MasukHagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor yang sudah dicoret-coret dengan catatan tambahan. Ujung penanya bergerak pelan, memberi tanda di beberapa bagian. Struktur fasad perlu disesuaikan. Material untuk area outdoor harus dipertimbangkan ulang. Jadwal meeting minggu depan terlalu padat. Ia bekerja cepat, tapi tetap teliti. Berusaha menenggelamkan dirinya sepenuhnya dalam pekerjaan. Seolah itu cukup untuk mengalihkan pikirannya dari hal lain yang sejak siang tadi tidak benar-benar pergi. Sesekali, tanpa sadar, ia berhenti. Bukan karena tidak tahu harus melanjutkan apa, tapi karena pikirannya melayang pada apa yang terjadi hari ini. Keberadaan Megantara membuat semua tatanan hidupnya mulai terusik. Selama ini Hagia merasa nyaman saat keduanya berjarak, namun kali ini lelaki itu benar-benar ada di sekitarnya. Hagia mengembuskan napas pelan, lalu kembali memaksa fokusnya ke layar. “Serius amat, Mbak. Nggak ngopi dulu, nih?” Suara itu datang tiba-tiba, cukup untuk membuat Hagia mengerjap. Ia menoleh, mendapati Arsenio sudah menggeser kursinya mendekat, terlalu santai untuk ukuran jam kerja yang belum benar-benar selesai. “Jauh-jauh deh, Sen. Gue lagi sibuk, nih,” balas Hagia tanpa mengalihkan pandangannya sepenuhnya dari layar. “Dih, sok sibuk banget!” Arsenio terkekeh, menyandarkan punggungnya dengan santai. “Ngopi aja, yuk!” Hagia mendecak pelan, kali ini benar-benar menoleh. “Nggak bisa, Sen. Gue udah janji sama Ranu buat pulang on time malam ini soalnya.” Nada suaranya berubah sedikit lebih lembut saat menyebut nama itu. Ada sesuatu yang membuat hatinya seketika menghangat. “Ish…” Arsenio menggeleng kecil, senyum jahilnya muncul. “Jagoan Om masih imut, nggak?” Hagia tersenyum tipis, refleks. “Masih lah. Kayak emaknya.” “Pede banget,” sahut Arsenio sambil tertawa kecil. Hagia kembali menatap layar, tapi kali ini suasananya sedikit lebih ringan. Beberapa detik berlalu dalam diam yang tidak canggung. Sampai akhirnya, Arsenio kembali bersuara. “Tapi, jujur gue penasaran banget sama Ayahnya Ranu deh, Mbak.” Gerakan tangan Hagia terhenti di atas keyboard..Matanya tidak lagi membaca. Dan perlahan ia menoleh. Tiba-tiba sekali. Begitu ia menatap Arsenio. Ekspresinya berubah. Bukan marah. Bukan juga kaget sepenuhnya. Lebih ke… waspada. “Kenapa emangnya?” tanyanya pelan. Arsenio mengangkat bahu, masih dengan gaya santainya yang tidak berubah. “Ya penasaran aja. Anak seganteng itu,” ia mengangguk kecil, seolah menunjuk ke arah imajiner Ranu, “bibitnya pasti unggul nggak, sih?” Ia tertawa kecil setelahnya, seperti baru saja melontarkan candaan biasa. Namun Hagia tidak langsung ikut tertawa. Tatapannya masih tertahan beberapa detik lebih lama. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena pertanyaan itu baru. Ia sudah sering ditanya hal serupa. Tentang Ranu. Tentang ayahnya. Tentang kehidupan yang ia jalani. Dan biasanya ia punya jawaban. Namun entah kenapa hari ini terasa berbeda. Mungkin karena pagi tadi. Mungkin karena Megantara sekarang ada di gedung yang sama. Mungkin karena… jarak yang selama ini ia jaga tiba-tiba menjadi terlalu dekat. Hagia mengalihkan pandangannya kembali ke layar, pura-pura membaca sesuatu. “Biasa aja,” jawabnya akhirnya. Singkat. Netral. Arsenio menyipitkan mata sedikit, seolah mencoba membaca sesuatu dari perubahan kecil itu. “Biasa aja gimana?” Hagia mengangkat bahu ringan. “Ya… lelaki pada umumnya aja, Sen.” Jawaban itu terdengar seperti sudah sering diucapkan. Namun Arsenio jelas belum puas. “Kalian masih sering kontakan, Mbak?” tanya lelaki itu. Hagia berhenti. Untuk sepersekian detik. Lalu menjawab, tetap tanpa menoleh. “Masih.” “Sering ketemu?” Kali ini, Hagia menghela napas pelan, lalu menoleh lagi ke arah Arsenio. Tatapannya lebih tegas sekarang. “Kenapa sih lo nanya-nanya begitu?” “Maksudnya tuh,” Arsenio mulai lagi, nada suaranya kali ini lebih santai tapi jelas penasaran, “kita kerja udah dua tahun, nih. Selama dua tahun ini kita sering makan bareng, jalan bareng…” ia mengangkat bahu ringan, “tapi sumpah, lo nggak ada niat buat ngenalin Ayahnya Ranu sama kita-kita?” Hagia tidak langsung menjawab. Matanya kembali tertuju ke layar, tapi jelas tidak membaca apa pun. Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya… tidak sesederhana itu. “Nggak penting juga, Sen,” jawabnya akhirnya, tetap tanpa menoleh. “Lagian ngapain sih kalian kenal Ayahnya Ranu?” Nada suaranya terdengar datar. “Dia nggak tinggal di Jakarta,” lanjutnya. “Palingan dua minggu sekali dia datang ke Jakarta buat nemuin Ranu.” “Emang dianya di mana sekarang? Bule ya, jangan-jangan?” Hagia mendecak pelan sembari memutar matanya. “Nggak, cowok lokal, kok. Cuma emang dia kerja di Singapura.” Kalimat itu keluar begitu saja. Seolah sudah biasa ia ucapkan. Seolah itu cukup untuk menjelaskan semuanya. Arsenio mengangguk-angguk pelan, meski jelas masih menyimpan banyak pertanyaan. “Hebat, ya,” gumamnya. “Kalian masih bisa keep contact padahal udah… pisah?” Ia melirik Hagia, mencoba membaca reaksinya. “Tapi… dia nggak nikah lagi, Mbak?” Hagia diam. Pertanyaan itu juga pertanyaan yang sama di benak Hagia. Selama dua tahun ia berpisah dengan Megantara, apakah lelaki itu kini sudah memiliki kekasih? “Nggak tahu. Gue nggak pernah nanya-nanya soal hal personal.” “Kalau lo sendiri, Mbak, nggak kepikiran buat nikah?” Dan kali ini Hagia benar-benar berhenti. Tangannya yang tadi berada di atas keyboard perlahan turun. Ia menarik napas pendek, lalu menutup laptopnya dengan pelan, sebuah gerakan yang cukup jelas menandakan bahwa ia tidak lagi berniat berpura-pura sibuk. Ia menoleh ke arah Arsenio. Tatapannya lurus..Tidak marah. Tapi serius. Hagia mendengus pelan. “Bagi gue, sekarang yang terpenting adalah Ranu, Sen.” Nada suaranya tenang, tapi tegas. Arsenio langsung diam. “Marriage is scary, right?” lanjut Hagia, sudut bibirnya sedikit terangkat, tapi tidak benar-benar tersenyum. “Gue udah pernah gagal… dan gue nggak mau gagal untuk kedua kalinya.” Hagia menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya sempat mengarah ke depan, tidak benar-benar melihat apa pun. “Sejauh ini gue enjoy jadi single parent gini, kok.” Ia mengangkat bahu kecil. Seolah semuanya sederhana. Seolah ia benar-benar baik-baik saja. Namun Arsenio, untuk pertama kalinya sejak tadi, tidak langsung menimpali dengan candaan. Ia hanya menatap Hagia lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu dalam cara Hagia bicara, bukan hanya soal kata-katanya, tapi bagaimana ia mengatakannya. “Lo juga berhak bahagia, Mbak. Kalaupun ada cowok yang deketin lo… sah-sah saja. Seenggaknya lo bisa ngebandingin dia sama mantan suami lo yang brengsek itu. Mana tahu cowok yang baru jauh lebih baik dibandingkan mantan lo. Iya, kan?” tanya Arsenio akhirnya, pelan. Hagia menoleh, sedikit mengernyit. “Nggak dulu deh, Sen. Jadi janda itu beban. Dan gue nggak mau membebani hidup orang lain.” “Anjir! Gue tampol juga nih, kalau sampai ada orang yang ngomong lo beban!” sungut Arsenio. “Lagian kan lo nggak dengan sengaja juga buat pisah. Lo pasti punya alasan, Mbak, dan gue ngerti banget. Jadi please, jangan merendahkan diri lo kayak gini, oke? Lo tuh, hebat tahu, Mbak.” Perkataan itu tidak menyudutkan. Tapi cukup dalam untuk membuat Hagia terdiam. Hagia tidak langsung menjawab. Matanya turun sebentar, menatap meja, lalu kembali ke arah Arsenio. “Ini kenapa omongan lo jadi serius gini, sih Sen?” jawabnya akhirnya. Arsenio mendecak pelan sembari memutar matanya malas. “Itu lah yang gue heran juga. Jangan-jangan gue kesambet hantu kantor, Mbak?” “Lebay! Udah sana, ah. Katanya ko mau ngopi.” Arsenio akhirnya berdiri, menepuk pelan meja Hagia. “Ya udah. Gue nggak ganggu lagi. Nanti kalau beneran butuh kopi, bilang.” Hagia mengangguk kecil. “Hmm.” Arsenio berbalik, melangkah menjauh. Baru kemudian ia menghela napas panjang. Marriage is scary. Kalimatnya sendiri terngiang. Dan tanpa ia sadari bayangan Megantara kembali muncul. Bukan sebagai atasan. Bukan sebagai seseorang yang tiba-tiba hadir di kantor. Tapi sebagai seseorang yang dulu pernah ia pilih. Dan entah kenapa… Hagia mulai terganggu karena keberadaan lelaki itu.“Jadi... sekarang udah nggak denial lagi, nih?”Carmen yang tengah menikmati semangkuk ramennya mengangkat sebelah alis. Senyum jahil langsung terbit di wajah perempuan itu.“Bukan lagi yang kemarin-kemarin nolak mentah-mentah, terus bilang mau fokus sama hidup sendiri. Eh, faktanya masih cinta mati.”Hagia mendecak pelan. Terlihat enggan sekali menanggapi ledekan Carmen. “Nggak usah lebay deh, Men.”“Lho, siapa juga yang lebay, sih? Kan gue cuma mau konfirmasi, doang.”Sementara Hagia memilih kembali menyeruput kuah ramen di hadapannya. “Lo tuh hobi banget ya datang tiba-tiba begini?” gerutu Hagia. “Nggak ada kerjaan apa gimana?”“Lho, suka-suka gue dong.” Carmen menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kan gue bosnya.”“Bos apanya. Lo cuma manfaatin jabatan buat ganggu hidup orang.”“Benar sekali.” Carmen menjentikkan jarinya, kemudian terkekeh. “Emang mau ganggu siapa lagi kalau bukan lo?”Sore ini Carmen memang tiba-tiba muncul di kantor dan menyeretnya keluar untuk menikmati ramen di
“Kamu bahkan nggak punya hak mengusik ketenangan hidup anak saya lagi, Megantara Adhiwangsa. Setelah apa yang dia lalui sendirian... sampai mati pun, saya nggak akan pernah mengizinkan kamu kembali ke hidup anak saya lagi. Jadi jangan buang-buang waktu kamu di sini.”Auriga berbalik. Lelaki itu sudah berniat mengakhiri percakapan itu dan pergi meninggalkan Megantara.Namun suara lelaki itu kembali terdengar dari belakang hingga membuat Auriga menghentikan langkahnya.“Kami saling mencintai, Pa.”Auriga mengepalkan kedua tangannya erat. Sementara Megantara melanjutkan kalimatnya. “Saya tahu selama ini saya telah melakukan kesalahan. Saya tahu saya nggak seharusnya pergi ninggalin Nadi begitu saja. Saya tahu saya gagal sebagai suami. Tapi saya kembali ke sini untuk menebus semua kesalahan itu.”Megantara menatap punggung Auriga yang masih membeku. Namun lelaki itu masih belum berniat untuk membalikkan badan. “Perasaan kami masih utuh. Setelah semua yang terjadi, kami masih memilih satu
“Mas Megan? Mas, kok ke sini? Ada apa?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Raga—adik Hagia. Megantara yang baru saja menginjakkan kaki di lobi gedung kantor milik keluarga Chandrakanta lantas menghentikan langkah, kemudian menoleh. Sudah lama sekali ia tidak datang ke tempat ini. Bahkan terakhir kali, kedatangannya justru berakhir dengan ketegangan yang tidak menyenangkan.“Apa kabar, Ga?” tanya Megantara. “Baik, Mas.” Raga menyalami Megantara. “Mas Megan bukannya di Singapura?”“Aku udah sebulanan lebih di Jakarta.”Megantara mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa karyawan masih terlihat lalu-lalang di area lobi, sementara resepsionis di meja depan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.“Papa kamu ada?”Namun alih-alih langsung menjawab, Raga justru mengernyit. Tatapannya menelusuri wajah Megantara yang siang itu terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.“Mas Megan mau nemuin Papa?” tanyanya hati-hati. “Ada masalah apa? Apa ini ada hubungannya sama Mbak H
“Selama aku tinggal, Ranu nggak rewel kan, Mbak? Tadinya saya sempat kepikiran kalau anaknya malah ngerepotin.”“Nggak kok, Mbak.” Mbak Asri menggeleng sambil tersenyum. “Ranu anaknya nurut banget. Dia tahu kalau Mamanya kerja, jadi dia nggak pernah rewel.”Hagia mengulas senyum tipis.Pandangannya tertuju pada Ranu yang sedang berlarian di taman apartemen bersama beberapa anak seusianya. Sesekali terdengar tawa riang bocah itu ketika berhasil mengejar temannya.“Syukurlah.”Jujur saja, selama dirawat kemarin, salah satu hal yang paling mengganggu pikirannya adalah Ranu. Ia khawatir putranya rewel atau bahkan membuat Mbak Asri kerepotan.Namun melihat Ranu yang tampak baik-baik saja saat ini, beban di dadanya sedikit berkurang.“Mbak Hagia sendiri gimana?” tanya Asri kemudian. “Wajahnya masih pucat sekali. Ada luka serius?”“Nggak ada kok, Mbak.” Hagia menggeleng pelan. “Cuma beberapa memar sama benturan. Dokter bilang harus banyak istirahat aja.”“Alhamdulillah.” Asri memperhatikan p
Hagia sempat kehilangan napas selama beberapa saat, sebelum akhirnya berpaling. Kepalanya mendadak berdengung, pikirannya tiba-tiba saja buntu.Ia tidak tahu harus menjelaskan apa setelah apa yang baru saja mereka lihat.“Ris, Sen, Lun...” Hagia berdeham pelan. “Ini nggak seperti yang kalian—”“Pak Megan nggak pakai baju dan kalian ciuman. Lo mau bilang kalian nggak ada apa-apa, Mbak? Seriusan, lo pikir kami sebodoh itu?” potong Arsenio tanpa ampun.“Apa yang kalian lihat nggak seperti yang kalian pikirkan, kok.” Hagia meraup wajahnya dengan kasar. “Iya, kami memang… ciuman. Tapi soal Mas Megan yang nggak pakai baju ini, dia luka dan aku baru lihat. Aku cuma mau mastiin kalau dia… nggak apa-apa.”“Oh, jadinya lagi khawatir gitu ya, Gi?” sahut Kafka dengan sengaja. Hagia melotot kesal kemudian menoleh ke arah Megantara. Lelaki yang berdiri di samping ranjang justru terlihat jauh lebih tenang.“Pokoknya gue sama Mas Megan tuh—”“Apa yang kalian pikirkan tentang kami itu benar,” ujar Me
“Mas, udah jadi telepon Mbak Asri? Ranu gimana? Rewel, nggak?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Hagia. Di luar jendela, langit sudah berubah gelap. Lampu-lampu kota mulai menyala, sementara suasana ruang rawat terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya.“Belum. Ini baru mau—”“Gimana, sih?” Hagia memukul bahu Megantara dengan kesal.“Aww...”Hagia langsung membeku. “Mas?”Megantara spontan memegang bahu kirinya. Raut wajahnya sempat berubah sebelum lelaki itu berusaha terlihat biasa saja.“Mas, kamu kenapa?” kejar Hagia. “Hah? Nggak ada, Sayang. Aku—”“Mas.” Nada suara Hagia langsung berubah serius. “Kamu sakit juga?”Megantara memalingkan wajah. Kemudian menggeleng pelan. “Nggak kok.”“Bohong! Terus tadi itu apa?”Megantara mengembuskan napas pelan.Sial.Seharusnya tadi ia tidak bereaksi. “Aku cuma pegal sedikit,” ujarnya berkilah. “Nadi, aku nggak apa-apa, ini tadi cuma—”“Buka baju kamu sekarang!”Megantara mengerjap beberapa kali. Belum sempat ia







