로그인Aim kembali melangkah ke tempat Daeng Dirman berdiri. Wajahnya terlihat ragu, seolah masih menimbang sesuatu yang berat di kepalanya.
“Jadi… bagaimana, Pak Aim?” tanya Dirman dengan nada tenang, meski di balik sorot matanya tersimpan rasa ragu. Aim menghela napas panjang sebelum membuka suara. “Sebenarnya, Daeng… saya pribadi agak terkejut. Jujur saja, saya juga merasa malu.” Dirman mengangkat alis tipis, memberi isyarat agar Aim melanjutkan. “Mobilnya Daeng ini… kalau ditukar tambah dengan mobil saya, nilainya jauh sekali. Mobilku itu paling-paling cuma dihargai tiga puluh lima sampai empat puluh lima juta. Sedangkan saya… kemampuan uangku tidak sampai sepuluh juta untuk tambahnya. Padahal Daeng sudah luar biasa murah hati.” Ia menunduk. Nada suaranya jujur, tanpa dibuat-buat. Dirman langsung membaca situasi itu. Dalam benaknya, suara Tuan Ziyan kembali terngiang jelas. “Apa pun caranya, mobil Pak Aim harus berganti dengan yang lebih baik sore ini. Tuan Karim akan bertemu kembali dengan mitranya itu. Ingat, Daeng… buat semuanya terlihat alami.” Perintah itu sempat membuat Dirman pening. Ia bukan orang yang gemar bermain perasaan. Tapi keadaan mendesak, dan kebetulan—anak buah tuannya menemukan informasi bahwa Aim memang sudah lama berniat mencari mobil untuk tukar tambah. Maka lahirlah ide itu. Menukar mobilnya sendiri. Meski, jujur saja, dengan hati yang sedikit patah. Daeng… daeng yang sabar yah, batinnya, sambil tersenyum miris menahan perasaan. “Berapa kemampuanta Pak Aim?” tanya Dirman akhirnya. Aim menjawab lirih, “Tujuh juta ji, Daeng. Saat ini yang ada di tangan baru lima juta.” Dirman menarik napas dalam-dalam. Harus alami, ia mengingatkan dirinya sendiri. “kalau tambaki satu juta lagi bagaimana?” ujarnya perlahan. “Biar sekalian kita bantu urus surat jual belinya sama balik nama. Jadi tidak pusing ki lagi urus ini-itu.” Aim terdiam. Dirman melanjutkan, seolah berpikir keras,“Kepepetma juga ini. Ada pekerjaanku yang mendesak, butuh mobil carry. Mobilta ini mesinnya masih ori, halus. Itu yang bikin saya tertarik.” Aim mengangguk pelan. “Saya tanyaki dulu mamanya nah, Daeng. InsyaAllah bisa nanti saya usahakan cari tambahnya” Ia segera menjauh beberapa langkah dan menghubungi Bunda Zayna. “Assalamualaikum, dek,” suaranya sedikit tergesa. “Mintaki Daeng delapan juta katanya sekalian urus balik nama, supaya tidak pusing lagi ketemu.” Di seberang sana, suara Bunda Zayna terdengar tenang dan penuh syukur. “Waalaikumussalam. Alhamdulillah, kak…rezekyta ini. Uangnya sudah ada di rekeningku dari hasil withdraw tadi. Saya transfer sekarang ya. Bayarmi saja pakai mobile bankingta yang tiga juta sisanya.” Aim hampir tak percaya. “Alhamdulillah, dek… Ya Allah. Mobil Livina itu masih baru, pemakaian baru setahun.” “Iye, kak. Tutupki dulu teleponnya. Lanjutkan saja transaksinya.” Dengan wajah berseri, Aim kembali ke arah Dirman. “Daeng, aman mi. Sudah adami sisanya. Istri sudah setuju.” “Alhamdulillah,” ujar Dirman mantap. “Marimi pale kita ke sana. Ada temanku, kebetulan notaris. Bisa langsung kita urus.” Tak lama kemudian, proses jual beli berjalan lancar. Dokumen ditandatangani. Bukti transaksi disiapkan. “Jadi begini, Pak Aim,” jelas Dirman sambil menyerahkan berkas. “Untuk balik nama, biarmi temanku yang urus. Kita pegang saja dulu bukti jual belinya. Ini kunci mobil, dan fotokopi STNK sementara biar aman di jalan.” Aim menerima semuanya dengan tangan sedikit bergetar—antara bahagia dan tak percaya. “InsyaAllah paling lama dua hari kelar. Nanti bisa kita ambil di alamat ini.”“Iye pale, Daeng,” jawab Aim tulus. “Terima kasih banyak. Berjodoh ka dengan mobilta.” “Alhamdulillah,” balas Dirman. “Saya ini malah beruntung sekali.” Mereka tersenyum. Kesepakatan itu terasa ringan, tapi bermakna. Tak lama setelah itu, Dirman menelpon. “Halo, Bos. Done. Mobil sudah jadi hak milik suami Bunda Zayna.” Di seberang, suara Ziyan terdengar puas. “Ok. Terima kasih, Daeng. Saya sudah kirim sisanya, silahkan cari pengganti mobilmu yang sudah berpindah tuan,hehehe” “Alhamdulillah. Senang berbisnis dengan Anda, Bos,ternyata anda mengetahuinya...hehehe" Telepon ditutup. Ziyan segera melapor kepada Karim. “Tuan, mobil aman. Sesuai kriteria Anda.” Karim mengangguk kecil. “Mungkin saat ini, Bunda Zayna lagi bahagia dapat mobil bekas tapi baru,” ujarnya samar, hampir tersenyum. Sementara itu, di Kamar Hotel Bunda Zayna. “Assalamualaikum, Mam. Ayo kita turun ke parkiran, lihat mobil yang baru saja tukar tambah,” ujar Aim penuh semangat. Bunda Zayna tersenyum, namun segera mengingat sesuatu. “Waalaikumussalam. Sebaiknya bapak bersiap dulu. Tidak lama lagi kita bertemu dengan Tuan Karim untuk tanda tangan kontrak. Setelah itu baru kita lihat mobilnya.” “Astagfirullah,” gumam Aim. “Saya lupa, dek. Iye pale… mandi dulu.” Kak Ana mendekat. “Mam mau keluar?”“Iya, Nak. Kita mau ketemu Tuan Karim dan Om Ziyan.” “Om yang kemarin, Mam? Yang kelihatannya kayak CEO itu?” canda Ana. Bunda Zayna tertawa kecil. “Hehe… kayak tau saja. Iya. Beliau calon investor Mama. Yuk, ganti baju, kita siap-siap.” Tak lama kemudian, notifikasi masuk di ponsel Bunda Zayna. Ziyan: Bunda Zayna, Tuan Karim 15 menit lagi tiba di resto hotel. Ruang privat sudah direservasi atas nama Tuan Karim. Mohon bersiap. Zayna: Siap, Tuan Ziyan. Terima kasih. “Ayo kita turun ke resto,” ajaknya pada suami dan anak-anak. “Jom,” jawab mereka hampir bersamaan. “Maaf, Mbak. Ruang privat atas nama Tuan Karim,” ujar bunda zaynal. “Dengan Bunda Zayna?” tanya staf itu memastikan. “Iya.”“Silakan ikut saya.” Mereka diarahkan ke ruang privat yang elegan. Beberapa camilan pembuka telah tersaji. “Silakan dinikmati, Bu, Pak. Ini pesanan langsung dari Tuan Karim.” “Terima kasih,” jawab Bunda Zayna sopan. Begitu staf pergi, Bunda Zayna menoleh ke suaminya. “MasyaAllah… mewah ya, Pak.” Suaminya tersenyum. “Kita kayak tamu spesial saja.” “Alhamdulillah. Rezeki Mama,” bisik Bunda Zayna “Doa anak-anak,” sahut sang suami. “InsyaAllah pelan-pelan terkabul.” Pintu terbuka. “Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam, Tuan,” jawab mereka serempak. “Maaf sedikit terlambat,” ucap Karim. “Pare-Pare cukup macet juga.” “Tidak apa-apa, Pak,” jawab Bunda Zayna. “ Karim duduk dengan tenang. “Bagaimana, Bunda Zayna? Sudah dibicarakan dengan teliti bersama suami?” “Alhamdulillah, Tuan,” jawabnya mantap. “Kami sudah sepakat dengan poin-poin yang Tuan tawarkan. Pada dasarnya, kami sangat bersyukur atas kepercayaan ini.” “Alhamdulillah kalau begitu,” ujar Karim sambil membuka map di hadapannya. “Berarti kita bisa lanjut.” Ia menggeser dokumen kontrak kerja sama. Di dalamnya tercantum jelas: — Akun RDN atas nama Karim Al Farizi — Fasilitas smartphone dan laptop untuk analisa — Skema bagi hasil: 75% untuk Karim sebagai pemilik portofolio, 25% untuk Bunda Zayna sebagai pengelola trading “Kalau sudah clear,” lanjut Karim, “kita tandatangani hari ini.” Bunda Zayna menatap suaminya. Sang suami mengangguk pelan. “InsyaAllah,” jawabnya. Sebelum pena benar-benar menyentuh kertas, Bunda Zayna meraih smartphone yg berisi akun RDN yang akan dikelolanya. Gerakannya pelan, nyaris ragu. “Maaf, Tuan Karim,” ucapnya lirih. “Saya ingin memastikan satu hal.” Karim mengangguk tenang. “Silakan, Bunda.” Layar ponsel menyala. Email dari Ziyan sudah terbuka—berisi informasi yang sebelumnya dikirim saat proses pembukaan akun RDN: username, password, serta alamat email khusus yang akan digunakan untuk pelaporan transaksi dan notifikasi resmi. Beberapa detik berlalu. Sunyi. Tatapannya berhenti. Cash Balance: Rp1.000.000.000 Jantungnya seolah berdetak lebih keras. Tangannya refleks menggenggam ponsel sedikit lebih kuat. Ia tertegun. Dalam benaknya, ia sempat membayangkan angka yang jauh lebih kecil—seratus juta,mungkin. Uji coba. Penyesuaian. Masa pengenalan. Namun angka di hadapannya bukan angka percobaan. Ini adalah kepercayaan penuh. Perlahan, Bunda Zayna mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan Karim—tatapan yang tidak menyembunyikan keterkejutan, juga kegamangan. “Ini… satu miliar?” suaranya nyaris berbisik. Karim tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk, tenang, seolah angka itu tidak lebih berat dari kata-kata yang baru saja terucap.Bunda,” katanya kemudian, suaranya rendah dan terkendali. “Saya tidak percaya pada setengah keyakinan.” Bunda Zayna menunduk kembali. Ada perasaan yang sulit ia namai—antara takut, haru, dan rasa tanggung jawab yang tiba-tiba terasa begitu besar. “Ini sangat berani, Tuan,” ucapnya pelan. “Menitipkan kepercayaan sebesar ini kepada seseorang yang baru Tuan kenal…” Karim tersenyum samar. “Keberanian selalu beriringan dengan perhitungan, Bunda. Saya sudah melihat prosesnya, bukan hanya hasilnya.” Ziyan yang sejak tadi diam, menatap dengan penuh hormat.Ia tahu, momen ini bukan sekadar tentang uang—ini tentang karakter. Bunda Zayna menghela napas panjang. Lalu, dengan tangan yang kini lebih tenang, ia mengunci layar ponsel dan meletakkannya di atas meja. “Baik,” katanya mantap. “Kalau begitu, izinkan saya menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya sebagai pengelola, tapi sebagai orang yang sadar betul beratnya kepercayaan.” Karim mendorong map kontrak ke arahnya. “Saya tidak meminta apa-apa selain itu.”Sunyi kembali hadir—sunyi yang bukan canggung, melainkan penuh makna. Pena pun akhirnya bergerak dan menyentuh kertas menandai awal kerja sama dan awal perubahan hidup mereka."Yah... sebenarnya Kak Zayna itu siapa?" Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Eksel.Kelvin yang sedang menyiapkan hasil masakannya mengangkat pandangan. Ia menatap putranya beberapa saat tanpa langsung menjawab.Dari cerita yang disampaikan Eksel sejak tadi, Kelvin justru semakin yakin bahwa putranya diam-diam telah mempelajari teknik keamanan siber hingga tingkat yang cukup tinggi. Berani menguji kemampuan dengan orang yang menjaga sistem keamanan Soraya bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang.Kemampuan Eksel rupanya sudah jauh berkembang, bahkan melampaui perkiraannya."Apa yang membuatmu begitu penasaran?" tanya Kelvin tenang. "Dia bukan siapa-siapa."Eksel tidak langsung percaya. Tatapannya masih tertuju pada ayahnya."Kalau memang bukan siapa-siapa, kenapa jejak digitalnya hampir tidak ada? Sulit sekali ditemukan. Bahkan sistem yang melindunginya juga tidak biasa."Kelvin hanya tersenyum tipis. Dugaan itu benar. Semakin sedikit jawaban yang diterima Eksel
Malam itu, Anita dan Gita akhirnya menyelesaikan seluruh persiapan untuk berjualan keesokan harinya. Beberapa adonan telah siap, sementara kue-kue yang bisa dibuat lebih awal juga sudah tersusun rapi."Nak, istirahat dulu saja. Biar mamah yang menyelesaikan sisanya," kata Anita sambil merapikan peralatan di dapur."Baik, Mah."Gita mengangguk pelan. Tubuhnya memang terasa cukup lelah setelah menjalani hari yang panjang. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuh di atas kasur. Belum sempat memikirkan hal lain, matanya sudah terpejam. Rasa kantuk mengalahkan semua rencana yang sempat memenuhi pikirannya sejak sore.Tak lama kemudian, ia benar-benar tertidur.~~~♡♡♡~~~Di tempat lain, Eksel masih memikirkan sosok perempuan yang tadi menjadi bahan pembicaraan ayahnya dan Tante Sonia.Kak Zayna... Rasa penasarannya semakin besar. Ia membuka kembali galeri ponselnya, lalu memilih salah satu foto yang secara khusus memperlihatkan wajah Zayna dengan cukup jelas. Bermodal foto itu, ia
Gita yang sempat mendengar ponsel ibunya berdering sekali tanpa sengaja melirik ke layar. Nomor yang muncul terasa asing, berbeda dengan nomor-nomor pelanggan yang biasa menghubungi mereka. Namun karena panggilan itu langsung terputus, ia mengira hanya ulah orang iseng dan tidak terlalu memikirkannya. Ia pun kembali melayani para pembeli.Sementara itu, Anita juga sibuk melayani pelanggan yang silih berganti datang. Hari itu dagangan mereka laris. Menjelang siang, sebagian besar jajanan sudah habis terjual."Alhamdulillah, Nak. Sepertinya hari ini kita bisa pulang lebih cepat," ucap Anita sambil merapikan wadah dagangannya.Gita yang baru duduk di kelas satu SMP memang sengaja menghabiskan masa liburnya dengan membantu sang ibu berjualan. Ia lebih memilih menemani Anita daripada menerima ajakan ayahnya untuk berlibur ke tempat tinggalnya.Sudah beberapa tahun Anita resmi bercerai. Perpisahan itu terjadi tidak lama setelah ayah Gita memilih mengakhiri rumah tangga mereka. Saat itu, kak
Aim tiba di kantor pada pagi hari dan langsung melapor setelah menyelesaikan perjalanan dinasnya.Sejujurnya ia masih sedikit bingung. Selama ini ia belum pernah mendapat tugas perjalanan dinas yang penugasannya langsung berasal dari kantor pusat. Karena itu, begitu tiba di kantor, ia memutuskan untuk segera menemui atasannya. Selain menyerahkan laporan perjalanan, ia juga ingin memastikan format pelaporan yang benar agar tidak terjadi kekeliruan."Pak Aim, silakan masuk. Pak Jaya sudah menunggu Bapak," ujar salah seorang staf."Baik, terima kasih," jawab Aim sambil mengangguk.Aim mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam ruangan."Silakan duduk, Pak Aim," sambut Pak Jaya dengan ramah."Terima kasih, Pak."Aim duduk dengan sedikit canggung. Ini pertama kalinya bertemu dan berbicara dengan Pak Jaya, selama ini ia hanya mengenal nama atasannya itu dari struktur organisasi dan beberapa surat dinas."Pak, mohon maaf mengganggu waktunya. Ini laporan perjalanan saya beserta laporan penggunaan da
Setelah target trading hari itu tercapai, Zayna menutup portofolio milik Karim dengan perasaan lega.Dua saham baru yang dibelinya pagi tadi berhasil ia lepas sesuai rencana. Saham D memberikan keuntungan sekitar 3,2 persen, sedangkan saham E menghasilkan keuntungan sekitar 4 persen. Memang bukan keuntungan yang besar, tetapi baginya konsistensi jauh lebih penting daripada mengejar hasil yang spektakuler.Sementara itu, pada portofolio investasi inti masih tersisa dua saham. Adapun saham-saham yang dinilainya paling rentan terdampak resesi global telah lebih dulu ia lepas. Kini ia memilih mengamati dua saham yang tersisa sambil menunggu arah pasar berikutnya."Hmm... portofolio pribadiku yang masih mencatat capital gain semoga bisa tereksekusi hari ini," gumamnya pelan.Setelah menutup aplikasi perdagangan, tanpa sengaja matanya tertuju pada grup Telegram Bootcamp yang diselenggarakan oleh perusahaan sekuritas tempatnya membuka rekening saham. Rasa penasarannya kembali muncul."Kira-k
Pukul sepuluh tepat, perdagangan sesi pertama resmi dimulai. Layar running trade mulai dipenuhi harga pembukaan setiap saham. Angka-angka terus bergerak, sementara antrean beli dan jual semakin ramai dari detik ke detik.Zayna sudah bersiap di depan monitornya. Jarinya sesekali bergerak di atas mouse, sementara matanya bergantian mengawasi grafik, antrean bid, dan offer. Semua sudah ia susun sejak sebelum pasar dibuka. Kini tinggal menunggu apakah pasar bergerak sesuai rencananya atau tidak.Lima menit pertama berlalu begitu cepat. Senyum tipis akhirnya menghiasi wajahnya ketika dua saham pada portofolio investasi intinya berhasil menembus harga jual yang telah ia targetkan."Alhamdulillah..."Tanpa sadar ia mengepalkan tangan kecilnya. Sesuai rencana, ia langsung melepas sebagian kepemilikan pada kedua saham tersebut untuk mengamankan keuntungan.Memasuki lima belas menit pertama, dana alokasi khusus trading mulai disiapkan. Sekitar empat puluh persen dari dana itu ia gunakan untuk m
Bunda Zayna yang masih diliputi kebingungan mulai menghitung waktu mundur. Jika ia memperkirakan pertemuan sekitar pukul 15.30, maka sejak pukul 14.30 ia sudah siaga penuh. Ponselnya tak pernah lepas dari genggaman, bahkan nyaris menempel di telapak tangannya. Ia khawatir, kalau-kalau ada pesan pe
Pagi datang dengan cahaya yang lembut, Bunda Zayna terbangun seperti biasa, namun ada yang berbeda. Bukan pada rutinitas dan aktivitasnya… tapi pada hatinya yang lebih tenang dan serasa ringan. Ia duduk di tepi tempat tidur, menarik napas dalam. Tidak ada suara yang membisikkan jawaban, tidak ada m
Malam turun perlahan, menyelimuti rumah Bunda Zayna dengan ketenangan yang hangat. Setelah perbincangan panjang mengenai proposal itu, Bunda Zayna dan Aim akhirnya memilih beristirahat. Tubuh mereka lelah, tetapi pikiran masih menyisakan jejak-jejak pertimbangan.Bunda Zayna tersenyum kecil di bali
Tuan, Nyonya Sonia sudah bergerak. Ia mengirimkan asisten kepercayaannya langsung ke Parepare,” lapor Ziyan. “Saya juga sudah menelusuri dan mengaburkan jejak Bunda Zayna.”Karim menatapnya tajam. “Bagaimana? Apakah semuanya aman?”“Aman, tuan. Pengawal kita juga sudah mengaburkan jejak beliau seca







