Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 7. Paniknya Hagia

Share

7. Paniknya Hagia

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-04-16 15:52:12

“Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”

Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.

Hagia menghela napas pendek. “Iya.”

Jawaban itu sederhana. Namun di dalam hatinya, ia tahu itu hampir mustahil terjadi.

Setelah perceraian mereka, Megantara tidak pernah benar-benar ‘masuk’ lagi ke dalam hidupnya. Tidak dengan cara yang menyakitkan. Tidak dengan cara yang membuatnya harus membangun tembok lebih tinggi dari yang sudah ada.

Sebaliknya lelaki itu justru terlalu patuh. Semua syarat yang dulu Hagia ajukan, diterima tanpa bantahan. Tanpa perdebatan. Tanpa usaha untuk melawan.

Selama satu hal tetap ia dapatkan, Ranu Adiwangsa.

Ia hanya meminta haknya sebagai ayah. Dan setelah itu, ia menjaga jarak dengan cara yang… nyaris sempurna.

Itulah yang membuat semuanya terasa aman. Dan mungkin terlalu tenang. Sampai akhirnya, semuanya berubah hari ini.

Kini, mereka sudah berdiri di depan lobi apartemen Hagia. Lampu-lampu terang menyinari area drop-off, beberapa kendaraan keluar masuk dengan ritme yang pelan. Suasana malam terasa lebih tenang dibandingkan jalanan utama tadi.

Hagia berdiri di samping mobil Carmen, tasnya sudah ia genggam. Angin malam menyapu pelan rambutnya yang tergerai, membawa sisa aroma kota yang belum sepenuhnya tidur.

“Gue balik, ya. Thanks untuk hari ini,” ucap Carmen sambil membuka bagasi kecil di belakang, mengambil beberapa paper bag, lalu mengangsurkannya ke arah Hagia. “Dan ini buat lo sama Ranu.”

Hagia langsung mengernyit, tapi tetap menerima. “Ngerepotin banget sih, Men.”

Carmen mendecak pelan, menutup bagasi dengan satu gerakan ringan. “Harga diri gue terluka kalau sampai nggak bawa apa-apa buat lo, ya.”

Hagia terkekeh kecil, menggeleng. “Ya ampun.”

Carmen menyenggol lengannya pelan. “Sana masuk. Cubitin pipinya Ranu buat gue.”

Hagia tersenyum tipis. Hangat. “Iya.”

Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Tidak ada kata tambahan. Tapi cukup. “Hati-hati, ya,” lanjut Hagia.

Carmen mengangguk. “Lo juga. Jangan mikir berat-berat malam ini. Jadi single parent berat!”

Hagia tidak menjawab. Hanya tersenyum kecil. Lalu melambaikan tangan saat Carmen kembali masuk ke mobilnya. Dan perlahan, mobil itu melaju meninggalkan area apartemen.

Hagia masih berdiri di tempatnya beberapa detik. Menatap ke arah mobil yang semakin menjauh. Sampai akhirnya benar-benar hilang dari pandangan. Ia mengembuskan napas panjang. Lalu menatap paper bag di tangannya.

Hagia kemudian berbalik, melangkah masuk ke dalam lobi apartemen. Pintu otomatis terbuka, udara dingin dari dalam langsung menyambut.

Langkahnya pelan. Tidak terburu-buru. Namun di dalam pikirannya satu hal tetap tinggal.

Megantara Adiwangsa. 

Dan fakta bahwa untuk pertama kalinya setelah dua tahun hidup mereka kembali berada di jalur yang sama.

Begitu pintu unitnya terbuka, Hagia langsung melangkah masuk dengan tergesa. Tasnya masih menggantung di bahu, paper bag dari Carmen ia jinjing begitu saja tanpa benar-benar ia perhatikan.

“Ranu?” panggilnya refleks.

Sunyi.

Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara langkah kecil berlari. Tidak ada celotehan yang biasanya langsung menyambut begitu ia pulang.

Hagia berhenti di tengah ruang tamu. Keningnya mengernyit. “Mbak?” panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih keras. “Mbak Asri?”

Tidak ada jawaban. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia melangkah lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Paper bag di tangannya masih ia genggam, tapi perlahan genggamannya melemah.

“Ranu…”

Nada suaranya berubah. Panik mulai menyusup. Langkahnya semakin cepat. Ia membuka pintu kamar utama, lalu beralih ke kamar Ranu, tapi tidak ada siapa pun di sana. 

“Nggak mungkin…” gumamnya pelan.

Paper bag di tangannya akhirnya terlepas, jatuh begitu saja ke lantai tanpa ia pedulikan. Napasnya mulai tidak beraturan.

“Udah jam segini…” bisiknya. “Kenapa nggak—”

Kalimatnya terputus. Tepat saat ia berbalik hendak keluar dari unit pintu di depannya terbuka dari luar. Dan di sana seorang lelaki berdiri.

Hagia terpaku. Waktu seolah berhenti beberapa detik. Pandangannya tertuju pada Ranu yang kini terlelap dengan nyenyak di dalam gendongan Megantara.

Napas Hagia tertahan. Dadanya naik turun cepat, antara lega dan emosi yang bercampur jadi satu. Tanpa sadar, ia mendorong pintu lebih lebar ke belakang, memberi jalan.

Megantara tidak berkata apa-apa. Ia hanya melangkah masuk dengan tenang, langkahnya hati-hati agar tidak membangunkan Ranu.

Hagia mengikuti dari belakang. Matanya tidak lepas dari sosok kecil dalam pelukan lelaki itu.

Begitu sampai di kamar Ranu, Megantara menunduk sedikit, menidurkan anak itu perlahan ke atas tempat tidur. Tangannya bergerak hati-hati, membenarkan posisi kepala Ranu, lalu menarik selimut hingga menutup tubuh kecil itu dengan rapi.

Ranu tidak terbangun. Napasnya teratur. Wajahnya terlihat damai. Dan di situlah ketegangan di tubuh Hagia akhirnya runtuh.

“Mas…”

Suaranya lirih. Nyaris pecah. Ia berdiri di ambang pintu, tangannya mencengkeram sisi pintu seolah butuh penopang.

Setelahnya, Megantara keluar dari kamar dan melangkah menghampiri Hagia. Lelaki itu terdiam, seolah merasa tidak ada yang salah dengan apa yang baru saja ia lakukan. 

“Kenapa kamu nggak bilang kalau mau bawa Ranu, sih?” suaranya mulai bergetar. “Emang nggak bisa kamu ngabarin aku dulu? Emang—”

“I do, Nadi.”

Suara Megantara memotong, tenang. Ia berdiri tegak, menoleh ke arah Hagia.

“Aku udah coba telepon dan chat kamu,” lanjutnya. “Aku bahkan sudah minta Mbak Asri buat chat kamu. Sudah kamu baca?”

Hagia terdiam. Tangannya langsung meraih ponselnya di dalam tas, membuka layar dengan cepat.

Beberapa notifikasi menumpuk.

Telepon tak terjawab.

Pesan yang belum terbuka.

Dari Megantara.

Dari Mbak Asri.

Napasnya tercekat. Ia meraup wajahnya dengan kasar, jari-jarinya menekan pelipisnya seolah mencoba menenangkan diri yang tiba-tiba terasa kacau.

Ia bahkan tidak sempat membuka ponselnya sejak tadi.

“Nadi…”Suara Megantara kali ini lebih pelan. Lebih dekat.

Hagia menundukkan wajahnya. Rasa bersalah, panik, lelah, semuanya bercampur jadi satu, membuat kepalanya terasa penuh.

“Mas, aku capek,” ucapnya akhirnya.

Suaranya tidak lagi tinggi. Tidak lagi panik. Tapi… kosong.

“Aku mau mandi,” lanjutnya pelan. “Dan mending kamu pulang sekarang.”

Kalimat itu menggantung di udara. Megantara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Hagia beberapa detik. Memperhatikan wajah perempuan itu, yang jelas menunjukkan lebih dari sekadar lelah.

Namun akhirnya ia mengangguk kecil. “Oke. Selamat beristirahat.”

Satu kata.

Tanpa bantahan.

Tanpa tambahan apa pun.

Megantara melangkah melewati Hagia tanpa mengatakan apa-apa lagi. Pun begitu dengan Hagia yang sama sekali tidak menoleh. Perempuan itu hanya berdiri diam beberapa detik setelah langkah Megantara menjauh.

Sampai akhirnya suara pintu utama terbuka. Lalu tertutup kembali.

Hagia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tertuju pada Ranu yang masih terlelap di atas tempat tidur. Hagia bisa melihatnya dari tempatnya berdiri sekarang.

Kemudian ia melangkah mendekat, duduk di sisi ranjang. Tangannya terangkat, mengusap pelan rambut anaknya.

“Maaf…” bisiknya lirih. “Maafin Mama…”

Entah untuk Ranu. Atau untuk dirinya sendiri. Atau mungkin untuk seseorang yang baru saja pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
isi chatnya apaa??
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   125. Ajakan Moreno

    “Kamu yakin bakalan baik-baik saja?” tanya Megantara.Lelaki itu menoleh ke samping. Raut wajahnya terlihat khawatir. “Aku cuma bentar, sih. Cuma kalau—”“Aku baik-baik saja, Mas,” sela Hagia dengan cepat. “Aku udah nggak ngerasa mual kayak pagi tadi, kok. Sekarang udah mendingan.”Megantara masih terlihat ragu. Tatapannya menelusuri wajah Hagia seolah memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja.“Telepon aku kalau kamu kenapa-napa. Oke?”Hagia tersenyum. “Iya.”Setelahnya, Hagia mendekat, mengecup bibir Megantara lembut. Kemudian ia beranjak turun.Mobil Megantara perlahan meninggalkan area depan sekolah, sementara Hagia masih berdiri beberapa saat di tempatnya, memperhatikan mobil itu sampai menghilang di balik gerbang.Terhitung sudah sebulan ini Hagia berhenti bekerja. Dan sedikit banyaknya, ia bersyukur karena sekarang bisa lebih fokus dengan Ranu.Tidak lagi terburu-buru mengejar waktu pulang kantor, tidak lagi harus membagi perhatian antara pekerjaan dan putranya. Meski

  • Hello, Mantan!   124. Rencana Megantara

    “Jadi pengangguran kayaknya bikin Lo happy, ya?”Suara celetukan Kafka membuat Megantara yang baru saja datang langsung terkekeh. Lelaki itu menarik kursi kosong di samping Kafka, kemudian duduk dengan santai.“Kayaknya gue mesti nyoba jadi pengangguran juga, deh,” sahut Kafka lagi.“Yang ada lo pusing, Ka.” Megantara mendecak pelan. Tak lama kemudian, seorang barista datang menghampiri. Megantara langsung memesan secangkir kopi sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Kafka.“Udah sempat jenguk nyokap lo?” tanya Kafka sembari menyesap kopinya.Megantara terdiam sejenak. “Mm.” Ia menarik napas pendek. “Beberapa hari yang lalu gue ke sana.”“Terus?”“Ya...” Megantara bersandar pada kursinya. “Mau separah apa sakitnya, dia masih saja terlihat arogan.”Kafka terkekeh. “Nyokap lo sakit, Gan. At least lo udah jenguk dia, sih. Nggak ada huru-hara diantara kalian, kan?”Megantara menoleh. “Huru-hara apa, sih?”Kafka mengangkat kedua tangannya. “Ya mana tahu ada kejadian apa gitu, kan? G

  • Hello, Mantan!   123. Meminta Restu

    “Kalau menurut jadwal terakhir Bu Hagia menstruasi, usia kandungan Ibu saat ini sekitar tujuh Minggu,” ujar Dokter Inggit. Hagia menggigit bibirnya bagian dalam.Tujuh minggu. Entah kenapa, mendengar angka itu membuat dadanya terasa sesak oleh haru.Dokter Inggit kembali menggerakkan transduser di atas perut Hagia. Tatapannya sesekali beralih pada layar monitor di sampingnya.“Perkembangan janinnya juga baik.”Mata Hagia seketika berkaca-kaca. Ia menatap layar di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Setelah sekian tahun tidak lagi merasakan jantungnya berdebar seperti ini, kali ini Tuhan kembali memberinya kesempatan untuk merasakan hal yang sama.Ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya. Sesuatu yang bahkan beberapa hari lalu belum pernah ia bayangkan.Hagia menoleh ke samping. “Mas...”Megantara yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung meraih tangannya. “Iya, Sayang?”Hagia menelan ludahnya dengan susah payah. Jemarinya menggenggam tangan Megantara lebih erat.Megan

  • Hello, Mantan!   122. Morning Sickness

    Megantara tersentak kaget saat tiba-tiba merasakan kasur di sampingnya bergerak. Hagia yang beberapa detik lalu masih berbaring tenang mendadak bangkit.Tanpa mengatakan apa-apa, perempuan itu langsung turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. “Sayang…” Megantara masih memproses apa yang baru saja terjadi. Dengan wajah bingung sekaligus panik, ia segera turun dari ranjang dan menyusul Hagia.Begitu sampai di kamar mandi, suara muntah Hagia langsung menyambutnya. Megantara buru-buru berjongkok di sampingnya.“Hei...” Satu tangannya langsung mengusap punggung Hagia perlahan, sementara tangan lainnya menyatukan rambut perempuan itu yang jatuh ke depan agar tidak mengganggu.Hagia kembali memuntahkan isi perutnya. Megantara hanya bisa menunggu sambil terus mengusap punggungnya.Beberapa saat kemudian, Hagia akhirnya bersandar lemas pada dinding. Sementara Megantara melangkah keluar menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat.“Diminum dulu.” Sekembalinya lelaki itu, ia langs

  • Hello, Mantan!   121. Hamil

    Hagia baru saja keluar dari kamar mandi saat pandangannya langsung tertuju pada Megantara yang sedang duduk di sofa ruang tamu.Lelaki itu tampak sibuk dengan laptop yang bertengger di atas pangkuannya. Sesekali keningnya mengernyit, seolah tengah memikirkan sesuatu dengan serius. Masih dengan rambut yang basah, Hagia kemudian melangkah menghampirinya. “Mas...”Megantara seketika mengangkat wajah. “Hei, kamu udah selesai mandi?” Lelaki itu langsung menyingkirkan laptop dari pangkuannya, kemudian bangkit dari sofa. “You okay?”Hagia terkekeh kecil. “Apa sih, Mas?”Megantara mendekat. “Ya mana tahu kamu mual lagi, kan?”Hagia menggeleng pelan. “Nggak.”“Bener?”“Iya, Mas.”“Pusing?”“Nggak.”“Lemas?”“Nggak juga.”“Capek?”“Mas...”“Hm?”“Aku tuh cuma mandi. Kenapa sih kamu nanya-nanya terus dari tadi?” Hagia akhirnya tertawa kecil melihat ekspresi lelaki itu yang tampak begitu khawatir. “Belum juga tahu hasilnya, kamu udah kayak gini.”Megantara tersenyum sembari mengusap wajah Hagia

  • Hello, Mantan!   120. Peluang Baru

    “Aku kayaknya hamil.”Megantara yang sejak tadi mengusap punggungnya seketika terdiam. Tangannya berhenti bergerak.Hagia menundukkan wajah, tak berani menatap lelaki di sampingnya. “Kamu... bakalan senang, nggak? Kamu bakalan tanggung jawab, kan?”Mendengar pertanyaan itu, Megantara seketika tertegun. Ia menatap Hagia seolah baru saja salah mendengar.“Ulangi lagi, Sayang.” Hagia menggigit bagian dalam bibirnya. “Kamu tadi bilang apa?”Hagia mengembuskan napas pendek. Ia masih belum berani menatap Megantara. “Ini belum pasti, kok. Aku cuma mau bilang kalau...” Hagia berhenti sejenak. “Aku telat.”Megantara masih diam.“Dan kayaknya...” Hagia akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. “... aku hamil.”Hening selama beberapa saat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Hagia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Megantara perlahan berubah.“Mas? Kenapa? Kamu nggak suka, ya? Kamu—” Hagia menelan ludah. “Ini belum pasti, kok. Aku cuma—”Belum sempat Hagia melanj

  • Hello, Mantan!   8. Jemputan Megantara

    Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan

  • Hello, Mantan!   6. Sahabat Hagia

    Hagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang t

  • Hello, Mantan!   5. Marriage is Scary, Right?

    Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor

  • Hello, Mantan!   4. Hari Pertama Bekerja

    Megantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.Perhatiannya tertuju lurus ke depan.Arsenio berdiri di dekat layar proyekto

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status