MasukBunda Zayna, perempuan asal Parepare, Sulawesi Selatan, adalah seorang trader saham sekaligus konten kreator edukasi finansial yang dikenal cerdas dan berintegritas. Dari ruang kerjanya yang sederhana, ia membangun reputasi melalui analisis yang tajam dan sikap profesional. Di rumah, ia adalah ibu bagi Ana dan Ziyan, serta istri yang menjaga keharmonisan keluarganya dengan penuh kesetiaan. Tanpa pernah ia sadari, video-videonya ditonton oleh Karim—miliarder berdarah Turki-Bandung, pemilik kerajaan bisnis real estate, resort, dan tambang energi terbarukan. Di tengah ekspansi bisnisnya ke Indonesia dengan Bandung sebagai pusat operasional, Karim diam-diam mengagumi kecerdasan dan keteguhan prinsip Bunda Zayna. Pertemuan mereka terjadi melalui kerja sama investasi di Makassar. Karim menunjuk Bunda Zayna sebagai pengelola portofolio pribadinya. Namun ketika ia melihat langsung keharmonisan keluarga perempuan itu, hatinya goyah. Untuk pertama kalinya, Karim merasakan cinta yang tak bisa ia miliki. Ia berusaha mengikhlaskan. Di tengah pergulatan batin, Karim menyadari dirinya telah lama jauh dari Tuhan. Cinta yang mustahil itu justru membawanya kembali pada sholat dan doa. Orang tuanya, yang memahami perubahan itu, berusaha menjaga agar Karim tidak tenggelam terlalu dalam pada perasaan yang semu. Namun ujian sesungguhnya datang dari dunia investasi. Manuver bisnis yang kejam menyeret nama Bunda Zayna dalam isu manipulasi pasar, mengancam reputasinya. Karim harus memilih: menggunakan kekuasaannya untuk melindungi perempuan yang ia cintai, atau mundur demi menjaga kehormatan dan batas yang tak boleh dilanggar. Investor Asing adalah kisah tentang cinta yang hadir di waktu yang salah, tentang iman yang kembali tumbuh, dan tentang kesetiaan yang menjadi investasi paling berharga dalam kehidupan.
Lihat lebih banyakAdzan Subuh baru saja usai ketika Bunda Zayna melipat sajadahnya perlahan. Rumah masih diselimuti sunyi yang lembut. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui celah jendela dapur.
Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan. Kompor dinyalakan. Wajan dipanaskan. Telur ceplok, tumis sayur sederhana, dan nasi hangat mulai tersaji satu per satu. Tangannya bergerak cekatan, terbiasa dengan ritme pagi yang hampir selalu sama. Di sudut dapur, teko kecil mulai mendidih. Suaminya keluar dari kamar dengan kemeja kantor yang sudah rapi disetrika. “Sudah bangun dari tadi?” tanyanya lembut Seperti biasa,” jawab Bunda Zayna sambil tersenyum tipis. Ana muncul berikutnya, rambutnya masih sedikit berantakan. “Mama… hari ini ada olahraga.” “Iya, Mama sudah siapkan bekal lebih. Jangan lupa sepatu.” Tak lama, Ziyan menyusul sambil mengucek mata. “Mama, hari ini ziyan latihan Bulu Tangkis…” “Iya, Nak. Mama sudah masukkan roti tambahan. Biar semangat.” Suasana pagi itu sederhana, tapi hangat. Suaminya duduk sebentar di meja makan. “Kamu nanti posting jam berapa?” “Setengah delapan. Setelah ngopi.” Suaminya tersenyum. “Kopi dulu baru market ya?” Bunda Zayna terkekeh kecil. “Market bisa merah, tapi kopi harus hitam dan hangat.” Ia memang pecinta kopi. Bukan yang mahal atau berkelas, cukup kopi hitam tubruk sederhana yang aromanya memenuhi dapur. Setelah anak-anak sarapan dan berpamitan, suaminya berdiri mengambil tas kerja. “Hati-hati ya di rumah.” “Kk juga.” Pintu tertutup pelan. Rumah kembali sunyi. Jam menunjukkan pukul 07.32. Inilah waktunya. Bunda Zayna membawa cangkir kopinya ke meja kecil di sudut ruang keluarga yang ia sulap menjadi ruang kerja sederhana. Laptop dibuka. Grafik candlestick memenuhi layar. Ia menyesap kopi pertama. Hangat. Pahit. Menenangkan. Seperti market — kadang pahit, tapi selalu memberi pelajaran. Ia menarik napas sebelum menekan tombol rekam. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… Selamat pagi, teman-teman trader dan investor di mana pun berada.” Suaranya tenang, stabil, tidak dibuat-buat. “Semalam indeks Dow Jones ditutup menguat 0,8% setelah data inflasi Amerika menunjukkan perlambatan. S&P 500 ikut menguat, sementara Nasdaq cenderung bergerak terbatas.” Tangannya bergerak pada mouse, mengganti slide. “Harga minyak mentah naik tipis akibat sentimen geopolitik. Hal ini berpotensi memberi angin segar pada sektor energi domestik.” Ia kembali menyesap kopi. Untuk IHSG hari ini, kita masih berada di fase konsolidasi. Support terdekat di 7.120 dan resistance di 7.200. Selama support bertahan, peluang rebound masih terbuka.” Nada suaranya tetap rendah hati. “Untuk trading harian, saya memantau sektor energi dan perbankan digital. Potensi kenaikan 5–8% dengan cut loss disiplin di bawah support terdekat. Ingat, jangan serakah. Disiplin lebih penting dari cuan besar.” Ia selalu menutup dengan kalimat yang sama. “Market tidak pernah salah. Yang perlu diperbaiki adalah manajemen diri kita.” Rekaman selesai. Video itu diunggah seperti biasa — tanpa wajah, hanya suara dan grafik. Dua tahun terakhir, ia konsisten seperti ini. Tidak pamer. Tidak sensasional. Tidak menjanjikan kaya mendadak. Hanya analisa. Notifikasi mulai berdenting. Like. Komentar. Pertanyaan. Ia baru saja hendak merapikan catatan ketika ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Ia menatap layar beberapa detik. “Ya, halo?” Suara di seberang terdengar berat namun tenang. “Maaf, ini dengan Bunda Zayna?” Bunda Zayna yang sedang merapikan catatan analisa sahamnya menoleh pada layar ponsel. Nomor tak dikenal. “Benar, Pak. Dengan siapa?” “Saya Karim. Saya mendapatkan nomor Ibu dari kanal MiTube edukasi saham.” Jantungnya berdetak pelan. Ia mencoba mengingat. Nomor pribadinya jarang sekali ia bagikan. Hanya beberapa murid kelas privat yang menyimpannya. "Halo, Bunda Zayna? Apakah Ibu masih di sana?” “Oh, iya. Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” “Saya ingin membuka akun RDN dengan referral Ibu. Apakah memungkinkan?” Mata Bunda Zayna berbinar. Referral berarti tambahan poin dan komisi kecil—lumayan untuk tambahan uang sekolah anak-anak. “Baik, Pak. Silakan instal aplikasi sekuritas kami dan gunakan kode referral saya.” Ia menjelaskan dengan suara profesional, seperti biasa saat membalas pesan follower. “Apakah boleh jika Bunda Zayna yang membantu proses pembuatannya? Persyaratannya bisa saya kirim sekarang.” "Maaf sebelumnya, Pak. Aplikasi RDN tidak bisa dibuka dari sembarang ponsel. IP awal terdaftar yang dapat mengakses akun. Jika saya yang membuatkan, Bapak akan kesulitan memantau sendiri.” Hening sepersekian detik. “Oh, itu tidak masalah,” jawab Karim santai. “Justru saya berharap Bunda Zayna yang mengelola akun saya. Dengan pembagian 75:25 dari setiap keuntungan mingguan.” Tangan Bunda Zayna otomatis mengepal. Terlalu mudah Terlalu percaya. Atau… terlalu berani? Maaf sebelumnya, Pak,” ucapnya hati-hati. “Saya tidak menerima pengelolaan dana pribadi. Kita juga belum pernah bertemu.” “Saya percaya pada data. Akurasi analisa Ibu cukup konsisten.” Kalimat itu membuatnya sedikit tertegun. Namun tetap saja— “Maaf, Tuan. Saya sulit menerima tawaran ini. Terima kasih atas kepercayaannya.” Dan sebelum pria itu melanjutkan, ia menutup panggilan. Tut… tut… tut… Tangannya sedikit gemetar. Ia menatap layar ponselnya lama. Ruangan kembali sunyi. Kopi di cangkirnya masih mengepul. “Aneh,” gumamnya. “Orang dari mana pula ini…” Namun jauh di dalam hati kecilnya, ada rasa lain yang tak mau ia akui—sebuah peluang besar yang baru saja ia tolak. Di tempat lain, Karim masih memegang ponselnya. “Dia… menolak?” Nada sambungan terputus masih terngiang. Ia jarang sekali mendengar kata tidak. Biasanya orang berebut kesempatan ketika mendengar pembagian hasil yang cukup menggiurkan, Sudut bibirnya terangkat pelan. Menarik.Hari ini, masih ada perempuan yang tidak silau oleh uang. "Hemm… seorang Karim tidak akan menyerah.” Dari balik pintu kaca ruang kerjanya, Ziyan memperhatikan. Sudah lama ia tidak melihat bosnya tersenyum seperti itu—bukan senyum bisnis, tapi senyum tertarik. “Oh tidak,” gumamnya pelan. “Ini bahaya.” Tok… tok… tok… “Bos, boleh saya masuk?” “Masuk.” Hari ini kita siapkan penerbangan ke Makassar.” Karim mengangkat alis. “Mendadak?” “Bos lupa? Meeting malam ini dengan investor.” Karim menatap jam di pergelangan tangannya. Benar. Jadwal padat, rapi, tak pernah meleset. Namun entah kenapa, pikirannya justru kembali pada suara lembut yang menolaknya barusan. “Siapkan penerbangan sekarang.” “Siap, Bos.” Beberapa jam kemudian, di dalam jet pribadinya, Karim memandangi langit sore. Ziyan duduk di seberangnya, menahan rasa ingin tahu. Kita akan melebarkan bisnis di pulau ini,” ujar Karim akhirnya. “Ziyan, bukankah Bunda Zayna tinggal di Sulawesi?” “Benar, Sir. Di Pare-Pare. Sekitar tiga sampai empat jam perjalanan darat dari Makassar.” “Tidak ada penerbangan?” “Belum ada, Sir.” Karim terdiam, lalu berkata pelan namun pasti, “Kita ke Pare-Pare. Cari lahan strategis. Tidak harus dekat keramaian. Saya ingin tempat yang tenang.” Ziyan menyipitkan mata. “Baik, Sir. Tapi… ini tentang ekspansi bisnis, atau…” Karim menatapnya datar. Ziyan langsung tersenyum kikuk. “Baik, saya atur.” Namun dalam hati ia bergumam, Bos… ini bukan sekadar bisnis. Di sore hari Bunda Zayna duduk termenung di ruang tamu. Suaminya keluar dari kamar membawa cangkir teh yang sudah disiapkan bunda Zayna sebelumnya. “Kenapa melamun, hemm?” Ia menoleh ke arah suaminya. “Kak, malam ini kita ke Hotel Lotus, ya.” “Dalam rangka apa?” “Ada orang dari Bandung. Katanya tertarik dengan konten sahamku. Kita diundang satu keluarga.” Suaminya mengangguk pelan. “Kalau begitu, kita datang bersama." Bunda Zayna tersenyum tipis. Namun di dalam hatinya, ada firasat yang mulai muncul. Entah kenapa… ia merasa hidupnya akan segera berubah. Dan ia belum tahu — perubahan itu akan membawa keberuntungan. Atau justru badai.Kereta mulai meninggalkan Kota Makassar dengan kecepatan yang perlahan meningkat. Eksel memilih duduk di dekat jendela. Sejak tadi matanya nyaris tak pernah lepas dari pemandangan di luar. Sesekali ia mengambil ponselnya untuk mengabadikan beberapa momen, lalu kembali menempelkan wajahnya ke kaca."Amazing..."gumamnya pelan, begitu memasuki wilayah Maros, hamparan tambak mulai terlihat membentang di sisi rel. Di kejauhan, garis biru Selat Makassar tampak menyatu dengan langit pagi yang cerah.Beberapa perahu nelayan terlihat berayun pelan di bibir pantai, sementara burung-burung laut sesekali melintas rendah di atas permukaan air. Tak lama kemudian, kereta memasuki kawasan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), pemandangan kembali berubah. Hamparan sawah hijau membentang sejauh mata memandang, diselingi petak-petak tambak yang memantulkan cahaya matahari pagi.Di sisi lain, gugusan Pegunungan Karst Maros-Pangkep berdiri kokoh dengan bentuk tebing-tebing batu kapur yang menjulang tinggi.
Setelah seluruh laporan trading selesai dirapikan, Bunda Zayna kembali membuka daftar saham yang berada di dalam portofolio Tuan Karim.Ia memperhatikan grafik satu per satu. "Hm...dua saham ini sepertinya masih berada dalam tren naik."Ia memberi tanda pada kedua saham tersebut sebagai rencana transaksi keesokan pagi.Untuk portofolio pribadinya, Bunda Zayna juga mulai menyusun strategi baru.Besok ia berencana kembali menerapkan metode BSJP (Beli Sore Jual Pagi) pada sebagian dananya, sementara sebagian dana lainnya akan dipindahkan ke akun investasi jangka panjang."Kalau empat puluh persen dipindahkan ke akun investasi..." gumamnya sambil menghitung."...dana tradingku jadi terlalu kecil untuk mengejar target transaksi."Ia kembali menggeleng pelan. "Jangan terburu-buru, dua puluh persen saja dulu.""Sedikit demi sedikit menambah kepemilikan saham investasi juga sudah cukup." Baginya, konsistensi jauh lebih penting daripada memaksakan hasil besar dalam waktu singkat.Setelah menutu
Malam semakin larut, setelah memastikan seluruh laporan trading dan analisis portofolio milik Tuan Karim selesai disusun, Bunda Zayna tidak langsung menutup laptopnya.Ia masih membuka satu berkas lagi. Kali ini bukan laporan milik Karim, melainkan catatan transaksi portofolio pribadinya.Selama ini, Bunda Zayna terbiasa hanya melihat hasil akhirnya. Hari itu untung atau rugi, berapa nilai profit yang diperoleh, atau berapa besar kerugian yang harus diterima. Ia jarang benar-benar merekap perputaran dana, nilai transaksi harian, maupun akumulasi pembelian dan penjualan saham secara terperinci.Namun kali ini berbeda, beberapa hari sebelumnya, ia berhasil mendaftarkan diri pada program edukasi khusus yang diselenggarakan oleh sekuritas tempat ia bermitra. Program tersebut ditujukan bagi nasabah yang ingin memperdalam ilmu investasi dan manajemen portofolio. Salah satu syaratnya adalah memiliki akumulasi nilai transaksi tertentu selama masa pemantauan tiga bulan, minimal lima puluh juta
Bunda Zayna tiba di rumah dengan membawa sebungkus gado-gado yang baru saja dibelinya di warung langganan. Malam itu, gado-gado sederhana itu menjadi pelengkap makan malam keluarga mereka.Seperti biasa, suasana meja makan dipenuhi obrolan ringan. Ana bercerita tentang kegiatan hari itu, sementara Zayan sesekali menyela dengan cerita versinya sendiri yang membuat semua tertawa.Setelah makan malam selesai dan dapur kembali rapi, Bunda Zayna membuka laptopnya. Ia mulai merekap hasil trading hari itu sekaligus menyusun rencana transaksi untuk keesokan harinya.Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh iya, Yah..." Bunda Zayna menoleh kepada suaminya. "Ada satu hal penting yang belum sempat Bunda ceritakan. Maaf, ya."Aim yang sedang merapikan beberapa mainan Zayan langsung menoleh."Apa itu, Bunda?"Sebelum menjawab, Bunda Zayna melirik ke arah kedua anak mereka.Ana yang memahami isyarat ibunya segera berdiri. "Ayah... Bunda... Ana sama Dek Zayan tidur dulu ya."Ia menggandeng tangan adiknya.
"Tuan, sepertinya Bunda Zayna sudah berada di ruang virtual," lapor Ziyan melalui pesan singkat.Karim yang sedang menatap layar laptopnya hanya membaca pesan itu sekilas."Biarkan saja. Tunggu sepuluh menit lagi, baru kita bergabung," balasnya tenang."Baik, Tuan."Beberapa saat kemudian Karim kem
“Wah… Bunda, rumah ini nyaman sekali. Apa cuma keluarga kita yang tinggal di sini?” tanya Ana sambil memandang sekeliling dengan kagum.Bunda Zayna tersenyum pelan. Ia sendiri masih terpukau melihat rumah yang begitu rapi dan hangat, jauh dari kesan asing meski mereka baru saja tiba di Jakarta.“Iy
Kalimat itu membuat Karim spontan mengernyit, refleks ia menoleh ke belakang di sana ada Mommynya berdiri. Tangannya masih menggenggam nampan camilan hangat, namun wajahnya tampak membeku. Tatapannya bertemu dengan mata Karim beberapa detik tanpa suara, Karim sedikit terkejut. “Mommy... sejak kapa
Pukul 07.30, Karim memulai sarapan paginya sambil membicarakan bisnis dalam suasana yang santai namun tetap profesional dengan Mr. Clark, pebisnis yang seusia dengannya, memiliki pembawaan yang tenang, ceria, dan mudah mencairkan suasana. Meski percakapan mereka dipenuhi candaan ringan, fokus kedua












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.