LOGIN"Bagaimana besanku yang miskin bisa membeli rumah besanku yang kaya? Pasti mereka punya tuyul. Ya, di kampung kan masih suka mistis. Karena keluarga menantuku itu kan orang sengsara " Purnamasari terduduk kaku. Dia yang selama ini menjadikan menantu wanitanya babu, tidak terima dan tidak percaya atas apa yang dia dengar
View MoreSuasana di teras rumah megah itu mendadak senyap begitu derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan malam. Purnamasari tidak lagi mengetuk, melainkan langsung menerobos melewati gerbang yang kebetulan terbuka karena mobil sedan mewah tadi hendak melintas keluar. Dengan napas memburu dan wajah yang merah padam oleh amarah, dia menunjuk tepat ke arah wajah Ayu yang masih berdiri tenang di samping pria paruh baya itu."Oh, jadi begini kelakuan kamu di belakang Beni, Ayu!" pekik Purnamasari, suaranya melengking membelah malam. "Dasar tidak tahu diri! Jadi pembantu di rumah orang kaya saja gayanya sudah seperti nyonya besar!"Ayu sama sekali tidak bergeming; dia hanya melipat tangan di dada dengan tatapan dingin. Pria paruh baya di sebelahnya—yang tak lain adalah ayah kandung Ayu—serta seorang wanita anggun yang baru keluar dari pintu utama, yang merupakan ibu Ayu, juga hanya terdiam menyaksikan amukan itu. Keheningan mereka justru membuat Purnamasari semakin merasa di atas
“Aduh, Bu Purnamasari, jangan bawa-bawa keluarga saya lagi, deh! Masalah di rumah saya sendiri saja sudah bikin kepala mau pecah!” Suara Bu Dewi di seberang telepon terdengar melengking tinggi, penuh dengan nada frustrasi yang tidak berusaha disembunyikan. “Tapi, Bu Dewi, ini masalah hidup dan mati Beni! Siapa lagi yang bisa saya mintai tolong?” Purnamasari memelas, air matanya menetes bebas merusak sisa bedak di pipinya. “Jujur ya, Bu, hidup saya sekarang ini sudah susah! Jangankan buat bayar pengacara hebat untuk Beni, buat makan sehari-hari saja saya harus putar otak! Ditambah lagi si Andi dan Mayang, utang mereka di mana-mana! Debt collector bolak-balik datang ke rumah sampai saya malu sama tetangga! Jadi tolong, jangan bebani saya dengan urusan Beni!” Klik.Sambungan telepon diputus sepihak. Purnamasari terpaku menatap layar ponselnya yang menggelap. Dadanya kembang kempis menahan rasa sesak yang kian menghimpit. Penolakan mentah-mentah dari besannya itu bagai tamparan
Shintya membusungkan dadanya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya di depan Ayu. "Heh, Ayu! Kamu jangan berlagak sombong ya! Mas Beni tidak akan membusuk di penjara seperti yang kamu mau! Aku punya banyak kenalan orang penting!"Ayu menaikkan satu alisnya, tampak terhibur. "Oh ya? Coba sebutkan, siapa yang mau menolong seorang penipu investasi bodong dengan kerugian ratusan juta?""Aku punya teman seorang pengacara hebat di kota ini! Aku juga kenal dengan beberapa pejabat yang bisa mengatur masalah ini!" seru Shintya dengan nada menantang, menggenggam ponselnya erat-erat. "Aku akan menghubungi mereka sekarang juga! Mas Beni pasti akan bebas besok pagi, catat kata-kataku!"Mendengar bualan besar itu, Ayu tidak bisa lagi menahan tawa. Suara kekehannya yang renyah menggema di ruangan yang tegang itu, terdengar sangat meremehkan hingga membuat telinga Shintya merah padam."Silakan, Shintya. Hubungi saja semua teman hebatmu itu," ucap Ayu setelah tawanya mereda, menatap Shintya de
Beni merasa dunianya benar-benar runtuh berkeping-keping. Di dekapannya, tubuh Purnamasari terasa begitu berat dan dingin, sementara dua petugas polisi melangkah makin mendekat dengan tatapan tanpa kompromi.Bagaimana dengan adik bungsunya yang sedang kuliah di luar sana? Bagaimana dengan biayanya? Bagaimana kalau dia tahu ini? Semburan keringat dingin membasahi seluruh punggung Beni, membuatnya gemetar hebat."Pak, tolong mengerti! Ibu saya pingsan! Saya harus membawanya ke rumah sakit sekarang!" ratap Beni, suaranya melengking panik, mencoba memohon belas kasihan.Pak RT yang berdiri di belakang polisi menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa. "Beni, urusan medis ibumu akan diurus oleh ambulans yang sudah saya panggilkan lewat warga di luar. Tapi kamu, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Laporan dari para korban sudah lengkap.""Tapi saya tidak bersalah, Pak RT! Ini pasti salah paham! Seseorang sengaja menjebak saya!" teriak Beni histeris. Dia berusaha berdiri,
“Ada apa, Beni? Kamu mau bicara apa? Mama gak mau kamu bicara yang aneh-aneh, ya? Awas aja.” Purnamasari sudah mengancam duluan. Dia harus mewanti-wanti agar tidak ada kata bahagia dari mulut Ayu. Matanya pun sinis ke arah istri dari anak lelakinya itu.“Apaan sih, Ben?” Mayang juga sama penasarann
“Mama tampar Ayu lagi?” Pria yang baru hangat nafasnya datang itu adalah Beni. Dia sepertinya sudah kembali dari kantor. Padahal kalau hari-hari seperti biasanya dia belum pulang. “Ben, istri kamu yang kurang ajar. Mama cuma bilang sama istrimu kalau dia di sini membebani kamu. Tapi dia malah bawa-
Sejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan,
“Ada apa ya, Ma? Tadi Ayu lagi bikinin susu untuk Gavin. Apa ada perlu sesuatu, Ma?” Tanpa basa-basi Ayu langsung bertanya. Dia sudah hafal kalau soal suruh menyuruh pasti ditujukan padanya. “Ya ampun, jadi kamu nanya? Lihat tuh, lihat! Sup yang kamu hidangkan di meja, lihat! Itu warnanya jadi jel












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.