Share

6. Sahabat Hagia

Penulis: IKYURA
last update Tanggal publikasi: 2026-04-16 14:49:06

Hagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.

Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang tegas berpadu dengan catatan kecil di pinggir kertas, revisi, ide tambahan, dan beberapa tanda tanya yang belum ia putuskan. Di sampingnya, daftar material sudah ia tandai sebagian, sementara jadwal meeting dengan mandor lapangan tertulis rapi di sticky notes yang ditempel di sudut meja.

Hagia mengembuskan napas pelan. Ia melirik ke sekitar. Suasana kantor sudah mulai lengang. Beberapa meja kosong, kursi ditinggalkan tanpa penghuni, lampu di beberapa sudut sudah dimatikan. Hanya segelintir orang yang masih bertahan. Itu pun terlihat sibuk dengan dunianya masing-masing.

Ia kembali menunduk, mencoba menyelesaikan satu bagian terakhir dari desain yang sejak tadi belum selesai. Namun belum sempat benar-benar fokus ponselnya berdering.

Hagia mengernyit, meraih ponselnya dari samping laptop. Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya langsung terangkat.

Carmen.

Ia tersenyum kecil, lalu segera mengangkat panggilan itu. 

“Lo di mana?” Belum sempat Hagia menyapa, suara di seberang sudah lebih dulu menyerbu.

Kening Hagia langsung mengernyit. “Assalamualaikum dulu nggak, sih?” balasnya, setengah menghela napas.

“Assalamualaikum Bu Haji,” jawab Carmen cepat, tanpa jeda. “Lo di mana sekarang?”

Hagia menggeleng kecil, senyum tipis masih tersisa. “Masih di kantor. Kenapa?”

“Bagus,” jawab Carmen mantap. “Gue lagi ngidam ramen di Ruang Kaldu. Buruan lo turun. Gue ada di lobi kantor lo.”

Hagia terdiam sepersekian detik. Lalu matanya sedikit membesar.

“Hah? Lo udah di Jakarta sekarang?”

Namun di seberang, Carmen hanya tertawa kecil. “Udah, nggak usah banyak tanya. Gue tunggu.”

Lalu sambungan terputus begitu saja. Hagia menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Beberapa detik ia hanya diam.

Ia mendecak pelan. “Kebiasaan,” gumamnya lagi, tapi kali ini nadanya tidak sepenuhnya kesal.

Hagia menghela napas panjang. Lalu perlahan menutup berkas di tangannya. Laptopnya ia matikan.

Kemudian ia meraih tasnya, memasukkan beberapa barang penting, lalu berdiri. Sepatu heels-nya kembali menyentuh lantai, langkahnya terdengar jelas di ruang kantor yang hampir kosong itu.

Lampu di mejanya dimatikan. Ia melangkah melewati lorong yang lengang lalu bergerak menuju lift. Untuk sesaat ia hanya diam dan menunggu. Lampu panel lift tampak bergerak, lalu tak berselang lama pintu terbuka.

Hagia masuk, menekan tombol menuju lobi. Di dalam lift, ia berdiri diam, memandangi pantulan dirinya di dinding logam yang mengkilap. Wajahnya terlihat lelah.

Lift berdenting pelan saat sampai di lantai dasar. Pintu terbuka, dan begitu Hagia melangkah keluar. Suasana lobi langsung menyambutnya dengan cahaya terang dan sedikit keramaian.

Matanya langsung mencari. Dan tidak butuh waktu lama ia menemukan Carmen.

Carmen berdiri dengan santai, satu tangan memegang ponsel, satu tangan lagi dimasukkan ke saku, ekspresinya tenang dan santai seperti biasanya.

Begitu melihat Hagia ia langsung tersenyum lebar. Detik itu juga perempuan itu langsung menghambur memeluk Hagia.

“Ihh, kangen banget.” Carmen menarik diri. “Lama banget, deh!”

Hagia mendekat, menggeleng kecil. “Salah siapa dadakan?” katanya sambil mendengus. “Tiba-tiba banget lo udah di Jakarta? Bukannya baliknya masih Minggu depan?”

Hagia melirik Carmen saat mereka berjalan berdampingan keluar dari lobi. Nada suaranya terdengar santai, tapi jelas ada rasa heran yang belum benar-benar hilang.

“Surprise?” Carmen mengedikkan bahu ringan, ekspresinya santai seperti tidak ada yang aneh dari kemunculannya yang mendadak. “Kenapa, sih? Kayak nggak seneng gitu lo ketemu sama gue?”

Hagia terkekeh pelan, menggeleng kecil. “Berisik banget, si Comel.”

Carmen tergelak dan Hagia hanya bisa menggeleng, tapi senyumnya tidak benar-benar hilang.

“Ayo, buruan!” lanjut Carmen sambil menarik ringan lengan Hagia. “Gue udah lapar, nih. Pengen banget makan ramen.”

“Di Jepang banyak ramen dan sekarang lo di Jakarta juga pengen makan ramen? Sakit jiwa emang,” gumam Hagia.

“Ya namanya gabut, Bun,” jawab Carmen enteng.

Mereka berdua akhirnya keluar dari gedung, udara malam Jakarta langsung menyambut. Tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih ringan dibandingkan di dalam kantor.

Lampu-lampu jalan menyala terang. Suara kendaraan lalu-lalang terdengar konstan, menciptakan latar yang akrab.

Keduanya melangkah menuju parkiran. Langkah Carmen sedikit lebih cepat, sementara Hagia mengikuti di sampingnya, sesekali melirik ke arah sahabatnya itu yang tampak… lebih sumringah dari biasanya.

Sepanjang perjalanan menuju Ruang Kaldu, Carmen tidak berhenti bercerita.

Tentang Jepang.

Tentang pekerjaannya.

Tentang hidupnya yang, seperti biasa, selalu penuh dinamika.

“Lo tahu nggak sih,” katanya sambil menyandarkan punggung ke kursi mobil setelah mereka masuk, “di sana tuh semuanya serba cepat. Disiplin banget. Kadang gue aja sampai capek sendiri ngikutinnya.”

Hagia melirik sekilas sambil memasang seatbelt. “Lah, bukannya itu yang lo suka?”

“Iya sih,” Carmen mengangguk. “Tapi tetep aja… capek, Gi.”

Mobil mulai melaju pelan keluar dari area parkir. Lampu kota bergerak di luar jendela, membentuk garis-garis cahaya yang terus berganti.

“Pusing juga jadi bos, ya?” lanjut Carmen sambil menghela napas panjang. “Banyak banget yang harus dikerjain!”

Hagia tersenyum tipis. Nada itu ia kenal. Bukan sekadar keluhan. Tapi kejujuran yang jarang Carmen tunjukkan.

Begitu tiba di Ruang Kaldu, mereka tidak butuh waktu lama untuk memesan. Dua porsi ramen langsung dipesan tanpa banyak pertimbangan, seolah itu memang sudah jadi tujuan sejak awal.

Mereka memilih duduk bersisian di deretan kursi yang menghadap ke open kitchen. Dari sana, aktivitas dapur terlihat jelas.

Uap dari kuah kaldu mengepul, suara air mendidih bersahut-sahutan, dan para koki bergerak cepat, meracik pesanan dengan ritme yang hampir seperti koreografi. Bau gurih yang khas langsung memenuhi indera, membuat perut yang sejak tadi ditahan akhirnya mulai protes.

Carmen menyandarkan siku di meja, menatap ke arah dapur sebentar sebelum akhirnya melirik ke arah Hagia.

”Ada berita apa di kantor?” tanyanya santai. “Lo kelihatan… nggak happy. Ada masalah di kantor?”

Hagia tak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang sembari meneguk teh ocha miliknya, kemudian meneguknya pelan.

“Nggak ada, sih. Cuma emang ada sedikit perubahan suasana.” Hagia menggigit bibir bawahnya pelan, tampak berpikir sejenak. Ia menatap lurus ke depan, ke arah dapur tapi jelas tidak benar-benar melihat.

“Lo pasti bakalan syok sama omongan gue kali ini, sih,” gumamnya.

Carmen langsung menoleh penuh perhatian. Keningnya mengernyit. “Maksudnya?”

Hagia terdiam sejenak. Seolah sedang memastikan kata-katanya sendiri. Lalu akhirnya, “Mas Megan, Men,” ucapnya pelan. “Dia… sekarang di Jakarta dan jadi atasan gue.”

Satu detik.

Dua detik.

Dan Carmen tersedak.

“Hah?!” Suaranya pecah lebih keras dari yang ia sadari, membuat beberapa pengunjung lain spontan menoleh ke arah mereka.

Carmen buru-buru menutup mulutnya, matanya membulat sempurna, sementara tangannya reflek meraih air minum.

“Tunggu, tunggu! Lo barusan bilang apa, Gi?”

Hagia mendengus pelan. “Mas Megan. Dia sekarang jadi head architect di Rupa Rancang Nusantara. Efektif per hari ini.”

“Sumpah, lo nggak bohong?” lanjutnya setelah berhasil menelan ludah, suaranya masih setengah tertahan.

Hagia hanya menggeleng pelan. “Gue juga berharap itu bercanda,” jawabnya datar.

Carmen menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari celah, tanda bahwa ini mungkin hanya lelucon.

Tapi tidak ada.

Wajah Hagia terlalu serius untuk itu.

“Gila…” Carmen menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Dia kenapa, sih? Mau cari masalah sama lo apa gimana, coba?”

Hagia terkekeh kecil, tapi tawanya tidak bertahan lama. “Nah itu dia yang bikin gue penasaran.”

Carmen menggeleng-geleng tidak percaya. “Tapi lo sempat nanya alasan dia balik ke Jakarta, dong?”

“Udah, dan alasan dia kembali adalah demi Ranu. Dia bilang… dia pengen dekat sama Ranu, dan nggak mau Ranu kehilangan sosok figur ayah.”

“Sumpah dia ngomong begitu?” Carmen masih tidak percaya. “Ke mana aja selama ini, Monyet? Dan dia baru sadar setelah dua tahun kalian pisah?”

“Men…”

“Diem nggak, Gi! Sumpah, gue kesal, coba. Gue tahu betul gimana perjuangan lo selama dua tahun terakhir ini, ya! Ngurusin Ranu sendirian, pontang-panting, dia ngapain aja, coba? Dan sekarang dia kesambet penunggu mana, coba? Tiba-tiba banget dia kepikiran Ranu.”

“Dia pergi bukan karena kemauan dia sendiri, Men. Dia pindah karena atas permintaan Mamanya. Dan gue sendiri… gue justru lebih tenang kalau dia nggak di sini. Walaupun ya… akhirnya sedikit kewalahan ngurus Ranu sendirian.”

Matanya turun sebentar ke meja, jemarinya bermain dengan tisu di depannya.

Beberapa detik hening.

Pesanan mereka datang, dua mangkuk ramen panas diletakkan di depan mereka. Uapnya naik perlahan, aroma kaldu semakin kuat.

Namun kali ini tidak langsung mengalihkan perhatian.

“Terus?” Carmen kembali bersuara, kali ini lebih pelan. “Lo sendiri… gimana? Pasti nggak mudah kerja satu atap sama mantan suami lo.”

Hagia menghela napas. “Campur aduk,” jawabnya jujur. “Kaget, kesel, tapi juga bingung. Gue cuma khawatir saja orang-orang kantor tahu kalau dia mantan suami gue. Sementara gue nggak pernah cerita apa-apa soal dia. Mereka cuma tahu gue cerai sama Ayahnya Ranu.”

“Mending begitu nggak, sih?” Carmen menatapnya lama. “Tapi masalahnya lo yakin bisa?”

Hagia tersenyum kecil. “Entahlah. Gue belum nyoba, jadi nggak tahu apakah gue bisa atau nggak,” jawabnya jujur.

Carmen menghela napas panjang. “Lucu, ya. Dulu kalian saling menyakiti satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk berpisah. Tapi sekarang… kalian justru kerja bareng.”

Hagia akhirnya mengambil sumpit, mengangkat sedikit mie, lalu meniupnya pelan. “Gue nggak mikirin apa-apa sekarang. Karena yang terpenting Ranu,” katanya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana.

“Kasih tahu gue kalau sampai mantan suami lo nyakitin lo lagi. Kali ini gue bakalan usir dia lebih jauh dari hidup lo!”

Sementara Hagia hanya tersenyum.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
penasaran Megan nyakitin Hagia kek mana sih dulu tuh...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Mantan!   90. Harus Jujur

    “Jadi... sekarang udah nggak denial lagi, nih?”Carmen yang tengah menikmati semangkuk ramennya mengangkat sebelah alis. Senyum jahil langsung terbit di wajah perempuan itu.“Bukan lagi yang kemarin-kemarin nolak mentah-mentah, terus bilang mau fokus sama hidup sendiri. Eh, faktanya masih cinta mati.”Hagia mendecak pelan. Terlihat enggan sekali menanggapi ledekan Carmen. “Nggak usah lebay deh, Men.”“Lho, siapa juga yang lebay, sih? Kan gue cuma mau konfirmasi, doang.”Sementara Hagia memilih kembali menyeruput kuah ramen di hadapannya. “Lo tuh hobi banget ya datang tiba-tiba begini?” gerutu Hagia. “Nggak ada kerjaan apa gimana?”“Lho, suka-suka gue dong.” Carmen menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kan gue bosnya.”“Bos apanya. Lo cuma manfaatin jabatan buat ganggu hidup orang.”“Benar sekali.” Carmen menjentikkan jarinya, kemudian terkekeh. “Emang mau ganggu siapa lagi kalau bukan lo?”Sore ini Carmen memang tiba-tiba muncul di kantor dan menyeretnya keluar untuk menikmati ramen di

  • Hello, Mantan!   89. Penolakan Auriga

    “Kamu bahkan nggak punya hak mengusik ketenangan hidup anak saya lagi, Megantara Adhiwangsa. Setelah apa yang dia lalui sendirian... sampai mati pun, saya nggak akan pernah mengizinkan kamu kembali ke hidup anak saya lagi. Jadi jangan buang-buang waktu kamu di sini.”Auriga berbalik. Lelaki itu sudah berniat mengakhiri percakapan itu dan pergi meninggalkan Megantara.Namun suara lelaki itu kembali terdengar dari belakang hingga membuat Auriga menghentikan langkahnya.“Kami saling mencintai, Pa.”Auriga mengepalkan kedua tangannya erat. Sementara Megantara melanjutkan kalimatnya. “Saya tahu selama ini saya telah melakukan kesalahan. Saya tahu saya nggak seharusnya pergi ninggalin Nadi begitu saja. Saya tahu saya gagal sebagai suami. Tapi saya kembali ke sini untuk menebus semua kesalahan itu.”Megantara menatap punggung Auriga yang masih membeku. Namun lelaki itu masih belum berniat untuk membalikkan badan. “Perasaan kami masih utuh. Setelah semua yang terjadi, kami masih memilih satu

  • Hello, Mantan!   88. Mantan Mertua

    “Mas Megan? Mas, kok ke sini? Ada apa?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Raga—adik Hagia. Megantara yang baru saja menginjakkan kaki di lobi gedung kantor milik keluarga Chandrakanta lantas menghentikan langkah, kemudian menoleh. Sudah lama sekali ia tidak datang ke tempat ini. Bahkan terakhir kali, kedatangannya justru berakhir dengan ketegangan yang tidak menyenangkan.“Apa kabar, Ga?” tanya Megantara. “Baik, Mas.” Raga menyalami Megantara. “Mas Megan bukannya di Singapura?”“Aku udah sebulanan lebih di Jakarta.”Megantara mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa karyawan masih terlihat lalu-lalang di area lobi, sementara resepsionis di meja depan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.“Papa kamu ada?”Namun alih-alih langsung menjawab, Raga justru mengernyit. Tatapannya menelusuri wajah Megantara yang siang itu terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.“Mas Megan mau nemuin Papa?” tanyanya hati-hati. “Ada masalah apa? Apa ini ada hubungannya sama Mbak H

  • Hello, Mantan!   87. Cemburu?

    “Selama aku tinggal, Ranu nggak rewel kan, Mbak? Tadinya saya sempat kepikiran kalau anaknya malah ngerepotin.”“Nggak kok, Mbak.” Mbak Asri menggeleng sambil tersenyum. “Ranu anaknya nurut banget. Dia tahu kalau Mamanya kerja, jadi dia nggak pernah rewel.”Hagia mengulas senyum tipis.Pandangannya tertuju pada Ranu yang sedang berlarian di taman apartemen bersama beberapa anak seusianya. Sesekali terdengar tawa riang bocah itu ketika berhasil mengejar temannya.“Syukurlah.”Jujur saja, selama dirawat kemarin, salah satu hal yang paling mengganggu pikirannya adalah Ranu. Ia khawatir putranya rewel atau bahkan membuat Mbak Asri kerepotan.Namun melihat Ranu yang tampak baik-baik saja saat ini, beban di dadanya sedikit berkurang.“Mbak Hagia sendiri gimana?” tanya Asri kemudian. “Wajahnya masih pucat sekali. Ada luka serius?”“Nggak ada kok, Mbak.” Hagia menggeleng pelan. “Cuma beberapa memar sama benturan. Dokter bilang harus banyak istirahat aja.”“Alhamdulillah.” Asri memperhatikan p

  • Hello, Mantan!   86. Terbongkar

    Hagia sempat kehilangan napas selama beberapa saat, sebelum akhirnya berpaling. Kepalanya mendadak berdengung, pikirannya tiba-tiba saja buntu.Ia tidak tahu harus menjelaskan apa setelah apa yang baru saja mereka lihat.“Ris, Sen, Lun...” Hagia berdeham pelan. “Ini nggak seperti yang kalian—”“Pak Megan nggak pakai baju dan kalian ciuman. Lo mau bilang kalian nggak ada apa-apa, Mbak? Seriusan, lo pikir kami sebodoh itu?” potong Arsenio tanpa ampun.“Apa yang kalian lihat nggak seperti yang kalian pikirkan, kok.” Hagia meraup wajahnya dengan kasar. “Iya, kami memang… ciuman. Tapi soal Mas Megan yang nggak pakai baju ini, dia luka dan aku baru lihat. Aku cuma mau mastiin kalau dia… nggak apa-apa.”“Oh, jadinya lagi khawatir gitu ya, Gi?” sahut Kafka dengan sengaja. Hagia melotot kesal kemudian menoleh ke arah Megantara. Lelaki yang berdiri di samping ranjang justru terlihat jauh lebih tenang.“Pokoknya gue sama Mas Megan tuh—”“Apa yang kalian pikirkan tentang kami itu benar,” ujar Me

  • Hello, Mantan!   85. Tamu Tak Diundang

    “Mas, udah jadi telepon Mbak Asri? Ranu gimana? Rewel, nggak?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Hagia. Di luar jendela, langit sudah berubah gelap. Lampu-lampu kota mulai menyala, sementara suasana ruang rawat terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya.“Belum. Ini baru mau—”“Gimana, sih?” Hagia memukul bahu Megantara dengan kesal.“Aww...”Hagia langsung membeku. “Mas?”Megantara spontan memegang bahu kirinya. Raut wajahnya sempat berubah sebelum lelaki itu berusaha terlihat biasa saja.“Mas, kamu kenapa?” kejar Hagia. “Hah? Nggak ada, Sayang. Aku—”“Mas.” Nada suara Hagia langsung berubah serius. “Kamu sakit juga?”Megantara memalingkan wajah. Kemudian menggeleng pelan. “Nggak kok.”“Bohong! Terus tadi itu apa?”Megantara mengembuskan napas pelan.Sial.Seharusnya tadi ia tidak bereaksi. “Aku cuma pegal sedikit,” ujarnya berkilah. “Nadi, aku nggak apa-apa, ini tadi cuma—”“Buka baju kamu sekarang!”Megantara mengerjap beberapa kali. Belum sempat ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status