Share

Yang Kalian Hina Miskin
Yang Kalian Hina Miskin
Author: Kom Komala

Prolog

Author: Kom Komala
last update publish date: 2026-02-14 11:41:10

28 tahun silam

***

“Pikirkan lagi keputusan kamu untuk tinggal dengan suami miskinmu, Yasmin. Kalau kamu terus bersamanya, ayah terpaksa tidak akan memberikan kamu apapun! Ayah harap kamu dipanggil ke sini bisa paham maksud ayah.”

Suara itu terdengar tegas dan berwibawa. Sayangnya, isinya adalah sebuah ancaman.

Di rumah mewah nan megah seorang pria paruh baya berdiri tegap. Bukan sedang memantau karyawan kesiangan, melainkan menghakimi anak kandungnya sendiri.

“Ayah, Mas Hadi orang yang sangat baik. Dia suamiku. Dia berpenghasilan kecil juga halal.”

“Diam kamu, Yasmin. Ayah sudah malu dengan orang banyak atas pernikahan sembunyi-sembunyi kalian. Lihat kan? Pada akhirnya ada orang yang membocorkan, hingga di media heboh. Pernikahan anakku dilaksanakan seperti orang miskin. Kamu tahu siapa kita? Jamal Adi Bhaskara itu bukan orang sembarangan!”

“Aku sangat bersyukur karena ayah bersedia menjadi wali di pernikahan kami, Ayah. Terima kasih, tapi Yasmin harus ikut suami Yasmin. Apalagi Mas Hadi punya ibu yang sakit-sakitan. Aku harus bantu mengurusnya. Aku bersikeukeuh menikah dengan Mas Hadi karena dia baik hatinya. Harta yang dia berikan akan aku cukupkan untuk kami hidup.”

“Omong kosong. Kamu mau dibebani oleh mereka? Kamu memang tidak waras, Yasmin. Tiga bulan ini, kamu hidup sengsara sama si Hadi ini. Sudah ayah bilang, kamu dan suamimu ikut dengan ayah. Tapi ayah tidak mau keluarganya juga ikut!”

“Siapa yang bilang aku sengsara, Ayah? Dan sekarang aku paham, Ayah. Ayah orang kaya, bahkan bisa dibilang konglomerat. Tapi, Ayah tidak sudi dan tidak mampu untuk memberi keluarga menantu Ayah tempat. Padahal uang ayah, aku tahu banyak. Mas Hadi sekarang mungkin belum punya penghasilan besar seperti ayah. Tapi dia optimis bisa membahagiakan aku, ibunya, dan juga satu adiknya.”

“Yasmin, jangan bicara seperti itu.” Hadi melerai Yasmin dengan wajah pias. Dia tak ingin membuat istrinya itu menjadi anak durhaka.

Jamal Adi Bhaskara, ayahnya Yasmin menodong wajah Hadi dengan telunjuknya.

“Kamu yang sudah memengaruhi anakku. Baiklah, silahkan bawa pergi Yasmin dari rumah ini. Tapi suatu saat jika kalian membutuhkan bantuanku, maaf, aku tidak bisa membantu. Aku tidak memiliki anak dan menantu yang pembangkang.”

“Pak, tolong jangan begitu. Saya akan berat kalau pernikahan Yasmin dengan saya dapat meretakan keluarga Bapak. Tolong maafkan saya, Pak.” Hadi bersimpuh. Bahkan kedua matanya berair secara perlahan. Perempuan yang sangat dia cintai dan sudah dia nikahi, malah masuk ke dalam masalah besar.

“Saya tidak akan merubah keputusan saya, kecuali kamu menceraikan anak saya dan mengembalikan anak saya! Jujur, adalah suatu kebodohan saya merestui kalian secara diam-diam.” Jamal membentak penuh ancaman.

“Astagfirullah ayah. Tidak, aku tidak mau diceraikan. Tega sekali ayah begini? Andai masih ada ibu, pasti ibu bisa mencegah ayah untuk bicara seperti ini.”

“Diam kamu!”

“Mas, aku gak mau kamu cerain, Mas. Aku mau hidup sama kamu meski gak bergelimang harta. Bagiku, kasih sayang itu lebih dari segalanya. Dan kamu juga pasti akan mengusahakan segalanya.”

Hadi hanya bisa mengangguk dengan pilu. Ini sebuah pilihan yang sulit. Tapi Yasmin ingin tetap bersamanya. Hadi tidak tahu harus memutuskan hal apa. Dia tahu ayah mertuanya memiliki power yang sangat besar di negeri ini. Tidak menutup kemungkinan kalau keluarganya bisa ada dalam bahaya karena telah menumbuhkan masalah dengan Jamal.

“Ayah kejam! Kejaammm!”

Yasmin menangis tersedu-sedu. Dia tak pernah menyangka, awal yang diberi restu meski sudah memohon-mohon, dia pikir semuanya akan beres dan baik-baik saja. Nyatanya …

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Kalian Hina Miskin   32 Kenapa Besanku Yang Miskin Ada di Rumah besar itu?

    Suasana di teras rumah megah itu mendadak senyap begitu derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan malam. Purnamasari tidak lagi mengetuk, melainkan langsung menerobos melewati gerbang yang kebetulan terbuka karena mobil sedan mewah tadi hendak melintas keluar. Dengan napas memburu dan wajah yang merah padam oleh amarah, dia menunjuk tepat ke arah wajah Ayu yang masih berdiri tenang di samping pria paruh baya itu.​"Oh, jadi begini kelakuan kamu di belakang Beni, Ayu!" pekik Purnamasari, suaranya melengking membelah malam. "Dasar tidak tahu diri! Jadi pembantu di rumah orang kaya saja gayanya sudah seperti nyonya besar!"​Ayu sama sekali tidak bergeming; dia hanya melipat tangan di dada dengan tatapan dingin. Pria paruh baya di sebelahnya—yang tak lain adalah ayah kandung Ayu—serta seorang wanita anggun yang baru keluar dari pintu utama, yang merupakan ibu Ayu, juga hanya terdiam menyaksikan amukan itu. Keheningan mereka justru membuat Purnamasari semakin merasa di atas

  • Yang Kalian Hina Miskin   31 Minta Pertolongan Pada Orang Asing

    “Aduh, Bu Purnamasari, jangan bawa-bawa keluarga saya lagi, deh! Masalah di rumah saya sendiri saja sudah bikin kepala mau pecah!” Suara Bu Dewi di seberang telepon terdengar melengking tinggi, penuh dengan nada frustrasi yang tidak berusaha disembunyikan. ​“Tapi, Bu Dewi, ini masalah hidup dan mati Beni! Siapa lagi yang bisa saya mintai tolong?” Purnamasari memelas, air matanya menetes bebas merusak sisa bedak di pipinya. ​“Jujur ya, Bu, hidup saya sekarang ini sudah susah! Jangankan buat bayar pengacara hebat untuk Beni, buat makan sehari-hari saja saya harus putar otak! Ditambah lagi si Andi dan Mayang, utang mereka di mana-mana! Debt collector bolak-balik datang ke rumah sampai saya malu sama tetangga! Jadi tolong, jangan bebani saya dengan urusan Beni!” ​Klik.​Sambungan telepon diputus sepihak. Purnamasari terpaku menatap layar ponselnya yang menggelap. Dadanya kembang kempis menahan rasa sesak yang kian menghimpit. Penolakan mentah-mentah dari besannya itu bagai tamparan

  • Yang Kalian Hina Miskin   30 Minta Pertolongan (

    ​Shintya membusungkan dadanya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya di depan Ayu. "Heh, Ayu! Kamu jangan berlagak sombong ya! Mas Beni tidak akan membusuk di penjara seperti yang kamu mau! Aku punya banyak kenalan orang penting!"​Ayu menaikkan satu alisnya, tampak terhibur. "Oh ya? Coba sebutkan, siapa yang mau menolong seorang penipu investasi bodong dengan kerugian ratusan juta?"​"Aku punya teman seorang pengacara hebat di kota ini! Aku juga kenal dengan beberapa pejabat yang bisa mengatur masalah ini!" seru Shintya dengan nada menantang, menggenggam ponselnya erat-erat. "Aku akan menghubungi mereka sekarang juga! Mas Beni pasti akan bebas besok pagi, catat kata-kataku!"​Mendengar bualan besar itu, Ayu tidak bisa lagi menahan tawa. Suara kekehannya yang renyah menggema di ruangan yang tegang itu, terdengar sangat meremehkan hingga membuat telinga Shintya merah padam.​"Silakan, Shintya. Hubungi saja semua teman hebatmu itu," ucap Ayu setelah tawanya mereda, menatap Shintya de

  • Yang Kalian Hina Miskin   29 Tidak Bisa Mengelak (

    Beni merasa dunianya benar-benar runtuh berkeping-keping. Di dekapannya, tubuh Purnamasari terasa begitu berat dan dingin, sementara dua petugas polisi melangkah makin mendekat dengan tatapan tanpa kompromi.Bagaimana dengan adik bungsunya yang sedang kuliah di luar sana? Bagaimana dengan biayanya? Bagaimana kalau dia tahu ini? Semburan keringat dingin membasahi seluruh punggung Beni, membuatnya gemetar hebat.​"Pak, tolong mengerti! Ibu saya pingsan! Saya harus membawanya ke rumah sakit sekarang!" ratap Beni, suaranya melengking panik, mencoba memohon belas kasihan.​Pak RT yang berdiri di belakang polisi menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa. "Beni, urusan medis ibumu akan diurus oleh ambulans yang sudah saya panggilkan lewat warga di luar. Tapi kamu, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Laporan dari para korban sudah lengkap."​"Tapi saya tidak bersalah, Pak RT! Ini pasti salah paham! Seseorang sengaja menjebak saya!" teriak Beni histeris. Dia berusaha berdiri,

  • Yang Kalian Hina Miskin   28 Hari Sial Untuk Keluarga Beni

    Sekelompok orang penagih utang itu satu persatu pergi setelah memberikan ancaman terakhir yang begitu mengerikan. Suara deru mesin motor mereka perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruang tamu. Di tengah ruangan yang kini terasa begitu lapang sekaligus menghimpit, Beni dan juga ibunya yang jahat tercengang dan syok berat. Bahu mereka merosot, seolah seluruh sendi pertahanan tubuh telah diloloskan paksa. ​Beni menatap lantai marmer dengan pandangan kosong, napasnya memburu pendek-pendek. Otaknya yang biasa dipenuhi kelicikan kini mendadak buntu, tidak mampu memproses rentetan petaka yang datang beruntun. Dia benar-benar tidak menyangka Mayang punya utang besar, bahkan sampai hati menggadaikan sertifikat rumah pusaka mereka. Pun dengan ibunya. Purnamasari masih terduduk di lantai, jemarinya meraba dada yang terasa seperti dihantam godam besar. Mulutnya menganga tanpa suara, hanya air mata yang terus mengalir deras, membasahi keriput di pipinya yang kini sep

  • Yang Kalian Hina Miskin   27 Keluarga Tukang Utang

    Ketukan keras yang menggema di pintu jati itu tidak hanya menggetarkan kayu, tetapi juga meruntuhkan ketenangan di dalam rumah Purnamasari. ​Di ambang pintu, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam. Bersama mereka juga datang dua pria berpakaian rapi. Memakai jas warna hitam. Wajah mereka sangar, dihiasi guratan tegas dan tatapan mata yang dingin tanpa keramahan sedikit pun.​”Cepat katakan di mana si Mayang?” gertak pria yang wajahnya memiliki bekas sayatan luka.​Beni langsung memasang badan, mencoba melindungi ibunya. "Kalian siapa? Ada urusan apa datang ke rumah kami dengan cara tidak sopan?"​Pria barusan yang tangannya juga bertato itu terkekeh sinis, sementara temannya yang berkepala plontos mengeluarkan selembar kertas dari balik jaketnya. "Kami tidak ada urusan denganmu, Anak Muda. Kami ke sini untuk mencari Mayang. Dia punya urusan besar yang belum selesai dengan bos kami."​"Mayang? Anak saya tidak ada di rumah. Dia sedang menginap di rumah ibu mertu

  • Yang Kalian Hina Miskin   Apakah Akan Menepati Janji?

    “Ada apa, Beni? Kamu mau bicara apa? Mama gak mau kamu bicara yang aneh-aneh, ya? Awas aja.” Purnamasari sudah mengancam duluan. Dia harus mewanti-wanti agar tidak ada kata bahagia dari mulut Ayu. Matanya pun sinis ke arah istri dari anak lelakinya itu.“Apaan sih, Ben?” Mayang juga sama penasarann

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 5

    “Mama tampar Ayu lagi?” Pria yang baru hangat nafasnya datang itu adalah Beni. Dia sepertinya sudah kembali dari kantor. Padahal kalau hari-hari seperti biasanya dia belum pulang. “Ben, istri kamu yang kurang ajar. Mama cuma bilang sama istrimu kalau dia di sini membebani kamu. Tapi dia malah bawa-

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 4

    Sejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan,

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 1

    “Ayu, Ayu!”Suara panggilan itu melengking begitu keras memanggil nama Ayu–menantu di rumah itu. Sumbernya dari lantai dua. Dari suaranya tentu saja seorang wanita. Tapi bukan ibu mertuanya, melainkan pekerjaan setiap pagi untuk Ayu yang bersumber dari kakak iparnya.Sejak pagi buta itu seperti bia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status