Inicio / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 5. Marriage is Scary, Right?

Compartir

5. Marriage is Scary, Right?

Autor: IKYURA
last update Fecha de publicación: 2026-04-15 18:24:36

Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor yang sudah dicoret-coret dengan catatan tambahan.

Ujung penanya bergerak pelan, memberi tanda di beberapa bagian.

Struktur fasad perlu disesuaikan.

Material untuk area outdoor harus dipertimbangkan ulang.

Jadwal meeting minggu depan terlalu padat.

Ia bekerja cepat, tapi tetap teliti. Berusaha menenggelamkan dirinya sepenuhnya dalam pekerjaan. Seolah itu cukup untuk mengalihkan pikirannya dari hal lain yang sejak siang tadi tidak benar-benar pergi.

Sesekali, tanpa sadar, ia berhenti.

Bukan karena tidak tahu harus melanjutkan apa, tapi karena pikirannya melayang pada apa yang terjadi hari ini.

Keberadaan Megantara membuat semua tatanan hidupnya mulai terusik. Selama ini Hagia merasa nyaman saat keduanya berjarak, namun kali ini lelaki itu benar-benar ada di sekitarnya. 

Hagia mengembuskan napas pelan, lalu kembali memaksa fokusnya ke layar.

“Serius amat, Mbak. Nggak ngopi dulu, nih?”

Suara itu datang tiba-tiba, cukup untuk membuat Hagia mengerjap. Ia menoleh, mendapati Arsenio sudah menggeser kursinya mendekat, terlalu santai untuk ukuran jam kerja yang belum benar-benar selesai.

“Jauh-jauh deh, Sen. Gue lagi sibuk, nih,” balas Hagia tanpa mengalihkan pandangannya sepenuhnya dari layar.

“Dih, sok sibuk banget!” Arsenio terkekeh, menyandarkan punggungnya dengan santai. “Ngopi aja, yuk!”

Hagia mendecak pelan, kali ini benar-benar menoleh. “Nggak bisa, Sen. Gue udah janji sama Ranu buat pulang on time malam ini soalnya.”

Nada suaranya berubah sedikit lebih lembut saat menyebut nama itu. Ada sesuatu yang membuat hatinya seketika menghangat.

“Ish…” Arsenio menggeleng kecil, senyum jahilnya muncul. “Jagoan Om masih imut, nggak?”

Hagia tersenyum tipis, refleks. “Masih lah. Kayak emaknya.”

“Pede banget,” sahut Arsenio sambil tertawa kecil.

Hagia kembali menatap layar, tapi kali ini suasananya sedikit lebih ringan.

Beberapa detik berlalu dalam diam yang tidak canggung. Sampai akhirnya, Arsenio kembali bersuara. “Tapi, jujur gue penasaran banget sama Ayahnya Ranu deh, Mbak.”

Gerakan tangan Hagia terhenti di atas keyboard..Matanya tidak lagi membaca. Dan perlahan ia menoleh.

Tiba-tiba sekali.

Begitu ia menatap Arsenio. Ekspresinya berubah. Bukan marah. Bukan juga kaget sepenuhnya. Lebih ke… waspada.

“Kenapa emangnya?” tanyanya pelan.

Arsenio mengangkat bahu, masih dengan gaya santainya yang tidak berubah. “Ya penasaran aja. Anak seganteng itu,” ia mengangguk kecil, seolah menunjuk ke arah imajiner Ranu, “bibitnya pasti unggul nggak, sih?”

Ia tertawa kecil setelahnya, seperti baru saja melontarkan candaan biasa.

Namun Hagia tidak langsung ikut tertawa. Tatapannya masih tertahan beberapa detik lebih lama. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Bukan karena pertanyaan itu baru. Ia sudah sering ditanya hal serupa.

Tentang Ranu.

Tentang ayahnya.

Tentang kehidupan yang ia jalani.

Dan biasanya ia punya jawaban. Namun entah kenapa hari ini terasa berbeda.

Mungkin karena pagi tadi. Mungkin karena Megantara sekarang ada di gedung yang sama. Mungkin karena… jarak yang selama ini ia jaga tiba-tiba menjadi terlalu dekat.

Hagia mengalihkan pandangannya kembali ke layar, pura-pura membaca sesuatu. “Biasa aja,” jawabnya akhirnya. Singkat. Netral.

Arsenio menyipitkan mata sedikit, seolah mencoba membaca sesuatu dari perubahan kecil itu. “Biasa aja gimana?”

Hagia mengangkat bahu ringan. “Ya… lelaki pada umumnya aja, Sen.”

Jawaban itu terdengar seperti sudah sering diucapkan. Namun Arsenio jelas belum puas. “Kalian masih sering kontakan, Mbak?” tanya lelaki itu. 

Hagia berhenti. Untuk sepersekian detik. Lalu menjawab, tetap tanpa menoleh. “Masih.”

“Sering ketemu?”

Kali ini, Hagia menghela napas pelan, lalu menoleh lagi ke arah Arsenio. Tatapannya lebih tegas sekarang.

“Kenapa sih lo nanya-nanya begitu?”

“Maksudnya tuh,” Arsenio mulai lagi, nada suaranya kali ini lebih santai tapi jelas penasaran, “kita kerja udah dua tahun, nih. Selama dua tahun ini kita sering makan bareng, jalan bareng…” ia mengangkat bahu ringan, “tapi sumpah, lo nggak ada niat buat ngenalin Ayahnya Ranu sama kita-kita?”

Hagia tidak langsung menjawab. Matanya kembali tertuju ke layar, tapi jelas tidak membaca apa pun.

Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya… tidak sesederhana itu.

“Nggak penting juga, Sen,” jawabnya akhirnya, tetap tanpa menoleh. “Lagian ngapain sih kalian kenal Ayahnya Ranu?” Nada suaranya terdengar datar. “Dia nggak tinggal di Jakarta,” lanjutnya. “Palingan dua minggu sekali dia datang ke Jakarta buat nemuin Ranu.”

“Emang dianya di mana sekarang? Bule ya, jangan-jangan?”

Hagia mendecak pelan sembari memutar matanya. “Nggak, cowok lokal, kok. Cuma emang dia kerja di Singapura.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Seolah sudah biasa ia ucapkan. Seolah itu cukup untuk menjelaskan semuanya.

Arsenio mengangguk-angguk pelan, meski jelas masih menyimpan banyak pertanyaan.

“Hebat, ya,” gumamnya. “Kalian masih bisa keep contact padahal udah… pisah?” Ia melirik Hagia, mencoba membaca reaksinya. “Tapi… dia nggak nikah lagi, Mbak?”

Hagia diam. Pertanyaan itu juga pertanyaan yang sama di benak Hagia. Selama dua tahun ia berpisah dengan Megantara, apakah lelaki itu kini sudah memiliki kekasih?

“Nggak tahu. Gue nggak pernah nanya-nanya soal hal personal.”

“Kalau lo sendiri, Mbak, nggak kepikiran buat nikah?”

Dan kali ini Hagia benar-benar berhenti. Tangannya yang tadi berada di atas keyboard perlahan turun. Ia menarik napas pendek, lalu menutup laptopnya dengan pelan, sebuah gerakan yang cukup jelas menandakan bahwa ia tidak lagi berniat berpura-pura sibuk.

Ia menoleh ke arah Arsenio. Tatapannya lurus..Tidak marah. Tapi serius.

Hagia mendengus pelan. “Bagi gue, sekarang yang terpenting adalah Ranu, Sen.”

Nada suaranya tenang, tapi tegas. Arsenio langsung diam.

“Marriage is scary, right?” lanjut Hagia, sudut bibirnya sedikit terangkat, tapi tidak benar-benar tersenyum. “Gue udah pernah gagal… dan gue nggak mau gagal untuk kedua kalinya.”

Hagia menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya sempat mengarah ke depan, tidak benar-benar melihat apa pun.

“Sejauh ini gue enjoy jadi single parent gini, kok.” Ia mengangkat bahu kecil. Seolah semuanya sederhana. Seolah ia benar-benar baik-baik saja.

Namun Arsenio, untuk pertama kalinya sejak tadi, tidak langsung menimpali dengan candaan. Ia hanya menatap Hagia lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu dalam cara Hagia bicara, bukan hanya soal kata-katanya, tapi bagaimana ia mengatakannya.

“Lo juga berhak bahagia, Mbak. Kalaupun ada cowok yang deketin lo… sah-sah saja. Seenggaknya lo bisa ngebandingin dia sama mantan suami lo yang brengsek itu. Mana tahu cowok yang baru jauh lebih baik dibandingkan mantan lo. Iya, kan?” tanya Arsenio akhirnya, pelan.

Hagia menoleh, sedikit mengernyit. “Nggak dulu deh, Sen. Jadi janda itu beban. Dan gue nggak mau membebani hidup orang lain.”

“Anjir! Gue tampol juga nih, kalau sampai ada orang yang ngomong lo beban!” sungut Arsenio. “Lagian kan lo nggak dengan sengaja juga buat pisah. Lo pasti punya alasan, Mbak, dan gue ngerti banget. Jadi please, jangan merendahkan diri lo kayak gini, oke? Lo tuh, hebat tahu, Mbak.”

Perkataan itu tidak menyudutkan. Tapi cukup dalam untuk membuat Hagia terdiam.

Hagia tidak langsung menjawab. Matanya turun sebentar, menatap meja, lalu kembali ke arah Arsenio.

“Ini kenapa omongan lo jadi serius gini, sih Sen?” jawabnya akhirnya.

Arsenio mendecak pelan sembari memutar matanya malas. “Itu lah yang gue heran juga. Jangan-jangan gue kesambet hantu kantor, Mbak?”

“Lebay! Udah sana, ah. Katanya ko mau ngopi.”

Arsenio akhirnya berdiri, menepuk pelan meja Hagia. “Ya udah. Gue nggak ganggu lagi. Nanti kalau beneran butuh kopi, bilang.”

Hagia mengangguk kecil. “Hmm.”

Arsenio berbalik, melangkah menjauh. Baru kemudian ia menghela napas panjang.

Marriage is scary.

Kalimatnya sendiri terngiang. Dan tanpa ia sadari bayangan Megantara kembali muncul.

Bukan sebagai atasan. Bukan sebagai seseorang yang tiba-tiba hadir di kantor. Tapi sebagai seseorang yang dulu pernah ia pilih.

Dan entah kenapa… Hagia mulai terganggu karena keberadaan lelaki itu.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Hello, Mantan!   125. Ajakan Moreno

    “Kamu yakin bakalan baik-baik saja?” tanya Megantara.Lelaki itu menoleh ke samping. Raut wajahnya terlihat khawatir. “Aku cuma bentar, sih. Cuma kalau—”“Aku baik-baik saja, Mas,” sela Hagia dengan cepat. “Aku udah nggak ngerasa mual kayak pagi tadi, kok. Sekarang udah mendingan.”Megantara masih terlihat ragu. Tatapannya menelusuri wajah Hagia seolah memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja.“Telepon aku kalau kamu kenapa-napa. Oke?”Hagia tersenyum. “Iya.”Setelahnya, Hagia mendekat, mengecup bibir Megantara lembut. Kemudian ia beranjak turun.Mobil Megantara perlahan meninggalkan area depan sekolah, sementara Hagia masih berdiri beberapa saat di tempatnya, memperhatikan mobil itu sampai menghilang di balik gerbang.Terhitung sudah sebulan ini Hagia berhenti bekerja. Dan sedikit banyaknya, ia bersyukur karena sekarang bisa lebih fokus dengan Ranu.Tidak lagi terburu-buru mengejar waktu pulang kantor, tidak lagi harus membagi perhatian antara pekerjaan dan putranya. Meski

  • Hello, Mantan!   124. Rencana Megantara

    “Jadi pengangguran kayaknya bikin Lo happy, ya?”Suara celetukan Kafka membuat Megantara yang baru saja datang langsung terkekeh. Lelaki itu menarik kursi kosong di samping Kafka, kemudian duduk dengan santai.“Kayaknya gue mesti nyoba jadi pengangguran juga, deh,” sahut Kafka lagi.“Yang ada lo pusing, Ka.” Megantara mendecak pelan. Tak lama kemudian, seorang barista datang menghampiri. Megantara langsung memesan secangkir kopi sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Kafka.“Udah sempat jenguk nyokap lo?” tanya Kafka sembari menyesap kopinya.Megantara terdiam sejenak. “Mm.” Ia menarik napas pendek. “Beberapa hari yang lalu gue ke sana.”“Terus?”“Ya...” Megantara bersandar pada kursinya. “Mau separah apa sakitnya, dia masih saja terlihat arogan.”Kafka terkekeh. “Nyokap lo sakit, Gan. At least lo udah jenguk dia, sih. Nggak ada huru-hara diantara kalian, kan?”Megantara menoleh. “Huru-hara apa, sih?”Kafka mengangkat kedua tangannya. “Ya mana tahu ada kejadian apa gitu, kan? G

  • Hello, Mantan!   123. Meminta Restu

    “Kalau menurut jadwal terakhir Bu Hagia menstruasi, usia kandungan Ibu saat ini sekitar tujuh Minggu,” ujar Dokter Inggit. Hagia menggigit bibirnya bagian dalam.Tujuh minggu. Entah kenapa, mendengar angka itu membuat dadanya terasa sesak oleh haru.Dokter Inggit kembali menggerakkan transduser di atas perut Hagia. Tatapannya sesekali beralih pada layar monitor di sampingnya.“Perkembangan janinnya juga baik.”Mata Hagia seketika berkaca-kaca. Ia menatap layar di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Setelah sekian tahun tidak lagi merasakan jantungnya berdebar seperti ini, kali ini Tuhan kembali memberinya kesempatan untuk merasakan hal yang sama.Ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya. Sesuatu yang bahkan beberapa hari lalu belum pernah ia bayangkan.Hagia menoleh ke samping. “Mas...”Megantara yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung meraih tangannya. “Iya, Sayang?”Hagia menelan ludahnya dengan susah payah. Jemarinya menggenggam tangan Megantara lebih erat.Megan

  • Hello, Mantan!   122. Morning Sickness

    Megantara tersentak kaget saat tiba-tiba merasakan kasur di sampingnya bergerak. Hagia yang beberapa detik lalu masih berbaring tenang mendadak bangkit.Tanpa mengatakan apa-apa, perempuan itu langsung turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. “Sayang…” Megantara masih memproses apa yang baru saja terjadi. Dengan wajah bingung sekaligus panik, ia segera turun dari ranjang dan menyusul Hagia.Begitu sampai di kamar mandi, suara muntah Hagia langsung menyambutnya. Megantara buru-buru berjongkok di sampingnya.“Hei...” Satu tangannya langsung mengusap punggung Hagia perlahan, sementara tangan lainnya menyatukan rambut perempuan itu yang jatuh ke depan agar tidak mengganggu.Hagia kembali memuntahkan isi perutnya. Megantara hanya bisa menunggu sambil terus mengusap punggungnya.Beberapa saat kemudian, Hagia akhirnya bersandar lemas pada dinding. Sementara Megantara melangkah keluar menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat.“Diminum dulu.” Sekembalinya lelaki itu, ia langs

  • Hello, Mantan!   121. Hamil

    Hagia baru saja keluar dari kamar mandi saat pandangannya langsung tertuju pada Megantara yang sedang duduk di sofa ruang tamu.Lelaki itu tampak sibuk dengan laptop yang bertengger di atas pangkuannya. Sesekali keningnya mengernyit, seolah tengah memikirkan sesuatu dengan serius. Masih dengan rambut yang basah, Hagia kemudian melangkah menghampirinya. “Mas...”Megantara seketika mengangkat wajah. “Hei, kamu udah selesai mandi?” Lelaki itu langsung menyingkirkan laptop dari pangkuannya, kemudian bangkit dari sofa. “You okay?”Hagia terkekeh kecil. “Apa sih, Mas?”Megantara mendekat. “Ya mana tahu kamu mual lagi, kan?”Hagia menggeleng pelan. “Nggak.”“Bener?”“Iya, Mas.”“Pusing?”“Nggak.”“Lemas?”“Nggak juga.”“Capek?”“Mas...”“Hm?”“Aku tuh cuma mandi. Kenapa sih kamu nanya-nanya terus dari tadi?” Hagia akhirnya tertawa kecil melihat ekspresi lelaki itu yang tampak begitu khawatir. “Belum juga tahu hasilnya, kamu udah kayak gini.”Megantara tersenyum sembari mengusap wajah Hagia

  • Hello, Mantan!   120. Peluang Baru

    “Aku kayaknya hamil.”Megantara yang sejak tadi mengusap punggungnya seketika terdiam. Tangannya berhenti bergerak.Hagia menundukkan wajah, tak berani menatap lelaki di sampingnya. “Kamu... bakalan senang, nggak? Kamu bakalan tanggung jawab, kan?”Mendengar pertanyaan itu, Megantara seketika tertegun. Ia menatap Hagia seolah baru saja salah mendengar.“Ulangi lagi, Sayang.” Hagia menggigit bagian dalam bibirnya. “Kamu tadi bilang apa?”Hagia mengembuskan napas pendek. Ia masih belum berani menatap Megantara. “Ini belum pasti, kok. Aku cuma mau bilang kalau...” Hagia berhenti sejenak. “Aku telat.”Megantara masih diam.“Dan kayaknya...” Hagia akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. “... aku hamil.”Hening selama beberapa saat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Hagia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Megantara perlahan berubah.“Mas? Kenapa? Kamu nggak suka, ya? Kamu—” Hagia menelan ludah. “Ini belum pasti, kok. Aku cuma—”Belum sempat Hagia melanj

  • Hello, Mantan!   2. Megantara Adiwangsa

    Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.Baru be

  • Hello, Mantan!   1. Hagia Nadi Chandrakanta

    Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, seme

  • Hello, Mantan!   66. Gusarnya Megantara

    Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangan

  • Hello, Mantan!   46. Perempuan Istimewa

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status