seolah tidak ingin Keyna melihat angka-angka tersebut. Ia mencoba tersenyum, tetapi hasilnya hanya senyum pahit. “Bukan sakit, Key. Aku cuma... lagi banyak pikiran. Duduk dulu. Debay gimana?”Raka mencoba menenangkan pikirannya di hadapan Keyna.Keyna mengelus perutnya yang mulai membesar. “Debay sehat. Nendang terus dari tadi. Mungkin dia tahu mau ketemu Papa Raka.”Biasanya kalimat itu akan membuat Raka tertawa dan langsung berlutut untuk menyapa perut Keyna. Namun kali ini Raka hanya mengangguk. Ia menuangkan air putih ke gelas, tangannya sedikit bergetar. Tak ada ekspresi padahal Keyna sudah menyebutnya Papa Raka. Aneh bukan?Keyna tidak tahan melihatnya. Ia menggenggam tangan Raka. “Ka, cerita. Ada apa? Kamu beda. Kamu nggak pernah kayak gini di depanku. Ceritakan saja masalahmu, mungkin aku bisa bantu.”Keyna terlihat sangat tulus ingin membantu kesulitan yang dihadapi oleh Raka. Walaupun ia
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.