INICIAR SESIÓNLaras yang sudah lima tahun tinggal di desa untuk hidup tenang pasca meninggalnya suami, kembali ke kota untuk menengok anak semata wayangnya yang sudah lama tidak berkunjung ke desa. Siapa sangka anak semata wayangnya dilakukan semena-mena. Laraspun melakukan pembalasan dendam dan menemukan kembali pasangan hidup yang selama ini menjaganya dari jauh.
Ver más"Ibu cari siapa ya?"
Seorang perempuan bertanya pada Laras. Seingat Laras, dia adalah Reina. Dia sahabat dekat putri semata wayangnya, Dina. Pakaian Reina rapi, khas seorang sekretaris. Tapi bagi Laras, pakaian yang dikenakan Reina sangat minim. 'Apa mungkin begini pakaian orang kota zaman sekarang?' batin Laras, mencoba berpikir positif. Wajah Reina sangat cantik dan mulus. Jauh lebih cantik dari terakhir kali aku bertemu dengannya. Meski begitu, ia tidak secantik Dina. 'Apa sekarang dia menjabat sebagai asisten pribadi Leo, ya? Jika memang iya, kenapa sepagi ini dia udah ada di sini?' batin Laras. "Apa benar ini rumah Leo?" tanya Laras, khawatir ia salah alamat atau mungkin Leo dan Dina sudah pindah ke rumah yang jauh lebih besar. Laras sengaja tidak menyapa Reina. Laras merasa, Reina sudah lupa dengannya. Karena mereka hanya pernah bertemu sekali. "Iya, benar. Ibu siapanya Bang Leo, ya?" 'Bang? Kok dia manggil Leo dengan sebutan Bang?' batin Laras kembali merasakan kejanggalan. "Ah! Saya Tantenya. Leo ada di rumah?" tanya Laras lagi, sedikit berbohong. Karena khawatir jika Laras jujur, dia tidak diperkenankan masuk ke dalam. "Ada. Kebetulan dia lagi siap-siap di kamar," ucapnya, lebih lembut dari sebelumnya. Ia juga membantuku membawa barang dan masuk ke dalam rumah. "Tunggu di sini sebentar ya, Tante. Saya panggil Bang Leo dulu." Laras duduk di sofa, menunggu kedatangan Leo, sambil melihat sekitar, mencari keberadaan anak semata wayangnya. "Tante siapa sih, Beb? Kenapa nggak nanya yang jelas dulu sih!" ucap Leo. Suaranya semakin mendekat menuju tempat Laras berada saat ini. Saat mereka akan sampai di hadapan Laras, perempuan yang Laras yakini adalah Reina sedang bergandengan tangan dengan Leo. Namun, saat mata Leo menangkap wajah Laras, dengan cepat ia melepas tangannya. "I-Ibu? Kenapa Ibu nggak bilang-bilang kalau mau datang ke sini?" "Ibu?" gumam Reina. Ia mengerutkan kening. Melihat pemandangan yang tidak nyaman membuat Laras bangkit dari duduknya. "Di mana Dina? Dan ngapain kamu sama perempuan itu?" "Di-Dia asisten pribadi Leo, Bu! Dia ada di sini karena harus mengantar dokumen penting untuk Leo bawa ke luar kota pagi ini!" ucap Leo, beralasan. 'Kalo cuma asisten pribadi, kenapa panggilan dan hubungan mereka keliatannya dekat banget!' pikir Laras. Tapi ia tidak mau mempermasalahkannya sekarang. Karena baginya yang penting saat ini adalah mengetahui di mana keberadaan Dina. "Di mana Dina?" tanya Laras lagi. "Di-Dina lagi di dalam Bu! Dia... " Belum sempat Leo melanjutkan ucapannya, Laras sudah berhambur masuk ke dalam. Ia mencari Dina di kamar utama, namun ia tidak menemukannya. Leo mengekor Laras dari belakang. Ia sangat khawatir akan sikapnya selama ini diketahui oleh Ibu Mertuanya. Saat Laras masih sibuk mencari di beberapa ruangan, Dina malah ke luar dari dapur. Tempat yang tidak pernah Dina sentuh dulu, saat belum menikah dengan Leo. "Din... " panggil Laras. Bulir hangat mulai jatuh membasahi pipinya saat melihat kondisi putrinya sekarang. Tubuh Dina jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu dulu. Wajahnya juga sangat pucat. Sepertinya ia sedang kurang sehat. Padahal, dulu tubuh Dina cukup berisi dan menggiurkan. Wajahnya pun putih kemerahan. Sangat kontras dengan kondisinya saat ini. "I-Ibu..." Dina langsung berhambur masuk ke dalam pelukkan Laras. Sudut-sudut bibirnya sedikit terangkat. Berbeda dengan yang Laras lihat tadi. Tadi, wajah Dina terlihat masam dan menyedihkan. "Sayang, kamu lagi apa? Kamu lagi kurang sehat ya?" Baru saja Laras bertanya, tubuh Dina sudah merosot jatuh ke bawah. Badannya sangat panas. Laras mencoba mengangkatnya. Namun dengan cepat, Leo menghampiri dan mengangkat tubuh kurus Dina. Saat tubuh Dina diangkat dan pakaiannya sedikit tersingkap, terlihat beberapa luka di tubuh Dina. Hal itu lantas membuat darah Laras mendidih, tapi ia tidak mengungkapkannya. Laras sengaja menahannya. Karena Ia masih membutuhkan Leo untuk mengangkat Dina dan membawanya ke rumah sakit. "Mau di bawa ke mana Bang?" tanya Reina. "Rumah sakit, dia pingsan!" "Hah! Ngapain? Kompres aja pakai air dingin, nanti juga sembuh!" ucap Reina, acuh tak acuh. Reina lupa kalau di sana ada Laras, Ibu kandung Dina. "Siapa kamu ngatur-ngatur, hah!" ucap Laras, ketus. "Cepat bawa Dina ke rumah sakit, Leo!" "Dina udah biasa begini! Paling istirahat sebentar juga sembuh, Bu!" ucap Reina. Reina bergegas menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia sadar kalau sudah salah bicara di depan Laras. Laras mengerutkan kening. "Udah biasa kata kamu?" Leo menatap tajam ke arah Reina. "Reina hanya salah bicara, Bu! Jangan terlalu dipikirkan! Ayo, kita ke rumah sakit aja!" Laras melihat ke arah Reina, lalu beralih kembali ke Leo yang sedang menggendong Dina. Benar, saat ini kesehatan Dina yang utama. Untuk hal lainnya akan ia selesaikan nanti!"Don," gumam Lila, pelan. Ia terdiam beberapa saat setelah panggilan berakhir. Ponselnya masih berada di tangan kanannya. Tatapannya kosong menatap layar yang sudah gelap.Ia sudah menduga, sejak Doni pergi pagi tadi tanpa banyak bicara, ia tahu cepat atau lambat percakapan ini akan terjadi. Dan kemungkinan besar bukan sesuatu yang baik.Perlahan Lila mengembuskan napas panjang. "Kayaknya, kamu udah tau semuanya ya..."Suaranya terdengar lirih.Meski begitu, ia tidak mencoba menghindar. Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan penampilannya seperlunya, lalu mengambil kunci mobil."Kalo aku nggak dateng, semua pasti akan makin runyam."Beberapa menit kemudian, mobilnya mulai melaju meninggalkan rumah menuju hotel tempat acara semalam berlangsung.Saat tiba di restoran hotel, suasana tidak terlalu ramai. Lila langsung menemukan Doni duduk sendirian di salah satu meja dekat jendela. Di depannya, masih ada secangkir kopi yang sudah hampir habis.Doni melihat kedatangannya. Namun tidak ada
"Hah...," ucap Doni. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu dan turun dari mobil. Rumahnya terlihat sepi. Sepertinya orang tuanya sedang tidak ada di rumah sekarang. Ia bergegas masuk ke dalam rumah. Kepalanya masih terasa berat.Ia langsung berjalan menuju kamar dan masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Doni memaksa dirinya untuk sarapan meski nafsu makannya hampir tidak ada. Ia duduk sendirian di meja makan sambil menikmati secangkir kopi dan roti tawar dengan selai kacang. Kini pikirannya sudah mulai sedikit lebih tenang."Aku harus pastiin semuanya secara langsung," ucap Doni, pelan. Ia berfikir kalau ia tidak bisa terus menerka-nerka seperti ini. Ia butuh bukti pasti tentang apa yang sebenarnya terjadi semalam. Sehingga, setelah menghabiskan kopinya, Doni mengambil kunci mobil dan kembali ke luar rumah.***Sementara itu, setelah kepergian Doni, Lila masih duduk di tempatnya. Tatapannya tertuju pada pintu kamar hotel yang sudah
"Gila!" ucap Doni. Ia memukul setir cukup keras. Suaranya sampai menggema di dalam mobil yang masih terparkir di basement hotel.Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Tiba-tiba saja, potongan-potongan ingatan semalam terus bermunculan satu per satu. Tidak lengkap, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan minuman yang ia konsumsi saat acara kementerian semalam. Karena, setelah bertahun-tahun bekerja, Doni sangat mengenal batas dirinya sendiri untuk minum. Ia bukanlah tipe orang yang mudah kehilangan kendali.Tapi semalam berbeda. Sangat berbeda.Doni mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil. "Aku harus cari tau yang sebenarnya dan nggak bisa cuma nyalahin Lila."Mobil perlahan meninggalkan area hotel. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada musik yang menyala dan hanya ada suara mesin dan pikirannya sendiri yang terus bekerja. Seolah mencari informasi dan melakukan reka adegan ulang secara terus menerus. Yang pa
"Entahlah," ucap Doni. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Tubuhnya terasa semakin panas. Kepalanya berdenyut hingga membuat rasa nyeri yang tidak tertahankan.Ia tetap mencoba untuk fokus pada ruangan di sekitarnya, tetapi pandangannya masih sedikit kabur."Aku juga nggak tahu, Lil," gumamnya, pelan.Lila duduk di sampingnya. "Ya udah. Kamu istirahat dulu aja."Doni mengangguk lemah. Saat itu, pikirannya terasa kacau. Di tengah kesadarannya yang mulai menurun, justru satu wajah terus muncul di hadapannya. Dina.Entah kenapa beberapa bulan terakhir, perempuan itu terus memenuhi pikirannya. Mulai dari percakapan sederhana, candaan kecil, sampai berbagai momen yang sebelumnya tidak pernah ia anggap penting. Dan menjadi lebih terasa hingga ia meminta Dina mengizinkannya untuk selalu ada di sisinya.Doni memejamkan matanya. Berusaha menghilangkan rasa tidak nyaman yang semakin lama semakin kuat. Sedangkan Lila hanya memperhatikannya dari dekat.Awalnya ia merasa puas. Rencananya berjalan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas